Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 61. Berhadapan


__ADS_3

Didalam mobil arah pulang.


"Menurutku, dia akan mencari jalan untuk menghancurkan kita," jawab Shakira dengan tenang sambil menerawang keluar jendela.


"Betul, Nona. Saya sependapat dengan Anda," timpal Dio dari kemudi.


"Karena menurut informan saya, mereka memang menargetkan Anda serta Three Siblings Corp," tambahnya.


"Kita lihat saja, siapa lagi yang akan jadi kaki tangannya setelah Reyhan ditangkap oleh kepolisian," sahut Shakira dengan mengerutkan alis. Tepat setelah dirinya terdiam, sebuah belaian sayang mendarat dengan halus dikepalanya. Tangan siapa lagi kalau bukan pemilik wajah tampan namun datar yang sedang duduk disebelahnya.


Namun Shakira hanya diam dan menikmatinya, meski jantungnya selalu berdangdut ria.


"Lebih baik begini sajalah, tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata. Daripada bertanya ternyata bertepuk sebelah tangan," batin Shakira.


...********...


Mobil yang dikendarai Dio mengarah ke jalan gedung apartemen mereka.


"Loh Dio, bukannya kita akan kembali ke markas kalian?" tanya Shakira yang bingung.


Namun bukan Dio yang menjawab pertanyaannya melainkan Benjamin. "Kita akan pulang, Kira. Rasanya sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan. Apakah kamu tidak kasian dengan Wina yang mengerjakan semuanya sendirian?" jelas Benjamin sedikit mengingatkan bahwa dirinya saat ini masih berstatus sebagai seorang karyawan, dan lelaki disebelahnya adalah Presiden Direktur perusahaannya. Haiya ... dunia nyata memanggilku, dan dunia halu mengucapkan selamat tinggal hingga sampai berjumpa kembali. Shakira.


Melihat raut wajah Shakira cemberut, Benjamin pun menggodanya. "Apakah kamu ingin berhenti menjadi bawahanku? Aku rasa, mulai sekarang kamu tidak perlu lagi bekerja mengingat kekayaan orang tuamu akan kembali seperti sedia kala."


"Tidak perlu kamu ingatkan akan tanggung jawabku, Benjamin. Aku hendak meminta padamu agar diijinkan bekerja lagi ...." jawab Shakira yang terkena pancingan.


Semua yang didalam mobil pun tertawa melihat reaksi Shakira yang seperti anak kecil ketahuan mencuri permen.


Sesampainya di lobby apartemen, sekali lagi Benjamin membukakan pintu untuk Shakira.


"Terima kasih Benji, lain kali biarkan aku sendiri yah, aku merasa tidak enak melihatmu membukakan pintu untukku terus menerus. Ingatlah, Shakira adalah wanita mandiri," ucap Shakira dengan menggenggam tangan Benjamin.


Benjamin hanya menggelengkan kepalanya. Tanda tidak setuju.


"Tapi ... a-( kalimat terputus ). Benjamin dengan cepat menggamit lengan Shakira serta menuntunnya kearah lift meski tanpa Dio serta Nola bersama mereka.


Didalam lift, Benjamin berkata dengan tegas. "Sesuai janjiku kepada papamu, bahwa aku yang akan menggantikan beliau menjagamu. Dan mulai saat ini, seperti yang telah kau dengar waktu itu, aku akan tinggal bersamamu. Tidak akan kubiarkan lagi siapapun menyentuhmu."


Wajah Shakira memerah persis seperti kepiting rebus, mendengar penjelasan Benjamin.


"Baiklah, aku menuruti kata-katamu saja. Asalkan Nola masih tinggal denganku," jawab Shakira tanpa membantah sedikitpun.


"Tenang saja, Nola akan tetap bersamamu," ucap Benjamin seraya mengusap kepala Shakira dengan penuh kasih sayang.


"Duh ... aku selalu berdebar kalau bersentuhan dengannya. Tolonglah aku ini, Tuhan ...." jerit Shakira dalam hati.


Diparkiran mobil, Dio dan Nola sedang menurunkan berbagai macam alat persenjataan agar kapan pun selalu jika dibutuhkan serta tidak lupa, kamera pengintai yang akan mereka letakkan di berbagai tempat tersembunyi sebagai pencegahan.


"Bos benar-benar berbeda sekarang. Tingkah lakunya seperti orang lagi kasmaran," bisik Dio di telinga Nola.


"Diamlah, Dio. Kamu tidak ingin kita berdua kena celaka kan?" jawab Nola dengan ketus.


