
Perjalanan yang ditempuh oleh Shakira dan Benjamin serta tiga sekawan, telah menempuh waktu sekitar 14jam non stop, belum ditambah dengan transit di ibukota Jakarta, hingga tiba di bandara Schipol, di daerah Amsterdam Selatan lebih tepatnya di Gemeente Haarlemmermeer.
"Akhirnya ... tiba juga kita, hoamm ...." Shakira meregangkan otot sekaligus menguap.
Benjamin yang sedikitnya telah mengenal tingkah laku kekasihnya ini hanya menggelengkan kepala. Lalu menarik tangan Shakira agar terus berjalan menuju tempat pengambilan bagasi.
"Apakah kamu belum puas tidur selama berjam-jam?" tanya Benjamin yang terus saja melihat Shakira menguap tiada hentinya.
"Astaga Benji, aku benar-benar lelah. Duduk selama 14 jam, belum lagi transit di Jakarta. Aku hanya ingin tidur dan makan saat ini," jawab Shakira merajuk.
Benjamin menepuk dahinya. Dalam hati dirinya lebih baik diam mengalah daripada mendebat seorang wanita yang kelelahan.
"Sini, kita duduk sembari menunggu bagasi. Biarkan tiga sekawan itu yang menunggu tas-tas kita," perintah Benjamin seraya memeluk Shakira hingga kepalanya terkulai kembali dipundak lelaki tampan tersebut.
"Benji ... terima kasih ya atas kejutannya. Aku benar-benar senang sekali. Papa mamaku jarang sekali mengajakku jalan-jalan seperti ini, sibuk selalu," ucap Shakira bermanja-manjaan di pundak kekasihnya.
"Sama-sama, Kira," jawab Benjamin seraya mengusap puncak kepala Shakira dengan penuh kasih sayang.
Dari kejauhan, tiga sekawan yang sedang menunggu datangnya bagasi mereka berlima, saling berbisik dan mencuri pandang kepada dua insan yang dimabuk asmara.
"Uluululuuu ... manja sekali nona mudaku itu," bisik Dio tepat di telinga Nola.
"Ehkm ... iri bilang bos," jawabnya seraya melirik Dio dengan tatapan membunuh.
"Ish dasar singa ... jelas dong aku iri. Sampai saat ini aku masih single," balas Dio dengan menjulurkan lidahnya.
"Makanya, cari pacar sono!" sahut Maria ikut menimpali Dio.
"Yaelah ... nona satu ini tidak sadar akan dirinya juga, hahaha ....". Tawa Dio menggelegar keras.
Plak!! Sebuah pukulan keras mendarat di punggungnya.
"Aduh, Singa!" umpat Dio kepada Nola.
"Sstt ...! Diam bisa tidak?!" tukas Nola sengit.
Benjamin dan Shakira melihat pertikaian ketiganya dari jauh hanya tertawa kecil. Mereka tahu bahwa pokok bahasannya ya mereka berdua inilah.
"Nola dan Dio rasanya cocok kan?"
Benjamin hanya mengedikkan bahunya.
Lalu berkata kepada Shakira dengan tersenyum.
"Apa rencanamu, Kira? Jangan bilang sekarang kamu hobi jadi mak comblang ... hmm?!"
Shakira ditanya seperti itu hanya mengedipkan sebelah mata.
"Maybe ... menurutmu bagimana? Mereka cocok loh."
"Aku serahkan padamu, tapi jangan sampai mengganggu pekerjaanmu dan mereka. Serta hubungan kita dengan mereka, OK?!" ujar Benjamin dengan menautkan jari kelilingnya dengan Shakira.
"Deal!" jawab Shakira dengan gemas.
"Aku sayang kamu ...."
Benjamin tertawa mendengarnya. Entah sudah berapa kali mendengar kekasihnya mengucapkan kata-kata sayang padanya sedari tadi.
"Aku pun sayang kamu, Kira."
Ke cu pan hangat dan mesra pun mendarat di bi bir me rah Shakira.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh mereka berdua, ketiga sekawan tersebut telah berdiri didekat atasannya.
"Maaf Tuan Muda, maaf mengganggu," sapa Maria dengan menahan malu melihat adegan mesra di depan mata.
Bucin, bucin syndrome nih Bos eike ... Dio.
Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu bergegas memisahkan diri dengan raut wajah merah merona menahan malu.
"Ehm ... sorry, apakah kalian sudah lama berdiri disini?" Benjamin bertanya kepada ketiga bawahannya.
"Baru saja Tuan Muda," jawab Maria dengan santai.
Padahal sudah 2menit kami berdiri sini. Maria.
"Baiklah, ayo kita semua segera jalan. Apakah kendaraan kita sudah siap, Maria?"
"Sudah Tuan Muda. Mereka telah menunggu kita semua."
"Ayo, kita buat kejutan untuk nyonya besar."
Benjamin memeluk bahu Shakira dengan mesra.
Pria tampan dengan postur tubuh menawan berjalan mesra dengan seorang wanita cantik mempesona, membuat semua mata yang berada di sekitar mereka, memandang dengan takjub serta iri.
Melihat kekasihnya ditatap oleh banyak wanita, Shakira semakin mengeratkan pelukannya. He's mine ...
