
Gio pergi ke kamar Gea, "Ge cepetan kamu ganti baju, kita pergi makan beareng di luar!"
"Males ah, aku cape, lagian apa kamu udah dapet izin dari Mamah?." Gea
"Belum sih, makanya Lo ikut biar Mamah ngijinin kita kalau kita pergi sama-sama, ada Haikal sama Brian juga." Gio
"Beneran ada mereka juga? Tunggu ya, aku mau siap-siap dulu!" Gea bergegas pergi untuk memilih baju yang cocok, dia suka dengan dua sahabat Gio, karena mereka kocak dan mampu membuat suasana hatinya senang.
Setelah siap, mereka meminta izin bersama, dan Gita pun mengizinkan mereka pergi tanpa pengawal untuk pertama kalinya, ibu itu mencoba memberikan kepercayaan pada anak kembarnya yang mulai tumbuh dewasa.
Gio mengeluarkan c hitam dan pergi menggunakan motornya itu dengan membonceng Gea, dia memakai pakaian Gio lengkap dengan helmnya, orang yang melihat tidak akan mengira jika yang membawa motor adalah seorang perempuan.
"Pelan-pelan Gio!" Teriak Gea yang tidak didengar sama sekali oleh Gio, karena dia terlalu asyik menikmati jalanan aspal.
Duk
Helm mereka beradu saat Gio tiba-tiba mengerem motornya, "ya ampun, hampir saja aku menabrak kucing itu, bagaimana ada kucing di tengah jalan?"
Kucing itu berlari entah kemana, syukurlah binatang itu tidak apa-apa membuat Gio bisa melanjutkan perjalanannya namun kali ini dia lebih hati-hati.
"Makanya bawa motor jangan ngebut-ngebut!" Keluh gea yang bisa didengar Gio karena motornya melaju pelan.
"Iya, iya.. gue cuma kangen aja sama si hitam, mau ngecek aja dia masih bisa digunakan untuk balapan atau tidak." Gio
"Apa? Balapan?" Gea berteriak karena dia tidak tahu sama sekali kalau Gio suka balapan motor.
"Kenapa, Lo gak percaya?" Gio
"Percaya, hanya saja itu terlalu beresiko, pasti Papa juga marah kalau tau." Gea
"Makanya gak usah bilang kalau Lo udah tahu." Gio
Duk
Helm itu dibenturkan lagi oleh Gea ke helm Gio karena kesal.
__ADS_1
***
Akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, disana sudah ada Haikal dan Brian menunggu.
"Maaf gue telat." Gio
Haikal dan Brian menatap gadis di depannya dengan heran.
"Haha, sorry gue telat, gue juga bawa adik gue karena nyokap ngijinin kalau dia juga ikut." Gea
"Oh gapapa, kan Lo juga yang traktir kita, hehe…" Brian
Mereka mengobrol cukup lama, membahas sekolah baru mereka, Brian dan Haikal yang memiliki nilai standar itu memilih masuk sekolah yang biasa tidak seperti Gea dan Gio yang masuk ke sekolah favorit yang hanya bisa dimasuki oleh anak-anak berprestasi.
"Lo juga masuk kesana, hebat juga Lo Gio, tapi gue percaya sih karena beberapa bulan terakhir saat mau menghadapi ujian nilai Lo naik pesat. Hehe.." Haikal
Setelah makan selesai, Brian mengajak Gio balapan motor bahkan mereka taruhan.Siapa yang menang, maka dia boleh membuat perintah pada orang yang kalah.
"Gak ah, gue lagi gak mood," jawab Gea beralasan, dia mana mungkin balapan, bawa motornya aja gak bisa.
"Cemen Lo." Brian
"Hahaha, masa gue ngelawan cewek sih? Gak lah gak gentle." Brian
"Haha, jadi kalian takut?" Ejek Gio
"Siapa takut, Lo emang cewek yang berani sih, tapi ingat kalau terlalu percaya diri juga gak baik!" Haikal meremehkan kemampuan gadis didepannya itu.
"Gak, gue gak setuju adik gue ikut balapan," protes Gea.
"Gio, jangan nyari mati deh! Udah gak usah balap-balapan!" Bisik Gea.
"Ini cuma balapan bukan cari mati, gue udah profesional," jawab Gio dengan bangga.
Gea pasrah, dia tidak bisa melarang saudaranya itu, dia kini berboncengan dengan Gio menuju tempat biasa dimana mereka balapan. Jalan yang lumayan sepi dan gelap, membuat Gea merinding ngeri.
__ADS_1
Gea turun, dan dia hanya sebagai wasit kali ini, semoga aja Gio gapapa dan tubuh gue gak lecet. Batin Gea
Ngeng… ngeng… ngeng
"Kalian siap? Oke.. tiga, dua satu," teriak Gea lalu mengibaskan jaketnya ke tanah pertanda balapan dimulai.
Mereka bertiga melesat dengan cepat, Gea memandang Gio dengan tatapan kagum karena menurutnya itu keren apalagi Gio menggunakan tubuhnya, ingin sekali Gea mengabadikannya lewat ponsel namun dia tidak mau mengambil resiko disaat ibunya melihat foto itu.
Haikal dan Brian sedikit heran dengan kemampuan gadis kecil itu, "Dia mirip sekali dengan Gio, kemampuan orang yang kembar apa selalu sama?" Gumam Haikal saat motornya disalip Gio.
Akhirnya mereka kembali ke garis start, Gea tersenyum menyambut kakaknya.
"Keren…," Gea mengangkat kedua jempol tangannya.
Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi yang berpatroli, Gio menyuruh Gea naik dan mereka langsung melarikan diri, melajukan motornya dengan sekencang-kencangnya, Gio tidak mau jika berurusan dengan polisi dan melibatkan orang tuanya.
Saat dalam kejaran polisi, Gio dan Haikal memilih belok ke kanan sementara Brian belok ke kiri.
Terus saja Gio melajukan motor itu tanpa tahu tujuan mereka kemana, bahkan Gea yang takut memeluk Gio dengan sekuat tenaga, angin kencang juga membuat Gea kedinginan.
Hingga suara sirine polisi sudah tak terdengar lagi, membuat mereka berhenti dan bernafas lega.
"Mereka menyerah juga." Haikal
"Bener, untung kita gak ketangkep." Gio
"Lo keren deh Ge, cewek jago balapan, hehe.. " Haikal
"Makasih pujiannya." Gio
"Kita dimana?" Tanya Gea yang mulai menampakan dirinya karena dari tadi dia sembunyi dibalik punggung Gio, dia hanya melihat kegelapan, tidak ada cahaya lampu atau semacamnya. Hanya ada cahaya dari bulan yang bersinar terang malam ini, bulat sempurna.
Gio yang baru menyadari kalau mereka terlalu jauh melarikan diri pun ikut panik.
"Gue juga gak tau, kita dimana kal?" Gio
__ADS_1
"Gue gak tau, tapi yang pasti kita harus secepatnya pergi dari sini!" Haikal
Bersambung ….