
Semenjak kejadian antara Shakira dan Juliana di luar ruang rapat, di PT. Telmonde, CEO Ramli semakin menekan anak tirinya tersebut. Entah di rumah atau di kantor. Bagi CEO Ramli, semua yang dilakukan Juliana tidak ada yang benar dimatanya. Apapun pekerjaan yang diserahkan kepada Juliana pun selalu dikembalikannya lagi.
"Dasar anak tidak berguna! Huh, menyesal telah menerimamu di sini. Apa saja yang sebenarnya bisa kamu lakukan? Membuat onar dan kekacauan saja kah?" tanya CEO Ramli sambil melempar hasil pekerjaan Juliana tepat didepan muka.
"Jawab pertanyaan saya!" bentak CEO Ramli kembali.
Juliana bingung menjawabnya. Semua yang diserahkan kepadanya telah dikerjakan sesuai dengan aturan dan data-data yang diolahpun sama dengan data disistem perusahaan.
"Begini ayah...aku sudah mengerjakannya sesuai dengan perintahmu, bahkan data yang tertera juga sudah sama dengan data yang ada di sistem, lalu salahnya ada dimana?" Juliana mencoba menjawab meski dirinya tahu siapa CEO Ramli, si tangan besi. Siapapun yang bekerja tidak sesuai dengan keinginannya pasti akan langsung angkat kaki dari tempat ini, tanpa pandang bulu.
"Kau ini lulusan sarjana, apa matamu perlu memakai kaca pembesar? Kamu lihat kan tahun yang tertera dikertas itu? Program-program yang kamu buat ini tidak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya bahkan sebelum kamu duduk dikursi itu! Saya menyuruhmu sebagai Head of Digital Marketing untuk membuat dan merancang program-program baru untuk yang akan datang, dengan rencana 3 bulan kedepan, 6 bulan kedepan, 1 tahun kedepan, berdasarkan data yang sudah ada, kamu jadikan perbandingan. Masa iya sih, posisi seperti kamu sekarang masih harus saya ajarin seperti anak baru lulus?"
Sambil menarik nafas, CEO Ramli pun berkata, "Jadi menyesal telah melepaskan Shakira bekerja dengan Three Siblings Corp." dengus CEO Ramli, membuang muka dan menarik nafas panjang.
Setiap berhadapan dengan anak tirinya ini, selalu membuat kepalanya migren. Entah otaknya terbuat apa. "Keluarlah dari ruanganku, kembali secepatnya dengan program-programmu. Kalau kamu merasa tidak mampu, lebih baik pergi dari sini dan jangan kembali. Bikin pusing saja."
"Tapi ayah..", Juliana merasa keberatan dengan perkataan ayah tirinya.
"Tapi apa?!" tukas CEO Ramli.
Tanpa berlama-lama, Juliana akhirnya memunguti berkas-berkas laporannya dan pamit undur diri dari ruangan tersebut.
Sesampainya di ruangan, dilemparkannya berkas yang dibawanya tadi kemuka asistennya, Dina.
"Dasar kamu asisten bo*oh!! Kamu mau menipuku ya?! Katamu ini semua sudah benar. Sesuai dengan keinginan si tuan kejam bre**sek itu!"
Sang asisten pun mencoba membela diri dari amukan Juliana, "Nona, maafkan saya, bukannya sudah saya jelaskan berulang kali jika CEO Ramli menginginkan perencanaan yang baru dengan membandingkan yang lalu-lalu? Tapi Nona sendiri yang tidak mau mendengarkan saya, bahkan Nona sendiri yang menjiplak dan hanya mengganti tanggal dan tahun."
Merasa mendapat perlawanan dari asistennya membuat Juliana semakin emosi, "Dasar kamu mau melawan saya hah?! Kamu tidak tahu siapa saya?? Saya ini anak dari CEO Ramli! Jangan macam-macam dengan saya!" ketika tangan Juliana hendak menampar asistennya, tiba-tiba Jonathan datang mencegah dan menahan tangannya.
"Hentikan..." dengan sorot mata yang tajam, Jonathan mencoba menghentikan perlakuan kasar Juliana terhadap asistennya.
