
...Untuk para readers tersayang yang sedang merayakan dimanapun berada; author ingin mengucapkan:...
...Selamat Hari Raya Idulfitri 1443 H....
...Minal aidin wal faizin....
...Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan berkah dan nikmat dari-Nya. ...
...********...
Back to the case...😅😅🤭🤭❤
**Chapter terakhir Bab 40.
"A-a-pa yang kalian inginkan?" cicit Lena.
Dio tertawa dengan sinis. "Apa yang kau tahu mengenai penculikan Nona Muda Shakira?"
Wajah Lena seketika pucat pasi. "Apa maksud perkataanmu? Penculikan Shakira?!"
"Enggak usah drama deh...buruan spill out, aku dan Bobo menunggu jawabanmu," jawab Dio seraya menunjuk kolam santai si buaya yang sedang bobok cantik.
"Spill out apaan kalau aku sendiri enggak tahu apapun. Kamu kan tahu sendiri, aku sudah disini entah berapa haripun aku enggak tahu, gimana bisa kamu bertanya perihal penculikan benalu itu padaku, hah?!"
Dio membuang nafas dengan kasar. "Kasihan banget ya, cantik, body sexy nih tapi sayang otaknya enggak dipakai. Rio... buruan lempar, si Bobo uda puasa dari kemarin subuh, lumayan daging segar..." perintah Dio kepada Rio, bawahannya.
"Siap, 86 Bos Kecil..." mendapat perintah harus langsung laksanakan begitu prinsip seorang Rio.
"E-e-eh apa-apaan...jangan sentuh aku," teriak Lena memberontak tidak sanggup bergerak, karena kaki dan tangannya diikat kencang, ketika Rio mengangkat tubuhnya hendak melemparkannya kekolam buaya.
"Jangannn tolongg!!!!! Jangann..aku masih mau hidup...huhuhu....," tangisan Lena menggema, membuat buaya peliharaan mereka menjulurkan kepala.
Melihat ada kepala buaya sungguhan keluar dari kolam berair, Lena semakin ketakutan dan menangis sekecang-kencangnya.
"Bagaimana..mau bekerja sama dengan ku atau mau bekerja sama dengan Bobo, buayaku yang gagah itu?" bisik Dio tepat di telinga Lena.
"Iya...aku mau-mau-mauuuu!!!! Tolong bawa aku menjauh dari sini?!"
Dio pun tertawa dengan sinis. "Dudukan kembali si bohay ini didekatku, Rio. Kalau dia macam-macam, atau tidak jujur, aku sendiri yang akan melemparnya ke rumah Bobo.."
Kemudian, Rio mengangkat Lena dan memindahkannya ke kursi yang ada di depan Dio.
Lena menelan ludahnya berulang kali. Merasa terhimpit. Tidak ada jalan baginya untuk melarikan diri. Melihat Dio, yang merupakan tangan kanan Benjamin, Lena bergidig ngeri. Tidak pernah menyangka, lelaki pendiam dan sepolos Benjamin ternyata bengis dan kejam.
"Apa yang kamu pikirkan?!" tanya Dio pada Lena yang membeku diam.
Ditanya dengan nada dingin, Lena hanya menggelengkan kepalanya.
"Ok, kamu sudah siap bercerita sekarang?"
__ADS_1
"I-iya..aku si-siap.." jawab Lena terbata-bata.
Dio mengganggukkan kepala lalu menekan tombol on pada voice recorder di ponselnya. "Ceritakan dari awal.."
...********...
Mama Seila yang mendengar berita hilangnya Shakira pun langsung terbang ke Indonesia, meninggalkan suaminya di Utrecht, Belanda. Sebagai orang tua, mereka menyadari betapa rentan kondisi mental anak mereka Benjamin saat ini, jadi Mama Seila ingin memberikan semangat dan dorongan moril. Karena, mereka tidak ingin Benjamin mengalami gangguan emosi seperti disaat kehilangan Tiara, kekasihnya terdahulu. Meskipun saat ini hubungan Benjamin dan Shakira belum bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih, namun Mama Seila sebagai seorang ibu, mengetahui isi hati anaknya, bahwa Shakira telah berhasil mencairkan hati seorang Benjamin.
