
"Jadi siapa bi Tukiyem itu? Orang penting? Lo Sampe segitunya," Gio menatap Bi Iyem dari dalam mobil dengan serius.
"Dia itu pembantu di rumah Lili, kalau bi Iyem ada disitu... berarti ini rumah baru Lili dong, aku kok baru tahu ya kalau dia pindah rumah?" Gea
"Mungkin ini rahasia dia, dia minder kali sekarang rumahnya lebih kecil dari rumahnya yang dulu," jawab Gio asal.
"Bener juga sih, aku coba tanya sama tetangga nya deh, siapa tahu aku dapet informasi dari mereka." Gea
"Yaudah cepetan sana, setelah itu kita pulang!" Gio
"Iya, iya, bawel…" Gea
Lah gue kan sekarang jadi cewek, hak gue kalo gue jadi bawel gini. Pikir Gio
Gea keluar dari mobilnya, dia menyapa salah satu orang yang sedang berada di halaman rumah, ibu itu sedang mengangkat jemuran yang sudah kering.
Setelah Gea mempertanyakan tentang rumah yang bercat abu dan putih itu, ternyata benar itu rumah penghuni yang baru dan setahu ibu itu keluarga Lili pindah sudah 2 Minggu yang lalu.
Gea merasa dia bukan sahabat Lili karena dia tidak tahu apa-apa tentangnya.
Kenapa Lili merahasiakan ini dari aku ya? Pikir Gea
Setelah Gea merasa yakin jika itu rumah Lili yang baru, dia pun kembali ke dalam mobil.
"Gimana?" Gio
"Bener itu rumah Lili yang baru, gimana kalau kita langsung datengin Lili ke rumahnya? Bicara di rumahnya saja dan tidak perlu menculiknya kan?" Gea
"Boleh aja, tapi gue mau makan dulu, gue laper." Gio
Mereka pergi dari kawasan rumah itu untuk mengisi perut yang lapar.
Namun karena kekenyangan, Gio mengajak Gea pulang dan menunda rencana mereka untuk mengunjungi rumah Lili.
"Tapi Gio, aku penasaran." Gea
"Lo nanti coba hubungi dia lewat telepon aja atau coba kirim pesan, siapa tahu ada respon!" Gio
__ADS_1
Gea mengalah, dia akhirnya pulang dengan rasa penasaran dan rasa khawatir. Gea merasa keadaan keluarga Lili sedang tidak baik-baik saja.
***
Gio yang ngantuk segera merebahkan tubuhnya di ranjang, sementara Gea segera pergi ke kamarnya, dia mengunci pintu lalu mulai menatap layar ponselnya, dia berpikir sejenak dan berharap nomor ponsel Lili masih nomor yang lama.
Gea mengetik pesan lalu menghapusnya, mengetik lagi, lalu menghapusnya.
"Argghhh, besok aja lah biar Gio yang nanya secara langsung," Ucap Gea yang tidak jadi mengirim pesan kepada sahabatnya itu, dia memilih mengerjakan tugas sekolahnya saja, dia takut salah bicara apalagi lewat pesan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman yang akan membuat masalah itu semakin rumit, itu menurut Gea.
***
Keesokan harinya Gio mulai mendekati Lili , berharap bisa berbicara dengannya, dia juga harus menanyakan beberapa pertanyaan dari Gea yang diwakilkan padanya.
"Li, maaf ya soal yang kemarin, aku lupa soal pesan yang kamu kirimkan itu, hehe…," ucap Gio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Iya gapapa, itu udah lewat." Lili
Gio celingak-celinguk mencari keberadaan Bianka, untunglah wanita menyebalkan itu belum datang, membuat Gio leluasa bertanya dan pasti Lili akan menjawab pertanyaannya.
Lili menoleh ke arah Gio, dia seakan kaget dengan pertanyaan itu, membuat Gio yakin kalau memang dia pindah rumah dan merahasiakannya.
"Emm, darimana kamu tau?" Lili
"Aku, kemarin mengikutimu sampai ke rumah barumu, kenapa pindah Li?" Gio
"Oh itu, keluargaku lagi mengalami masalah perusahaan dan masalah keuangan, aku .. aku malu kalau bercerita masalah ini padamu Gea, aku tidak mau kamu ikut memikirkan masalah keluargaku." Lili
"Harusnya kamu cerita aja, kita kan sahabat, siapa tau aku bisa bantu. " Gio
Lili mulai terbuka, ternyata Bianka memanfaatkan keadaan Lili dan keluarganya. Keluarga bianka lah yang menolong mereka dengan menanam modal dieprusahaan keluarga Lili , namun Lili menjadi sungkan dan merasa punya hutang balas Budi pada Bianka.
Kalau keluarga Bianka tidak membantu, mungkin keluarga Lili benar-benar jatuh miskin.
"Aku bersyukur masih bisa sekolah, dan mempunyai tempat tinggal walaupun sederhana Ge." Lili
Gio ikut sedih, Lili refleks memeluk sahabatnya itu, menangis dipelukan Gio yang dianggapnya Gea.
__ADS_1
Namun debaran jantung Gio yang kencang membuat Lili dengan segera melepaskan pelukannya.
"Kamu baik-baik saja kan Ge? Apa kamu sakit?" Lili
"Aku gapapa kok, hehe…," jawab Gio sesantai mungkin, padahal dia ingin menutupi rasa groginya itu.
Gio memahami posisi Lili saat ini, ketika kehadiran Bianka mulai terlihat, Gio mulai menjaga jarak dengan Lili, dia berpura-pura fokus dengan bukunya, dia akan berpura-pura masih bermusuhan dengan sahabatnya itu.
***
Sepulang sekolah Gio yang berlatih basket membiarkan Gea yang mendekati Lili selanjutnya, ya.. Lili masih mendapatkan hukuman membersihkan toilet wanita.
Gea ikut membantu Lili lagi untuk yang kedua kalinya, membuat Lili merasa ada lelaki yang selalu ada untuknya. Gadis itu mulai tertarik pada kembaran sahabatnya.
"Li, Gea bilang dia mau mampir ke ruang baru kamu, ngobrol disana, katanya kangen sama kamu." Gea
"Boleh, tapi harus tanpa sepengetahuan Bianka ya? Aku tidak mau kalau aku harus mengalami kesulitan lagi. Ini saja sudah berat untuk aku." Lili
"Iya, oke … " Gea
Tiba-tiba orang yang dibicarakan pun datang, dia datang bersama beberapa temannya.
"Cie ada yang bantuin nih, hmm…," ucap Bianka yang berlalu menuju pintu toilet yang berada di dalam, tapi dengan sengaja dia menumpahkan air pel di ember itu.
Gea yang geram, dia merasa harus membela Lili sebagai Gio dan sebagai seorang lelaki.
"Ups, sorry… bersihin yang bener ya! Kalau licin nanti orang-orang pada jatuh.. hahaha .. " Bianka
"Lo aja yang bersihin, kan Lo yang jatuhin embernya!" Gea
"Hmm mending Lo keluar deh, ini kan toilet cewek dan jangan ikut campur! apa Lo mau gue teriak dan Lo dianggap sebagai cowok mesum hah?" Bianka
Gea mengepalkan tangannya, dia merasa geram namun apa yang dikatakan Bianka ada benarnya juga, itu membuatnya semakin tak berdaya.
Apa gue bejek aja nih anak? gue gemes banget.. arrgghh
Bersambung. ….
__ADS_1