Tak beda jauh dengan Benjamin. Perlakuannya pun serupa dengan yang dilakukan oleh Shakira. Namun ditambah dengan sedikit demi sedikit ke cu pan mesra mendarat di pelipis wanita cantik tersebut.
"Astaga, nasib jones ... bikin nyesek lihatnya," kembali Dio berbisik-bisik, berjalan disamping Nola dan Maria.
Tanpa segan, keduanya menarik telinga Dio membuatnya berteriak kesakitan.
Shakira dan Benjamin yang memang mendengar bisikan Dio tertawa dan mengejeknya.
Sial! Dio.
...****************...
Dalam perjalanan dari Schipol menuju kediaman kedua orang tua Benjamin, mobil yang membawa mereka melalui tempat-tempat atraksi yang menarik perhatian Shakira.
Tempat yang pertama dikunjungi adalah Flora Holland. Shakira membeli tanaman hias, ingin memberikan kejutan untuk Mama Seila.
Lalu, oleh sopir mereka dibawa menuju Vondelpark.
Tempat ini berupa taman terluas di Amsterdam dengan luas mencapai 47 hektare. Taman ini sangat terkenal di Amsterdam.
Di lokasi ini, para wisatawan bisa berjalan santai, bermain, berjemur, bersepeda, hingga bermain skateboard. Di sini terdapat museum, juga kafe dan restoran.
Setelah itu, mereka kembali dibawa untuk pesiar kanal.
Bersama dengan pengunjung lainnya, mereka berlima berkesempatan berlayar menggunakan kapal pesiar kecil selama 2 jam. Meskipun Benjamin bukan pertama kali menaikinya, namun bersama Shakira, sangat berbeda rasanya.
Nola, yang memang selalu mengambil dokumentasi Shakira secara diam-diam untuk kepentingan tuan mudanya, sekarang pun asyik mengambil foto sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
"Indah sekali ya, aku ingin kembali lagi kesini jika ada kesempatan," ucap Shakira dengan senyum lebarnya.
Benjamin hanya tersenyum mendengarnya dengan tangannya asyik memeluk kekasihnya dari belakang.
Hembusan angin dingin yang menerpa muka tidak dihiraukannya. Hatinya terasa hangat. Sehangat tubuh kekasihnya.
"Setelah ini kita lanjutkan perjalanan, OK?!"
__ADS_1
"Baiklah, aku sudah tidak sabar bertemu kedua orang tuamu. Semoga mereka tidak kaget melihat kedatangan kita, Benji."
"Sepertinya kalau papa tidak akan terkejut, karena aku telah memberi tahukan padanya bahwa kita dalam perjalanan menuju Utrecht."
"Oh begitu, bagaimana dengan Mama Seila?" tanya Shakira yang masih bersandar didada bidang Benjamin.
"Mama belum mengetahuinya, Kira."
"Kalau begitu, ayo kita berikan kejutan untuknya agar dia bahagia, Benji."
Kemudian Shakira memberikan ci u man sekilas di bi bir Benjamin.
Perjalanan tamasya mereka harus berakhir saat ini, karena waktu semakin senja. Mereka memerlukan beberapa jam lagi hingga tiba di kota kelahiran Benjamin. Yaitu Utrecht.
...****************...
Beberapa jam perjalanan, Shakira dan tiga sekawan tidak ada yang tidur. Mereka asyik bercanda tawa dan bercerita apapun, sehingga membuat perjalanan yang melelahkan itu menjadi berkesan.
Ketika mulai memasuki kota Utrecht, mereka di sambut oleh hujan rintik-rintik.
Shakira seakan melahap semua pemandangan yang ada didepan mata.
"Utrecht! Aku datang untukmu ...."
Ucapan Shakira terdengar oleh Benjamin.
"Oh ... jadi aku telah digantikan oleh sebuah kota ya?!"
"Idih ... cemburu kok sama kota sih, Benji!" goda Shakira dengan mengedipkan sebelah mata.
Dengan cepat dipeluknya tubuh Shakira sehingga menempel pada tubuhnya.
"Utrecht indah ya, Sayang ...."
Getaran aneh menjalar ditubuh Shakira. Hembusan nafas Benjamin ketika berbisik di telinganya membuat bulu kuduknya meremang.
"Kalau malu, kamu semakin cantik dan menggemaskan," bisik Benjamin dengan sexy ditelinganya.
Syukurnya, hari sudah gelap sehingga tidak ada yang bisa melihat malunya Shakira saat ini digoda oleh kekasihnya.
"Dasar lelaki muka datar! Sudah mulai suka menggoda dan merayu ya?!" cubit Shakira membalas bisikin Benjamin.
Membuat pria tersebut terkekeh mendengarnya, lalu balas merayu.
"Hanya dengan seorang Shakira saja ...."
Semakin salah tingkah dibuatnya, Shakira mengalihkan pembicaraan.
"Dio, apakah kamu sudah memiliki wanita yang disukai?"
Yang ditanya kebingungan untuk menjawab. Sedang Nola yang duduk di sebelahnya, nampak menanti jawaban Dio.
"Kenapa, Nona menanyakan hal tersebut?"
"Hahahha kamu jangan kaget, Dio. Aku punya calon untukmu ...."
Semua yang didalam mobil hanya bisa terhenyak mendengar penuturan Shakira, terkecuali Benjamin.
...****************...
__ADS_1