Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 11. Dio


__ADS_3

Minggu pun telah berganti hari. Seperti biasanya, di pengawal minggu bagi orang metropolitan adalah hari yang cukup menyibukkan. Jika Shakira disibukkan dengan berbagai macam desain dan program-program. Berbeda dengan Benjamin. Lelaki bertubuh tegap dengan aura yang memancarkan kejantanan, sosok lelaki tangguh, saat ini dengan fokusnya sedang menerima laporan dari Dio sang tangan kanannya.


Terdengar suara meja di pukul "brakkkkk!!"


"Cari mereka sampai ketemu. Siapapun orangnya yang telah mencari masalah dengan ku atau mengganggu orang yang berada didekatku, pastikan mereka menyesal telah hidup!" perintah Benjamin kepada Dio.


Dio pun menerima perintah tanpa menyanggah. Karena bagi Black Klan, apapun yang diperintahkan oleh Tuan Muda adalah mandat yang harus dikerjakan sampai tuntas. Jangan sampai hukuman yang semestinya diterima oleh musuh, berbalik kepada diri sendiri. Dio pun merinding mengingat kegilaan Tuan Mudanya jika sudah hilang kendali.


Di markas Black klan, tidak ada satupun anak buah Benjamin yang berani mendekat. Karena saat ini situasi sedang tegang dan genting. Akibat penguntitan yang dialami oleh Benjamin dan Shakira pada hari Sabtu lalu, membuat mereka semua babak belur dihajar habis-habisan oleh Benjamin termasuk Dio sekalipun sang tangan kanan.


Dio memberikan perintah kepada beberapa anggotanya untuk menyebar mencari informasi lebih detil siapa orang dibalik penguntitan waktu itu. Sedangkan untuk para penguntitpun tak lama setelah kejadian tersebut, dengan cepat di tangkap oleh Dio dan kawan-kawan. Keadaan para penguntit itu sungguh mengenaskan. Sangat disayangkan mereka sangat setia kepada orang yang membayar jasa mereka untuk melenyapkan nyawa Benjamin dan Shakira.


Dio pun kembali masuk ke salah satu ruang yang berisi para penguntit itu dan memberi perintah kepada 2 orang anggota Black Klan yang sedang berjaga diruangan itu.


"Tinggalkan dua orang brengsek itu disini. Dua orang lainnya lemparkan saja ke Bobo, buaya kita yang lagi kelaparan. Sisanya kita kasih ke Bobo besok. Aku masih ingin main sama yang dua orang ini", sambil tertawa layaknya orang gila.


"Jangan tolong kasihani nyawa saya!! tangis salah satu orang yang akan dibawa untuk jadi makanan hewan peliharaan Benjamin.


"Hahhhh kasihani nyawa kamu??? terlambat fergusooo! Hahahahahahahhahaha", jawab Dio lagi dengan terbahak-bahak. Dengan jentikan jari Dio, kedua orang tersebut diseret keluar dari ruangan. Terdengar teriakan-teriakan minta tolong dan penyesalan bercampur dengan sumpah serapah.


Sedang kedua orang yang masih tertinggal didalam ruangan tersebut ketakutan setengah mati. Mereka saling berpandang-pandangan.


Dio hanya memandang mereka dalam diam. Tangan kanannya memegang samurai sedang tangan kirinya memegang cambuk berbahan kulit di lengkapi dengan gerigi tajam yang sanggup merobek kulit tanpa belas kasihan hanya dengan sekali cambuk.


"Bagaimana....kalian siap kuajak kerja sama atau kalian boleh pilih benda yang ada di kedua tanganku. Ayo Silahkan pilih..".

__ADS_1


"Bagaimana ini, aku masih mau hidup, kedua anakku masih kecil", ucap orang yang lebih muda kepada temannya.


"Aku juga. aku masih terlalu muda untuk mati.."


Mendengar percakapan keduanya, Dio tersenyum licik. Masuk perangkapku kau tikus-tikus busuk batinnya.


Dio pun tak sabar menunggu "cetarrrr.." bunyi sabetan cambuk terdengar memenuhi ruangan.


"Baik-baik, kami mau diajak kerja sama, tapi kami mohon jangan bunuh kami, tolong....."ucap kedua orang tersebut memelas dengan kepala menyentuh tanah karena kaki dan tangan mereka diikat kebelakang.


