
Gio menghempaskan tangan Mirna yang membuat air itu malah membasahi bajunya.
"Cepat pergi, dan jangan ganggu gue!" Ucap Gio dengan kesal, dia kira disekolah terkenal seperti ini dan dipenuhi murid pintar tidak akan ada pembullyan seperti ini, namun nyatanya pemikiran itu salah besar.
"Kamu berani sama gue hah?" Bentak Mirna
"Kenapa gue harus takut, gue gak salah karena semua ini Lo yang mulai, dan banyak saksi disini," jawab Gio tak kalah emosi.
Mirna salah menilai gadis di hadapannya itu, dia kira gadis itu Manja dan hanya bergantung pada pacarnya saja, ternyata gadis yang dia lawan sangat percaya diri dan juga berani.
Mirna dan sahabat-sahabatnya itu memilih pergi dari sana, tidak mau jika masalah ini sampai ketelinga guru dan mereka dapat hukuman, Mirna pergi darisana mencoba mengeringkan bajunya yang basah.
Sementara Gio juga kini tak nyaman dengan sepatunya yang basah. Dia mengirim pesan pada pengawalnya untuk membawakannya sepatu ganti.
Di Jam pertama Gio memaksakan belajar dengan sepatu basah, dia mengutuk Mirna di dalam hatinya, dia begitu kesal.
Jika yang ada diposisi tadi itu Gea, pasti dia tidak bisa menghadapi Mirna, Gea terlalu lemah dan lugu, dia memang perlu latihan fisik. Pikir gio
kaki gue dingin lagi, apa gue lepas aja ya sepatunya? batin Gio
***
Saat istirahat tiba, Gio dengan cepat menuju ke depan sekolah untuk menemui pengawalnya dan mengambil sepatu barunya.
"Gea, kamu sedang apa?" Geri
"Ini mau ganti sepatu, yang ini basah." Jawab Gio singkat, dia malas kalau harus bicara lama-lama dengan kakak kelasnya itu.
"Oh, kenapa bisa sampai basah Ge? Oh iya pacarmu gak masuk sekolah ya? Apa lukanya parah?" Geri bertanya seolah peduli pada lelaki yang kemarin terluka.
Ya ampun, dia bawel sekali. Batin Gio
"Iya dia masih sakit, aku duluan ya," ucap Gio lalu berlari sekencang mungkin untuk menghindar dari salah satu lelaki yang mengincarnya itu.
__ADS_1
Dengan cepat Gio mengganti sepatunya, dan menyimpan sepatu yang basah untuk dibawa pulang, dia tidak mau jika harus membuang sepatu yang masih bagus, ibunya selalu mengajarkan si kembar untuk tidak boros dan membuang-buang barang yang masih bagus.
Saat Gio berjalan menuju kantin, dia tidak sengaja menginjak plastik basah yang licin membuatnya terpeleset, namun ada tangan kekar yang menahan tubuhnya.
Seharusnya itu adalah momen yang romantis bukan? saat ada lelaki tampan menangkap tubuhnya, tapi tidak dengan Gio kenapa gue mesti jatuh sih, kenapa juga si Geri ini bisa pas ada dibelakang gue?
Gio langsung berdiri dengan tegak, "maaf.."
"Gapapa ko, ini romantis kan?" Bisik Geri di telinga Gio yang membuat dia bergidik ngeri.
Geri pergi dengan senyum bahagia, bahkan sempat menengok ke belakang untuk melihat Gea dan menampilkan senyum menawannya.
"Gue bukan tipe jeruk makan jeruk." Keluh Gio yang merasa kesal pada sikap Geri yang tidak mau menyerah menggodanya.
Dengan cepat Gio menuju kantin dan dia memesan banyak makanan karena kesal, banyak mata yang memandang dengan tatapan heran, betapa banyaknya makanan yang dipesan Gio.
Dengan tubuh Gea yang kecil tapi Gio bisa makan banyak, dan jika orang mengira Gea yang berbadan bagus dan cantik itu pilih-pilih makanan dan diet mereka mengira itu salah besar, padahal selama ini Gea yang asli memang selalu menjaga pola makannya.
"Ge, aku gabung ya disini?" Lili
"Duduk aja Li," jawab Gio sambil mengunyah makanan.
"Kamu gak sarapan tadi? Lahap banget makannya, hehe…," tanya Lili , dia yang sebenarnya tahu jika yang ada di depan matanya adalah Gio dia merasa lucu dengan tingkah Gio saat ini.
"Lagi kesel aja Li, jadi makan banyak deh karena emosi," jawab Gio.
"Hahaha… melampiaskannya pada makanan, awas nanti gemuk loh, bukannya gea selalu diet ya?" Tanya Lili.
"Biarin aja lah, dia juga jarang olahraga pasti perut gue lama-lama buncit lagi kalau dia terus ada ditubuh gue." jawab Gio dengan santai, dia menjawab dengan refleks tanpa memikirkannya terlebih dahulu, hingga Gio sadar dengan jawaban yang diberikannya.
"Li, apa Lo tahu yang sebenarnya?" Tanya Gio yang mulai fokus pada Lili, bahkan dia menghentikan acara makannya.
"Ya aku tahu, kamu Gio kan, kamu gak usah pura-pura didepan aku..! Dan aku pasti jaga rahasia kamu dan Gea." Lili
__ADS_1
"Apa kamu beneran percaya jika aku dan Gea bertukar tubuh?" Gio
"Percaya, karena aku mengenal Gea sudah lama dan tahu setiap kebiasaannya, kesukaannya dan aku yakin kamu bukan Gea." Lili
"Oh astaga, gue kira Lo gak tahu, Lo jangan bilang sama siapa-siapa ya, please..!" Gio bahkan sampai memegang tangan Lili.
Sontak Lili kaget, dia menyimpan perasaannya dalam diam pada Gio dan anehnya saat dia melihat gadis cantik yang kini ada dihadapannya yaitu sahabatnya sendiri Gea memegang tangannya, bisa membuat debaran kencang di dadanya.
Aku yakin kamu Gio, tapi mengapa aku merasa aku yang gila, berharap disentuh oleh sosok Gio namun yang terlihat sangat jelas dimataku sekarang dia seorang perempuan. Haha…. Pikir Lili
"Iya aku janji." Lili
Mereka pun makan bersama.
***
Sementara Gea di rumah masih merasakan nyeri di pipinya, dia ingin menangis kencang dan memeluk ibunya dengan manja namun dia ingat jika sekarang dia adalah seorang lelaki yang harusnya kuat seperti Gio kakaknya.
Gea tidak pernah membayangkan jika dirinya akan mengalami hal ini, dia mulai bertekad untuk latihan bela diri agar bisa kuat seperti ibunya dan juga Gio.
"Gio, kamu ngelamun aja sih? Sini bantuin Mamah dong ambilin stok bahan-bahan membuat kue di lemari bagian paling atas sana, kamu kan tinggi..!" Gita
"Iya Mah." Gea
Dia menghampiri ibunya lalu mulai mencoba mengambil apa yang dibutuhkan ibunya, namun tanpa sengaja dia meraba ada sesuatu yang kenyal, dia kaget, dia melompat, dan menjerit ketakutan.
"Mah diatas ada apaan sih, geli kenyal gitu, cicak kali ya? Ih jijik Mah," keluh Gea sambil memeluk ibunya.
Namun Gita malah menatap heran pada anak lelakinya yang kini menempel padanya hanya gara-gara cicak.
Sejak kapan Gio takut sama cicak? Pikir Gita
Bersambung….
__ADS_1