Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 51. I've Got You, babe


__ADS_3

...Saling menghargai satu sama lain, jika ingin dihargai 😉...


...××××××××...


Suasana di rooftop cukup chaos. Bunyi mesin helikopter, yang ternyata merupakan jemputan untuk Samuel, telah mendarat dengan mulus di landasan helipad. Ditambah dengan rentetan bunyi senjata api yang yang terus terdengar dan memekakkan telinga baik dari pihak musuh maupun dari pihak Benjamin dan Mama Seila.


Melihat Shakira yang diikat kedua tangan dan mulut yang dilakban, membuat darah seorang Benjamin, ketua Black Klan gank mendidih.


"Aku akan menjemputmu!" teriak Benjamin lagi.


Shakira hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan tetesan airmata yang terus mengalir di kedua pipi.


Takut...ya takut, yang dirasakannya saat ini. Sorot mata Shakira seakan mengatakan "Tolong aku Benji....bebaskan aku."


Hati Benjamin terasa teriris melihatnya.


Shakira yang saat ini berada dalam cengkraman tangan Samuel, berusaha memberontak, membebaskan diri. Samuel terus menarik dirinya dengan sangat kasar. Seluruh tubuh terasa sakit dan nyeri akibat pemaksaan yang dilakukan Samuel dan Rosa terhadapnya.


Benjamin dan Mama Seila terus menembakkan peluru mereka hingga kehabisan amunisi.


"Shi^t!" umpat Benjamin.


"Mama, aku harus mendekati helikopter tersebut, kalau tidak, Shakira akan dibawa oleh mereka!" teriak Benjamin pada ibunya.


"Go Benji, i'll cover you!" jawab Mama Seila seraya menyiapkan gas airmata untuk mengkamuflase pergerakan Benjamin menuju arah helikopter.


Jarak antara Samuel dan helikopternya hanya beberapa langkah lagi.


Rosa yang terus berusaha melindungi serta mengikuti tuannya dari belakang, tiba-tiba dengan sengaja mendorong tubuh Shakira kesamping dengan kencang, membuat wanita tersebut oleng dan roboh.


Samuel yang sebelumnya melepaskan Shakira dan meminta tolong Rosa untuk menggantikannya memegang wanita tersebut agar tidak lari, terkejut melihat tindakan Rosa yang diluar dugaan. Pria tersebut tidak bodoh. Dia adalah kepala kartel yang sangat disegani di wilayahnya sana.


Dengan muka merah padam akibat emosi, hanya dengan melihat raut wajah dan sorot mata Rosa yang telah berkhianat, tanpa perasaan berdosa, diarahkan pistol yang berada di tangan kirinya ke muka wanita setengah baya tersebut. Dengan seringai dingin dan kejam. Dorr..tepat di titik tengah antara kedua mata Rosa yang terbelalak dan seketika tumbang menghadap kearah Shakira berada.


Melihat Rosa harus meregang nyawanya dengan cara seperti itu, Shakira menjerit-jerit, meski bibirnya tidak dapat mengeluarkan suara. Berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangun dari posisinya saat ini. Dirinya tidak ingin menjadi salah korban dari kebiadaban pria tersebut.


"Sir! Let's go! We can't wait any longer!" ucap pilot helikopter tersebut berteriak dari dalam kokpit.


Samuel yang ingin berbalik membawa Shakira, mendengar teriakan anak buahnya pun bergegas masuk kedalam helikopter, meninggalkan Shakira yang saat ini berlari menuju tumpukan kayu-kayu kering mencoba bersembunyi.


Helikopter pun bergegas meninggalkan landasan helipad. Samuel memandang ke bawah, ke arah rooftop, terlihat Benjamin yang sedang mengejar dirinya serta mencoba menembak untuk menjatuhkan helikopter yang ditumpangi dengan menggunakan senjata laras panjang yang ditinggalkan olehnya ketika hendak menaiki helikopter.


Terlihat pula olehnya, sosok wanita berumur setengah abad lebih, yang selalu ada disisi seorang ketua Black Klan. Sosok ibu yang selalu dimimpikan olehnya.


Hah, Benjamin Abimanyu Negara dan Mama Seila serta Papa Abimanyu.Urusan kita belum selesai. Bahkan, baru saja dimulai. Akan kuhancurkan kalian semua, seperti kalian menghancurkan kehidupanku. Dan kau Shakira, orang tuamu harus membayar semua kerugianku. Samuel.


Helikopter membawa pergi jauh seorang Samuel menuju tempat persinggahannya yang baru entah dimana.


...********...