Didalam mobil menuju markas BK, Pak Andi, asisten Mama Seila memberikan sedikit brief, perkembangan terbaru mengenai Shakira.
"Apakah kepolisian juga sudah ikut menyelidiki?" tanya Mama Seila setelah mendengarkan penjelasan singkat Pak Andi.
"Menurut Maria, sudah, Nyonya..bahkan para cepu pun ikut membantu menggali informasi-informasi".
Kedua alis Mama Seila berkerut, berpikir keras, siapa yang berani melakukan hal ini dibawah hidung anaknya, Benjamin. Mama Seila yakin, ada tiga kemungkinan yaitu satu, lawan bisnis yang sakit hati dari Benjamin sebagai pemilik Three Siblings, Corp. kedua, musuh yang sakit hati dari lingkaran hitam mafia dan gangster, ketiga, dari lingkaran Shakira sendiri. Nanti akan kubagi dengan Benjamin, buah pemikiranku ini. Mama Seila.
"Pak Andi, bagaimana dengan hasil penyelidikan asisten Tuan Prajogo? Bukankah, Dio dan BK tim mendapatinya sedang bertemu dengan seseorang?"
**Hm..ternyata Mama Seila ini memang sungguh up to date ya, readers...
"Hari ini Dio berencana akan melakukan sedikit berbincang-bincang dengan Beliau, Nyonya.." jawab Pak Andi, membelokkan kemudi memasuki kawasan markas Black Klan.
"Katakan pada Dio dan Maria, aku ikut serta dalam interview kali ini.." perintah Mama Seila, membuat Pak Andi terkejut atas permintaan aneh ini.
"Nyonya, ini hal yang sudah biasa mereka lakukan, tunggu saja hasilnya," pinta Pak Andi, merasa keheranan.
...********...
Matahari mulai beranjak menuju peraduannya. Si tampan Benjamin, merasa gelisah tidak menentu. Segala urusan pekerjaan di perusahaan TSC Group di serahkan kepada Maria agar pikirannya saat ini hanya fokus pada pencarian Shakira. Hilangnya wanita tersebut membuat dirinya menyadari tentang arti sebuah perasaan tidak ingin kehilangan.
Benjamin yang saat ini sedang berada di ruang kontrol, mengecek semua rekaman CCTV dari jam menghilangnya Shakira hingga terakhir terlihat. Syukurnya, Maria dan Nola berhasil mendapatkan bantuan dari Kombes. Alexander Priyono, yang biasa mereka panggil pak Kombes Pri, beliau adalah salah satu orang yang selama ini terbantu oleh Black Klan gank dalam menyelesaikan berbagai kasus kriminal yang melibatkan kelompok onar yang bermasalah. Meski yah...harus menghadapi kejamnya para anggota BK dalam menangani para penyakit jalanan. Segala resiko musti diambil demi keberhasilan sebuah kasus..prinsip Kombes Pri. Dan Kombes Pri ini adalah salah satu teman dekat Benjamin selama beberapa tahun belakang ini, mereka didekatkan berkat sebuah kasus yang melibatkan banyak pihak.
Bunyi ponsel Benjamin berbunyi. Melihat nama yang tertera, dengan harap-harap cemas dirinya menekan tombol hijau.
"Ya..bro.." jawab Benjamin.
"Ben, apakah Shakira yang kamu cari keberadaannya adalah anak dari mendiang Tuan Prajogo?" ~ Kombes Pri.
"Tepat sekali. Apakah ada kabar baru?"
Hening sesaat. "Kita harus mencari paman dan bibinya, adik dari mendiang. Aku sudah menyelidiki kasus ini, agar bisa dibuka kembali dan menemukan titik terang." ~ Kombes Pri.
"Menurutmu, apakah ada hubungan dengan menghilangnya Shakira?" tanya Benjamin menegaskan.
"Banyak kemungkinan bisa terjadi. Saranku, cari tahu siapa saja lingkaran pertemanannya selama enam bulan terakhir. Akupun akan membantumu dari sini" ~ Kombes Pri.
