
Benar saja, rumah itu tidak ada disana. Menghilang tanpa jejak, meski Ge dan Gio masih belum percaya, namun mereka harus mengakui jika ini memang aneh.
Mereka pun kembali ke rumah dengan rasa penasaran.
Dengan kejadian itu, Gita mulai memberikan mereka pengawalan lagi dengan 2 bodyguard.
"Mah, aku janji kejadian malam tadi gak akan terulang lagi, aku gak mau kalau ada bodyguard karena itu akan mencolok sekali saat di sekolah." Gea
"Hmm… kalau begitu Mamah akan menyuruh mereka untuk mengawasi kalian dari jauh, tidak masalah kan?" Gita
"Hmm, iya Mah…," Gea mengangguk dengan terpaksa.
***
Benar saja keesokan harinya mereka berangkat sekolah dengan dua pengawal, tak hanya pak Denis ditambah lagi dengan Pak Beni si garang, mukanya memang menyeramkan dengan adanya bekas luka di wajahnya itu menambah kesan seram, tidak pernah tersenyum namun dia tidak tega menyakiti binatang, hatinya begitu lembut pada binatang yang terlihat lucu dan menggemaskan.
Tapi jika melawan sesama manusia, Pak Beni bisa menyerang lawannya dengan membabi buta. Dia akan membela yang benar sampai darah penghabisan.
Karena itulah Reza mempercayakan anak kembarnya pada dia. Pak Beni yang sudah bekerja dengannya sekitar 10 tahun.
Mobil hitam itu keluar dari lingkungan sekolah, namun kedua pengawal itu tidak pulang. Mereka mengawasi dari luar, dari luar sekolah itu sampai si kembar waktunya dijemput untuk pulang.
***
Gea dan Gio ternyata satu kelas, mereka berada di kelas 10 B sekarang.
Saat si kembar masuk, banyak mata yang memandang mereka dengan tatapan kagum dan penasaran, tentu saja penasaran dengan hubungan mereka yang nampak dekat dan datang bersamaan.
Gio mencari tempat duduk disebelah Gea, dia sepertinya memang ingin terlihat sebagai pasangan Dimata teman-temannya.
"Sepertinya mereka pacaran." Putri
"Iya, atau mungkin jodoh, karena mereka itu mirip, tapi yang ceweknya nempel terus kayak perangko, kayaknya yang cewek yang bucin. Haha…" Mirna
"Sstt.. jangan keras-keras nanti mereka denger, tapi kalau mereka gak pacaran, itu cowok buat gue oke?" Bella
"Enak aja Lo, kita bersaing sehat dong!" Putri
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti saat guru memasuki kelas, guru itu menyapa muridnya di pagi hari itu, lalu memberikan waktu pada si kembar untuk memperkenalkan diri karena mereka kemarin tidak masuk kelas.
"Hallo, perkenalkan nama saya Gio Putra, nama panggilan saya Gea, hobby saya belajar, senang bertemu dengan kalian semua," ucap Gea tersenyum senang lalu dia kembali duduk.
"Perkenalkan, nama saya Gea, senang bertemu kalian semua," Gio tersenyum dengan singkatnya lalu kembali duduk.
Karakter mereka yang terbalik membuat teman yang lain semakin penasaran dengan mereka, yang cowok banyak bicara sementara yang cewek cuek sekali.
Bel istirahat pun berbunyi, Gio langsung menggandeng Gea menuju kantin.
"Hmm, kamu apa-apaan Gio?" Tanya Gea sambil berjalan.
"Gapapa, gue mau semua orang menganggap kita itu pacaran." Gio
"Apa perlu?" Gea
"Perlu lah, biar Mamah gak khawatir juga kalau tau gue dijagain sama Lo." Gio
"Gak kebalik nih?" Gea
"Hahaha, jeruk makan jeruk." Gea
Mereka sampai di kantin dan makan bersama, Gea juga mengirim pesan pada Lili untuk janjian di kantin dan makan bersama.
"Boleh aku gabung disini?" Tanya Geri ketua OSIS.
"Emm, boleh." Jawab Gea
Namun Gio menatap Gea dengan mata melotot, dia merasa risih jika kakak kelasnya itu makan di meja yang sama.
"Oh iya, kamu Gea kan? Aku masih ingat loh namamu, kamu sangat cantik beda dari yang lain." Geri
"Uhuk.. uhuk…," Gio tersedak minumannya, tebakannya benar jika dia akan digoda sesamanya, ya sesama lelaki.
"Kamu gapapa kan Ge? Apa perlu aku bawa ke UKS?," Tanya Geri dengan panik.
Oh astaga, ni cowok lebay banget sih. Pikir Gio
__ADS_1
Namun berbeda dengan Gea, dia malah memandang ke arah Geri dengan tatapan terpesona.
"Aku gapapa, gak perlu ke UKS, iya namaku Gea dan itu Gio, pacar aku," tunjuk Gio pada Gea.
Seketika Gea memandang Gio dengan tatapan kesal, Ya ampun aku harus melewatkan cowok sekeren kak Geri gara-gara Gio. Batin Gea
Sementara Geri yang tadinya bersemangat, kini malah nampak diam, lalu berpura-pura jika dia ada urusan mendadak dengan anggota OSIS lainnya padahal dia sedang merasa kecewa.
"Gio, kak Geri jadi kabur kan, padahal kak Geri itu ganteng dan gagah," keluh Gea.
"Gantengan juga gue." Gio
"Kamu cantik sekarang bukan ganteng, Lili kemana sih kok lama banget?," Gea melirik kemana dan ke kiri mencari keberadaan sahabatnya.
"Kamu itu sahabatan atau pacaran sih? Nempel terus sama Lili." Gio
"Hmm, kalau kamu ngizinin, aku mau pacarin dia aja sebagai kamu Gio, gimana?" Tanya Gea menatap Gio.
"Jangan!" Teriak Gio.
"Apanya yang jangan?" Tanya Lili yang baru datang.
"Bukan apa-apa, Ayo pesen Li, kita makan bareng..!" Gio
Sayang sekali mereka tidak sekelas dengan Lili, gadis itu sepertinya juga belum memiliki teman baru.
***
Saat jam pulang tiba, mobil jemputan si kembar ada di dekat gerbang sekolah. Mereka berjalan berdampingan, namun tiba-tiba ada yang memukul pipi Gea.
Tentu saja Gea kesakitan dan tidak bisa melawan karena dia memang tidak bisa bela diri. Gio memasang badan untuk kembarannya itu.
"Cemen Lo, masa dibelain cewek sih? Makanya jangan sok keren!" Miko
Saat Gio sudah siap menangkis pukulan kedua dari Miko, ternyata sudah ada tangan yang lebih dulu menahan tangan Miko, memelintirnya dan berhasil membuatnya terjatuh.
Bersambung …
__ADS_1