
Setelah Gio berganti pakaian, dia duduk di kursi memghadap meja rias, Gea begitu antusias menyisir rambutnya sendiri meski kini Gio lah yang menempati tubuhnya.
''Gio, kenapa pake baju ini? Pake jaket tebel, celana panjang, kaya cowok aja,'' keluh Gea sambil menyisir rambut itu.
''Emang gue cowok kan? Lagian udah malem, masa pake rok sih, kan dingin.. Udah cukup ya gue maksain diri gue pake rok selama sekolah, '' Gio menjawab dengan nada kesal.
Tapi, apa gak bisa ya dia tampil feminim dan manja di depan Arif? apa paksa aja? Hmm.. jangan deh. Pikir Gea
Dengan Gio menyetujui untuk pergi dengannya saja sudah membuatnya senang. Dia tidak boleh membuat mood Gio jelek dan membatalkan acaranya.
''Iya , iya… tapi aku dandanin dikit, oke?'' Gea
''Hmm, males ah… gini aja, apa lo gak pede dengan wajah lo sendiri?'' Gio
''Aku itu udah cantik sejak lahir, yaudah kalau kamu maunya natural, tapi pake pelembab aja ya? Please… ,'' Gea memohon, sebenarnya jika dia berada di tubuhnya sendiri, pasti dia akan berdandan habis-habisan.
Setelah dirasa cukup, mereka pun pergi dengan diikuti satu bodyguard, itulah syarat dari ibu mereka dikala Gea meminta izin pada ibunya.
''Lo mau belanja? Kenapa harus sama gue?'' tanya Gio? saat mereka berjalan melewati deretan toko baju dan sepatu.
''Gak, aku mau ngajakin kamu nanton aja.'' Gea
''Film apa? Drama romantis? Gue gak mau ah, selera gue kan beda sama lo,'' Gio mengeluh bahkan dia berbalik badan berniat pulang lagi, namun dengan segera Gea menahannya, dan memaksanya pergi ke lantai atas.
''Udah sampe, sayang kalau balik lagi.'' Gea
Sesampainya di sana, Gea melambaikan tangannya. Gio pun melihat ke arah mana Gea memandang, dan betapa kagetnya Gio saat tahu jika ini adalah kencan buta yang diatur adiknya.
Astaga, gue jadi korban sekarang, sial. Pikir Gio
Arif menghampiri mereka, dia sempat merasa canggung saat tahu lelaki itu ikut juga, dia pikir malam ini akan jadi kencan romantis berdua bersama gadis pujaannya.
Gio juga datang? pikir Arif
''Maaf ya aku ikut, soalnya Gea diizinin keluar kalau aku nemenin dia.'' Gea
''Iya gapapa, lagian aku belum beli tiketnya, jadi aku beli 3 ya?'' tanya Arif dengan sedikit ragu saat melihat lelaki kekar di belakang mereka.
Apa aku harus mentraktir bodyguardnya juga? Pikir Arif
__ADS_1
''Empat dong,'' jawab pak Denis dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.
''Oke,''jawab Arif sambil berlalu pergi menuju kasir.
Lelaki itu merasa kecewa karena dia berharap bisa menonton berdua, eh malah berempat dan yang parahnya lagi, dia ditemani 2 cowok yang tak diharapkan kehadirannya.
Sudah mengacaukan acara gue, eh malah minta ditraktir pula, apa sekalian juga sama minuman dan popcorn nya? Pikir Arif kesal
Setelah lumayan lama menunggu, film mereka pun akan segera diputar. Jika seharusnya Pak Denis lah yang membawa minuman majikannya, eh malah dia yang membawakan minuman lelaki yang merupakan calon kakak iparnya itu.
Padahal Arif sudah benar membawakan minuman Gea gadis pujaan hatinya, namun dia tidak tahu jika lelaki yang dianggap menyebalkan itu adalah seseorang yang spesial di hatinya.
Film pun dimulai, mereka duduk berjajar, Gea yang ingin dekat dengan Arif, dia menukar posisinya dengan Gio saat film sedang berjalan, bahkan Arif tidak menyadarinya.
