
Gio melihat pak Surya dan neneknya ada di pesta ulang tahun Bianka.
"Mau apa Nenek kemari?" Gumam Gio pelan, dia tidak tahu tentang hubungan Pak Surya dengan keluarga Bianka, karena Gea belum memberitahunya.
Bianka begitu bahagia melihat kedatangan om kesayangannya dengan membawa kado tentunya, Bianka bisa menebak jika isi kado itu barang mewah karena Om nya itu adalah orang kepercayaan pengusaha tersukses di kota ini.
"Om akhirnya datang juga, makasih ya om kadonya." Ucap Bianka mengambil kado itu.
Bianka menyimpan kado itu dengan hati-hati.
"Selamat ulang tahun ya Bi." Ucap Surya
Bianka tersenyum sambil memeluk Om nya itu, semua tamu juga penasaran dengan sosok yang baru datang itu, karena dari tampilannya sangat berkharisma, tampan namun kaku karena lelaki itu tidak tersenyum sama sekali.
Bianka juga tahu jika Om nya memang seperti itu tapi tidak pada dirinya, biasanya Om nya akan tersenyum. Namun entah mengapa hari ini Bianka merasa Om nya itu berbeda.
"Eh Surya, itu siapa?" Ibu Bianka
"Oh ini, ini Bos aku kak, beliau istri dari Pak Baskoro." Surya
"Wah, suatu kehormatan bisa mendapatkan kunjungan dari Ibu Baskoro secara langsung seperti ini." Ibu Bianka tersenyum menyambut kedatangan nenek Gio dan Gea itu.
Gio menghampiri Neneknya, dengan sengaja Hanna memeluk cucu perempuannya itu. Membuat Bianka bertanya-tanya. Kenapa Gea bisa akrab dengan orang kaya ini.
"Nenek ngapain kesini?" Gio
apa, neneknya? Serius itu neneknya OMG. Pikir Bianka
Bianka mulai merasa tak enak hati, dia tiba-tiba terbayang masa dimana dia membully Gea , mengerjai Gea dan banyak hal yang dia lakukan untuk membuat gadis itu menderita dan kalah darinya.
Mati gue. batin Bianka
"Nenek mau ngomongin bisnis aja sayang, dan kebetulan ada pesta juga disini, bukankah kamu bilang tidak mau datang ke pesta ini karena Bianka bukan temanmu?" Hanna
__ADS_1
"Iya sih Nek, tapi …," Gio
Gio ingin mengatakan jika dia dipaksa oleh Gea, namun dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.
Wajah Bianka mendadak pucat pasi, bukankah dia ingin membuat hidup Lili menjadi gembel, tapi kenapa seakan sekarang dialah yang terancam akan menjadi gembel di masa depan, Tidak, gue gak boleh panik!.
"Tapi kamu menghargai teman sekelasmu yang memberimu kartu undangan bukan? Kamu memang anak yang baik Gea." Puji Hanna
Gio hanya tersenyum kikuk, dia tidak mengerti dengan sikap neneknya ini.
"Oh anda ternyata neneknya Gea ya, salam kenal Nenek, aku Bianka satu kelas juga dengan Gea, iya kan Ge?" Tanya Bianka mendekat pada Gea.
Dasar tukang drama, bisa aja ni orang akting mendadak baik gini. Pikir Gio
"Iya kita satu kelas tapi kita bukan teman, lebih tepatnya musuh," Ucap Gio dengan entengnya, dia kesal dengan kepura-puraan Bianka.
"Haha… anak-anak memang seperti itu, mari kita bicarakan bisnis saja..!" Ibu Bianka ingin memperbaiki suasana yang mulai tidak enak itu.
Hanna dan Surya pun masuk ke ruangan kerja mereka karena tengah rumah digunakan sebagai tempat pesta.
Bianka bingung, dia diam dengan lamunannya, sementara musik pesta masih menyala, teman-teman yang lain asyik makan dan mengobrol, menikmati acara itu.
