
...Pada akhirnya bukan kata-kata menyakitkan dari musuh yang selalu kita ingat, namun diamnya para sahabat yang dulu mendukung kita ...
...- Martin Luther King -...
......................
Melihat kekasihnya, Shakira mengomel serta merajuk. Benjamin bergegas melepaskan pelukannya.
"Maaf Tuan Muda, apakah anda mengenalnya?" tanya Maria penuh heran. Lain halnya dengan Nola, yang telah lama mengikuti Benjamin kemanapun dan dimanapun berada. Sekelebat, teringat sosok pria yang sedang berada tepat dihadapannya. Pria bule yang menjadi masalah antara tuan muda dan nona.
"Hmm ... pantas, sewaktu dimuseum aku merasakan hal yang aneh. Seperti tidak asing raut wajah pria tersebut," batin Nola.
Dio menyenggol sikunya meminta penjelasan. Nola mengacuhkannya, membuat pria bertubuh atletis tersebut merengut kesal.
"Apa kabar, Ben ...?" tanya pria bule tersebut dengan penuh simpatik, yang memang telah diketahui sebelumnya, bahwa dia fasih berbahasa indonesia.
"Aku baik-baik saja saat ini. Sudah mulai membaik. Bagaimana dengan mu, Rick?"
"Ya betul, dia adalah Rick Van der Hood, sahabat tuan muda. Salah satu sahabat tuan muda kala itu, sebelum kejadian nahas yang menimpa nona Tiara, pacar tuan muda kala itu," batin Nola lagi-lagi berbicara sendiri.
Maria memberikan kode kepada Nola serta Dio untuk keluar dari ruangan tersebut untuk memberikan waktu bagi tuan muda dan kenalannya itu.
...****************...
Diluar, diberanda yang menghadap kearah danau, dikelilingi oleh pepohonan pinus yang tinggi. Cuaca mendung serta angin malam yang dingin. Tidak menyurutkan ketiga orang kepercayaan Benjamin sedang berbisik-bisik. Membahas hal yang terjadi didalam ruangan sebelumnya.
Shakira, yang saat ini sedang menyeruput secangkir lemon ginger tea sembari menonton tv, melihat mereka dari jauh. Tidak ingin ketinggalan berita hangat alias kepo tingkat dewa serta tidak lupa rasa jengkel akibat dituduh yang tidak-tidak oleh Benjamin, segera cangkir kecil yang sedang dipegangnya diletakkan dimeja makan lalu bergegas mendekati ketiga orang tersebut untuk menggali informasi mengenai pria bule itu dan apa hubungannya dengan Benjamin. Serta tidak lupa, apa alasan mereka saling berpelukan erat seperti itu tadi.
Tanpa disadari oleh ketiganya, Shakira telah berdiri tidak jauh dari zona bisik-bisik tersebut.
"OK, jelaskan padaku Maria. Sesungguhnya siapa dia dan apa yang sedang terjadi didalam ruangan tersebut?!" cecar Shakira dengan muka merah padam.
"Sabar, Nona Muda. Tahan emosi anda, kami akan menjelaskannya sekarang," ucap Nola berusaha menenangkan nona mudanya yang sedang emosi.
"Ayo cepat jelaskan padaku, Maria! Apakah kamu tidak bisa melihat bahwa aku sedang kesal?!" sahut Shakira dengan nada tinggi tanpa memperdulikan perkataan Nola.
"Ayo kita duduk dahulu, Nona Muda. Saya tahu anda marah dengan tuan muda," ajak Maria dengan tenang menghadapi amukan kekasih atasannya ini.
"Aku kesal sekali dengan Benji, Maria. Memangnya apa yang telah kuperbuat diluar sana sehari ini?! Aku dan mereka berdua hanya berjalan-jalan menikmati tempat dan suasana, bukannya justru tebar pesona kesana kemari sehingga membuat seorang pria mengikuti kami!" omel Shakira setengah berkeluh kesah.
"Iya Nona Muda, saya mengerti dan dapat memahami kekesalan anda. Tetapi, itu semua ada alasannya mengapa tuan muda berlaku posesif."
Shakira menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lalu, duduk dikursi panjang yang tersedia di beranda.
"Siapa pria bule itu? Bukannya Benji hendak melahap bulat-bulat pria bule itu?!"
"Hahahaha ... maafkan saya, Nona," ujar Dio yang tidak dapat menahan tawanya mendengar pertanyaan Shakira.
"Ketawa terus ya ... awas itu giginya kering!" ancam Shakira setengah melotot kearah Dio.
"Sudah ... sudah jangan berantem," sahut Nola menengahi antara Shakira dan Dio.
Dio yang masih berdiri dipinggi pagar mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Tiba-tiba Maria memotong perselisihan Shakira dan Dio.
"Ternyata, pria bule itu adalah sahabat karib tuan muda dan mendiang nona Tiara, mantan kekasih tuan muda."