"Hei..apa hak mu, jangan turut campur urusanku, urus saja sendiri pekerjaanmu!" Juliana yang kaget dengan kedatangan Jonathan teman satu kerjanya mencoba melepaskan tangannya.
__ADS_1
Masih dengan sorot mata yang tajam menusuk tepat ke manik mata Juliana, Jonathan pun berkata dengan lugas, "Tidak perlu kamu sombongkan statusmu. Kita disini semua tahu siapa jati dirimu sesungguhnya, kamu hanya anak tiri dari beliau, bahkan ibumu pun hanya dinikahi siri olehnya."
"Dan jangan lupakan, kami pun tahu siapa orang yang mengusir Shakira 6 bulan lalu di hari pertamanya kerja, kami tahu...Jadi jangan bertingkah dan bertindak semena-mena disini."
Wajah Juliana pun pucat pasi mendengar perkataan Jonathan. Dirinya tidak pernah menyangka akan ada orang yang tahu perihal pernikahan siri ibunya dan kejadian pengusiran Shakira dihari pertama kerjanya. Lalu tidak ingin berlama-lama disitu, secepat kilat Juliana meninggalkan Dina sang asisten dan Jonathan.
Juliana mengambil tas dan kunci mobilnya. Ingin segera pergi dari neraka jahanam ini. "Sial sial sial sial sialllllll ahhhhhhhhh!!!!," teriak Juliana sambil memukul kemudi berkali-kali melepaskan kekesalannya.
Semua tentang Shakira, apapun aku selalu dibandingkan dengan Shakira. Semua selalu tentang dia. Aku benci dia! batin Juliana bergejolak sarat dengan emosi dan dan kebencian.
Aku harus minta tolong ibu agar aku tidak dipecat dari pekerjaan. Juliana.
***
Dirumah bertingkat dua, berwarna krem dengan tumbuhan beragam jenis serta berwarna-warni menggoda siapapun ingin menghirup aromanya, Ibu Nina, nampak sedang merawat kebun bunganya. Beliau adalah ibu dari Juliana, sahabat dari ibunda Shakira. Sama-sama mempunyai kesamaan hobi yaitu merawat tanaman. Mereka berdua adalah sahabat karib semenjak duduk dibangku sekolah dasar. Tidak mengherankan jika kedua anak mereka akhirnya juga bersahabat meski saat ini memilih jalan masing-masing.
Terdengar suara rem mobil berdecit memasuki halaman rumah.
"Ibuuuuu..ibuuu dimana?" teriak Juliana memanggil ibunya dari halaman depan rumah.
"Siang Nona Juli, senang sekali melihat Anda pulang, Non..saat ini, ibu sedang berada di kebunnya, Nona.."
"Halah enggak usah sok akrab baik-baik sama saya. Dasar pembantu!" sahut Juliana dengan melempar tasnya kearah ART tersebut lalu bergegas mencari keberadaan ibunya.
Ya ampun dari dulu enggak pernah berubah, selalu kasar batin sang **AR**T.
"Ibuuu kok enggak dengar sih kalau anaknya datang?" Ucap Juliana ketika melihat sang ibu sedang sibuk menyirami tanamannya.
"Ibuuuuuu, kok diem aja sih? Juli mau cerita sama Ibu..!" dengan setengah membentak, Juliana merebut selang air yang sedang dipegang oleh Ibu Nina.
Ibu Nina yang merasa kaget dengan kedatangan anak semata wayangnya hanya bisa mengelus dada.
"Juli...datang bukannya kasih salam, kok malah marah-marah bersikap kasar pula ke Ibu..." sahut Bu Nina dengan sabar menghadapi kelakuan anaknya sambil mematikan keran air.
__ADS_1
"Ada apa Juli? Sekalinya pulang marah-marah," tanya Bu Nina sembari memberi pupuk pada tanaman.