"Dan satu lagi Ben, jangan gegabah dan jangan turuti emosimu. Pasti akan kita temukan, yakinlah..." ~ Kombes Pri.
Mendengar perkataan Kombes Pri, membuat Benjamin menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku tidak berjanji..bro..Andre pun sudah kuhubungi, siapa tahu orang-orangnya pun bisa membantu," jawab Benjamin, dan hubungan pun terputus.
"Shakira...Kira...dimanakah dirimu..? Apakah kamu baik-baik saja?" gumam Benjamin sambil menelungkupkan mukanya ke meja.
Aku tidak pernah bersikap tegas padanya mengenai perasaanku. Aku bersikap abu-abu selama ini, karena takut akan merasakan kehilangan seseorang kembali. Dan sekarang, aku pun kehilangan dirimu. Dasar bodohnya aku! batin Benjamin berkecamuk.
Terbayang raut wajah Shakira yang sedang tertawa...rasa sesak didasar hati membuat seorang Benjamin menjadi murka. Meja pun dibaliknya. Kursi dilemparkannya ke sembarang arah. Tidak ada satupun yang berani mendekat. Bahkan Nola sekalipun yang selalu berada didekatnya saat ini. Ingin rasanya Nola menangis, meneteskan air mata, melihat tuan muda yang sudah bisa mulai tertawa dan sedikit lunak, kembali menjadi pribadi yang menakutkan.
"Dasar bodohhh kau Benjaminnn!!!" teriak Benjamin pada dirinya sendiri sambil menendang apapun yang berada didekatnya.
Nola hanya diam mematung, menyadari bahwa semua ini adalah kesalahannya. Tidak berani sedikit saja mendekat atau bersuara.
Disaat Benjamin sedang mengamuk di ruang kontrol, Mama Seila tiba dan bergegas menuju sumber suara kekacauan.
Terdengar pintu terbuka, betapa tercengangnya Mama Seila melihat kekacauan yang dibuat oleh anak semata wayangnya.
"Benji..., tenanglah, Mama datang untuk menemanimu, Nak...", ucap Mama Seila bergegas menenangkan anaknya yang sedang mengamuk.
Seketika luruh emosi seorang Benjamin ketua Black Klan, melihat Mama Seila yang sedang memeluknya.
" I have lost her, Mom..." sahut Benjamin masih dengan tangan terkepal penuh darah akibat memukul tembol dan terkena pecahan kaca meja.
"No, you didn't, we are going to find her. Just gather yourself! " bentak Mama Seila.
"Nola, bereskan kekacauan ini semua! Dan katakan pada Dio dan Maria, saya akan ikut bertemu dengan asisten mendiang Tuan Prajogo." perintahnya pada Nola yang hanya diam membisu.
"Ba-baik, Nyonya Besar."
"Dan kamu, Benjamin..banyak yang harus kita bicarakan," tunjuk Mama Seila serta merta menarik Benjamin ke sofa terdekat dan membersihkan luka-luka di tangan anaknya.
"Bagaimana Mama bisa mengetahui hilangnya Shakira?" tanya Benjamin yang baru sadar bahwa dirinya tidak memberi tahu perihal hilangnya Shakira kepada ibunya.
Mama Seila hanya tertawa kecil dan mengibaskan tangannya. "Apakah dirimu lupa siapa Mama sebelum lengser?"
"Hm...ya aku tahu, Mama adalah mantan ketua Black Klan sebelumku.." dengus Benjamin membuang muka.
Tok..tokk..tokkkk terdengar ketukan pintu. Muncul Dio dan Nola memberikan informasi sudah saatnya bertemu dengan asisten mendiang Tuan Prajogo.
"Baiklah Benji, Mama akan ikut dengan mereka, tetaplah disini karena banyak hal yang akan kita bahas." titah Mama Seila dan bergegas mengikuti Dio serta Nola.
Mencurigakan..Mama Seila ikut berbicara dengan asisten ayah Shakira...hmmm. Benjamin.
...********...
Bersambung ya kaka²...
mohon dukungannya yah selalu. komen, like, favorit masuk ke rak buku dan tetap pantengin kisah mereka selanjutnya.
Makasih buanyakkkk ❤❤
__ADS_1