Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 48. Tunggu aku!


__ADS_3

Terdengar bunyi notif panggilan di ponsel Dio. Ia yang saat ini sedang berada satu mobil dengan Willy, mengikuti mobil Reyhan tepat dibelakangnya namun berjarak.


"Yes...Maria." ~ Dio


"Dio, anak-anak IT menemukan informasi cukup penting melalui dark web. Sesuai dengan IP address Reyhan yang kita bobol." ~ Maria.


"Apa itu Mar? Buruan info, karena kita sedang mengikuti si cecungu* Reyhan nih," ~ Dio.


"Disinyalir besok akan pelelangan para gadis perawan. Promosinya hanya untuk kalangan atas dan orang-orang berpengaruh. Dan Kombes Pri baru saja mengabarkan plat nomor mobil yang digunakan sewaktu menculik nona muda, sesuai dengan plat nomor mobil Reyhan yang sedang kalian ikuti. Karena mobil tersebut memang atas namanya, Dio. Kamu harus cepat bergerak! Takutnya nona muda ikut dalam pelelangan tersebut. Aku akan membantu mengawasi melalui GPS. Share lokasi kalian," ~ Maria.


"Apa?! Waduh, bahaya Mar, apa kamu sudah berbagi informasi ini dengan Bos besar kita?"~ Dio.


"Belum. Akan aku informasikan sekarang. Dan satu hal lagi, helikopter akan kusiapkan siapa tahu kalian akan memerlukannya."~ Maria.


"OK, Maria. Terima kasih, sekarang ku kirim live location kami." ~ Dio.


"Hati-hati, Dio. Kita tidak tahu siapa mereka sesungguhnya. Kombes Pri juga sudah kuhubungi." ~ Maria.


Setelah memutuskan sambungan dengan Dio, dengan cepat Maria menghubungi tuan muda mereka untuk memberikan perkembangan informasi terkini.


Hanya dengan satu nada panggilan, Maria langsung tersambung dengan tuan mudanya.


Benjamin yang mendapat informasi mengejutkan dari asistennya, Maria, langsung bertindak dengan cepat. Mama Seila pun turut serta mengikuti Benjamin dengan harapan dapat menemukan Shakira secepatnya.


"Benji, biarkan Andi yang mengemudikan mobilnya," perintah Mama Seila ketika melihat Benjamin yang hendak mengambil kunci mobil dari atas meja.


"OK, tapi pastikan tidak ada kata lambat dalam mengemudi," tukas Benjamin dengan cepat.


"Ayo, sekarang kita jalan. Posisi Dio dimana tepatnya sekarang ini?" tanya Mama Seila setelah menutup pintu mobil bersamaan dengan Andi menancapkan gas membelah jalan berlatar langit yang masih gelap.


"Astaga Ma, mereka kearah luar kota S, melalui jalan-jalan kota, tidak melalui tol. Kemana Reyhan sebenarnya dan siapa orang yang berada dibaliknya," jawab Benjamin berpikir keras.


"Andi, injak pedal gas. Susul Dio secepatnya!" perintah Benjamin.



"Mama, semoga kita tidak terlambat menemukannya," ucap Benjamin setengah berbisik dengan kedua mata terpejam.


Mama Seila yang mendengar perkataan anaknya pun mengamininya.


"Tunggulah aku, Kira. Semoga benar dirimu berada disana...." batin Benjamin.


"Tuan Muda, sepertinya kita mengarah ke kota B, menurut GPS Dio dan kawan-kawan," info Andi yang mengikuti titik point mobil Dio.


"Wah..mereka menyembunyikannya di daerah terpencil pastinya. Agar tidak ada yang tahu dan mendengar teriakan-teriakan. Kamu tahu kan Ben, kota B banyak sekali Villa- villa bertebaran di bukit-bukit," ucap Mama Seila mendengar perkataan Andi, asistennya.


Kemudian Benjamin pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Kombes Pri. Mau tidak mau, dirinya harus meminta bantuannya secara pribadi.


