
Sepanjang perjalanan pulang, Shakira hanya diam termenung. Meski foto yang terkirim di ponsel telah dihapus olehnya, tetap saja bayangan foto-foto tersebut masih terbayang jelas dikepalanya.
Hingga tiba di apartemen, tidak ada satu patah katapun keluar dari bibir mungil Shakira.
Nola dan Bik Ima tidak ada yang berani untuk mengajak Shakira untuk bercakap-cakap seperti biasanya.
Waktu pun telah beranjak menjelang tengah malam, tidak sedikitpun ia beranjak keluar dari kamar. Ketukan pintu Bik Ima maupun Nola tidak digubrisnya sama sekali.
Lagu Wrecked dari Imagine Dragons mengalun memecah kesunyian malam.
Tiba lirik berbunyi :
...They say that the time will heal it, the pain will go away...
...But everything, it reminds me of you and it comes in waves...
...Way you laugh when your shoulders shook...
...The time you took to teach me all that you had taught...
...Tell me, how am I supposed to move on?...
Shakira ikut bernyanyi dengan memandangi foto Reyhan yang sedang memeluk dirinya dari belakang tepat dihari ulang tahunnya.
Rey...ternyata kamu tidak pernah berubah sedikitpun dari sifat playermu. Shakira.
Sedikit cerita mengenai Shakira dan Reyhan. Mereka adalah teman satu fakultas tetapi beda jurusan. Reyhan adalah kakak tingkat Shakira, di kampus. Siapa yang tidak mengenal lelaki tersebut. Reyhan adalah mahasiswa terpintar di jurusan. Bakatnya dalam bermain musik pun tidak diragukan lagi. Menjadi ketua BEM Fakultas dan Asisten Dosen, tampang juga tidak mengecewakan. Menyadari akan kelebihannya, Reyhan memanfaatkannya dengan menebar pesona kepada gadis-gadis.
Tidak ada yang menolak pesona seorang Reyhan kala itu, hingga akhirnya bertemu dengan Shakira pada acara kampus, membuatnya jatuh bangun mengejar gadis tersebut.
Dan hasil akhir memang tidak bisa berbohong, Shakira yang belum pernah berpacaran mencoba menerima seorang Reyhan yang terkenal player dikalangan gadis dikampus, dengan perjanjian dia harus berhenti berpetualang dari satu gadis ke gadis lainnya. Reyhan menyetujuinya.
Hubungan kisah kasih mereka berlanjut hingga Shakira lulus menjadi seorang sarjana. Meski akhirnya Shakira harus menerima kenyataan bahwa tabiat seorang Reyhan tidaklah akan pernah berubah, yang sangat disesalinya adalah mengapa harus Juliana, sahabatnya dari kecil. Anak dari sahabat mamanya sendiri pula..ah takdir memang kejam..
...*******...
Alarm ponsel berbunyi menunjukkan waktu pukul 5.30 pagi. Shakira menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi membersihkan diri lalu menggunakan atasan hoodie dan celana panjang joger serta sepatu jogging. Shakira sudah merencanakan pagi ini ingin berolahraga disekitar area apartemen untuk menyegarkan otak dan jiwanya.
Terlihat Bik Ima sedang di dapur sibuk membuat sarapan, sedang Nola entah dimana posisinya saat ini, Shakira tidak dapat menemukannya. Akhirnya, Shakira pun berlalu dan keluar dari apartemen, dengan anggapan hanya mengirimkan pesan kepada Nola bahwa dirinya akan berolahraga, adalah hal yang biasa saja.
Shakira menggunakan earphone sambil mendengarkan musik, dia mulai berjogging. Entah mengapa, perasaannya saat ini tidak enak. Merasa ada yang mengikutinya. Tetapi jika dia menoleh kekanan, kekiri dan kebelakang, tidak ada satupun orang yang bertingkah laku aneh seperti mengikutinya. "Ah..sialan, tahu gitu tadi aku menunggu Nola." umpatnya pada diri sendiri.
Shakira meneruskan kegiatannya. Terus berlari hingga melewati sebuah taman yang cukup rindang dengan berbagai pepohonan dikanan kiri. Suasana masih cukup sepi, karena jam masih terlalu pagi untuk orang beraktifitas.
