
Hingga Reza tak sengaja mendorong pintu itu, pintu yang memang terbuka walau sedikit itu, mampu membuatnya jatuh tersungkur ke lantai walau hanya terdorong dengan tenaga yang tak seberapa itu.
Gita langsung menghampiri suaminya dan membantu suaminya berdiri.
"Aduh, Pah kamu gapapa kan? Pake acara jatuh segala sih?" Keluh Gita, dia kesal karena gagal menguping pembicaraan anak-anaknya.
Gio menghampiri kedua orang tuanya, "papah gapapa?, Ko bisa jatuh?"
"Hahaha … Papah gapapa ko Gea, kalian lagi ngapain?" Tanya Reza, lelaki itu berpikir untuk apa menguping jika dia bisa bertanya secara langsung pada si kembar.
"Lagi lepasin koyo di betis Gea, eh Gio Pah. Aneh dia Pah, masa dibetis yang berbulu dikasih koyo, kan ngerepotin orang dan menyiksa diri sendiri." Gio
"Oh cuma koyo." Gita
"Bukan cuma koyo Mah, ini ada bulunya ikut kecabut, gimana dong?" Keluh Gea
"Hmm, iya nih Mamah bukannya bantuin eh malah nguping aja daritadi..!" Reza
"Jadi dari tadi Mamah sama Papah nguping dibalik pintu? Astaga Mamah ada-ada aja." Gio
"Hua…. Bantuin aku dong, ini gimana biar gak sakit nyopotnya? Mana panas lagi, aku udah gak betah, pengen dilepas aja," Keluh Gea namun dengan nada manja seperti itu membuat Gita melayangkan tatapan mencurigai anak lelaki yang sedang merengek itu.
Hingga Gio mencoba mengalihkan kecurigaan ibunya itu, Gita pun tidak tega melihat anaknya yang protes karena koyo panas itu, dia lebih mengkhawatirkan anaknya daripada rasa curiganya. Mereka bertiga pun bersusah payah memikirkan cara agar bisa melepaskan koyo itu, berusaha melepaskannya dengan meminimalisir rasa sakit dan perih nantinya.
Setelah drama koyo selesai, Gea pergi mencari ice cream di lemari es, dia berhasil menghabiskan 2 kotak besar ice cream.
Gea mencoba membuat suasana hatinya membaik, dan berusaha mengalihkan rasa perih di kakinya.
__ADS_1
Sialnya aku, udah sakit pegal-pegal, eh ditambahin perih juga. pikir Gea
***
Keesokan harinya mereka sarapan dan bersiap pergi ke sekolah, seperti biasa mereka pergi dengan Pak Denis yang berperan sebagai sopir sekaligus bodyguard mereka. Meski Gita sudah berhenti bekerja karena hamil, namun dia sudah tidak diizinkan membawa mobil oleh Reza karena khawatir dengan kehamilan Gita.
Gita memang selalu membawa mobil dengan kecepatan diatas rata-rata membuat Reza tentu saja sangat khawatir dan tidak membiarkan ibu hamil itu berkendara.
Sesampainya di sekolah, Gio yang baru saja sampai di kelas 9A itu. Dia teringat tugas kelompoknya, dia harus memotret ulatnya yang kini sudah menjadi kepompong, tinggal menunggu makhluk itu berubah menjadi kupu-kupu.
Kemana kepompongnya? Pikir Gio
"Udah dicatat dan di foto Ge?" Tanya Lili yang baru datang
"Belum, masalahnya kepompongnya hilang Li, gimana nih?" Gio bingung.
"Bisa kalau ada yang ngeluarin, lagian tugas kok gini sih, ribet kan? Apa kita harus memulai dari awal lagi, nyari ulat lagi?" Keluh Gio
Lili langsung menarik tangan Gio, dia mengajaknya ke taman sekolah dan memulai mencari ulat yang baru. Lili tidak mau tugas prakteknya mendapatkan nilai nol, Lili berusaha keras mencari, namun Gio malah duduk dan hanya menunggu saja.
"Ge, bantuin dong, sebelum bel berbunyi!" Teriak Lili.
Gio pura-pura tak mendengar, dia malas jika harus memulai lagi dari awal, dia lebih penasaran dengan sosok orang yang bermain curang yang telah menghilangkan ulat penelitiannya.
"Ya ampun malah ngelamun sih," Lili menghampiri Gea lalu menariknya lagi, namun Lili yang kalah kuat oleh tenaga Gio, membuat Lili malah jatuh di pangkuan Gio, jantung mereka berdetak tak karuan, membuat Lili mengutuk dirinya sendiri di dalam hati sambil bangkit dari pangkuan yang nyaman itu.
Li, sadarlah! Aku masih normal kan? Apa sebenernya aku punya penyakit jantung? Pikir Lili
__ADS_1
Sementara Gio seakan salting, dia langsung berdiri dan pergi ke semak-semak, dia berjongkok berpura-pura mencari ulat, padahal dia sedang berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Kalian lagi ngapain? Apa lagi cari ulat lagi?" Riri
"Udah tau masih pake nanya lagi, dan jangan pura-pura gak tahu, aku yakin ada ulah kamu dibalik ini semua." Lili
"Kenapa jadi nyalahin gue? Gue bener-bener gak tahu, buat apa gue ngehancurin nilai gue sendiri?" Riri
Riri dan Lili bertengkar, mereka saling adu mulut, membuat kepala Gio serasa mau pecah, gendang telinganya juga sakit mendengar dua gadis cempreng bertengkar.
Hingga Gio menemukan dua ulat, dia langsung membawa dua ulat itu dimasing-masing tangannya yang sudah menggunakan sarung tangan.
"Nih buat kamu," Ucap Gio sambil memberikan satu ulat pada Riri
"Nih buat kamu juga Li," Gio memberikan satu ulat lagi ditelapak tangan Lili
Saat mereka sadar dengan apa yang mereka pegang, mereka kaget dan bahkan melemparkan ulat itu ke sembarang arah. Mereka berhambur memeluk Gio.
Senangnya dalam hati, kalau beristri dua. Batin Gio bernyanyi
Setelah sadar dari lamunanya, Gio melepaskan pelukan mereka dan langsung menyuruh mereka mencari ulat tadi sebelum bel berbunyi.
"Kalian cari lagi ulatnya sekarang..! udah dapet malah dibuang." Gio
Sementara tidak jauh dari tempat itu, ada seseorang yang memperhatikan mereka.
Bersambung …..
__ADS_1