Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 14. Salah paham


__ADS_3

Pagi ini, Shakira bangun dengan cepat. Moodnya pun sangat baik. Sambil menyanyikan sebuah lagu, menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi. Terdengar nyanyiannya hingga dapur. Bik Ima dan Nola sedang menyiapkan makanan untuk Shakira dan Benjamin yang akan sarapan bersama dengan Mama Seila pun tertawa.


"Bahagia sekali rasanya mendengar Nona Shakira bernyanyi sepagi ini, Bik", ucap Nola ditengah kesibukannya menata piring di meja makan.


Semoga Nona Kira terus diberikan kemudahan dan kebahagiaan selalu ya, Nola", Bik Ima menimpali perkataan Nola.


Tak lama berselang Shakira pun menghampiri mereka berdua "Wahhh harum sekali baunya, aku laparrr pake banget".


Sabar Non, Tuan Muda dan Nyonya Besar sebentar lagi pasti datang", sahut Bik Ima.


"Baiklah Bik Ima yang baik hati, aku akan bersiap-siap sekalian supaya bisa langsung berangkat kerja", jawab Shakira seraya memakai high heels dan mengambil tas kantor.


"Good morning semua...", sapa Mama Seila tiba-tiba sudah ada didalam apartemen, Benjamin mengekor dibelakang ibunya.


"Morning, Nyonya...", balas Shakira.


Benjamin pun hanya tersenyum sekilas. Mereka pun mulai menikmati sarapan yang sudah disediakan.


"Oiya Benji, lusa mama akan kembali ke Belanda. Papamu sudah terlalu lama ditinggal sendiri, takutnya lupa nanti kalo punya mama", kata Mama Seila ditengah-tengah sarapan.


"Baik Ma, info saja Maria jam berapa pesawat mama, biar aku yang mengantarkan ke bandara", jawab Benjamin.


"No, mama mau Kira yang mengantarkan. Tentu saja dengan Nola, kan mereka sepaket ya...", Mama Seila pun tertawa sambil menunjuk Shakira dan Nola.


"Itu demi kebaikan Kira, Ma", sahut Benjamin dengan raut muka di tekuk.


"Duhhh anak mama segitunya kalo ngambek..", goda Mama Seila, Benjamin pun dibuat memerah mukanya.


Shakira hanya tertawa kecil melihat kelakuan Nyonya Besar dan Tuan Mudanya.


Takut dipecat tidak hormat jika mentertawakan atasan.


Baiklah Tuan Muda, Nyonya, saya dengan Nola pamit dahulu, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan pagi ini,


"Baik Kira, hati-hati dijalan. Dan jangan lupa besok antarkan mama, ok", sahut Mama Seila sembari mengedipkan matanya.


Shakira pun mengacungkan dua jempol tanda setuju.


"Bagaimana semalam, Benji? apakah semua berjalan dengan lancar?", tanya Mama Seila menginterogasi putranya.


Yang ditanyapun hanya mengedikkan bahu.


"Batalkan rencana pertunangan Benji dengan Lena, kalau mama dan papa masih mau lihat Benji bahagia", jawab Benjamin kepada ibunya.


"Akan mama bantu, asalkan kamu berjanji pada dirimu sendiri untuk mulai membuka hati pada yang lainnya. Hanya itu keinginan kami sebagai orangtua nak".


Akhirnya Benjamin pun bercerita tentang kejadian di pekan lalu, pada saat orang suruhan Lena berusaha mencelakai mereka berdua.


Mama Seila pun dibuat terkejut.


"Tak pernah mama sangka, Lena akan berbuat hal semacam itu. Mama yakin ada orang dibalik itu semua. Kamu dan Black Klan harus mencari tahu hal itu", titah Mama Seila.


"Tanpa mama perintahkan, Dio dan kawan-kawannya sedang menjalankan perintahku, Ma".


Berhati-hatilah dengan Lena, mama yakin dia akan mengincar Shakira, karena saat ini bagi dia, Shakira merupakan ancaman terbesarnya", kata Mama Seila lagi.


************

__ADS_1


Di Three Sibling's Corp.


