
Gea dan Gio kini sadar, mereka membuka matanya secara perlahan, mereka pingsan semalaman.
"Kenapa gelap? Dimana ini?" Gumam Gea.
"Gea, Lo gapapa kan?" Tanya Gio.
"Aku gapapa, hanya kepalaku sedikit pusing," jawab Gea memegangi kepalanya.
"Sepertinya kita dibawa oleh orang-orang tadi, Lo harus tenang Gea, gak usah takut dan Lo harus gunain cincin itu..!" Gio
"Iya maaf," Gea menyesali dirinya yang masih penakut itu.
Selang beberapa menit terdengarlah suara langkah kaki mendekat, membuat mereka lebih waspada. Pintu itu pun dibuka , sontak mereka menutup kedua mata mereka karena tiba-tiba ruangan itu berubah menjadi terang, belum lagi ditambah cahaya dari luar.
"Kalian sudah sadar, diamlah disini jangan coba-coba kabur dari sini!" Ucap lelaki itu, namun Gio yang berpikir jika ini adalah kesempatan yang bagus, dia memilih melawan.
Dia menarik Gea agar bangun dari posisi duduknya, tali yang mengikat mereka pun sudah terbuka sebelumnya, sebelum lelaki itu datang.
Gio melindungi Gea, dia berdiri paling depan berusaha melewati lelaki bertubuh besar itu agar mereka bisa berlari ke arah pintu dan kabur.
"Haha, hei anak perempuan yang so berani, jangan berani-beraninya ya melawan aku!" Laki-laki itu tertawa melihat gadis kecil yang melindungi saudara laki-lakinya.
Namun dia belum tahu kalau perempuan yang dianggapnya lemah itu sangat jago beladiri dan sebenarnya itu adalah Gio.
Gio mencoba menahan lelaki itu dan membiarkan Gea berlari terlebih dahulu, Gio yang kini memakai cincin ajaib Gita, dia menggunakan kesempatan itu untuk menyerangnya dan akhirnya lelaki itu tumbang.
Gio berlari mengejar Gea, mereka mengendap-ngendap sekarang, mereka mencari jalan keluar.
Mereka seperti berada di gedung tua yang kosong, gedung berlantai tiga dan memiliki banyak ruangan.
Gio bisa melihat ada banyak yang berjaga di lantai bawah, dia memberikan lagi cincin ajaib itu pada Gea karena sang adik tidak mempunyai keahlian bela diri, sementara lawan mereka banyak.
__ADS_1
"Itu terlalu banyak Gio, kita pasti kalah apalagi kamu tadi sempat dipukuli mereka, wajahmu lebam," gumam Gea pelan karena tidak mau ketahuan.
"Iya, apa kita tunggu mereka pergi sebagian ya?" Gio mulai bingung.
"Hmm, kalau mereka pergi, kalau mereka malah datang kemari bagaimana?" Tanya Gea.
Akhirnya mereka menunggu beberapa menit sebelum penjaga di atas sadar, untunglah sepertinya beberapa penjaga keluar gedung, hanya ada sekitar 5 penjaga saja yang tersisa.
Gio menyuruh Gea tetap dekat dengannya dan membantunya dengan cincin itu. Gea pun mengangguk, mereka menjalankan rencana mereka.
Mereka turun perlahan, membuat penjaga pertama dan kedua pingsan dengan mudahnya karena mereka membelakangi si kembar, namun saat penjaga lain mengetahui keberadaan si kembar, mereka bertiga langsung menyerang.
Perkelahian pun tidak bisa dihindari, 2 orang menyerang Gio sementara satu lagi mengincar Gea, Gea gugup namun dia meyakinkan dirinya agar berani menghadapi mereka.
Gea yang telah siap dengan cincinnya hanya perlu mencari kesempatan dimana lawannya lengah dan bisa menempelkan cincin itu di bagian tubuh sang lawan.
"Hahaha, kamu sudah takut masih saja melawan, dasar!" Ucap lelaki itu sembari mendekati Gea.
"Hahaha… belajarlah dulu cara mengepalkan tangan yang benar!" Ledek penjahat itu.
Gea tak bergeming karena dia memang tidak ingin melawan penjahat dengan tinjuannya, melainkan aliran listrik cincinnya.
Saat penjahat itu tertawa, Gea melayangkan tinjuan kecil miliknya, dia salah mengira, dia pikir dia memakai cincin pada tangan kanan, ternyata ditangan kiri.
"Hahaha, geli.. itu bukan pukulan tapi sentuhan." Penjahat itu tertawa begitu menggelegar, menertawakan kelucuan Gea.
Namun saat Gea memukul dengan tangan kiri dan memfokuskan agar cincinnya mengenai lelaki yang berada di hadapannya. Pria itu berubah ekspresi dari senang dan tertawa dia kini meringis kesakitan dan jatuh tak sadarkan diri.
"Makanya jangan kebanyakan tertawa!" Ucap Gea bangga dia bahkan tertawa merayakan keberhasilannya.
Kini Gea melihat Gio yang masih berjuang dengan satu lawannya lagi, Gea menyerang dari arah belakang dan berhasil membuat lawannya itu pingsan seketika.
__ADS_1
Gio tersenyum dengan keringat bercucuran, mereka pun berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar, namun betapa kurang beruntungnya mereka, ternyata penjaga yang lain telah kembali dan menghalangi mereka.
"Ya ampun, tenaga gue udah habis Ge, Lo aja yang ngurus mereka pake cincin Lo..!" Ucap Gio pelan di telinga Gea.
"Tapi itu terlalu banyak," keluh Gea.
Gea yang berkeinginan untuk bisa keluar dari sana, dia berusaha memberanikan diri, dia bisa membuat semua penjahat itu pingsan dengan dibantu Gio.
"Hah.. hah, udah semua kan, ayo pergi!" Ajak Gio pada Gea.
Namun baru saja mereka berlari beberapa langkah, mereka dihadang oleh laki-laki yang berpakaian rapi, mereka pikir itu adalah bos para penjahat tadi. karena penampilannya yang berbeda dan lelaki itu berbadan kurus, membuat Gio dan Gea tidak takut sama sekali.
Hingga dimana pria itu mengeluarkan pistol dan mereka berdua mulai berjalan mundur.
Bagaimana ini? Pikir Gio
Mereka terpojok karena di belakang mereka ada satu penjahat yang sudah sadar yang berada di lantai atas tadi.
"Aku belum ingin mati Gio, aku takut..," Gea berbicara dengan suaranya yang lirih, membuat Gio tidak tega, dia bersikap so berani demi sang adik.
Gio berdiri di depan Gea, berharap jika peluru itu memang ditembakkan maka Gea akan selamat, namun Gea tidak mau jika Gio mati karena dirinya, Gea pun berpindah posisi di depan Gio.
Mereka terus saja berpindah tempat seolah saling melindungi dan mengalah, membuat para penjahat itu tertawa senang.
"Hahaha, kalian rupanya lebih suka mati lebih dulu, siapa yang duluan itu gak penting karena akan ku buat kalian berdua mati disini." Ucap lelaki di depan si kembar yang memakai jas hitam itu.
"Gea, Lo mundur , Lo diem aja di belakang gue!" Bentak Gio yang ingin Gea tetap di posisinya.
"Hahaha…," Lelaki itu tertawa dan mulai melepaskan satu tembakannya.
Dor
__ADS_1
Bersambung….