
Kelompok pertama yang berlari adalah kelompok perempuan, sementara para lelaki menunggu di pinggir lapangan.
Bahkan kelompok perempuan pun dibagi menjadi dua kelompok lagi untuk melakukan lari 5 putaran itu.
Gio dengan mudahnya berlari, bahkan dia orang yang paling terlihat baik-baik saja, sementara siswi yang lain mengeluh lelah bahkan ada yang sampai selonjoran dibawah.
Gio menatap ke arah Gea yang bersiap berlari, Gio mengangkat tangannya, mengepalkan tangannya seolah memberi semangat pada saudara kembarnya itu, Gio tahu kalau itu sulit untuk Gea yang tidak terlalu suka olahraga.
5 putaran Gea masih baik-baik saja, dia tetap memaksakan dirinya berlari, dia tidak mau dianggap lelaki lemah. Dia tidak mau memberi kesan pertama yang jelek pada semua orang tentang Gio .
"Semangat Ge! Ayo.. kamu pasti bisa!" Gumam Gea pada dirinya sendiri.
Akhirnya dia bisa menyelesaikan larinya di putaran ke 10 meski matanya sudah sedikit buram.
Pandangan itu perlahan berubah menjadi gelap dan kini Gea sudah berada di ruangan UKS.
"Seharusnya kamu jangan memaksakan diri Gio, apa kamu lagi sakit?" Tanya Lili
"Lili, kamu sekolah disini juga? Kamu kok gak ngasih tau aku sih?" Gea
"Hmm, iya aku masuk sekolah ini juga. Tadi mungkin aku gak kelihatan karena banyak siswa lain, hehe…" Lili
"Senangnya…," ucap Gea yang membuat Lili sedikit merasa aneh. Bukankah dia tidak terlalu dekat dengan Gio, dia merasa itu adalah Gea sahabatnya, hatinya berkata itu Gea namun matanya berkata itu Gio.
***
Gio yang baru saja kembali membeli makanan untuk Gea, dia melihat keberadaan Lili disana. Membuat dia ragu untuk masuk, dia merasa tidak enak saja harus mengganggu dua sahabat yang baru bertemu itu.
Tok
Tok
Tok
Gio mencoba mengetuk pintu yang sudah terbuka itu untuk membuat kedua orang itu menoleh padanya.
__ADS_1
"Gea, sini..!" Lili
Gea pun menghampiri mereka, "nih makanan sama minumannya, makanya jangan melupakan sarapan pagi, jadi pingsan kan!" Gio
"Hehe.. iya bawel," jawab Gea dengan wajah kesal, sebenarnya dia sarapan namun yang membuatnya pingsan karena kelelahan. Gea tidak mau malu jika dianggap lelaki lemah yang lari begitu saja sampai pingsan, ya ini hanya alasan mereka untuk menutupi sesuatu.
***
Untunglah kegiatan hari ini tidak terlalu banyak, mereka bisa pulang lebih cepat.
Karena Lili sudah lama tidak bertemu Gea, dia pun ikut ke rumah sahabatnya itu.
Sesampainya di rumah, Gita menyambut anak-anaknya dengan bahagia karena baru pulang dari sekolah mereka yang baru, ya.. mereka sudah tumbuh dewasa sudah duduk di bangku SMA.
Gita berlari berniat memeluk anak kembarnya itu.
"Mah, jangan lari-lari!" Ucap Gea yang kaget karena melihat ibu hamil 5 bulan berlari.
Langkah Gita pun terhenti, "hehe… maaf Mamah lupa, perut mamah belum terlalu besar jadi masih bisa berlari." Gita
"Baik kok Tante." Lili
Gea menyenggol tangan Gio agar dia mengajak Lili ke kamarnya, bukankah sekarang Gio harus berakting menjadi Gea.
Hmm, sungguh gue ingin balik lagi ke tubuh gue. Pikir Gio
"Ayo Li, kita ke kamar, kita nonton aja sambil bercerita..!" Ucap Gio yang sudah tahu kebiasaan mereka saat bertemu di rumah ini.
Lili mengangguk, Gea biasanya merangkul aku, memelukku, tapi kenapa dia jadi cuek gini ya? Gak ada ekspresi senang, apa dia tidak suka aku berkunjung ke rumahnya?
Lili berjalan mengikuti Gio dari belakang, biasanya mereka akan saling bergandengan.
Lili langsung merebahkan tubuhnya di kasur Gea dengan terlentang, dia sudah biasa seperti itu, "Ge sini deh, tidur disebelah aku!"
"Hmm, iya . . Aku ganti baju dulu," jawab Gio dengan sedikit salting karena dia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Lili sekarang.
__ADS_1
Apa gue harus tidur bareng sama dia? Pikir Gio
Setelah berganti pakaian, Gio mengendap-ngendap keluar kamar untuk menemui Gea, dia ingin tahu cara memperlakukan Lili sebagai seorang Gea.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Dia malah tidur, enak bener ya? Padahal gue bingung setengah mati ngadepin sahabatnya itu," ucap Gio lalu melangkah mendekati ranjang, menggoyangkan tubuh Gea dengan keras agar dia bangun. Gio menarik selimutnya, membuat Gea kini terjatuh dan berada di lantai.
"Aw, Gio sakit kamu apa-apaan sih?" Gea bangun dengan kesal, tentu saja karena kepalanya yang sakit terbentur lantai.
"Lagian kamu enak-enakkan tidur, sementara gue kebingungan." Gio
" Bingung kenapa?" Gea
"Itu si Lili, dia ngajakin tidur bareng gitu, emang Lo suka gitu sama dia?" Gio
"Ya ampun Gio, cuma tiduran bareng sambil cerita-cerita aja, sambil dengerin musik atau nonton. Itu gak bikin pusing," jawab Gea dengan entengnya.
"Tapi kan naluri gue masih naluri cowok, masa gue ngelakuin itu sama Lili. Gak ah." Gio
"Terus kamu mau dia curiga?" Gea
"Dia gak akan percaya kalau kita bertukar tubuh, karena ini diluar nalar banget Ge, bahkan kita belum kembali ke tubuh semula. Gue udah stress tau gak?, apalagi ribetnya datang bulan." Gio
"Lalu kita harus gimana biar kita kembali ke tubuh kita lagi, ayo jawab, kamu pikir kamu aja yang stress? nilaiku aja anjlok ko, cita-citaku terancam." Gea
Gio yang merasa putus asa dengan pertanyaan Gea yang tidak ada jawabannya itu, dia duduk ditepi ranjang dengan bingung.
Sementara dibalik pintu ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka, orang itu mematung saking kagetnya.
__ADS_1
Bersambung…..