Setelah terdengar sambungan dan suara diseberangnya merespon.


"Halo bro...ada apa?" ~ Kombes Pri.


"Aku perlu bantuanmu saat ini. Maria telah memberi informasi padamu kan..?!" ~ Benjamin.


"Yes bro...aku telah mengirimkan orangku juga dan mereka akan bergabung dengan Dio sesaat lagi," ~ Kombes Pri.


"Aku minta tolong satu hal padamu sebagai teman....." ~ Benjamin.

__ADS_1


"Katakan saja, apa yang bisa ku tolong?" ~ Kombes Pri.


Jeda sejenak.


"Reyhan dan orang yang berada dibelakangnya adalah milikku sepenuhnya...." ~ Benjamin.


Seketika, hawa didalam mobil menjadi sangat dingin. Bukan karena AC..namun aura yang tersirat dari suara seorang Tuan Muda Benjamin sarat dengan naf su kejam dan sadis untuk membu nuh seseorang yang berani mencari perkara dengannya.


Kombes Pri yang sangat mengerti sifat salah satu sahabatnya ini hanya bisa berkata. "Anggap saja aku tidak tahu menahu perihal ini...pegang kata-kataku," ~ Kombes Pri menghela nafas di seberang sana.


"Terima kasih, bro...." ~ Benjamin.


Sambungan telepon pun terputus.


"Benjamin Abimanyu Negara, apapun yang akan kamu lakukan nantinya, Mama harap kamu jangan sampai terluka," pinta Mama Seila mengenggam tangan Benjamin.


Benjamin hanya mengeratkan gennggaman tangan mereka berdua tanpa perlu menjawab pertanyaan Mama Seila.


"Tuan, kita mendekati titik poin Dio dan tim Black Klan. Kita sudah banyak memotong jalan agar tiba lebih cepat dari waktu yang diperkirakan," ucap Andi pada Benjamin.


Mendengar informasi Andi, ia pun bergegas mengeluarkan senjata andalannya "Desert Eagle" beserta samurai kesayangannya yang diletakkan dibelakang mobil.


Tak ketinggalan pula, mantan ketua Black Klan, Mama Seila mengeluarkan senjata rahasianya yang selama ini disimpan baik-baik didalam tasnya. Ruger Super Redhawk 454 Casull



Senjata yang menjadi andalan si Ratu Bengis Black Klan ini, diklaim mampu menyebabkan kerusakan besar dibandingkan pistol lainnya. Bukan tanpa alasan, Ruger Super Redhawk 454 Casull menggunakan peluru lebih besar.


Desain pistol ini memperlihatkan karakter lengkap dan mematikan. Selain itu pistol dilengkapi alat bidik yang bisa meningkatkan tingkat akurasi. Mama Seila memilih senjata api ini mempunyai alasan tersendiri. Karena, energi tembak peluru dapat mencapai titik 1.900 kaki per detik. Perpaduan antara kecepatan dan akurasi membuat pistol ini sangat mematikan bagi lawannya.


Benjamin melirik ibunya yang sedang memegang senjata tersebut. Mengerikan wanita satu ini. Pantaslah kalau aku memiliki darah dingin sepertinya. Benjamin.


Andi pun segera membawa mobil mereka melesat jauh mencoba mendekati mobil Dio yang saat ini berada persis dibelakang mobil Reyhan.


...********...


Jam menunjukkan pukul 5.30 pagi. Karena ini berada didaerah perbukitan, menurut sejauh mata Shakira memandang, maka sinar mataharipun akan lambat bersinar karena tertutup oleh kabut.


Shakira berguling diatas kasur yang terasa keras di badannya.


Huft...sudah pagi lagi. Bagaimana ini, aku harus keluar sebelum mereka menjualku ke orang-orang gila diluar sana. Shakira.


Terdengar kunci pintu berputar dan gagang pintu ditekan.


Masuklah Rosa kedalam, membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuknya.


"Nona, ini sarapan untukmu agar memiliki tenaga untuk acara mu siang nanti," ucap Rosa dengan suara seperti biasa.


