
Setelah tertangkapnya Geri , beberapa hari kemudian keadaan Gio sudah membaik, dia mulai bersekolah lagi.
Disekolah, Lili bahkan sudah mendapatkan sahabat baru, membuatnya tidak selalu menghampiri Gea dikelasnya. Gea hanya menempel pada Gio, dia tidak ingin mencari teman baru.
Ketika Gio dan Gea makan di kantin, ternyata Lili datang bergabung ke meja mereka dengan sahabat barunya yang diharapkan bisa cocok dengan si kembar.
"Siapa namamu?" Gea
"Aku, Cantika.. salam kenal ya, nama kamu siapa?" Tanya Cantika yang sepertinya tertarik dengan lelaki di hadapannya itu.
"Aku Ge, ehh … Gio, maksudku namaku Gio dan ini Gea." Tunjuk Gea ke arah Gio yang nampak cuek, dia malah fokus dengan makanannya.
Gea menyenggol tangan Gio, membuat dia tersenyum ke arah Cantika. Gue kan lagi asyik makan, dasar Gea, batin Gio.
Mereka mengobrol bersama, namun Gio nampak cuek, dia hanya sesekali mengangguk tanpa mau terlibat di dalam obrolan mereka yang menurutnya membosankan. ya.. karena itu percakapan seputar perempuan.
Gea menampilkan sisi Gea yang asli, dia begitu cerewet membuat Cantika mengira jika lelaki tampan di hadapannya menyukainya karena merespon apa yang dia tanyakan.
Dia enak diajak ngobrol, ganteng pula, sepertinya dia mengerti dunia seorang gadis,hmm..cocok, batin Cantika.
Hingga bel pertanda waktu istirahat habis sudah berbunyi, membuat Lili menarik lengan Cantika menuju kelasnya, gadis itu nampak enggan pergi, dia masih betah menatap wajah tampan milik Gio.
Gea pun sama, dia mengajak saudaranya kembali ke kelas, saat mereka ingin duduk, mereka melihat kursi mereka yang kotor penuh pasir.
"Kotor banget, pasti ulah Mirna. Gimana dong Gio?" Tanya Gea yang bingung.
"Hmm, yaudah biarin aja lah, biar gue bersihin dulu, itu kan kursi gue." Gio
"Tapi kan, dia itu keterlaluan Gio, apa perlu aku menjambak rambutnya untuk membalasnya?" Gea
"haha, Jangan..! Nanti aja kalau Lo udah jago beladiri baru gue izinin, yang ada Lo kali yang kalah dikeroyok mereka, inget Lo sekarang cowok jadi belajarlah cuek, gak usah kepancing sama mereka!" Gio
"hmm, yaudah kamu nanti harus ngajarin aku beladiri..!" Gea
__ADS_1
Gio menghembuskan nafas kasarnya, dia sudah bisa membayangkan betapa repotnya mengajari Gea beladiri, bahkan mungkin dia yang akan menjadi sasaran Gea nanti. Ya… sasaran kesalahan pukul maksudnya.
Gio membersihkan kursinya dan langsung duduk dengan tersenyum pada Mirna, sebagai tanda terimakasih karena membuat harinya semakin melelahkan. Gio tidak ingin mencari masalah lagi dengan Mirna dia ingin fokus pada pelajaran di sekolah agar nilainya bagus.
Sementara Mirna yang mendapatkan senyuman dari musuhnya itu merasa kesal, ko dia gak marah sih? gak seru deh. pikirnya
***
Sementara di kediaman Reza, Gita sedang menelpon sahabatnya Nisa menanyakan buku komik yang pernah dia baca. Gita juga ingin melihat buku yang lain yang mungkin bisa dijadikan petunjuk tentang pertukaran tubuh si kembar.
"Maaf Git, aku kan udah pindah dari aku gadis, ibuku udah jual rumah itu, nah barang-barang lama ibuku disimpan di gudang rumah sekarang, aku gak tahu apa buku-buku itu masih ada atau tidak, tapi kalau aku berkunjung ke rumah ibuku nanti aku coba tanyain deh karena kami tinggal beda kota." Nisa
"Oh gitu, iya Bisa makasih ya.. kapan-kapan kamu main juga ya kesini..! Apalagi kalau baby boy ini lahir, dia pengen dijenguk aunty nya.. kadonya juga jangan lupa, hehe." Gita
"Iya, aku usahain ya Git." Nisa
Percakapan mereka pun berakhir bertepatan dengan kedatangan si kembar, mereka yang lelah langsung meminta Bi Mina untuk membuatkan jus segar untuk mereka.