"Hei, apa yang aku katakan benar adanya. Coba kamu lihat sendiri. Kita susah seperti ini karena apa dan siapa."


Nola yang notabene adalah seorang wanita merasa heran dengan mulut Dio. Berasa berkumpul dengan ibu-ibu arisan yang hobinya mengeluhkan apa saja.


"Kok malah diam melotot padaku?! Apa yang aku katakan benar, Nola. Bos kita sudah terkena bucin syndrom. Dan sepertinya, nona Shakira mempunyai magnet yang selalu mengundang masalah pada dirinya," ucap Dio menggerutu sambil menutup pintu mobil dan tiba-tiba terkena pukulan Nola.


"Bisa diam tidak?! Bibirmu sudah seperti ibu-ibu kompleks, noh!" tunjuk Nola dengan sebal.


Dio mendengus kesal, tidak terima perkataan Nola barusan.


"Ayolah, kita bawa barang-barang ini keatas. Sekaligus memasang alat-alat ini, daripada ngoceh terus," ucap Nola berjalan meninggalkan Dio yang terperangah mendengar semua ucapan Nola.


"Ternyata Nola memang lain daripada yang lain. Kupancing membicarakan bos, dia tidak terpengaruh sedikitpun. Semoga seterusnya kamu seperti ini, Nola ...." batin Dio seraya bergegas mengejarnya.


Dio memang diberikan mandat oleh Benjamin untuk memeriksa semua orang yang berada didalam lingkup kehidupan Shakira saat ini. Bahkan Nola, sang pengawal pun terkena screening olehnya.


...********...


Saat ini, Shakira yang telah kembali kekamar tamu, sibuk memanjakan dirinya sendiri. Berendam air panas dengan aroma lavender yang menenangkan sarafnya. Serasa ingin melepaskan sejenak semua peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.


"Hmm ... sekarang si tampan itu tinggal bersama dengan ku disini. Aku harus bagaimana bersikap? Memakai baju juga tidak bisa sembarangan. Bisa-bisa dikira aku wanita murahan dong ...." ucapnya pada diri sendiri.


Lima belas menit berlalu. Shakira masih asyik menggosok tubuhnya dengan sabun, terdengar bunyi panggilan masuk diponselnya.


"Huft ... siapa sih yang nelpon?! Inikan nomor baru," lagi-lagi Shakira mengoceh sendiri didalam kamar mandi.


Kemudian dengan berjingkat turun dari bathup meraih handuk dan mengambil ponselnya yang terletak diatas lemari kecil dekat wastafel.


Bunyi panggilan terus berbunyi. Shakira ragu untuk menerima panggilan itu


Private Number's calling ...


Karena seperti yang Benji katakan, tidak ada yang tahu nomor barunya kecuali orang-orang terdekat yang namanya sudah ada didalam ponselnya.

__ADS_1


Namun, karena jiwa kepo-nya sangat tinggi, digesernyalah tombol hijau tidak lupa dengan mengaktifkan tombol record.


"Halo ...." ~ jawab Shakira.


Tak berapa lama terdengar helaan nafas diujung sana.


"Ini aku, Juliana ...." ~ jawab si penelpon yang ternyata adalah Juliana, mantan sahabatnya.


Kening Shakira mengerut. Berpikir bagaimana perempuan satu ini bisa mengetahui nomor barunya.


"Aku ingin bertemu denganmu," ~ Juliana.


"Untuk apa?!" ~ Shakira.


"Ada yang harus kita bicarakan." ~ Juliana.


"Tidak! Aku tidak mau bertemu," ~ Shakira.


"Jangan menolakku! Jam delapan malam. Datanglah sendiri, jangan coba-coba membawa teman. Aku akan mengirimkan alamat. Jangan sampai tidak datang atau kamu akan menyesalinya," ~ Juliana.


Belum sempat Shakira menjawab, sambungan telpon diputus sepihak oleh Juliana.


Sialan! Apalagi maunya perempuan satu ini?! Tidak ada capeknya menggangguku. Shakira.


Kemudian Shakira bergegas membersihkan badannya yang masih dipenuhi busa sabun. Sambil terus memikirkan tindakan apa yang akan diambilnya setelah ini.


Setelah sibuk mengeringkan badan dan rambutnya yang panjang, Shakira membaca pesan yang dikirimkan oleh Juliana. Yaitu alamat tempat mereka akan bertemu malam ini.