Masih dengan membelakangi daun pintu yang terbuka, Rosa berbisik. "Ikutlah denganku membersihkan diri, akan ku berikan akses internet padamu. Ayo sekarang!"


Shakira yang menunggu kesempatan tersebut bergegas bangun dan mengikuti langkah Rosa menuju kamar mandi diluar.


"Masuklah dan konekkan perangkatmu dengan punyaku, rosa ~ 123456. Cepatlah sedikit, mereka akan kembali sebentar lagi?!" desak Rosa pada Shakira agar bergegas.


"OK, sekarang," sahut Shakira.


Seperti waktu lalu, Shakira menghidupkan air agar tidak terdengar jelas apa yang sedang ia lakukan.

__ADS_1


Segera diambilnya IPod Touchnya dan menyambungkan koneksinya dengan milik Rosa.


"Bingo!!! Aku bisa menghubungkan IPod Touchku ke ponsel. Semoga Nola memegangnya saat ini," do'a Shakira penuh harap.


Kurang lebih 5 menit ia berada di dalam kamar mandi, berharap GPS di ponselnya dapat menunjukkan lokasinya saat ini.


...********...


Bling...bling...bling...


Ponsel Shakira yang selalu digenggam oleh Nola mengeluarkan notifikasi bunyi.


Notifikasi yang menunjukkan bahwa sebuah perangkat dengan nama Shakirkira tengah tersambung dengan ponselnya.


"Hah...Dio! Ponsel nona menunjukkan aktifitas dari IPod Touchnya!" teriak Nola setengah kegirangan.


"Apa?! Berita bagus Nola. Kirimkan ke Maria cepat agar dapat dilacak lokasinya," perintah Dio.


"OK Bos, siap laksanakan!" jawab Nola menuruti perintahnya.


"Etdah...tumben baru kali ini kamu panggil aku, Bos...kayaknya ada yang salah makan kali ini, Willy," sindir Dio menggoda wanita yang sedang memandangnya dengan sinis.


"Jangan gitu, Bos...nanti kalian bisa jatuh cinta, loh....hahahahahaha!" tawa Willy menggema didalam mobil.


"Apakah kamu ingin bertemu dengan Bobo, buayaku setelah ini, Will?" ancam Dio setengah berbisik.


"Hahahahaha....rasakan kau, Willy!" kali ini tawa Nola yang terdengar keras memenuhi mobil.


Cocok...cocok...sangat cocok mereka berdua. Aku do'akan kalian berjodoh hahahaha. Willy.


Maria yang saat ini telah mengkonfirmasi notifikasi dari ponsel Shakira dengan cepat memberikan lokasi terupdate pada Benjamin dan Dio.


"Mama! Perangkat Shakira memberikan notifikasi lokasinya saat ini. Sepertinya dia mendapatkan akses jaringan internet. Andi, lekas dahului mobil cecu^nguk itu!" perintahnya pada Andi.


"Siap, Tuan Muda," sahut Andi lantas menggeber gas mobil mendahului mobil sedan yang sedan dikemudikan Reyhan.


Jarak lokasi yang disinyalir menunjukkan keberadaan Shakira hanya beberapa kilo dan Benjamin sekarang.


"Jangan sampai kita terlihat, Andi," ucap Mama Seila mengingatkan.


Benjamin menghubungi Dio.


"Ya Bos..." ~ Dio.


"Tahan si breng^sek itu setelah mendekati tempat Shakira di sembunyikan. Jangan sampai dia tahu keberadaan saya dan Mama Seila," ~ Benjamin.


"Dicopy, Bos...." ~ Dio.


Tunggulah aku sebentar lagi, Kira...Benjamin.


...********^^********...


Bersambung ya


Terima kasih atas dukungannya selalu🥰


jangan lupa terus pantengin usaha Benjamin dan kawan-kawan dalam membebaskan Shakira ☺☺☺

__ADS_1


mohon beri like, komen supaya diriku terus semangat untuk up yah kaka²...makasih


__ADS_2