"Biasa aja Mah, oh iya ini cincin punya Mamah, takut hilang kalau aku yang bawa." Gea
"Gapapa, buat kamu aja, Mamah khawatir sama kamu, kalau kamu mau latihan bela diri, gimana kalau sama kak Jerry saja, eh tidak.. sebaiknya Mamah cari pelatih perempuan saja." Gita
"Tapi kan aku sekarang laki-laki Mah," jawab Gea sambil memandang tubuhnya sendiri.
"Tetap saja Mamah menganggap kamu Gea, anak gadis Mamah yang cantik dan menggemaskan..," ucap Gita sambil mencubit kedua pipi Gea yang tampan itu.
Namun bukannya risih, Gea malah senang karena dia memang biasa diperlakukan seperti itu oleh ibunya, bahkan mereka sekarang berfoto Selfie berdua, membuat Gio menggelengkan kepalanya, dia malah merasa risih melihat pipinya sendiri dicubit-cubit manja seperti itu.
Astaga, bahkan mereka mengabadikan foto wajah gue yang sedang dicubit seperti itu? Batin Gio.
"Ternyata wajah Gio juga menggemaskan ya Ge?" Tanya Gita sambil melihat hasil jepretan nya tadi.
"Iya Mah, yang ini lucu, kan jarang-jarang Gio berekspresi kaya gini, aku baru sadar kalau saudara kembarku ternyata lumayan, hmm…," ucap Gea sambil melirik ke arah Gio.
__ADS_1
"Aku udah dari dulu terlahir tampan bukan lumayan lagi, udah Ge jangan membuat pose foto yang aneh-aneh kalau kamu gak mau aku berekspresi wajah jelek dan mempostingnya di sosmed," ancam Gio yang sudah kesal.
Gio menuju kamarnya dan disusul oleh Gea sambil berlari, dia tidak mau kalau itu benar-benar terjadi.
Ibu si kembar hanya tertawa melihat tingkah anaknya yang tanpa terasa sudah tumbuh sebesar itu. Dia mengelus-ngelus perutnya yang sudah membesar, ya… kini usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan.
***
Saat sore hari, Gea dilatih beladiri oleh Gio sang kakak, kebetulan sang ayah juga belum pulang jadi mereka bebas berperan sebagai diri mereka sendiri.
Wajah milik Gio semakin terawat karena Gea rutin memakai masker saat malam hari, sementara diwajah milik Gea nampak satu jerawat tumbuh karena Gio malas mencuci muka.
Mereka bertengkar, bahkan latihan beladiri itu seakan berubah menjadi pertandingan sungguhan, namun Gea yang tidak bisa beladiri, dia melawan Gio dengan gaya bebasnya.
Mereka saling berguling, mendorong di atas matras, pertarungan yang mulai sengit, hingga Gio memilih mengalah, kini dia sedang duduk dan mendapatkan perawatan wajah dari Gea.
"Aku gak mau ya, kalau wajahku jerawatan!" Gea
"Lebay deh." Gio
"Liat dong wajah kamu aku rawat jadi semakin tampan, lalu kenapa kamu tidak tahu cara berterimakasih? Minimal kamu cuci muka setiap hari, apalagi sebelum tidur!" Gea
"Iya bawel," jawab Gio, namun Gea yang kesal tak sengaja memencet jerawat itu dengan keras membuat Gio berteriak kesakitan.
"Aww… pelan-pelan dong Ge!" Teriak Gio.
"Hehe, sorry …," Gea tersenyum dengan sedikit rasa bersalahnya.
Mereka yang sedang asyik itu dikagetkan dengan suara ibunya yang merasa kesakitan, mereka dengan segera menghampiri ibunya, bahkan Gio masih dalam keadaan memakai masker.
Mereka panik, mereka langsung membawa Gita ke Rumah Sakit diantar oleh supir keluarga.
Bersambung...
__ADS_1