Saat adegan yang sedikit menegangkan, Gea yang benar-benar takut, dia menggenggam tangan lelaki di sampingnya, betapa bahagianya Arif saat merasakan ada sentuhan hangat yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
Deg
Arif bahkan membiarkan tangan itu mencengkram tangannya saat adegan menakutkan, membuatnya berbunga-bunga seakan dia pelindung bagi gadis cantik nan manja itu.
Namun saat dia ingin mencuri-curi kesempatan dengan mencium pipi gadis cantik di sebelahnya.
''Astaga, kaget gue,'' Arif terlelap bahkan dia sampai berdiri dari tempat duduknya, namun dia duduk kembali saat penonton di belakang menyoraki dirinya.
''Awas gak kelihatan!''
Ya teriakan itulah yang membuatnya terpaksa duduk kembali, namun dia benar-benar merasa ditipu oleh calon kakak iparnya itu.
Kenapa dia jadi duduk di sebelahku? Astaga, ini acara kencan atau aku hanya dimanfaatkan? Sebenarnya aku diizinkan menonton dengan adiknya atau tidak? Arif benar-benar kesal.
Sementara Gea tersenyum dan bahkan menyuruh Arif untuk duduk dan melanjutkan acara menontonnya.
''Film nya seru ya?'' Gea
''Hmm… iya.'' Arif
Ada apa sih dengannya? Pikir Arif sambil memandang ke arah lelaki di sebelahnya, sementara gadis yang dia rindukan duduk di kursi kedua setelah dirinya.
Setelah film selesai, Arif langsung pulang karena kecewa.
__ADS_1
Gea pun kecewa, namun dia diajak bersenang-senang oleh Gio, memainkan banyak wahana permainan disana.
Kebersamaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
''Hahaha, lo kalah lagi kan?'' Gio
''Kamu curang Gio,'' protes Gea.
''Curang bagaimana?'' Gio merasa dia bermain sekarang benar dan jujur.
''Kamu sudah memainkan permainan ini berkali-kali sementara aku baru pertama kali, ya curang lah namanya,'' keluh Gea.
''Yaelah, gue kira curang gimana. Makanya jangan bergaul sama buku aja..!'' ucap Gio sambil menahan tawanya.
''Fftt….''
Gea hanya mendengus kesal, dia melanjutkan permainannya dengan fokus berharap dia menang walau hanya satu kali.
Ayolah, satu kali saja, biarkan aku menang! pikir Gea
Hingga pak Denis datang mengingatkan mereka untuk segera pulang, mereka sampai lupa waktu karena keasyikan bermain.
''Den, udah jam 9 malam, ibu sudah menelepon beberapa kali.'' Pak Denis
''Oke 5 menit lagi,'' jawab Gio dengan matanya yang masih fokus pada layar.
Pak Denis berdiam diri menunggu waktu yang dijanjikan majikan mudanya itu.
***
Sesampainya di rumah, mereka yang lelah langsung pergi ke kamar masing-masing.
Gea merasa bermain dengan Gio lebih berkesan untuknya hari ini, akhirnya dia bisa merasakan kebersamaan dengan kakaknya itu, itu adalah hal yang diinginkannya selama ini, bahkan dia sudah melupakan kesedihannya karena Arif.
Kakak yang selalu ada, yang dekat dengannya, yang bisa menjadi teman bermain, bercanda, berbagi keluh kesah dan menjadi pelindungnya.
Gio juga merasa senang, dia akhirnya bisa membuat hubungannya dengan adiknya itu membaik, jika selama ini dia selalu iri pada Gea, namun sekarang sudah tidak ada lagi perasaan itu, Gio akan menghempaskan perasaan seperti itu jauh-jauh. Dia harus bisa menjadi sosok kakak idaman.
Sementara Pak Denis dihujani pertanyaan yang tiada hentinya dari Gita. Jika sebelumnya bodyguard itu diam tanpa kata dan ekspresi namun lain halnya jika ditanya oleh majikannya Itu, lelaki berotot itu akan menjelaskan sejelas-jelasnya.
__ADS_1
Ternyata anak gue mulai dewasa, mulai mengenal cinta, gue gak boleh kecolongan. Pikir Gita
Bersambung….