
Diruang kerja pasangan Abimanyu Negara.
Lima orang pengawal yang memang sengaja ditempatkan Benjamin didekat kediaman orang tuanya, bergerak cepat sesuai dengan perintah atasan.
Semua bersenjata lengkap layaknya pasukan tentara akan menghadang musuh.
Mereka bergerak tanpa suara, hingga tanpa disadari, tiga orang telah berada disamping kanan, kiri Mama Seila dan dua orang lainnya berdiri berjaga di depan pintu.
Ketiga pengawal pun ikut menodongkan senjata mereka kearah pasangan Brown.
"Tenang! Tenang semuanya!" perintah Tuan Abimanyu dengan mata memandang kesekelilingnya. Melihat suasana makin memanas dengan bertambahnya pengawal yang dikirimkan oleh anaknya. Ya Tuan Benjamin tahu pasti para pengawal tersebut datang atas perintah anaknya.
"Letakkan senjata kalian!" perintah salah satu pengawal kepada Billy dan Nana Brown.
Melihat keadaan tidak memihak mereka berdua, dengan patuh keduanya menurunkan tangannya dengan pelan.
Lalu dua diantara tiga pengawal itu dengan cepat melucuti senjata mereka serta memeriksa apakah masih ada senjata berbahaya lain yang disembunyikan oleh pasangan tersebut.
"Ckckck ... hebat. Kalian datang, bertandang kerumah orang lain dengan membawa senjata?!" sindir Tuan Abimanyu dengan tajam.
"Hei, tidak salahnya bukan untuk berjaga-jaga? Lagipula, bukan salah kami berdua jika sedang berada di posisi di todong oleh senjata tepat dimuka kami," jawab Billy Brown dengan tenang.
Mama Seila masih tetap menodongkan senjata laras panjangnya, enggan menurunkannya. Terlihat jelas, raut wajah wanita setengah baya yang masih cantik, dipenuh emosi serta rasa getir mengingat akan masa lalu yang selalu menyelimutinya.
"Sayangku ... Darl ... please, letakkan. Ayo kita bicara baik-baik dengan mereka," rayu Tuan Abimanyu sembari berjalan mendekati sang istri yang terlihat sedang menimbang hendak mengakhiri hidup sang penculik anak mereka ataukah akan dibiarkannya lolos begitu saja..
Tatapan mata Mama Seila menghujam tajam menatap sepasang mata Nana Brown.
"Kau .... wanita tidak tahu diri! Kau sudah mengambil paksa bayiku begitu saja dan sekarang kau berkeluh kesah lalu menangisi anakmu yang telah mati tepat dihadapan kami. Apakah kau sudah gila?!" bentak Mama Seila bergerak maju mendekati Nana Brown yang sudah ketakutan melihat kemarahan mantan ketua Black Klan.
Kedua tangan Nana Brown terangkat keatas. Saking takutnya akan todongan senjata Mama Seila, air matanya mengalir begitu saja.
Billy Brown yang bermaksud ingin menolong istrinya tidak bisa berbuat apa-apa. Para pengawal Tuan Abimanyu membuatnya tidak dapat berkutik.
"Apakah tangisanmu bisa mengembalikan semuanya?!" bentak Mama Seila lagi, dengan ujung senjata menempel tepat di dahi tengah Nana Brown.
"Please ...," ucap Billy Brown memandang Tuan Abimanyu dengan pandangan mata memelas.
"Sayang ... letakkan, berpikirlah jernih. Aku mohon padamu," pinta Tuan Abimanyu dengan nada memohon.
Jemari Mama Seila semakin erat memegang senjatanya. Rasa ingin melenyapkan wanita yang telah membuat hidupnya gelap gulita selama berpuluh tahun. Rasa ingin membalaskan sakit hatinya mengalahkan rasa kemanusiaannya. Melihat anaknya yang hilang tumbuh menjadi pribadi yang jahat sungguh mengiris hatinya.
"Aku tahu perasaanmu, aku pun merasakan yang kamu rasakan. Rela dan ikhlaskan, hanya itu satu-satunya cara ... percayalah padaku," ucap Tuan Abimanyu pelan namun tegas sembari mengusap punggung istri tersayangnya.
"Tetapi ... kepribadiannya adalah bentukan mereka. Orang-orang jahanam seperti mereka. Bagaimana bisa, kamu berharap Sammy akan seperti Benji kita?" sanggah Mama Seila dengan sedih namun diliputi oleh kemarahan.
"Sammy saat ini adalah musuh kita, Pa. Dia berbahaya buat kita dan Benji serta Kira ...."
__ADS_1
"Aku tahu dan sadar akan hal tersebut. Tetapi, dengan menodongkan senjata seperti ini dan membunuh mereka berdua sama dengan kita membantunya untuk melenyapkan seluruh keluarga Brown. Apakah itu yang kamu inginkan, Sayang?" tanya Tuan Abimanyu mencoba mengembalikan logika Mama Seila.
Mama Seila pun membuang nafasnya secara kasar. Lalu melepas kunci senjatanya seraya menurunkannya, namun tetap saja, ketiga pengawal tersebut tetap berada didekat mereka. Sesuai dengan perintah Benjamin Abimanyu, atasan mereka.
Pasangan Brown bernafas dengan lega.
"Apakah kita bisa berbicara dengan tenang, sekarang?" tanya Billy Brown dengan hati-hati.
"Setelah semuanya duduk dengan tenang, Tuan Abimanyu pun memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang.
"Kami ingin kalian berdua membantu kami untuk menemukan Samuel," ujar Billy Brown tegas.
"Buat apa kami harus membantumu?" tukas Mama Seila.
"Agar kalian bisa membunuh anakku?!" bentaknya.
