Si Kembar Yang Bertukar Tubuh (Gea&Gio)

Si Kembar Yang Bertukar Tubuh (Gea&Gio)
Ketakutan Lili


__ADS_3

"Gimana ya, yang lain kan pemainnya lelaki semua, mereka pasti gak mau kalau ada perempuan di tim mereka, meski pertandingan ini antar sekolah saja sebagai perwakilan dan bukan pertandingan basket putra, tetap saja ini akan sulit diterima oleh mereka." Pak Agus


"Saya akan berbicara pada mereka setelah Bapak menyetujuinya, saya siap dites kapan saja Pak, nanti siang ketika istirahat saja, bagaimana Pak?." Gio


"Oke, satu kesempatan saja, jika kemampuan kamu oke, saya akan izinkan dan selebihnya kamu usahakan sendiri membujuk anggota yang lain..!" Pak Agus


"Terimakasih Pak," ucap Gio dan tersenyum senang.


Dengan segera dia pergi ke kelasnya, dia tidak mau terlambat karena selama berbicara dengan Pak Agus dia sudah menggunakan waktunya lumayan lama.


Ternyata sudah ada guru yang mengajar di kelas 9A, Gio mencoba mengetuk pintu kelasnya.


Tok


Tok


Tok


Pak Jaka membuka pintunya, "Kamu baru datang Gea? Kenapa bisa telat, dari mana saja kamu?" Pak Jaka


Gio menjawab dengan jujur, membuat guru itu mempersilahkan Gio duduk dan mengikuti pelajarannya pagi ini, Pak Jaka sepertinya percaya pada Gio dan mentolerir atas keterlambatannya kali ini.


"Ge, kamu dari mana?" Tanya Lili sambil menyenggol lengan Gio, karena tempat duduk mereka berdampingan.


"Ada aja, jangan kepo..!" jawab Gio sambil tersenyum.


"Astaga, aku gak kepo cuman pengen tahu aja, kemana aja sih dari tadi?" Lili bertanya dengan berbisik-bisik.


"Kepo sama ingin tahu itu sama aja kali Li, nanti kamu juga tahu, sekarang fokus aja belajar dulu!" Gio


Lili terpaksa membungkam mulutnya karena Gio sama sekali tidak berniat memberitahunya.


***


Saat bel berbunyi, mereka berdua langsung menuju kantin sekolah, Gio makan dengan terburu-buru, dia juga makan hanya sedikit tak seperti biasanya yang bisa menghabiskan dua porsi makanan, kelakuan Gio harin ini membuat Lili merasa kalau Gio aneh.


"Li temenin aku yuk..!" Gio menarik lengan gadis itu tanpa persetujuan terlebih dahulu.


"Kita sebenernya mau kemana?" Lili

__ADS_1


Namun Gio tidak menjawabnya karena dia telah melihat sosok guru yang tinggi dan besar, Pak Agus sudah menunggunya disana bersama pemain basket lainnya.


Gio menghampiri mereka dan ikut berbaur, sementara Lili menunggu di pinggir lapangan.


Dia mau ngapain sih? Pikir Lili


Pak Agus mencoba menjelaskan pada semua anggota tim basket, banyak yang tidak setuju dengan kedatangan gadis cantik itu.


"Tim ini kan tim basket putra Pak, saya gak setuju." Bara


"Iya, cewek itu ngeribetin, nyusahin." Brian


"Gapapa kita lihat aja dulu gimana kemampuan Gea, dia kan berniat baik menggantikan Gio." Haikal


Gio tersenyum pada Haikal, sahabatnya itu memang selalu bisa diandalkan.


"Iya, karena tidak ada peraturan yang mengharuskan pesertanya laki-laki semua, maka kita berikan satu kesempatan pada Gea." Pak Agus


Semua anggota tim basket mengangguk dengan terpaksa.


Gio akhirnya memulai permainannya, pertama satu lawan satu, dia melawan Bara dan hasilnya memuaskan, dia mendapatkan skor 5 sementara Bara tidak bisa memasukan satu pun bolanya.


Bara merasa harga dirinya hancur karena dikalahkan oleh wanita yang bahkan diejeknya tadi.


Keren, aku harus mendapatkannya. Pikir Arif


Setelah Gio memperlihatkan kemampuannya, Haikal menatapnya dengan intens, "kenapa gue merasa kalau Lo itu Gio ya?" Bisik Haikal di telinga gadis yang kini mengalahkannya.