Bagaimana ini?! Apakah aku harus mengatakannya kepada Benjamin? Atau tidak perlu datang ketempat tersebut? Shakira.


Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. Satu jam lagi dari waktu yang diberikan oleh Juliana. Shakira gelisah, antara mau datang atau tidak. Kalaupun datang, bagaimana caranya agar Benjamin tidak mengetahuinya, karena bisa dipastikan, si tampan itu tidak akan membiarkan dirinya dilepas begitu saja. Karena terlalu asyik dengan pikirannya sendiri, tanpa disadari, dua buah tangan kokoh mendarat di kedua pundaknya.


"Ya ampiunnn! Kaget lah aku!" teriak Shakira.


Benjamin tertawa melihat reaksi Shakira yang menurutnya sangat lucu.


Plakk! Sebuah pukulan mendarat di lengan Benjamin.


"Mau lihat aku mati mendadak ya?! Dimana-mana orang mau masuk tempat orang lain tuh, permisi dulu!" ujar Shakira setengah membentak.


Benjamin melotot mendengar perkataannya. "Berani ya ... sudah berani membentak ya ...." sambil menyentil hidung mancung Shakira.


Wanita tersebut pun gelagapan dibuatnya.


"Ma-ma-maaf, Benji. Bukan maksudku begitu. Soalnya, kamu buat aku jantungan sih?!"


"Sini, duduklah disampingku," perintahnya sambil menepuk kasur empuk tersebut.


Shakira seperti kerbau dicocok hidungnya, menuruti perintah atasannya.


Setelah itu, Benjamin bertanya. "Kamu terlihat gelisah dari tadi. Bahkan aku sudah mengetuk pintu berkali-kali, kamu tidak mendengarnya."


Shakira yang mendengar penjelasan Benjamin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada yang ingin kamu ceritakan padaku?" selidik Benjamin sambil menatap wajah wanita yang duduk disampingnya.


Shakira hanya menggelengkan kepala.


"Hmm ... Benji, apakah aku boleh keluar sebentar bertemu dengan kawan?" tanya Shakira dengan takut-takut.


Terlihat Benjamin sedang berpikir. Lalu menanyakan siapa teman tersebut dan hubungannya apa dengan Shakira.


"Hanya teman biasa. Percayalah padaku, aku akan pulang cepat," jawab Shakira setengah memohon.


Benjamin hanya terdiam. Bahkan terasa agak lama diamnya, bagi Shakira. Hawa dalam kamar sudah terasa dingin karena pendingin ruangan, semakin terasa dingin akibat aura Benjamin yang menyeramkan.


"Benji ... bagaimana? Apakah aku boleh keluar sebentar saja sendiri tanpa kawalan Nola?"


"Apakah kamu tidak belajar dari pengalamanmu sebelumnya?!" dengan nada tinggi Benjamin menjawabnya.


"Berarti, tidak boleh?" cicit Shakira bergidik mendengar intonasi nada Benjamin.


"Bersiaplah, aku akan mengantarkan kamu. Pakailah celana panjang, jaket dan sneakers!"


"Hah?! Buat apa? Aku hanya mau bertemu disebuah kafe. Dan kamu tidak perlu susah payah mengantarkanku, Benji."


Benjamin hanya melengos mendengar ucapan Shakira.


"Aku akan tunggu lima menit diruang tamu. Kalau lebih dari satu detik, jangan harap bisa keluar melalui pintu itu," ancam Benjamin sambil menunjuk kearah pintu keluar apartemen.


"Haisshhh ... tunggu aku sebentar, Benji!" jawab Shakira yang pontang panting mencari jaket dan sneakers-nya.


Tepat lima menit berlalu, Shakira telah siap untuk diantarkan. Menemui "kawan".


Kamu kira aku tidak tahu siapa yang akan kamu temui? Dasar, perempuan keras kepala! Benjamin.

__ADS_1


...********...


Sepanjang jalan menuju lokasi kafe, mereka berdua hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sesampainya disana, Benjamin memarkirkan mobilnya dengan sempurna.


"Ayo kita turun, Kira. Sepertinya kita terlambat beberapa menit ...." ucap Benjamin dengan pelan.


Deg ...


Seketika Shakira menoleh kearah Benjamin. Namun hanya diam membisu.


"Ayo, kita turun sekarang," sekali lagi Benjamin mengajak Shakira untuk turun.


Shakira tak bergeming.


Lalu tiba-tiba berkata. "Stop Benji! Jangan bilang kamu menyadap ponselku?!" todong Shakira dengan pelan.