Shakira sedang fokus berlari ditemani musik yang cukup keras mengalun di telinga, tanpa disadari ada orang yang mencoba meringkusnya dari belakang. Shakira yang kaget tidak menduga berusaha berteriak dan mencoba berlari dengan sekuat tenaga. Namun apa daya, langkah kaki orang tersebut mampu mengejarnya, mengingat perawakan tubuh orang yang memakai pakaian serba hitam dengan topeng dimukanya cukup tinggi besar. Shakira yang mencoba melarikan diri jatuh terjerembab kemuka. Dengan mudah orang tersebut membius dan meringkusnya.
...*******...
__ADS_1
Di apartemen, sudah lebih dari 30 menit sejak Shakira meninggalkan apartemen untuk berolah raga.
"Bik Ima, apakah tahu jam berapa nona muda keluar dari apartemen?" tanya Nola yang kaget mengetahui bahwa nona-nya tidak ada ditempat dan hanya mengirimkan pesan bahwa sedang jogging disekitaran apartemen.
"Bik Ima enggak tahu loh Non..tadi Nona Muda keluar kamar pun, Bibik enggak lihat. Bagaimana ini, Non Nola? Tuan Muda bisa marah besar...", Bik Ima meremas ujung celemek yang masih terpasang dipakainya.
Nola mengecek CCTV, terlihat jelas jam berapa dan kearah mana nona muda pergi.
"Aduh bagaimana ini, ponselnya bahkan tidak bisa dihubungi, akan saya coba mencarinya di taman dekat apartemen terlebih dahulu sebelum melapor pada Tuan Muda," ucap Nola bergegas mengambil senjatanya dan berlari menuju arah taman.
Setelah lewat dari setengah jam, Nola kembali dengan hasil nihil. Tidak ada satupun orang yang melihat kejadian janggal disekitaran taman. Bahkan, jejaknya pun tidak ada.
"Maaf Bik Ima, aku harus memberi tahu keadaan ini kepada Tuan Muda Benjamin," info Nola pada Bik Ima.
"Non Nola, maafkan Bibik, karena tidak mendengar kepergian nona muda", ucap Bik Ima dengan menyesal.
"Tidak apa Bik, ini adalah tanggung jawab saya. Saya yang lalai. Semua hukuman dari Tuan Muda akan saya jalani Bik, asalkan nona muda kembali dengan kita", jawab Nola bergegas pergi melapor pada Benjamin.
...*******...
Dimarkas BK suasana sungguh mencekam. Tidak ada canda tawa, gurauan sesama anggotanya, bahkan tidak ada satupun yang berlatih menembak, boxing, taekwondo ataupun berlatih bermain pedang.
Brakkk...bunyi meja di gebrak berulang kali oleh Benjamin. "Dasar kalian semua bodoh! Tidak becus kerja semuanyaa!!!
Wajah Benjamin berubah sangat mengerikan bagi siapa saja yang memandangnya. Saat ini tidak ada satupun yang berani mengangkat muka dihadapan sang ketua.
Beberapa waktu lalu, Setelah mengetahui bahwa nona mudanya menghilang, Nola bergegas memberikan laporan kepada Benjamin meski sangat mengerti konsekuensi yang akan diterimanya akibat lalai dalam tugas.
"Tuan Muda, maafkan kami semua telah lalai dalam menjaga nona muda," ucap Nola dihadapan para anggota lainnya.
"Ijinkan kami untuk mencari siapa pelaku yang berani menculik nona, Tuan," tambah Nola dengan tegas dan berani.
"Ingat...cukup sekali kejadian ini terjadi di wilayahku. Cari dimana Shakira. Cek seluruh CCTV di kota ini, minta bantuan kepada kepolisian. Jika mereka menolak membantuku, katakan kepada mereka, akan kuhancurkan kota mereka dengan tanganku sendiri," ancam Benjamin dengan bengis.
"Baik Tuan Muda..." sahut semua para anggota BK.
...*******...
Disuatu tempat.