"Apa?! Tunggu, aku mau mencerna penjelasanmu," ujar Shakira sembari mengernyitkan dahinya tanda berpikir.
"Dunia ini memang sempit ya, masa sih aku bisa bertemu dengan salah satu teman di masa lalunya," ucap Shakira dengan menggelengkan kepala.
"Tapi kok aku merasa janggal, jika mereka sahabat karib, mengapa aku merasakan aura kesedihan?!"
Nola menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dan berkata dengan pelan namun penuh kehati-hatian, takut salah.
"Karena, pria bule tersebut yang bernama Rick, sebelum kejadian tragis terjadi, sempat jatuh cinta kepada kekasih tuan muda dan berusaha memaksa mendiang nona Tiara untuk meninggalkan tuan, Nona Shakira ...."
Kedua bola mata Shakira membulat besar seakan hendak keluar. Merasa kasihan dengan nasib Benjamin.
__ADS_1
"Wah sahabat terbaik ... aku jadi ingat dengan - ..."
"Juliana ...." sambung trio sekawan dengan anggukan kepala.
Shakira mengerjap-ngerjapkan matanya, tak disangka trio sekawan yang tidak pernah akur bisa seia sekata.
...****************...
Di dalam ruang markas, tempat para pengawal berkumpul. Benjamin dan pria bule yang bernama Rick, yang ternyata merupakan sahabat lamanya, masih asyik berbincang.
"Tidak kusangka, kita akan bertemu kembali, Ben."
Benjamin hanya tersenyum simpul merespon perkataan kawan lamanya.
"Bagaimana kabarmu selama ini? Kamu seakan sengaja menjauhi aku dan teman-teman Tiara," lanjut Rick, si pria bule.
Saat ini mereka sedang duduk berhadapan. Benjamin seakan tertarik ke masa lalu, dimana dirinya dan Tiara serta Rick dan beberapa teman mereka dekat satu dengan lainnya. Persahabatan mereka penuh suka dan duka. Namun, semua seakan berakhir begitu saja sejak kematian tragis Tiara. Semenjak itu, mereka semua saling menjauhi.
"Sudahlah Rick, jangan membahas yang lampau. Sekarang aku sudah melangkah jauh kedepan."
Rick pun tertawa kecil mendengar pernyataan Benjamin.
"Dengannya kah? Wanita cantik berambut ikal sebahu serta senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya."
Seketika raut wajah tampan Benjamin berubah dingin. Menyesal telah memeluk pria breng sek tersebut.
"Itukah alasan dirimu mengikutinya? Apakah kamu telah berubah menjadi stalker wanita?!"
"Wow wow ... relax man ... aku memang salah telah mengikutinya. Aku hanya ingin berkenalan awalnya, tetapi wanita itu menghiraukan ku begitu saja. Tak kusangka, ujungnya harus berakhir dengan mu disini, hahaha ... sungguh takdir memang tidak pernah bisa di duga," ujar Rick tertawa sambil menepuk-nepuk pahanya.
"Apakah hal ini lucu bagimu?! Dasar pria aneh. Sekarang pergilah dari sini!" usir Benjamin kesal.
"Kamu mengusir aku setelah meringkusku seperti penjahat?!"
"Memang benar. Seorang penguntit adalah penjahat. Jauhi wanita ku!" jawab Benjamin seraya bangkit dari sofa dan berjalan keluar memberi kode kepada para pengawalnya untuk membawa Rick keluar dari situ.
"Pastikan dia pergi dari sini secepatnya!" perintahnya kepada salah satu pengawal.
...****************...
Benjamin berjalan kearah ruang keluarga, maksud hati ingin mencari kekasihnya. Ia tahu bahwa Shakira saat ini tengah merajuk. Kesal karena dianggap berbuat macam-macam diluar sana.
"Aku harus meminta maaf pada Shakira. Sebenarnya, aku hanya sangat khawatir mengenai keselamatannya," batin Benjamin.
Benjamin mencari keberadaan Shakira di dalam rumah, tapi tidak menemuinya. Lalu, terdengar suara orang bercakap-cakap diluar. Diam-diam dirinya mendekati jendela kaca yang memisahkan ruang makan dan beranda tempat keempat orang tersebut sedang tertawa-tawa. Entah apa yang sedang dibahas mereka.
Benjamin pun berusaha mencuri dengar.
"Lalu, apakah si Rick ini berhasil menikung pria tampanku?" terdengar suara Shakira bertanya kepada Maria.
"Wah ... Kira memang wanita pilihan. Aku dibilang pria tampannya ...." batin Benjamin. Dirinya senyum-senyum sendiri, perasaannya sungguh bahagia mendengar perkataan Shakira.
"Tidak Nona. Mendiang kekasih tuan muda menolaknya mentah-mentah!"
"Hmm ... baiklah, kukira ketampanan si Rick ini mampu mengalahkan pesona Benji, hahahahaha ...." sahut Shakira tertawa geli.