Saat ini, Benjamin berusaha memposisikan senjata laras panjang milik si Mr. X yang ditinggalkannya begitu saja. Namun apa daya, ternyata helikopter yang digunakan terbuat dari bahan tahan peluru seperti yang dimiliki oleh Black Klan.

__ADS_1


"Sialannnn! Urusan kita belum selesai, ba^jingan!" teriak Benjamin murka sambil mengepalkan tinjunya ke atas kearah pria yang berada didalamnya, yang memakai masker hitam, menutupi setengah wajahnya.


Mama Seila yang merasa keadaan sudah terasa aman, bergegas mencari keberadaan Shakira di antara tumpukan kayu kering yang tertumpuk dengan rapi, begitupun dengan Benjamin.


"Kira!! Shakira! Kamu dimana?" teriak Benjamin dengan lantang.


Tak lupa, Mama Seila pun ikut berteriak memanggil nama Shakira.


Shakira yang mendengar panggilan tersebut, berdiri dari persembunyiannya lalu dengan cepat setengah berlari, mendekati Benjamin walaupun tangan masih terikat kebelakang dan mulut diisolasi. Mencoba berteriak memanggil mereka, meski dengan mulut terbungkam.


Benjamin yang mendengar suara teriakan tertahan dengan cepat menoleh mencarinya.


Terlihat Shakira tengah berlari kearahnya, Benjamin pun tidak mau kalah. Dirinya bergegas membuka kedua tangannya dengan selebar mungkin dan menyongsongnya. "Shakira! Kemarilah, kemarilah Kira!"


Melihat Benjamin, lelaki yang telah mengisi hati dan pikirannya akhir-akhir ini, membuka diri untuknya, dengan sangat bahagia, Shakira melemparkan diri kedalam pelukan lelaki bertubuh atletis tersebut.


Benjamin langsung memeluknya dengan erat seakan tidak ingin kehilangan lagi.


Beberapa menit berlalu, Shakira dan Benjamin masih menikmati waktu kebersamaan mereka yang sempat hilang, setelah beberapa hari tidak bertemu.


Oh Kira....i've got you, babe. Benjamin.


"Ehmm...ehmmm....woiii, Benji! Bumi memanggil Benjamin!" teriak Mama Seila memberi kode kepada dua mahkluk berbeda jenis tersebut.


Mendengar suara ibunya yang memanggil, Benjamin tersadar dimana dirinya saat ini, dan ada Mama Seila pula disebelahnya sedang melotot kearah mereka berdua.


"Apa lagi, Ma? Mama tidak senang lihat anaknya bahagia?!" tukas Benjamin melotot kepada ibunya.


"Heh anak durhaka! Itu ikatan sama lakbannya belum dilepas!" jewer Mama Seila sambil menunjuk kearah Shakira.


"Maaf Kira, aku lupa melepaskan ikatanmu," ucap Benjamin dengan halus.


Shakira yang terlihat nyaman bersandar pada dada bidang tersebut hanya mengiyakan dengan menganggukkan kepala.


Ketika Benjamin dan Mama Seila sedang sibuk membuka ikatan Shakira, tampak Dio, Nola dan Willy mendatangi mereka bertiga di rooftop, dengan tampilan yang penuh luka dan goresan dimana-mana. Bahkan, baju Nola yang terbiasa rapi, saat ini telah robek di bagian kaki dan lengan. Sedang Dio dan Willy terluka pada bagian tangan serta kaki.


"Bos?!"


"Nona Muda?!"


Teriak mereka bersama-sama.


"Lama sekali kalian sampai kesini, hah?!" Memangnya ada berapa lusin orang yang kalian lawan sih?!" omel Mama Seila melihat kedatangan anak buah Benjamin yang menurutnya terlalu lama.


"Maaf Nyonya Besar, setelah mengecoh dua mobil para penjaga perbatasan villa, datanglah lima mobil lagi membantu mereka, terpaksa kami yang hanya bertiga ini melawan mereka habis-habisan," jelas Dio diikuti anggukan kepala oleh Nola dan Willy.


"Sepertinya kamu memang tidak berbohong, melihat kondisi kalian bertiga yang acak adul ini," sahut Mama Seila.


Lalu Mama Seila beralih lagi pada Shakira yang saat ini tengah terduduk disebelah Benjamin yang tidak ingin beranjak sedikit pun darinya.


"Kira, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu bisa berjalan dan pergi dari sini?"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Ma. Masih sanggup untuk berjalan, pergi dari tempat terkutuk ini," jawab Shakira dengan tegas, lalu berdiri dan membersihkan debu-debu yang menempel pada hoodie dan celana jogernya.


