
Lili berhasil sampai di kelas lebih dulu, kebetulan tidak berselang lama sudah ada guru yang mengajar karena memang waktu istirahat sudah habis.
Gio ingin langsung menjelaskan kejadian tadi, namun dia memilih diam karena tidak mau dimarahi guru dan membuat masalah sebagai Gea.
Tak berselang lama disusul Bianka dan yang lainnya datang ke kelas. Mereka tak berani menatap Gio, namun jauh di lubuk hati Bianka, dia semakin membenci sosok Gea yang sekarang.
Gio menyenggol lengan Lili, namun gadis itu mengabaikannya.
"Li, soal yang tadi, aku bisa jelasin," Bisik Gio karena tempat duduk mereka memang berdampingan.
Lili tetap mengabaikan Gio, berpura-pura tidak mendengar apapun. Bahkan saat jam pulang sekolah Lili langsung pulang sebelum Gio menghentikannya dan mengajak gadis itu bicara.
Kenapa jadi begini sih? Pikir Gio
Saat Gio berjalan menuju parkiran, mulai banyak lelaki yang menyukainya, menggodanya karena permainan basketnya tadi, bahkan banyak yang mengincar Gea, ada yang benar-benar suka dan ada yang hanya taruhan saja untuk bisa mendapatkan Gea. Berbeda dengan pandangan siswi disana yang menatap iri dan tidak suka karena Gea menjadi pusat perhatian.
"Ge, kamu mau pulang? Yang tadi itu keren banget loh, aura kamu makin terlihat, kamu juga cantik dan pintar, kamu sempurna loh untuk jadi pacar aku." Hendrik
"Hmm, jangan ganggu dia! Dia, mana mau sama Lo.. ayo Ge aku antar sampai parkiran, aku juga mau ikut ke rumah kamu jengukin Gio." Haikal
"Dia juga gak mau kali kalau sama Lo," ucap Hendrik dan berlalu pergi, dia malas jika harus berurusan dengan Haikal.
Tanpa sadar Haikal menggenggam tangan Gio yang dianggapnya Gea itu, namun tangan itu dihempaskan oleh Gio.
"Aku tahu kok jalannya, gak usah dipegangin juga kali." Gio
Cari kesempatan dia, apa Haikal suka sama Gea? Pikir Gio
Hmm, ni cewek jual mahal banget sih. Pikir Haikal
Mereka pun berjalan beriringan, setelah sampai di parkiran, Gio masuk ke mobilnya.
"Aku nunggu Brian dulu, kamu bilangin kakakmu ya kalau kita mau Dateng nengokin dia." Haikal
"Iya, jangan lupa bawa makanan yang banyak!" Gio
__ADS_1
Haikal hanya tersenyum mendapatkan jawaban yang dingin dari gadis itu. Semakin gadis itu menolak maka semakin membuat Haikal penasaran.
Mobil itu pun berlalu pergi, namun Haikal masih menatap mobil itu dengan senyumannya.
"Woy, Lo kesambet ya ? senyum-senyum sendiri gitu, hahaha .. " Brian
"Kampret, ngagetin aja Lo, ayo berangkat, kita naik motor masing-masing!" Haikal
"Ya iyalah, masa motor gue ditinggal di sekolah." Brian
"Gue cuma ngingetin Lo, kali aja Lo lupa. Hahaha .." Haikal
"Rese Lo, gue gak sepelupa itu kali," ucap Brian sambil mendorong Haikal sampai hampir tersungkur ke tanah, untung saja tangannya yang memegang bagian depan motor itu bisa menahan tubuhnya.
"Lo ngajak gue berantem sekarang?" Haikal
"Hmm, hmm.. bukankah kita mau ke rumah Gio? Ayo cepetan!" Ucap Brian mencoba menghindar dari amukan Haikal.
Dasar Cemen, pikir Haikal
Gio yang sampai lebih dulu, dia bergegas pergi ke kamarnya yang serba biru namun tidak menemukan Gea, dia beralih ke kamar yang lainnya.