Tuan Abimanyu meremas pergelangan tangan istrinya. Menenangkannya, karena dia sangat mengerti istrinya. Jika sudah emosi susah untuk dipadamkan.
"Dia sangat berbahaya bagi kalian semua. Karena memang kami mendidiknya seperti itu," jawab Billy Brown datar.
"Pergilah dari rumah kami. Jangan pernah berharap kami akan membantu kalian," usir Mama Seila dengan garang.
Para pengawal yang berada didalam ruangan tersebut dengan cepat membawa serta menarik keduanya untuk lekas meninggalkan kediaman keluarga Negara.
"Ingatlah Seila, aku tahu semuanya tentang mu! Tak akan kubiarkan anak durhaka itu hidup dengan nyaman!" teriak Nana Brown sewaktu diseret keluar oleh para pengawal Benjamin.
Pasangan Negara hanya tersenyum kecil mendengar ancaman itu.
"Cepat lindungi Alpha dan Beta!" teriak salah satu pengawal, sedang tiga lainnya bergegas mencari si penembak jitu.
"Apa yang terjadi, Pa?! Siapa yang menembak mati mereka?" tanya Mama Seila yang saat ini berada didalam ruang kerja. Ruang kerja yang telah dimodifikasi kedap suara, dindingnya merupakan brankas tempat penyimpanan senjata, Bahkan pintunya juga terbuat dari baja tahan peluru. Untuk memasuki ruangan tersebut harus memindai bola mata pemiliknya.
"Aku rasa itu adalah suruhan Samuel," jawab Tuan Abimanyu dengan jujur apa adanya.
"Bagaimana Papa bisa berkata seperti itu? Apakah hanya menebak?" tanya Mama Seila penasaran.
"Tidak. Benjamin yang memberi tahukan padaku beberapa menit lalu, jika Samuel telah mengirimkan pesan singkat padanya."
"Oh ya? Apa katanya?" Mama Seila sungguh penasaran.
"Pesannya mengatakan, aku akan membantumu adikku, melenyapkan para bajingan yang saat ini mengganggu ketenangan orang tua kita."
"Hah ...." Mama Seila tersentak.
"Bagaimana mungkin dia mengetahui keberadaan pasangan brown tersebut?"
Tuan Abimanyu mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Entahlah, sepertinya kedua anak kita sama karakternya. Hanya saja, mereka tumbuh dijalan yang berbeda," ucap Tuan Abimanyu seraya mendudukkan dirinya di sofa, diikuti oleh Mama Seila.
"Tenang saja, saat ini dia tidak akan membunuh kita, Sayang ...."
Helaan nafas Mama Seila terdengar jelas.
"Sampai kapan kita menantinya?"
"Hingga dia merasa siap untuk menghabisi nyawa keluarganya sendiri," jawab Tuan Abimanyu setengah berbisik.
Karma memang kejam ...
...********...
Diluar rumah, para pengawal yang berusaha menemukan penembak jitu, tidak menemukan siapapun serta petunjuk apapun. Lalu atas perintah Benjamin, mereka harus menyingkirkan kedua mayat tersebut dengan standar operasi yang telah mereka lakukan selama ini.
Setelah selesai dengan semua tugas mereka, salah satu pengawal senior melaporkan semua yang telah mereka kerjakan dan memberi tahukan kepada Tuan Abimanyu bahwa keberadaan mereka tidak lah jauh dari kedua orang tua atasannya.
"Terima kasih karena telah datang tepat waktu dan membantu kami," ucap Tuan Abimanyu dengam sungguh-sungguh.
Akhirnya, lima pengawal tersebut undur diri dari rumah apung itu.
...********...
Di Surabaya, tepatnya di apartemen Benjamin. Shakira terlihat gelisah. Menanti kabar dengan cemas. Membayangkan bagaimana keadaan kedua orang tua kekasihnya saat ini.
"Kira, jangan mondar-mandir begitu dong," tegur Benjamin yang melihat kekasihnya sedari tadi hanya berjalan hilir mudik dengan berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku takut terjadi apa-apa kepada mereka, Benji," jawab Shakira yang terus berjalan bolak balik didepan tv seperti para model lagi catwalk.
"Kamu percaya padaku, bukan? Lihatlah mereka baik-baik saja," Benjamin menunjukkan tabletnya yang berisi kamera pengawas diruang kerja orang tuanya, melalui aplikasi tertentu.
"Iyaa ... aku percaya, namun jika terjadi sesuatu kepada mereka bagaimana?!"
Benjamin pun tidak sabar, dengan cepat ia berdiri dan secepat kilat menggendong tubuh wanitanya ala bridal style, lalu men ci um lembut bibir merah yang ranum tersebut dengan sangat mesra dan penuh perasaan ...
"I love you, Shakira. Kamu sungguh menggemaskan jika seperti ini," goda Benjamin seraya me nge cup ujung hidup mancung Shakira.
Shakira yang mendapat perlakuan sayang seperti itu, lantas mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki tampan tersebut dan berkata. "Aku pun mencintaimu, Benjamin Abimanyu Negara."
Kedua mata mereka saling memandang satu dengan lainnya. Seakan saling ingin menyelami hati dan pikiran masing-masing.
"Aku cinta padamu ...." ucap Benjamin sembari me nge cup manja wajah wanitanya.
Shakira dibuat malu dan salah tingkah.
Hatinya berbunga-bunga. Bahagianya disayang serta dicintai oleh seorang Benjamin Abimanyu Negara ...
__ADS_1
...********...
Bersambung next chapter ya kaka² sayang. doakan semoga bisa cepat lulus review 🙏🙏 dukung terus ya. Tks banyak yang tidak terkira. lope u all ♥️