
Itu kan cincin punya Mamah, aku harus bisa mengambil kembali benda itu, pasti Mamah sedih kalau cincinnya diambil Mirna dan tidak pernah kembali. Pikir Gea
"Kembalikan cincinnya!" Gea
"Hmm, memangnya pria memakai cincin? Hahaha.." Mirna
"Maksud gue itu punya Gea, kalian mencuri ya? Gue akan laporkan kalian karena mengambil barang milik orang lain," Ancam Gea
"Memangnya cincin ini semahal apa? Cincin murahan kok, tapi gue bakal gunakan ini buat bukti kalau kalian kemarin berlari dari arah belakang sekolah dan menjatuhkan cincin ini, kalian yang menyerang kak Geri kan?" Mirna
"Hmm, astaga Lo kan hanya menemukannya di sana, bukan berarti Gea yang menyerang Geri, dia itu perempuan mana bisa melawan Geri yang katanya jago beladiri itu. Hmm.." ucap Gea yang sebisa mungkin tenang dalam menghadapi Mirna.
Aku yakin aku tidak menjatuhkannya disana, jelas-jelas aku memasukkannya ke dalam tas, aku yakin dia mengambilnya, dan kemungkinan dia masih menebak-nebak saja. Pikir Gea
"Bisa aja kan kalian kesal dan bekerja sama menyerangnya, karena kak Geri menggoda Gea terus?" Mirna
"Sudahlah, itu tuduhan tak berdasar." Gea
Gea bahkan merebut cincin itu disaat Mirna lengah dan segera menarik tangan Gio untuk segera pergi dari sana.
Mirna berdecak kesal, dia bahkan berteriak memanggil nama Gea, mengutuknya dalam hati. kenapa sih harus Gea yang dipilih dia?
Setelah si kembar sampai di kelas, Gio menghentikan langkahnya dan mulai bertanya kepada Gea, "kok Lo lari sih? Gimana kalau dia melaporkan kita?"
"Gak akan, aku yakin dia tidak melihat apa yang kita lakukan pada kak Geri, karena aku yakin aku tidak menjatuhkan cincin ini, aku belum tua, aku masih ingat aku menyimpannya didalam tas kemarin setelah menggunakannya." Gea
Gio mengangguk mengerti, dia mempercayai kembarannya itu, dia berharap memang seperti itu dan Mirna tidak akan menyebabkan masalah lagi.
__ADS_1
Hari itu mereka belajar dengan fokus, sementara Mirna memandang dari kursi tempat duduknya dengan tatapan benci.
Gue gak suka liat mereka bersama, bagaimana pun caranya gue harus buat mereka saling menjauh dan saling membenci satu sama lain. Pikir Mirna
Gea menyuruh Gio memakai cincin itu, karena ditangan Gio itu lebih aman.
"Masa sih gue pake ginian?," Keluh Gio saat di kantin.
"Demi Mamah, daripada hilang lagi, iya kan?" Gea
Gio dengan terpaksa membiarkan cincin itu melingkar di jari manisnya. Meski dengan menatapnya saja membuat Gio muak.
Lili yang baru datang pun ikut bergabung untuk makan bersama, Lili juga membahas berita yang viral di sekolah tentang penyerangan ketua OSIS.
"Hmm, hmm.. memangnya menurut kamu kak Geri itu seperti apa?" Tanya Gea yang ingin tahu pandangan orang lain tentang lelaki yang so bijaksana itu.
"Hahaha… , " Gea yang tiba-tiba tertawa tentu saja membuat Lili heran.
"Kenapa kamu malah tertawa, memangnya salah jika aku menyukai dia, apa aku tidak pantas, apa aku sejelek itu? Menyebalkan," tanya Lili yang bahkan membuang mukanya karena dia tidak terima ditertawakan Gea.
"Aku bukan menertawakanmu Li, hanya saja aku menertawakan penilaianmu tentang kak Geri, kamu sama seperti aku dulu yang menganggap kak Geri sesempurna itu, namun aku sekarang tahu dia orang yang licik, sebaiknya kamu cari lelaki lain saja!" Gea
Lili merasa ragu dengan ucapan Gea, hingga dimana Gea menceritakan semuanya pada Lili, yang tentu saja membuat dia kaget.
"Jadi kalian orang misterius yang menyerang Kak Geri?" Tanya Lili dengan berbisik di telinga Gea.
Gea mengangguk yang membuat Lili menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku gak nyangka dia seperti itu, memang penampilan yang menipu." Lili
Sementara di meja lain Mirna memperhatikan keasyikan tiga orang itu. Sebenarnya mereka bukan sih yang menyerang kak Geri? Tapi mereka begitu yakin dan menyangkalnya, sepertinya bukan mereka, apa kemarin mereka berpacaran di belakang sekolah? Ya ampun.
ya, sebenarnya Mirna tidak melihat kejadian itu, dia hanya melihat mereka berlari dari arah belakang sekolah saja.
***
Berita tentang Geri menyebar Sampai ke telinga kepala sekolah, namun Geri malah dilarang menyebarkan info itu meski itu benar terjadi, tentu saja dia tidak ingin membuat nama sekolahnya jelek dan membuat Sekolah itu sepi.
Citra sekolah sangatlah penting, bahkan sejak sekolah itu berdiri hanya prestasi yang sekolah itu tunjukan.
"Tapi Pak, lihatlah pipiku ini memar karena diserang seseorang, bagaimana bisa bapak mengabaikannya?" Geri
"Bahkan kamu saja tidak tahu siapa yang menyerang mu, bapak yakin orang itu tidak mungkin menyerang tanpa sebab, kamu mungkin memulainya duluan, pokoknya bapak tidak mau tahu, kamu jangan menyebarkan berita bohong yang akan membuat nama sekolah tercemar..!" Kepala sekolah.
Geri keluar dengan perasaan kecewa dan marah, dia yakin tidak mempunyai musuh di sekolah ini, ya jika pun ada orang yang tidak dia sukai makan dia akan membuat orang itu tidak menyadari pergerakannya, karena dia selalu menyerang dengan sembunyi-sembunyi atau menyuruh orang lain saat berada diluar sekolah. Geri selalu menjaga nama baiknya sebagai ketua OSIS.
Geri yang terburu-buru tak sengaja menabrak Gea, tentu saja Gea marah. "Kalau jalan pake mata dong!"
"Maaf , aku gak sengaja," ucap Geri berlalu pergi.
Sebenarnya Geri ingin memaki lelaki yang dia tabrak tadi sebagai pelampiasan amarahnya dan memang dia menganggap lelaki itu lawannya, namun lagi-lagi dia harus menahannya dan berpura-pura berhati malaikat.
"Ge, kamu yakin Geri orang yang jahat, tapi dia baik loh, meski kamu bentak dia masih saja minta maaf." Lili
"Hmm, oke.. nanti akan aku tunjukan sifat asli kak Geri." Gea
__ADS_1
Bersambung ….