Ceklek
"Ge, Haikal sama Brian mau dateng, Lo siap-siap dan jangan sampai mereka curiga kalau Lo itu bukan Gio yang asli..!" Gio
"Beneran mereka mau Dateng? Sekarang?" Gea
"Iyalah, masa tahun depan. Cepetan sana keluar dari kamar ini.. ini kan kamar gue sekarang, meski mata gue masih aja sakit ngeliat semua yang serba pink ini," Keluh Gio sambil mendorong adiknya keluar menuju pintu yang sudah terbuka.
Gea berjalan menuju kamarnya dengan masih dalam keadaan bingung, dia berharap teman-teman Gio itu tidak menemukan sesuatu yang aneh di kamar itu.
Gea baru ingat jika peralatan di kamar mandinya sempat ditukar dengan Gio, dia bergegas pergi dan mengambilnya, memindahkan semuanya ke kamar pink nya dan menukarnya dengan alat mandi Gio.
"Hmm.. , kamu ribet banget sih Ge," protes Gio saat melihat adiknya bolak-balik keluar masuk ke kamarnya, padahal Gio baru saja ingin tidur siang karena lelah setelah bermain basket dan melawan geng Bianka tadi.
__ADS_1
"Kalau mereka tahu ada alat mandi serba pink, ada cream luluran, pasti mereka curiga." Gea
"Iya, iya… terserah, yang penting gue ngantuk dan mau tidur, Lo bebas bolak-balik asal jangan berisik!" Gio
"Iya bawel, padahal mereka kan temen-temen kamu juga Gio, kenapa jadi hanya aku yang merasa kerepotan," gumam Gea yang masih bisa didengar Gio. Namun Gio gak mau tahu, yang dia tahu dia butuh istirahat dan tidur untuk saat ini.
Setelah selesai, Gea kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamar Gio, agar kakaknya itu bisa tidur nyenyak.
"Gio… " Gita
"Iya Mah, ada apa?" Gio
"Itu ada temen-temen kamu di ruang depan, mau jengukin kamu deh, suruh masuk aja ke kamar ya..! Biasanya juga kalian akan main game sampai malam, hmm … dan ingat jangan terlalu malam, kamu kan masih sakit..!" Gita
"Hehe… iya Mah." Gea
Haikal dan Brian kini sudah berada di kamar Gio, kamar yang nampak sama saat terakhir kali mereka datang bermain.
"Gio, Lo sakit apa? Lama banget, jangan bilang kalau Lo pura-pura sakit biar bisa bolos sekolah?" Haikal
"Gak lah, sakit bener kok." Gea
"Oh iya, adik Lo si Gea keren juga, dia main basketnya jago kaya Lo, padahal Lo kemaren gue liat gak bisa masukin bola satupun, aneh kan?" Tamat Haikal yang mendekatkan wajahnya dengan wajah Gea, membuat Gea gugup karena takut jika Haikal tahu rahasianya.
Sementara Brian sedang sibuk bermain game bahkan sambil makan cemilan yang disediakan ibunya si kembar.
"Aneh gimana? Apa sakit itu aneh? Gak kan?" Gea
"Bukan itu maksud gue, gue ngerasa ada yang beda dari Lo, banyak perubahan yang terjadi dan gue sebagai sahabat Gio tentu tahu kebiasaan dia, makanan kesukaannya, cara dia makan, tapi gue gak nemuin itu di Gio yang sekarang, apa Lo ngerti maksud gue?" Haikal
"Hahaha, lucu banget sih Lo Kal, ngelawak aja deh, gue ya gue lah, gue ya Gio. Kita main game aja yuk..!" Gea
Haikal menatap punggung sahabatnya itu, sebenernya gue yang gila karena memikirkan hal yang tak mungkin? atau... ah sudahlah gue pusing. pikir Haikal
Bersambung..
__ADS_1