
"Pindahkan??? Maksud kamu, aku pindahkan dia dari apartemen itu??" tanya Benjamin pada Andre.
"Benar kawan...pindahkan dia. Kasih dia kesempatan juga untuk mencari tahu perasaannya terhadapmu", jawab Andre sambil memainkan dasinya.
"Aku enggak tega. Sepertinya ada orang-orang yang berusaha ingin mencelakainya", ucap Benjamin ikut melonggarkan dasinya.
"Mencelakai Shakira? Lena yang kamu maksud tadi?" Andre bertanya dengan penuh minat.
"Yah..selain Lena. Sepertinya ada kaitan dengan kematian kedua orang tua Shakira. Aku dan Dio banyak sekali menemukan kejanggalan, Ndre. Maka dari itu, aku membiarkannya menempati apartemenku, agar aku bisa menjaga dan mengawasinya", jelas Benjamin dengan panjang lebar.
"Tunggu Ben, aku pun juga mendengar berita yang berhembus tentang kematian kedua orang tuanya, juga perusahaan dan rumah mereka. Tetapi aku enggak bisa memastikan berita tersebut valid atau tidaknya", sahut Andre.
"Ok.. kita sudah melenceng dari kegalauanmu sesungguhnya", Andre menggoyang-goyangkan jari telunjuknya pada Benjamin.
"Haisss kukira kamu uda lupa hahahaha", tawa Benjamin pun pecah.
"No way, dude....!" Andre memang terbiasa berbicara menggunakan kedua bahasa. Yaitu Indonesia dan Inggris.
"Poin dari kegalauanmu adalah tindakan apa yang ingin kamu lakukan, bukankah begitu? Hanya ada dua cara kalau menurutku".
"Apa dua cara tersebut?" tanya Benjamin kepada Andre yang mondar-mandir memikirkan solusi baginya.
"Yang pertama, jauhi Shakira dalam kurun waktu tiga bulan ini, jangan memberikan harapan palsu yang enggak mungkin berkembang".
Benjamin menunggu solusi yang kedua keluar dari mulut Andre.
"Yang kedua nih, bilang ke orang tuamu kalau dirimu menolak perjodohan itu tanpa syarat apapun. Dan yang ketiga ini ada lagi ideku, bawa Shakira ke Belanda, kenalkan kepada mereka dan lamar dia. Gampang bukan??" ucap Andre dengan bangga merasa sanggup memecahkan masalah sahabatnya.
Benjamin yang mendengar ke tiga solusi dari Andre menimbang solusi mana yang terbaik baginya dan juga Shakira.
"Coba deh aku pikirkan dulu, kira-kira yang mana baiknya", jawab Benjamin sembari menenggak habis minumannya.
"Baiklah, aku rasa sudah waktunya aku kembali ke kantor. Terima kasih bray..", ucap Benjamin dengan sungguh-sungguh.
"Anytime my man...", sambil menepuk pundak Benjamin, sahabatnya.
Ketika Benjamin beranjak berdiri dan menuju arah pintu keluar ruangan, Andre berkata "Atau bicaralah dengannya. Rundingkan berdua dan cari pemecahannya pun berdua. Intinya, cari waktu yang tepat dan bicaralah dengannya...", sahut Andre dengan mengacungkan kedua jempol jarinya.
Mendengar ucapan Andre yang terakhir, membuatnya tertegun. Memang, hanya berbicaralah jalan satu-satunya..batin Benjamin sambil berjalan menuju mobil yang akan membawanya kembali ke gedung Three Sibling's Corp.
Sesampainya di kantor, dirinya berpapasan dengan Nola dan Maria yang sedang berjalan kearah pantry.
"Sore Tuan Muda..", sahut Nola sembari menundukkan kepala.
__ADS_1
"Hmm...bagaimana Shakira? Apakah dia masih tidak berselera makan?"
"Iya Tuan Muda, saya sudah menawarkan berbagai macam makanan dan minuman kesukaannya, semua ditolak olehnya", jawab Nola dengan pelan takut terdengar oleh karyawan lainnya.
"Baiklah kalau begitu", sahut Benjamin kemudian berlalu menuju ruangannya.
Apa yang harus aku lakukan dengan wanita satu itu dasar keras kepala kalau sakit bagaimana, menyusahkan saja pikir Benjamin tanpa menghiraukan Lena yang kaget dengan kedatangan Benjamin secara tiba-tiba.
"Ahh Benji...akhirnya kamu datang juga", sambut Lena dengan lincahnya menggelayut di lengan kekar Benjamin.
"Lena, tolonglah berhenti bersikap seperti ini. Kita lagi di kantor, bersikaplah yang wajar", tegur Benjamin menepiskan tangan Lena begitu saja.
Lena pun tidak terima dengan perlakuan Benjamin terhadapnya, "Lalu maumu seperti apa aku bersikap padamu? Aku berusaha mendekatimu tapi kamu terus menolakku. Apakah karena perempuan itu?!"
"Benjamin pun terpancing emosinya, "Stop!! Jangan sangkut pautkan dia dalam hal ini. Aku sedang banyak pikiran, Lena. Sekarang fokuslah dengan apa tujuanmu kemari, diperusahaanku. Kalau tujuanmu hanya untuk mendekatiku, kamu hanya buang waktu".
Lena merasakan perasaan ditolak mentah-mentah oleh orang yang telah dicintainya selama bertahun-tahun, sejak pertama kali mereka bertemu, bahkan sewaktu Benjamin masih menjalin kasih dengan Tiara sekalipun, dirinya tetap mencintai pria tersebut.
