Si Kembar Yang Bertukar Tubuh (Gea&Gio)

Si Kembar Yang Bertukar Tubuh (Gea&Gio)
Salah Paham Yang Berlanjut


__ADS_3

Gio menarik tangan Gea yang masih memegang sapu itu, menariknya dengan paksa untuk segera pergi dari sana. Tenaga Gio lebih besar membuat dia tidak bisa mengimbangi saudaranya, hingga Gio berhenti dan Gea pun menghempaskan tangan kembarannya itu dengan kasar.


"Kamu apa-apaan sih Gio? Kamu gak liat kalau aku lagi bantuin Lili? Kasihan dia." Gea


"Gak perlu mengasihani cewek kaya dia, gue gak suka lo berteman sama dia Gea, jauhin aja dia! Dia pantas ko dihukum atas perbuatannya, dia ngerjain gue abis-abisan dari tadi pagi." Gio


"Tapi….." Gea 


Gio kembali menarik tangan Gea menuju parkiran dimana pak Denis dengan setia menunggu disana.


Mereka masuk mobil, dan mobil itu melaju keluar dari lingkungan sekolah.


Gea diam cemberut selama perjalanan, dia kesal dengan kembarannya itu yang tidak mau mendengarkan penjelasannya sedikitpun.


Sesampainya di rumah, mereka saling diam membuat ibunya merasa curiga ada masalah besar diantara mereka.


Gita memilih pergi ke kamar anak gadisnya terlebih dahulu, dan menanyakan alasan mereka yang saling diam.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


"Ada apa Mah?" Tanya Gio dengan santai.


"Gapapa sayang, Mamah hanya mau tanya sesuatu aja sama kamu. Boleh kan Mamah masuk?" Gita


"Boleh Mah." Gio


Mereka duduk ditepi ranjang, Gita mulai menanyakan kenapa saudara itu saling diam seperti sedang bertengkar.


"Itu Mah, Gea.. eh Gio, hmm… soal Lili Mah, kami hanya berbeda pendapat, aku berpikir Lili bukan teman yang baik karena hari ini dia membuat aku kesulitan dia bahkan mengerjai ku, tapi Gio bilang kalau Lili anak yang baik dan aku salah kalau menjauhi dia." Gio


"Hmm, bukannya kamu sahabatan sama Lili udah lama? Menurut Mamah dia orang yang baik dan tulus kok, tapi coba kamu bicarakan lagi sama Gio dan juga Lili secara bersamaan, musyawarah gitu!" Gita


"Hmm, bener juga Mah, iya nanti aku akan memikirkan solusi dari Mamah dan mencari waktu yang pas untuk kami semua bisa bertemu." Gio

__ADS_1


Gita tersenyum, lalu dia berlaih ke kamar Gio yang sebenarnya sekarang itu menjadi kamar Gea.


Penuturan Gea yang berbeda dengan Gio, membuat ibu itu mengerti dan menyuruh keduanya berbicara secara baik-baik.


"Menurut Mamah, kalian itu cuma salah paham, coba kalian bicara berdua dan jangan saling diam, bicarakan apa yang mengganjal di dalam hati kalian.!" Gita


"Iya Mah aku akan berusaha, soalnya penjelasan aku gak didengar sama sekali, Gio egois Mah." Gea


"Gio?" tanya Gita dengan heran.


"Maksud aku Gea, hehe.." Gea


***


Ketika sore hari, mereka dikejutkan dengan kedatangan kakek dan nenek mereka.


Nenek Hanna begitu merindukan cucu-cucunya, terlebih mengkhawatirkan kondisi Gita yang sedang hamil muda. Hanna membawakan vitamin, dan susu hamil terbaik menurutnya, dia begitu perhatian pada anak satu-satunya itu.


Meskipun anaknya kini telah menjadi seorang ibu, namun dimatanya Gita tetaplah anak kecil dimatanya, ya . . begitulah kasih sayang orang tua.


Gea begitu semangat, dia yang paling pertama mendatangi sang nenek, memeluknya dan langsung bercerita mengenai sekolahnya.


Gio melirik ke arah sang nenek dan melangkah mendekatinya, "Gea gapapa kok Nek, mungkin lelah karena habis latihan basket tadi."


"Oh, iya kamu keren Ge bisa main basket, jago pula, top deh buat Gea cucu nenek…," puji Hanna.


Pujian Hanna membuat Gea yang asli memandang dengan sorotan mata meremehkan pada Gio.


Biasa aja, Gio kan memang suka basket dari kecil. Batin Gea 


Sementara Baskoro sang kakek sibuk berbincang dengan papa dan Mamah si kembar. Berbicara mengenai perkembangan dan pertumbuhan sang calon cucu baru, cucu yang akan lebih menggemaskan dari Gea & Gio tentunya.


Perkumpulan keluarga itu berlanjut hingga malam hari dan akhirnya mereka memilih pulang karena alasan tertentu.


*


*


*

__ADS_1


Setelah kepergian mereka, Reza dan Gita mengajak anak kembarnya untuk berdiskusi agar bisa menyelesaikan kesalahpahaman mereka, namun Gio dan Gea menolak, karena mereka bingung jika harus menceritakan masalah Lili dari sudut pandang Gio tapi Gea, dan dari sudut pandang Gea tapi Gio.


"Apa kalian mau, masalah ini berlarut-larut?" Reza


"Hmm, kami akan berdiskusi berdua aja Pah di kamar." Gio


"Kenapa gak disini aja biar Papah dan Mamah bisa tahu dan menasehati kalian." Reza


"Gak usah Pah, kita udah baikan ko, iya kan?" Ucap Gea sambil merangkul tubuhnya yang asli itu.


Membuat Gio menatap heran, namun Gea malah mencubit pinggang kembarannya itu, membuat Gio tersenyum kikuk dan mengangguk.


Mereka pun pergi ke kamar serba biru milik Gio, meninggalkan Gita dan Reza yang kebingungan.


"Anak Mamah kok aneh-aneh ya?" Reza


"Itu anak Papah juga kali, kan kita bikinnya berdua." Gita


Reza tersenyum dan mengajak sang istri untuk segera istirahat mengingat istrinya sedang hamil muda.


Sementara di dalam kamar, Gio langsung melepaskan rangkulan Gea dan marah-marah.


"Kamu apa-apaan sih Ge?" Gio


"Aku mau bicara sama kamu, nih baca pesan dari Lili kemarin!" Gea


Gio mengambil ponsel Gea dengan malas, memangnya penting ya pesan dari cewek itu? Pikirnya


Gio dengan terpaksa membaca pesan itu satu persatu, menelaah isi pesan itu, membuat Gio kini merasa bersalah pada Lili.


"Kenapa Lo baru baru ngomong sekarang? Kasihan kan Lili." Gio


"Kenapa jadi aku yang salah?  Kan kamu yang memperlakukan Lili tidak baik." Gea


"Kalau gue tau dia terpaksa, gue juga bisa ngertiin posisi dia Ge , Lo yang salah, gara-gara Lo, gimana dong?" Gio


"Males ah, kenapa juga malah aku yang disalahin." Gea


Gea berniat pergi dari kamar itu, namun ditahan oleh tangan kembarannya itu.

__ADS_1


Bersambung …..


__ADS_2