Juliana pun bercerita mengenai perlakuan CEO Ramli beserta orang-orang dikantor yang selalu membandingkannya dengan Shakira tentu dengan bumbu-bumbu agar ibunya mengasihani dan membela dirinya. Namun, dilain pihak, Ibu Nina mengetahui perihal kantor Shakira, Three Siblings Corp. Perusahaan swasta terbesar di Asia Tenggara, bekerja sama dengan perusahaan suaminya. Bagaimana suaminya, CEO Ramli sangat terkesan dan mengagumi kepintaran serta kepiawaian Shakira dalam pekerjaannya.
"Ibu...tolong Juli, supaya tidak dipecat oleh ayah Ramli," pintanya.
Mendengar cerita yang disampaikan oleh Juliana, Ibu Nina hanya menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar.
"Juli..kenapa kamu selalu menyusahkan Ibumu ini? Bukankah seharusnya kamu bekerja lebih giat lagi agar bisa menunjukkan kepada ayah Ramli, bahwa kamu bisa setara dengan Shakira? Lihatlah Shakira, Ibu tahu persis seperti apa gadis itu. Sesungguhnya Ibu tidak tega menyakitinya dengan cara menggagalkan hari pertama kerjanya dengan memohon kepada ayah Ramli agar kamu yang menduduki posisi tersebut. Kalau dirimu merasa tidak mampu memegang jabatan itu, lebih baik serahkan kepada orang yang lebih berhak, Juliana. Contohnya, kembalikan kepada Shakira."
"Apa?! Ibu kok lebih membela dia ketimbang anak Ibu sendiri sih?!" bentak Juliana tidak terima dengan respon Ibunya.
"Karena Ibu tahu siapa Shakira, Juli. Dia gadis yang baik, pintar dan tidak pernah neko-neko. Berulang kali Ibu bilang, contohlah dia, sahabatmu itu," jawab Ibu Nina dengan penuh kesabaran menghadapi anaknya yang manja, selalu mencari perhatian, dan suka membuat masalah.
Dengan penuh emosi, Juliana berkata, "Kenapa kalian selalu membandingkan aku dengannya? Dari jaman kami sekolah sampai detik ini, aku selalu dibandingkan dengan Shakira! Dia selalu mendapat tempat nomor satu dihati kalian. Shakira yang pintarlah, selalu juaralah, bahkan lelaki yang aku cintai pun justru mencintainya! Aku benci Shakira! Aku berharap dia mati saja!! Dengan perlakuan kalian terus yang selalu membandingkan aku dengannya, kalian kira aku bisa terima dengan semua itu, Bu?!"
Ibu Nina pun terkesiap mendengar penuturan anak semata wayangnya. Dirinya tidak menyangka jika hati Juliana dipenuhi oleh rasa iri dan benci yang begitu dalam terhadap sahabatnya sendiri.
"Ibu kira aku tidak bisa merebut perhatian dan kasih sayang semua orang kepadanya, Bu?! Hahaha bahkan Reyhan, lelaki yang mencintainya, sudah bertekuk lutut padaku, Bu..asal Ibu tahu..." ucap Juliana dengan nada penuh kebencian.
"Ya Gusti...nyebut Nak nyebut..." sambil mengelus dada, Ibu Nina mencoba menenangkan Juliana yang berteriak emosi.
"Sekarang, kalau Ibu mau melihat aku bahagia, bilang kepada suami siri Ibu, jangan pernah berani memecatku, kalau tidak, akan kubuat kalian semua menyesal!" ancam Juliana dengan mendorong Ibunya hingga terjatuh ke tanah dan meninggalkannya begitu saja.
ART yang melihat keadaan Ibu Nina bergegas menghampiri dan memapahnya ke kursi yang ada di kebun.
Terdengar decit ban mobil meninggalkan pelataran rumah.
"Ya Tuhan...apa yang telah terjadi dengan anakku, Juliana?" ucap Ibu Nina.
...*********...
...Bersambung 😘😘😘...
__ADS_1
...Terima kasih kaka² readers yang sudah setia menemani perjalanan Shakira dan Benjamin serta Black Klan ganks hingga bab 38. Mohon dukungannya terus ya kak agar dilancar dan authornya semangat menulis cerita untuk semuanya. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan sebagainya. Jangan lupa kritik dan saran yang membangun yah..🙏🙏...