Shakira yang sebelumnya terkena obat bius, mulai tersadar. Pandangan matanya terasa buram, merasakan dirinya tidak dapat bergerak. Bingung dengan yang terjadi pada dirinya, kesadaran Shakira pun pulih seketika.
"Astaga aku ada dimana ini?!" jeritnya dalam hati.
Dia tidak dapat bicara, berteriak pun sia-sia karena saat ini mulutnya diisolasi sangat rapat. Shakira memandang sekelilingnya. Dia berada didalam suatu kamar dengan kedua tangan di rantai pada tiang tempat tidur. Kedua kakinya pun di ikat dengan kuat sehingga tidak dapat bergerak sama sekali.
Sekali lagi Shakira mencoba untuk berteriak, membuka mulut berharap isolasi yang membungkam bisa tersobek dengan sendirinya. Namun, usahanya tetap saja tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
Pakaian yang digunakannya masih sama persis, tidak ada yang berubah kecuali sepatu larinya, telah raib hilang entah dimana.
Syukurlah, aku masih menggunakan pakaian lengkapku. Shakira.
Waktu berlalu..entah telah berapa jam dia berada didalam kamar ini. Hanya sinar matahari yang masuk melalui celah jendela menunjukkan bahwa hari telah menjelang siang. Perutnya terasa perih menahan lapar dan haus.
Teringat olehnya Benjamin, bagaimana reaksinya jika tahu bahwa dirinya telah menghilang begitu saja. Apakah akan mencarinya atau justru membiarkannya begitu saja...
Tiba-tiba terbukalah pintu. Seorang wanita sekitar 30 tahunan masuk membawa baki makanan dan minuman.
Diletakkannya baki tersebut di nakas sebelah tempat tidur.
Shakira mencoba berkomunikasi dengan matanya, tetapi wanita itu tidak meresponnya sama sekali. Kemudian pergi meninggalkannya sendiri lalu mengunci pintu kembali dari luar.
Airmata pun jatuh, ia merasakan takut yang luar biasa.
Dimana ini, siapa mereka? Benji..tolong aku, tolong aku! Shakira.
Terdengar seseorang membuka kunci pintu kamar, lalu masuklah seorang lelaki dengan tampilan yang sangat berbeda tetapi sangat dikenalnya.
Bola mata Shakira membulat, mulutnya mengeluarkan suara-suara yang tidak jelas, tubuhnya memberontak meski kaki dan tangannya terikat.
Lelaki tersebut hanya tersenyum sinis memandang ketidakberdayaannya. Tertawa melihat wanita didepannya meronta, memberontak.
Setelah puas melihat keadaan Shakira, lelaki tersebut kemudian keluar meninggalkan Shakira hingga kelelahan berteriak dengan mulut terisolasi dan memberontak dengan tubuh yang terikat.
Di Markas BK, di sebuah ruangan, Lena yang saat ini masih di tawan oleh Dio dan kawan-kawan, saat ini diseret menuju ruang interogasi ala BK. Yaitu kolam santai si Bobo, buaya perliharaan Benjamin dan Dio.
Penampilan Lena saat ini jauh dari kata elegan. Sudah berhari-hari dirinya tidak berganti pakaian. Sangat lusuh bagi orang yang melihatnya.
"Aku mau diapakan ini?? Mengapa aku dibawa kesini?" tanya Lena pada Dio.
"Dudukan perempuan itu dekat dengan bibir kolam," perintah Dio pada bawahannya.
Lena pun gemetar ketakutan. Dirinya masih ingin menghirup udara segar.
"A-apa maksudnya? Aku masih mau hidup, tolong lepaskan aku...," pinta Lena memelas.
"Hmmm...biar kupertimbangkan, jika jawabanmu atas pertanyaanku memuaskan," jawab Dio dengan enteng.
"A-a-pa yang kalian inginkan?" cicit Lena.
Dio tertawa dengan sinis. "Apa yang kau tahu mengenai penculikan Nona Muda Shakira?"
...*******...
Bersambung 😘😘
__ADS_1
terimakasih kuucapkan bagi kaka² readers yang telah setia membaca dan menemani perjalanan Shakira dan Benji. ditunggu ya komen, kritik saran yang membangun. Like setelah membaca dan favoritkan jika belum masuk rak ya.