"Maria, apakah Bos besar sudah tiba di ruangannya? Ada hal yang harus kami diskusikan tentang proyek CEO Ramli", tanya Shakira kepada Maria, asisten Benjamin yang saat ini sedang berada di mejanya.


"Belum Nona, Tuan Muda sedang dalam perjalanan kemari", jawab Maria.


Baiklah, info saya jika beliau sudah tiba ya Maria", Shakira pun berlalu dari hadapan Maria.


Hufft syukurlah Nona Shakira percaya bahwa Tuan Muda belum tiba..batin Maria.


Didalam ruangan Benjamin.


"Benji sayang...kenapa sih jarang angkat telepon aku? Bahkan kalo aku kirim privat chat pun hanya dibaca ajah...", celoteh manja Lena duduk diatas meja Benjamin dengan kaki disilangkan.


"Menurut kamu kenapa?", jawab Benjamin dengan acuh tak acuh sembari terus mengecek berkas-berkas dimeja.


Lena pun mengerucutkan bibirnya "Kan aku calon tunangan kamu, tentu aku sedih kalo kamu susah aku hubungi..."


Benjamin hanya mencebikkan bibirnya.


"Pergilah Lena, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, bukannya kamu tahu bahwa aku sudah mempunyai seorang kekasih?"usir Benjamin secara halus.


"Aku tidak percaya sedikitpun sayang, itu semua hanya trik mu untuk membatalkan pertunangan kita.." Lena tidak tergoyahkan sedikitpun,bahkan sengaja menyenggolkan pahanya pada lengan Benjamin.


Jijik...rasa jijik lah yang dirasakan oleh Benjamin saat ini. Masih dengan menahan diri untuk tidak emosi di pagi hari, dia pun memanggil Maria untuk masuk.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" tanya Maria dihadapan Benjamin dan Lena.


"Tolong tunjukkan Nona Lena ini dimana pintu keluarnya", perintah Benjamin dengan tegas.


"Mari Nona, saya tunjukkan jalan keluar", paksa Maria sambil menarik lengan Lena agar segera keluar dari ruangan Tuan Mudanya.


"Idihhh... kamu siapa berani sentuh aku, dasar karyawan rendahan!!!" bentak Lena mengibaskan lengannya dengan kasar.


Tanpa basa basipun, Maria kemudian menyeret Lena untuk keluar dari ruangan tersebut.


Shakira melihat tontonan tersebut dari jauh ketika hendak menuju ke toilet. Tak diduga, Lena ternyata melihatnya. Dengan secepat kilat, dikejarnya Shakira yang sedang masuk ke toilet. Maria dan Nola pun dengan sigap memegang kedua tangan Lena dan diseret tanpa minta ampun.


"Lepaskan aku dasar kalian bre***ek!!! Aku harus membuat perhitungan dengan perempuan j**l**g itu!"


Tenanglah Nona Lena, jagalah kehormatanmu sendiri. Semua karyawan melihatmu seperti ini apa Nona tidak merasa malu??" tegur Maria sembari mengeluarkan Lena dari gedung tersebut dan berpesan kepada Receptionis di depan untuk tidak mengijinkan Lena masuk kembali ke gedung Three Sibling's Corp. atas perintah Tuan Muda Benjamin.


Kemudian, Shakira mengintip keluar melihat apakah situasi sudah aman. Hufttt dasar ulat keket bisa-bisa dikira orang aku ini pelakor batinnya.


Ketika berjalan keluar dari toilet, Shakira berpapasan dengan Benjamin yang sedang menuju arah lift.


"Kira...."


"Benji... ehhh Bos..."


ucap mereka berdua bersamaan.


"Hahahaha....", kembali mereka tertawa terbahak-bahak.


"Kita emang sehati bukan..", sahut Benjamin menoel pipi Shakira.


Beberapa karyawan yang melewati mereka terkaget-kaget melihat Tuan Muda yang tampan sedang tertawa memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih..

__ADS_1


"Bener-bener momen langka ini, gaisss", ucap salah satu karyawan wanitanya saling berbisik.