Shakira kembali termenung.
Sesungguhnya Benji juga tidak salah. Dia hanya mengkhawatirkan keselamatanku. Dia telah berjanji kepada papa untuk selalu menjagaku. Shakira.
"Apakah ada lagi yang hendak Nona tanyakan kepada kami?" tanya Maria seraya bangkit berdiri dari duduknya.
"Eh ... tidak ada Maria. Maaf aku terbawa pikiranku. Dimana tuan mudamu? Apakah dia masih bersama pria bule itu?"
"Tidak, Nona. Dia telah pergi dan saya berharap kita tidak bersimpangan jalan lagi dengannya," jawab Maria dengan lugas.
Shakira merasa sedikit aneh mendengar perkataaan Maria. Begitu juga dengan Dio dan Nola, yang mendengarnya.
"Kalau tidak ada pertanyaan lainnya, saya akan kembali kedalam, Nona," pamit Maria lalu berjalan menuju kedalam rumah.
__ADS_1
"Kenapa dia tuh, Nola?" tanya Dio penasaran.
Yang ditanya hanya mengangkat bahunya, dan berjalan mengikuti Maria setelah mohon undur diri kepada Shakira.
"Loh ... aku ditinggal! Maaf Nona, saya akan menyusul singa dan Maria," pamitnya seraya setengah berlari mengejar keduanya.
Shakira pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Dio.
Setelah tidak ada satupun yang menemani, Shakira akhirnya meluruskan kedua kakinya. Merebahkan punggungnya dikursi panjang. Menikmati sore menjelang malam. Kedua matanya menatap bintang-bintang yang jauh diatas sana. Suasana malam ini tampak cerah. Mendung pun hilang dari langit.
"Ah seandainya ada Benji disini pasti romantis ..." oceh Shakira demgan tersenyum.
"Aku disini, Kira."
Seketika Shakira menoleh kesamping kanan. Terlihat Benjamin sedang berdiri disamping kursinya, sambil menatap penuh kasih. Setelah diam-diam keluar dari persembunyiannya.
"Huft ... tapi jangan nuduh yang bukan-bukan dong!" rajuknya dengan cemberut.
Benjamin pun ikut merebahkan dirinya disamping Shakira.
Tidak ada satupun yang berbicara. Shakira pun dibuat gelisah karenanya.
"Maunya apa sih kesini kalau hanya diam-diam saja?!"
Terlihat olehnya Benjamin memainkan jarinya.
"Maafkan aku, Kira. Aku tidak bermaksud untuk menuduhmu yang bukan-bukan. Sebenarnya, tanpa aku mencurigaimu pun aku sudah tahu kamu tidak akan berbuat macam-macam diluar sana."
"Tapi ...?!' sahut Shakira dengan ketus.
"Ada tapinya kan?! Aku tahu kamu takut aku kenapa-kenapa. Bukan salah aku juga kan kalau pria itu yang mengikuti kami?"
"Iya ... memang bukan salahmu. Aku hanya terlalu ..."
"Cemburu?!" potong Shakira dengan gemas.
Benjamin hanya terdiam. Tampak jelas mukanya memerah menahan malu.
"Iya ... aku cemburu. Aku akui aku cemburu pada pria manapun. Kamu adalah milikku. Milikku seorang, Kira."
Shakira tersentak mendengar penuturan Benjamin.
Tidak kusangka, pria yang tampak dingin dari luar ternyata hatinya halus banget. Shakira.
"Apakah kamu mau memaafkan aku?" tanya Benjamin yang telah menggenggam salah satu tangannya dan sedang menatap dirinya dari samping.
Shakira hanya diam terpaku menatap wajah hasil pahatan yang maha esa satu ini.
"Benar-benar pria tampan gagah dan macho ...." ocehnya tanpa sadar.
"Itulah diriku, sayang ...." sahut Benjamin yang mendengar ocehannya.
"Ish ... sebel! Telinga kamu memang super duper sensitif," jawabnya seraya mencubit lengan kekasihnya.
"Bagaimana? Apakah kamu mau memaafkan aku?" tanya Benjamin sekali lagi dengan tatapan mautnya.
Shakira akhirnya salah tingkah dibuatnya.
"Iya iya, aku juga minta maaf. Lain kali aku akan memakai kacamata kuda kalau pergi tanpamu!"
Benjamin tersenyum simpul. Kekasihnya ini masih menyimpan marah pada dirinya.
Tanpa disadari oleh Shakira, tangan kekar tersebut telah memeluk pundaknya dengan mesra dan penuh sayang.
Sembari menatap jauh keangkasa, Benjamin berbisik di telinganya.
" I L Y, Kira ... i love you, ketahuilah bahwa dirimu sangat berharga dan berarti untukku ..."
...----------------...
__ADS_1
Bersambung ya ♥️♥️
terima kasihh semuanya love you all 😍😍