Lili yang tidak mengerti merasa bingung, dia juga menanyakan tentang siapa Om nya Bianka itu, dan setelah Gio menjelaskannya, Lili paham sekarang bahwa orang yang selalu dibangga-banggakan oleh Bianka adalah Om nya yang ternyata adalah bawahannya nenek Gea, Sungguh miris bukan?.
"Pasti dia menyesal karena perlakuannya sama kamu Ge." Lili
"Sepertinya begitu, biarin aja lah, mending kita nikmati pestanya, aku mendadak senang hari ini, hehehe..." Gio
Lili menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa lucu saja dengan tingkah sahabatnya itu, yang tadinya marah, kesal, dan sekarang tiba-tiba senang.
Bianka sudah tidak mood untuk melanjutkan pestanya, dia sudah khawatir dengan kabar buruk bahkan amarah ibu atau ayahnya. Dia ingin mengakhiri pestanya namun rangkaian acara masih berlanjut.
Setelah 15 menit berlalu, Nenek Hanna datang dan mengajak Gio serta Lili untuk pulang meski pesta belum usai. Ibu Bianka bahkan sempat menahan mereka namun Hanna bersikeras pulang.
__ADS_1
Tatapan mata teman-teman tertuju pada Gio namun setelah Gio dan Lili menghilang, pesta pun dibubarkan dengan terpaksa oleh ayah dan ibu Bianka. Mereka perlu berbicara serius dengan anaknya itu.
***
Sementara di dalam mobil, Hanna mengembalikan buku diary Gea yang sudah dibacanya.
"Nenek, apakah Nenek… " Gio
"Iya, Nenek sudah membacanya, kamu jangan sedih lagi ya sayang, Nenek pastikan kalau Bianka tidak akan pernah mengganggumu lagi..!" Ucap Hanna dengan memeluk tubuh Gio.
Gio mengangguk dan membalas pelukan neneknya itu, bahkan Neneknya kini menangis karena sedih mengetahui kesulitan cucunya selama di sekolah. Gio tidak menangis yang menangis sekarang adalah Gea , karena ini memang pembelaan Neneknya untuknya.
Lili memberikan tisu pada Gea yang dianggapnya Gio.
Ternyata hatinya lembut banget sampe menangisi kembarannya. Pikir Lili
Mereka akhirnya pulang dengan rasa lega.
***
"Bi, kamu salah memilih musuh, kamu harus bersikap baik sama Gea mulai sekarang, kalau tidak kehidupan kita yang terancam, kamu mau bisnis papamu bangkrut?" Ibu Bianka.
"Iya, kamu harusnya cari tau dulu musuhmu itu siapa, harusnya kamu deketin Gea dan bersahabat dengannya biar usaha papah makin maju!" Ayah Bianka.
Bianka hanya menunduk sambil menangis, baru kali ini dia melihat orang tuanya marah besar padanya, biasanya dia dimanja karena dia anak tunggal, dia tidak pernah dimarahi meskipun dia yang salah.
"Om harap kamu mengerti Bi, kamu jangan bersikap seenaknya! kamu harus bersikap baik kepada siapapun! Om bener-bener kecewa sama kamu Bi." Surya
"Kak, tolong ya jangan biarkan anak kakak itu membuat masalah lagi, terutama masalah dengan majikan mudaku! Kalau tidak, aku tidak akan pernah memperpanjang kontrak kerjasama kita lagi!" Ucap Surya pada kakak kandung dan kakak iparnya itu.
Surya bergegas pergi, sementara orang tua Bianka duduk dengan memegang kepala mereka yang terasa nyeri.
Bianka pergi ke kamarnya, dia menangisi nasibnya kali ini.
__ADS_1
Ini kado terburuk selama hidup gue, gue rasanya gak bisa menghadapi Gea besok. Batin Bianka
Bersambung…