
Kini acara piknik itu berubah menjadi sesuatu yang menyedihkan. Mereka menunggu Gio yang terbaring di ranjang Rumah Sakit.
"Gio, kenapa kamu malah meninggalkan adikmu? Lihatlah dia sekarang sakit, seharusnya kamu melindungi dia sebagai laki-laki bukannya malah kabur," ucap Reza memarahi Gea yang dianggap Gio itu, seorang ayah yang mengkhawatirkan anak gadisnya.
Gita memandang mereka dengan bingung, ingin rasanya membela Gea dan mengatakan yang sebenarnya, namun dia tahu Reza tidak akan percaya apalagi hanya mendengar pengakuan mereka tanpa mendengar pengakuan Gea yang kini masih belum sadarkan diri.
"Sudah Pah jangan marah-marah, ini kan Rumah Sakit, kita fokus sama Gea yang lagi sakit saja oke, jangan marahin Gio terus karena ini bukan salah dia, kita tangkap anak-anak berandalan itu Pah!" Gita mencoba membujuk suaminya.
Reza mulai meredakan emosinya, dia duduk dan segera mengambil ponsel di sakunya, menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk menangkap anak-anak yang mabuk yang menyerang anak gadisnya.
Lili menatap Gio yang terbaring dengan air mata, dia sedih melihat Gio yang melindungi mereka sampai dia sendiri yang celaka.
Gadis itu mendekatkan dirinya pada Gea, kini dia mencoba menenangkan sahabatnya. "Sudah Ge, semua pasti akan baik-baik saja, kamu jangan menangis! Ingat kamu itu Gio, kamu laki-laki kuat!" Ucap Lili pada Gea yang kini sedang menangis tanpa suara.
Kenapa semuanya jadi seperti ini, dan Papah malah menyalahkan aku? Lebih baik aku saja yang celaka tadi, harusnya aku benar-benar berperan sebagai Gio tadi. Batin Gea
Lili memeluk sahabatnya itu, untung saja Reza tidak melihatnya karena sibuk menelpon, kalau tidak, maka Gea akan kena omel lagi karena bermesraan dengan Lili.
***
Mereka menunggu sampai malam, dan akhirnya Gio sadar.
"Gio, kamu gapapa? Mana yang sakit Nak?" Gita dengan segera menghampiri anaknya saat melihat dia sudah sadar, dia begitu khawatir.
"Aku gapapa Mah, aku kan laki-laki yang kuat, hanya saja semua badanku sakit semua Mah, hehe…," ucap Gio yang masih sempat-sempatnya tersenyum disaat seperti itu, namun senyuman itu membuat ibunya merasa lega.
__ADS_1
Reza masuk setelah bertemu dengan detektifnya, dia memeluk anak gadisnya.
"Gea, maafin Papah yang gak bisa jagain kamu." Reza
"Aku gapapa Pah, bisakah Papah melonggarkan pelukannya? Badanku sakit semua," keluh Gio yang benar-benar merasa sakit.
Reza pun refleks melepaskannya dan mundur beberapa langkah, "maaf, syukurlah kamu sudah sadar Gea, kenapa akhir-akhir ini kamu sering terluka? Papah jadi khawatir"
Biasalah Pah anak lelaki memang begitu, berantem adalah hal biasa, batin Gio.
"Hehe… mungkin aku harus belajar beladiri Pah, biar bisa kaya Mamah, iya kan Mah?" Gio beralih menatap ibunya.
Gita pun mengangguk, dia jadi teringat masa lalu dimana dia memang suka berkelahi dengan penjahat, preman bahkan Reza suaminya itu berlindung di balik punggungnya, memebuatnya kini tersenyum mengingat kenangan itu.
"Hehe… iya dong Mamah kan kuat, iya kan Pah?, nanti Mamah masukin kalian les beladiri oke?" Gita
Gio mengangguk, Gea pun yang mendengar percakapan itu menjadi punya tekad yang kuat untuk melatih tubuhnya, agar dia tidak menjadi beban untuk kakaknya seperti saat ini.
***
Saat pagi datang, Gea sudah bersiap dengan seragamnya, dia pulang bersama pengawalnya sementara keluarganya yang lain masih ada di Rumah Sakit.
Gea bergegas sarapan dan segera pergi, "jalan sekarang aja ya Pak..!" Ucap Gea pada Pak Denis.
"Baik Den." Pak Denis
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Gea hanya melihat dibalik kaca mobil itu, dia memandangi jalan yang dilewatinya dengan pikirannya yang masih mengkhawatirkan Gio, saudaranya belum bisa pulang karena akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kebetulan sekali ketika Gea sampai disekolah Lili juga baru sampai, mereka masuk bersamaan.
Mereka sama-sama tidak semangat, dan tak sengaja mereka melihat Geri, Gea nampak geram, dia ingin melabrak Geri namun tangannya ditahan oleh Lili. "Tahan Ge, jangan Sampai malah kamu yang salah dimata semua orang..!"
"Tapi, aku ingin sekali memukulnya agar dia merasakan sakit seperti yang dirasakan Gio," ucap Gea dengan mata penuh amarah.
"Kita samperin aja baik-baik, kita peringatkan dia dengan perkataan saja..!" Ucap Lili yang kemudian mengajak Gea menghampiri Geri dengan lebih tenang.
Lili kini sudah ada dihadapan lelaki itu.
"Eh Kak Geri ketemu lagi, padahal kemarin kita ketemu di dekat danau, aku tidak menyangka loh seorang ketua OSIS malah mabuk-mabukan disana, Bahkan memukuli Gea sampai masuk Rumah Sakit."
Siswa lain yang sedang berkumpul disana pun saling berbisik, ada yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lili karena Geri terkenal berhati malaikat dan ada beberapa siswa yang mulai ragu dengan sikap Geri selama ini.
"Hati-hati ya jangan mencoba memfitnah tanpa bukti, aku akan pastikan kamu lah yang akan mendapat hukuman karena mencemarkan nama baikku!" Geri menunjuk tepat ke arah wajah Lili.
"Hahaha, sungguh lucu, kita bicara fakta dan buktinya sudah jelas, Gea sekarang di Rumah Sakit dan keluarganya akan menuntut keadilan." Gea
"Aku tidak takut karena aku tidak bersalah," ucap Geri dengan tenang dan penuh percaya diri.
Gue pasti bisa menutupi kesalahan gue seperti sebelumnya dengan bantuan Papah. Batin Geri
"Oke, lihat saja nanti, semua orang akan tahu sifat kamu yang asli." Lili
__ADS_1
Namun tidak ada rasa takut yang terlihat di wajah Geri apalagi rasa bersalah, itu sangat membuat Lili dan Gea muak. Mereka segera pergi dari sana karena takut emosi mereka meledak melihat wajah lelaki itu.
Bersambung ….