"Aku harus mandi, Benji. Sudah dua hari aku tidak mengganti pakaianku," ucap Shakira.


"OK, kita akan segera pulang. Dio, perintahkan orang-orang untuk membersihkan para sampah disini," perintah Benjamin.


"Lalu, kalian bertiga kembalilah ke markas. Bersihkan luka pada tubuh kalian sebelum kita melanjutkan misi ini," lanjut Benjamin kepada mereka bertiga.


"Baik, Bos," jawab Dio diikuti yang lainnya.


Lalu mereka semua turun kebawah, menuju lantai dasar, dimana Andi asisten Mama Seila telah menanti mereka.


Saat perjalanan menuju kebawah, Shakira teringat oleh perkataan Rosa mengenai anak perempuannya yang ikut tersekap disini dengan beberapa perempuan lainnya yang seharusnya akan dijual siang ini.


"Benji, aku lupa! Mereka menculik anak gadis Rosa, wanita yang ditembak mati tadi. Katanya tidak hanya aku, melainkan ada beberapa perempuan lagi lainnya disini," ucap Shakira.


"Apa kita bisa mencarinya sekarang juga?" tanyanya lagi dengan wajah memohon.


Benjamin berpikir sejenak. Jika seandainya memang benar ada perempuan-perempuan lain yang ikut diculik disini, dimana mereka disembunyikan. Tidak menutup kemungkinan nyawa mereka telah melayang akibat peristiwa yang baru saja terjadi. Dirinya dan Mama Seila berhasil menggagalkan pelelangan tersebut.


"Dio, kerahkan tim untuk menyisir tempat ini. Temukan para tawanan tersebut secepatnya, dan berikan informasi pada Kombes Pri mengenai temuan ini," titah Benjamin lagi kepada Dio.


"Baik, Bos. Segera dilaksanakan," jawab Dio


"Ayo Kira, Andi telah menanti dan akan membawa kita secepatnya keluar dari sini," tarik Mama Seila diikuti oleh Shakira dan Benjamin.


...********...


Didalam mobil, dalam perjalanan pulang menuju apartemen. Suasana hening menemani perjalanan mereka. Mama Seila menemani Shakira di kursi penumpang bagian belakang, sedangkan Benjamin duduk didepan menemani Andi.


Shakira terus memandang kearah luar. Tatapannya nanar. Ternyata aku dibawa ke kota B, padahal aku sangat suka dengan kota ini. Shakira.


"Benji, bolehkah aku meminta tolong padamu?" tanya Shakira memecah keheningan.


"Apa itu, Kira? Seandainya bisa, akan kutolong," jawab Benjamin yang sibuk dengan ponselnya.


"Kuburkan Rosa dengan layak. Sedikit tidaknya dia telah membantuku. Rosa menyamar menjadi asisten disitu demi untuk menyelamatkan anak perempuannya meskipun harus berakhir dengan kematian," ucap Shakira dengan miris.


Benjamin membalas perkataan Shakira hanya dengan anggukan kepala.


"Oiya...apakah aku harus bertanya sekarang atau nanti ya pada mereka mengenai pria setengah tampan itu?" batin Shakira sambil berpikir keras.


Mama Seila yang merasakan bahwa ada yang mengganggu pikiran anak gadis disebelahnya ini pun bertanya. "Ada apa Kira? Mengapa kamu terlihat gelisah? Ada yang mengganggu pikiranmu?"


Shakira yang tidak menyangka pertanyaan Mama Seila pun menjawab dengan gelagapan. "O-o-ooo tidak ada apa-apa, Mama. Kira hanya senang bisa kembali bersama kalian semua dan tidak sabar untuk mandi dan makan siomay serta es lemon tea hehehehe...." jawabnya dengan nyengir kuda.


"Ah...baiklah, sepertinya Bik Ima akan menyiapkan untukmu, Kira," senyum Mama Seila dengan hangat.


Syukurlah Mama Seila percaya, akan aku tanyakan nanti kalau semua sudah berkumpul di markas. Shakira.


Shakira pun akhirnya tertidur sepanjang perjalanan. Merasakan kenyamanan berada di tengah-tengah orang yang peduli akan kehadirannya. Captain America ku....

__ADS_1


...********...


Bersambung ❤ mohon dukungannya ya kaka² yang baik hati, tidak sombong serta rajin menabung 😊 dan jika ingin berkomentar, memberi kritik dan saran tolong yang membangun ya. kalau hanya untuk menjatuhkan lebih baik skip aja novelku ini. See you soon 😍


__ADS_2