Lalu, Dio pun mendengarkan dengan seksama siapa sosok dibalik itu semua. Terkagetlah dia sebuah nama muncul yaitu Lena, calon tunangan Tuan Mudanya.


"hah susah kalau sudah di selimuti rasa cemburu", ucap Dio kepada dirinya sendiri.


"Kami rasa bukan karena cemburu bos", sahut Riko, salah satu orang suruhan Lena yang mempunyai kedua anak kecil.


Riko pun semakin ketakutan melihat kegilaan Dio. Temannya pun membantu menjawab "ada alasan lain selain masalah cemburu bos. Tapi kami tidak tahu karena masih ada sosok yang lebih berkuasa lagi di balik Nona Lena".


"Ok...sepertinya Lena hanya dijadikan pion seandainya kunyuk-kunyuk seperti kalian tertangkap oleh ku...hahahahahahaha", Dio pun terbahak-bahak. Riko dan temannya, mereka saling memandang seakan berkata bahwa Dio sudah sakit jiwa.


Lalu Dio pun berdiri, berjalan mendekati mereka dan berkata "Jika aku tahu kalian berbohong padaku saat ini, jangan harap kepalamu menempel pada tubuhmu esok hari" Dio menuju pintu dan tak lupa mematikan lampu sehingga gelap gulita didalam ruangan tersebut membuat mental para korbannya semakin tertekan dan kemudian keluar.


Benjamin yang masih berada di markas Black Klan sedang berada diruangannya sendirian, menunggu kedatangan Dio untuk memberikan informasi terkini.


"Bos..saya dapatkan nama", kata Dio kepada Benjamin. Dio terkadang memanggil Benjamin dengan sebutan Bos karena memanggil dengan sebutan Tuan Muda dirasakannya terlalu formal.

__ADS_1


"Sebutkan", jawab Benjamin sambil memainkan anak panah yang siap dilemparkan ke arah papan panah.


"Nona Muda Lena, Bos", sahut Dio pelan, takut dengan reaksi Bosnya.


Beberapa saat Benjamin tidak merespon, dia hanya sibuk melemparkan 5 biji anak panahnya yang selalu tepat sasaran di angka 50, sebutannya adalah bull eye.



Nah tuh author kasih gambaran. namanya Dart board game. Kalau anak panahnya tepat sasaran di bagian tengah otomatis dapat 50angka dan namanya bull eye. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana kemampuan si Tuan Muda bermain lempar anak panah? serem aja kalo anak panah itu meluncur ke jidat orang hiiii....


"Lena...apa yang kamu rencanakan...." ucap Benjamin sembari terus melemparkan anak panahnya.


"Selidiki orang yang berada di baliknya. Karena dia tidak bisa membayar orang dengan jumlah yang sangat besar jika tidak diberi oleh kedua orang tuanya", perintah Benjamin lagi kepada Dio.


"Baik Bos, segera kami laksanakan", jawab Dio bergegas keluar dari ruang tersebut menghindari amukan gila dari Bosnya.


Di gedung pencakar langit, Three Sibling's Corp.


pada saat jam istirahat makan siang, Shakira dan Nola yang hendak turun ke kafetaria berpapasan dengan Maria, asisten bos besarnya. "Maria, apakah aku bisa bertemu dengan Tuan Benjamin hari ini? Banyak hal yang harus aku diskusikan dengan beliau", tanya Shakira.


Maria dan Nola pun saling menatap "ehm.. Nona, saat ini Tuan Muda sedang tidak ada di tempat, jika ingin membahas tentang pekerjaan boleh dengan saya langsung", jawab Maria dengan santai berusaha menutupi kegugupannya.


"Tidak. Aku mau bicara langsung dengan beliau, banyak hal, Maria, pokoknya langsung sama diaaaa!" sahut Shakira kemudian melenggang pergi meninggalkan Nola yang dilupakannya.


"Haduh... dasar Nona Muda..Nonaa tunggu saya!!!", Nola setengah berteriak memanggil Shakira. Sedang Maria tepok jidat. Tuan....tuan... memang unik pilihan hatimu batin Maria sambil tersenyum.

__ADS_1


Mariapun bergegas mengirimkan pesan kepada Tuan Mudanya.


Benjamin yang menerima pesan dari Maria pun bergumam pada dirinya sendiri aku harus menebus penjelasan padanya...


__ADS_2