Tanpa bermaksud menjawabnya, Benjamin hanya tersenyum simpul.


"OK, tidak perlu kamu jawab aku sudah tahu jawabannya. Sekarang, biarkan aku menemuinya. Aku yakin dia hanya menggertak. Kalau pun terjadi sesuatu padaku, kamu ada disini denganku, bukan?"


Benjamin hanya mendengus dan memalingkan muka.


"Lakukan yang terbaik menurutmu, Kira. Tapi jangan salahkan aku yang telah mengingatkan mu!"


"Iya ... aku tahu kamu khawatir. Tunggulah disini, OK?!"


Kemudian Shakira bergegas turun dari mobil lalu masuk kedalam kafe, dimana Juliana telah menantinya diruangan VIP. Shakira diantarkan oleh salah satu karyawan menuju ruangan paling ujung dan lumayan sepi dari hiruk pikuk pengunjung.


Semoga aku tidak salah langkah. Entah kenapa perasaanku tidak enak. Shakira.


"Akhirnya, tiba juga dirimu. Kukira kamu tidak akan berani datang kemari," ucap Juliana dengan sinis, ketika Shakira masuk kedalam.


"Hahaha ... itu yang kamu harapkan, bukan?"


Lalu, Shakira mencari tempat duduk yang paling dekat dengan pintu agar jika terjadi sesuatu, dirinya dapat berlari dengan cepat.


"OK, sekarang aku sudah disini. Katakan apa yang kamu inginkan ...."


"Hah ... apakah ini sikapmu kepada sahabat lamamu?!" hardik Juliana dengan muka merah padam.


"Halah ... sahabat?! Buruan kamu mau bilang apa? Waktu ku tidak banyak," tukas Shakira tidak menghiraukan Juliana.


Terlihat Juliana mulai terpancing emosinya. "Tidak perlu sombong lah, Kira. Aku sudah tahu kalau kamu hanya jadi gundik tuan muda Benjamin!" serang Juliana sambil tersenyum sinis.


Shakira menjadi berang mendengar sindiran wanita yang dulu dianggapnya sahabat sejati.


"OK, kalau hanya mau menghina diriku, aku akan pergi. Karena kamu bukanlah lawan tandingku!" tegas Shakira lalu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


Sebelum dirinya mencapai gagang pintu, terdengar Juliana berkata. "Bebaskan Reyhan. Cabut tuntutan terhadapnya!"


Seketika tangan Shakira menggantung diudara. Lalu membalikkan badan dengan cepat.


"Kalau tidak, bagaimana?" bisik Shakira dengan geram.


Juliana yang duduk memandang lurus kearah Shakira tertawa kecil.


"Kalau tidak, nyawamu taruhannya!" ancam Juliana tiba-tiba mengarahkan pistol kearahnya.


Shakira terkejut dibuatnya.


Aku tidak boleh terlihat takut. Sialan, Juliana sudah gila. Bagaimana caranya menghubungi Benji? Shakira.


"Kamu pikir aku takut dengan ancaman senjatamu? Kamu salah besar Juliana?!" tantang Shakira seraya meraih botol minuman yang terdekat dan melemparkannya kearah Juliana.


Prang! Pecahan botol berantakan dimana-mana, namun luput mengenai Juliana.


Shakira pun bergegas meraih pegangan pintu. Tiba-tiba terdengar bunyi letusan senjata api tepat disebelah kanan telinganya. Kaget bukan main, Shakira bergegas bersembunyi dibelakang sofa yang terletak dekat pintu.


Shakira ketakutan. Entah bagaimana bisa hidupnya berubah genre menjadi action seperti ini.


"Hahahaha ... kamu menantangku tapi sembunyi dibalik sofa?!" tantang Juliana sambil tertawa terbahak-bahak.


Terdengar langkah Juliana mendekat. Shakira dengan cepat meraih ponselnya di dalam sling bag. Mendial angka 1 dan langsung terhubung.


"Jangan sembunyi, Kira. Ayo keluarlah dan bebaskan Reyhan. Kalau tidak, kamu harus mati malam ini!" teriak Juliana seperti orang kesetanan.


Tiba-tiba terdengar bunyi pintu didobrak dari luar.


Brakk ...!!!


"Berhenti!"


...********...

__ADS_1


Bersambung ♥️♥️♥️ terima kasih para kaka² pembaca setia. mohon dukungannya ya kak...like, komen sudah sangat berarti bagiku.


😘😘😘😘😘


__ADS_2