
Saat bel masuk berbunyi, Gio dengan segera pergi menuju kelasnya, dia duduk di kursinya yang bersebelahan dengan Gea.
"Ge, maafin gue ya?" ucap Gio dengan tulus.
"Maaf buat apa?" Gea pun merasa bingung.
"Maaf karena gue sering keterlaluan dan gue juga gak tahu kalau anak-anak lain mojokin Lo gara-gara gue keasyikan main basket kemarin sampe lupa diri, hehe..." Gio
"Lupa diri? maksudnya?" Gea semakin bingung.
"Iya lupa diri, lupa kalau gue itu jadi diri Lo bukan Gio. hehe...," Gio memperjelas ucapannya.
"Oh yang itu, iya.. lagian aku udah gak mikirin itu kok." Gea
Percakapan mereka berakhir saat guru masuk ke dalam kelas mereka, memberikan materi pelajaran dengan serius.
Beberapa jam berlalu hingga saatnya para siswa beristirahat dan makan siang, bel istirahat telah berbunyi membuat semua siswa bersorak gembira, perut mereka sepertinya sudah lapar, mereka berhamburan keluar kelas.
Sementara Gea dan Gio masih berada dikelas mereka hanya berdua.
"Ini…," ucap Gea sambil memberikan setumpuk coklat diatas meja Gio.
"Ini apa?" Gio
"Ya coklat lah, masa kamu gak liat." Gea
"Haha, iya gue tau, tapi dari siapa, buat siapa dan maksudnya apa?" Tanya Gio.
"Itu aku temukan diatas meja kamu, dan sepertinya dari beberapa siswa laki-laki yang mengidolakan kamu sebagai pemain basket yang keren." Gea
"Oh … " Gio lalu membuka setiap surat yang terselip di coklat itu.
__ADS_1
"Hahaha.. ini menggelikan." Gio
"Iya, mereka fans berat kamu, itu coklat buat kamu." Gea
"Tapi disini jelas buat Gea, jadi ini buat Lo." Gio
"Tapi mereka ngefans sama pemain basket yang jago, ya kamu lah Gio." Gea
"Hahaha… ," mereka pun tertawa bersama.
"Ini buat kita berdua," Gea mulai mengambil satu coklat dan membukanya, dia memberikan sepotong miliknya pada Gio. Mereka makan coklat bersama dengan perasaan lega.
Pada awalnya Gea merasa kesal karena Gio mendapatkan pujian dan banyak coklat sementara dia malah diejek terus-terusan, membuat dia menyembunyikan setiap coklat yang diberikan untuk Gio yang ada di atas mejanya, dia berniat membuangnya namun dia mengurungkan niatnya saat Gio meminta maaf.
***
Saat pulang sekolah, Gio menunggu Gea di luar ruangan dia tidak ingin ikut les piano karena dia merasa tidak tertarik sama sekali. Dia membiarkan Gea dekat dengan Cantika untuk sekedar berbagi ilmu bermain piano, Gea juga tampaknya senang bermain piano berdua dengan Cantika.
Setelah selesai, Gio langsung mengajak Gea pulang tanpa mempedulikan Cantika yang mengeluh.
"Gue pengen aja pulang bareng Lo ," Jawab Gio namun Gea nampak melihat kelas balet dengan rasa penasarannya, pandangan matanya tertuju jelas ke arah kelas balet bahkan tidak menghiraukan jalan yang ada didepannya, membuat kakinya tersandung.
"Aw...," keluh Gea yang berjongkok memegangi kakinya.
"Makanya hati-hati..!" ucap Gio lalu membantu Gea berdiri.
"Aku gapapa kok." Gea
Gio merasa bersalah karena pertukaran tubuh ini membuat Gea tidak bisa berlatih balet. Sementara dia masih bisa ikut basket bahkan banjir pujian, rasanya ini tidak adil bagi Gea. bahkan nilai Gea akan jelek kalau disaat ujian soal itu dikerjakan olehnya.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah, mereka masuk ke kamar masing-masing karena ayah mereka masih diluar kota.
Gio masuk ke kamar Gea karena penasaran dengan adiknya, ternyata dia sedang mengerjakan tugas sekolah dengan masih mengenakan seragam sekolah. Dia memang rajin, pantas saja nilainya bagus.
"Ge, Lo pake aja baju yang Lo suka, gue gapapa kok liat badan gue pake baju Lo, cepetan ganti sana..!" ucap Gio sambil menghampiri Gea yang masih memakai seragam sekolah.
"Hmm, nggak ah, gak cocok di badan kamu, pas aku ngaca ko aneh, hahaha… aku nya aja yang ngeyel kemarin." Ucap Gea yang kini menatap Gio, dia bangkit dari kursinya berniat berganti pakaian, dia pergi ke kamar Gio untuk mengambil satu set pakaian.
Aku gak mau bikin Gio merasa aneh dimata orang lain, bisa-bisa Bi Mina ngadu lagi ke papah nanti, bahaya kan. Pikir Gea
Setelah selesai mengganti baju, dia kembali ke kamarnya untuk melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Di meja belajarnya sudah ada minuman dan cemilan, "siapa yang membawa ini semua?" Gea nampak bingung karena dia tidak mengatakan apapun pada Bi Mina.
"Gue lah, biar Lo semangat belajar dan gue tinggal nyontek. Hehehe…," ucap Gio yang baru datang dengan cemilan lainnya.
"Gio… mana bisa begitu. Aku capek kalau terus ngerjain PR dobel," keluh Gea dan dia mulai bete.
Namun Gio hanya bercanda, dia bahkan kini belajar bersama Gea. Siang itu mereka habiskan waktu bersama, mengasuh Denada bersama, menonton bersama, sampai mereka ketiduran dan tidur di kasur berdua.
Gita yang datang mengecek sikembar menyelimuti mereka berdua.
Namun kerukunan mereka seakan hilang saat Gio mulai mendengkur dan mengacaukan tidur malam Gea. "Gio bangun! Kamu tidur dikamar mu saja, berisik tau!" Keluh Gea yang memaksa Gio bangun dan mengusirnya dari kamarnya.
"Sungguh kejam, lagi enak-enak tidur juga," keluh Gio dengan terpaksa pergi dari kamar Gea.
Lelaki itu pun pergi menuju kamarnya dengan mata yang masih mengantuk, dia seperti antara sadar dan tidak sadar, tiba-tiba dia melihat bayangan hitam.
Astaga, apaan tuh? Apa itu hantu atau ada maling?.. cek gak yah? gue telepon Pak Denis deh yang lagi jaga di depan. Batin Gio
Saat Gio melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mencari ponselnya, dia tiba-tiba dibekap oleh seseorang dari arah belakang.
Tolong… tolong… teriak Gio sekuat tenaga namun suara itu bahkan tidak terdengar sama sekali. Gio panik, dia benar-benar panik, dia ingin melawan namun posisinya sulit untuk melakukan perlawanan, bahkan Gio merasa mereka lebih dari satu orang karena kini badan Gio digotong oleh mereka.
__ADS_1
Gue mau dibawa kemana nih? pikir Gio.
Bersambung ….