"Aku pasti akan bisa membuatmu menjadi milikku", sumpah Lena dalam hati dan bergegas mengambil tasnya dan pergi dari ruangan tersebut.
"Huft..akhirnya pergi juga wanita itu", ucap Benjamin yang pura-pura tidak melihat kepergian Lena.
"Maria, kemarilah...", panggil Benjamin pada asistennya.
"Kau memang asisten yang tiada duanya, Maria. Siapkan ruangan untuknya dan berikan dia banyak pekerjaan agar tidak mengganggu ku terus-menerus".
"Baik Tuan. Mengenai Nona Shakira..", ucapan Maria terhenti oleh lambaian tangan Benjamin. Maria pun mengerti artinya Tuan Muda sedang tidak ingin membahasnya, maka dari itu Maria pun pamit keluar ruangan.
Hari ini terlewatkan begitu saja tanpa ada satupun pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh Benjamin. Jam telah menunjukkan pukul 6 sore hari. Hatinya pun bertanya-tanya, apakah Shakira telah pulang atau masih diruangannya.
Lain halnya diruangan Shakira, Nola asyik membantunya mengecek desain-desain program baru yang hendak di luncurkan oleh Three Sibling's Corp.
"Nona, tidak terasa ini sudah jam pulang", Nola mengingatkan Shakira ketika melihat jam dinding diruangan itu.
"Baiklah. Ayo kita bereskan semuanya, lalu pulang", jawab Shakira.
Shakira merasa tidak bertenaga. Selain tidak mendapat asupan makanan, hatinya pun juga terasa sakit jika mengingat kejadian tadi pagi.
"Nona, apa kita dalam perjalanan pulang nanti tidak mampir ke suatu tempat untuk membeli makanan kesukaan Nona?" pancing Nola.
Shakira hanya menggelengkan kepala.
Setelah membereskan berkas-berkas pekerjaan, Shakira dan Nola pun menuju basement tempat parkir mobil khusus karyawan.
__ADS_1
Tak disangka, Shakira bertemu dengan Benjamin di tempat itu. Lebih tepatnya, Benjamin menantinya di parkiran mobil. Dengan gaya maskulin, Benjamin bersandar pada pintu mobilnya Aura ketampanan dan kegagahannya tidak bisa disangkal.
Shakira berusaha tidak menghiraukan Benjamin, meski dia tahu ini salah. Tetapi hatinya masih saja terasa perih jika teringat kemesraan Benjamin dan Lena dan bagaimana Lena menyebutnya seorang benalu, itu sungguh sangat menyakitkan bagi seorang Shakira.
Benjamin memanggil Shakira, tetapi sayang panggilan tersebut pura-pura tidak didengar olehnya.
"Nona...dipanggil oleh Tuan Muda", bisik Nola kepada Shakira yang telah membuka pintu penumpang hendak masuk kedalam.
"Ayo Nola, aku sudah capek. Ingin istirahat", jawab Shakira dengan sengaja bersuara keras.
Nola pun menoleh kepada Benjamin, bingung harus bagaimana bersikap. Raut muka Benjamin saat ini tidak bisa ditebak, Nola sangat mengerti bahwa Tuan Mudanya mulai terpancing emosinya.
"Nolaaaa ayoolah..!!" teriak Shakira dari dalam mobil.
Dengan muka bersalah, Nola pun masuk dan mulai menyalakan mesin. Ketika mobil hendak meninggalkan parkiran, Benjamin berjalan menghalanginya. Berdiri tepat didepan mobil yang ditumpangi oleh Shakira. Seketika Nola pun menginjak rem secara tiba-tiba.
"Sial...apa maunya orang ini?" Shakira memaki karena dibuat kaget oleh Nola dan Benjamin yang seenaknya menghalangi jalan.
"Ayo Nola, kita jalan", perintah Shakira.
Belum sempat Nola memasukkan gigi perseneling, pintu penumpang sebelah kiri terbuka. Shakira kaget setengah mati. Sebuah tangan melepas seatbelt dan menariknya keluar.
"Benjiiii apaan sih..aku mau pulang!!!! Teriak Shakira yang dipaksa oleh Benjamin untuk ikut dengannya.
"Diamlah, aku hanya mau berbicara denganmu, Kira...", jawab Benjamin membuka pintu mobil untuk Shakira, mendudukkannya dikursi penumpang. Lalu tak sengaja, ketika hendak memasangkan seatbelt, pipi Benjamin bersentuhan dengan ujung hidung Shakira.
Deg...perasaan ini...Ya ampun...batin Shakira menahan gejolak didalam dadanya.
Benjamin berpindah tempat menuju bangku kemudi.
"Kenapa memaksa sih? Aku capek Benji, aku mau istirahat..", kata Shakira sambil menatap Benjamin yang sedang fokus menyetir keluar dari gedung kantor.
"Bisa diam tidak? Berisik sekali!", bentak Benjamin setengah berbisik dengan suara yang menakutkan.
Shakira yang belum pernah menghadapi Benjamin yang bersikap seperti ini pun terdiam dan membuang pandangannya keluar jendela.
"Bagaimana bisa seorang pria dalam keadaan emosi, tapi auranya bisa gantengg banget..", Shakira dalam hati.
"Kita mau kemana Benji?" tanya Shakira lagi.
"Diamlah kubilang, dan ikut saja denganku...", jawab Benjamin dengan seringai licik.
Bersambung ya..mohon dukungannya laik, favorit dan hadiah bunga juga gak apa. agar semangat untuk up😍😍😍 makasihh
__ADS_1
l