Melihat tatapan membunuh seorang Benjamin, kaburlah mereka dari situ dan kembali ke meja masing-masing.


"Apakah kamu sibuk saat ini?", tanya Benjamin kembali fokus pada Shakira.


Shakira pun mengganggukkan kepala. Ingin lekas pergi dari situ karena banyak mata mulai memandangi mereka berdua.


"Sore nanti, pulanglah bersamaku, ok..?!" ucap Benjamin kembali seraya berjalan menuju lift tanpa menunggu jawaban dari Shakira.


"Apapun perintah paduka, hamba jalankan...", sahut Shakira membuat Nola yang tiba-tiba telah berdiri dibelakang tertawa mendengarnya.


"Bagaimana ini Nola, aku sudah janji dengan pemilik rumah kontrakan untuk mengambil sisa barang dan menyerahkan kunci", keluhnya pada Nola.


Nola pun memberikan solusi "Begini saja Nona, kami yang akan membantu kerumah kontrakan dan menyerahkan kuncinya".


Disambut dengan acungan kedua jempol Shakira.


Tapi Nola, apa bisa kuminta tolong, didekat situ ada pedangang batagor dan mie ayam yang enakkkkk banget, belikan yahh please.." pinta Shakira memelas.


Nola tepok jidat "Saya kira titip apaan...", sambil tertawa Nola pun menyanggupinya


Si Nona ini hobinya ngemil dan tidur sungguh suatu kombinasi unik dengan Tuan Muda nih ucapnya sambil senyum-senyum sendiri.


Hari ini, berlalu dengan cepat. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Langit diluar mendung. Notifikasi pesan masuk dan Shakira pun membacanya.


"Nola, Bos besar bilang dia tidak bisa pulang bersamaku karena ada hal penting harus beliau selesaikan", kata Shakira memberi tahu asistennya. "Kalau begitu, ayo kita berangkat ke kontrakkan ku sekarang sebelum hujan deras", ajaknya pada Nola.


"Baiklah Nona, mari kita berangkat".


Sepanjang perjalanan menuju kontrakkan, langit gelap gulita, gemuruh guntur serta kilat terus terdengar. Setelah tiba di rumah kontrakan, dengan cepat dan sigap Nola membantu mengemasi sisa-sisa barang Shakira yang tidak begitu banyak. Terdengar Shakira mengucapkan banyak terima kasih kepada tuan rumah yang sudah menolongnya saat susah.


Lalu mereka pun kembali berada di jalan tak lupa membeli makanan yang Shakira inginkan.


Setelah berjuang melewati kemacetan akibat banjir dimana-mana, tibalah mereka di parkiran basement apartemen. Belum sempat membuka pintu, seseorang menggedor dengan keras kaca di bagian penumpang. Nola pun siaga dengan sigap keluar dari mobil dan mengunci Shakira didalam mobil.


"Apa yang Nona inginkan?" tanya Nola dingin.


"Huhh aku gak butuh bicara sama orang rendahan! Heiii benalu buka pintumu!!!!! , ternyata Lena dengan emosi menggedor kembali pintu mobil.


Shakira pun tersulut emosinya lalu keluar dari mobil tidak mendengar perintah Nola untuk tetap diam didalam.


"Apa masalahmu??' Balas Shakira tidak takut sedikitpun, memberi tanda pada Nola untuk tidak bergerak.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu. Hari ini aku dipermalukan, kamu akan merasakan dua kali lipatnya!", ancam Lena dengan bengis dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Shakira dan Nola.


"Dasar perempuan gila. Dia pikir aku merebut Benjamin dari tangannya gitu? ini harus diluruskan, Nola", ucap Shakira sambil membawa barang-barangnya menuju apartemen.


Saya rasa susah Nona, mengingat Nona Lena selalu mendapatkan apa yang diinginkan", jawab Nola.


Mama Seila kuncinya...ucap Shakira dalam hati.


******


Bersambung ya..


terima kasih kakak² readers yang sudah baik hati utk dukungannya 🙏🙏🙏tetap kasih likenya yahh supaya tetap semangat untuk up 😘

__ADS_1


__ADS_2