Deg


Astaga, apakah dia berpikir jika gue bertukar tubuh dengan Gea? Apakah dia tahu? Pikir Gio


Dengan keahlian Gio yang bisa mengalahkan mereka maka Pak Agus bertepuk tangan dan mengucapkan selamat atas keberhasilan Gio yang dapat bergabung di pertandingan nanti.


"Syukurlah, setidaknya gue masih bisa bertanding meski sebagai Gea." Gumam Gio pelan.


"Selamat ya Ge, kamu keren banget, aku gak tahu loh kalau kamu itu jago Mi'an basket," puji Lili.


Mereka duduk dipinggir lapangan, Lili juga memberikan air mineral pada sahabatnya yang terlihat lelah itu.

__ADS_1


Untunglah Gio sebelumnya telah menyuruh sopir pribadi keluarganya untuk mengantarkan seragam baru, hingga seragamnya yang penuh keringat itu bisa dilepaskan.


Kini dia sedang berada di toilet, saat keluar dia dihadang oleh seseorang.


"Apa kamu pikir sekarang kamu keren? Hey Gea jangan sok cantik deh Lo!" Bianka


"Gue emang cantik dan keren semua orang pun mengakuinya." Gio


"Hahaha, denger ya! Lo jangan ikut pertandingan basket itu, kalau masih keras kepala, gue gak akan segan-segan bikin perhitungan sama Lo!" Bianka


"Hahaha, Lo pikir gue takut hah? Apa hak Lo ngelarang gue? Biar gue gak bisa ngalahin popularitas Lo di sekolah? Lo iri? Bersaing itu yang sehat dong, kalahin gue pake prestasi Lo dan jangan ngebully gue!" Gio


"Sekarang Lo berani sama gue hah?, Serang guys!" Teriak Bianka yang diikuti pergerakan 4 temannya dibelakang.


Cih, beraninya main keroyokan. Batin Gio


Sonya dan Riri memegangi tangan Gio, sementara Bianka mulai membuka satu kancing baju atas milik Gio.


Riri sebenarnya tidak tega, dia bahkan mengendurkan tangannya agar tangan Gio tidak sakit.


Gio melirik kearah Riri, sepertinya dia memang anak yang baik. Pikir Gio


Gio merasa sudah cukup berpura-pura lemah seperti Gea, dia dengan mudahnya menghempaskan tubuh Sonya yang bahkan dia banting ke arah Bianka, membuat dua wanita itu terjatuh bersamaan.


Lalu Gio menghempaskan tangan Riri dengan sedikit keras namun tidak sampai membuatnya terpental. Gio tahu kalau Riri ada dipihaknya.


Sementara Dina yang melihat Bianka jatuh, dia berlari berniat memukul Gio, namun ditahannya dan mendorongnya mengenai dua orang yang terlebih dahulu jatuh di lantai.


"Rasain! Kalian jangan macam-macam sama gue!" Gio


Gio berjongkok dan mencengkram dagu Bianka dengan sedikit keras.


"Jangan main-main sama gue, Lo mau buat foto gue yang tak senonoh dan menyebarkannya? Cih licik sekali, ingat fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan, gue akan selalu ingat apa yang Lo lakuin hari ini," ancam Gio lalu melepaskan cengkeramannya, Riri menatap Gio sekilas lalu menunduk.


Lili yang ternyata memperhatikan kejadian itu, dia menatap dengan bingung. Saat Gio menyadari kehadiran sahabat adiknya itu (Lili), Lili malah berlari seakan dia takut oleh sosok Gea yang sekarang.


"Lili tunggu!" Teriak Gio berlari mengejar Lili


Ada apa dengan Gea? kenapa dia menjadi menakutkan seperti itu, apakah dia Gea yang selama ini aku kenal? batin Lili bertanya-tanya, namun kakinya terus berlari menuju kelas berusaha menjauh dari toilet.

__ADS_1


Disatu sisi dia senang karena sahabatnya kini berani dan tidak mudah ditindas Bianka ataupun yang lainnya, tapi... tapi entah mengapa ada sedikit keraguan dan rasa takut, dia seperti merasa kalau itu bukanlah sahabatnya.


Bersambung ….


__ADS_2