
Tok...tok...tok....terdengar ketukan pintu diruang istirahat, markas Black Klan. Ceklek...pintu terbuka.
"Maaf Tuan Besar, saya hendak menyampaikan bahwa Tuan Muda beserta Nona Shakira telah sampai di markas," info Maria sesuai dengan permintaan Papa Abimanyu.
"Baik, Maria. Sampaikan saya ingin bertemu dengan mereka berdua, begitu juga dengan Nyonya, tunggu saya di ruang kerja Benjamin," perintah Papa Abimanyu seraya berjalan menuju bath room untuk membersihkan diri sebelum bertemu dengan anaknya dan anak Darius.
...********...
"Benji...a-aku takut," bisik Shakira ditelinga Benjamin saat turun dari mobil dan menuju ruangan kerja ketua Black Klan tersebut.
Benjamin mengernyitkan alisnya, serta menatap Shakira dengan heran. "Kenapa dirimu merasa takut? Takut akan apa?"
Shakira berhenti berjalan, jemari tangannya saling bertautan. Ragu untuk menjawab pertanyaan lelaki tersebut yang tengah menatapnya menanti jawaban.
"Kira...katakan, apa yang sedang kau takutkan, hmm....?" tanya Benjamin kembali.
Saat ini mereka sedang berada didepan area latihan memanah. Beberapa anggota Black Klan yang belum pernah melihat Bos Besarnya memperlakukan seseorang wanita dengan lemah lembut, saling memandang satu dengan yang lainnya. "Bos sedang bucin...." bisik salah satu dari mereka.
Pletak!! Sebuah biji salak mendarat tepat mengenai pelipis salah satu anak buah yang sedang bergosip akan bosnya.
"Buset dah...benjol lah jidatmu itu," ejek salah satu kawannya yang ikut berlatih panahan.
"Kalian mau di lempar ke Bobo oleh Bos Besar hah?!" bisik Dio yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
"Eits...ampun Bos kecil..." ucap mereka kemudian menyebar secepat kilat.
"Ckckckck...dasar kurang dikasih kerjaan, mulutnya pada nganggur," dengus Dio, kemudian berlalu dan mendekati ketua Black Klan dan Shakira yang tengah asyik mengobrol, sepertinya....
...********...
Kembali kepada Benjamin dan Shakira.
"Aku tengah menanti jawabanmu, Kira..." ucap Benjamin dengan tidak sabar.
"Ehm..ehmm...begini, Tuan Abimanyu sedang berada disini, bukan?"
"Betul...lalu apa hubungannya dengan ketakutanmu?" tanya Benjamin kembali tidak mengerti dengan perkataan wanita yang tengah gelisah didepannya ini.
"Jujur, aku takut bertemu dengan beliau..." jawab Shakira dengan suara kecil dan menundukkan kepala.
"Apa?! Kamu takut bertemu dengan papaku? Kalau boleh tahu, apa yang kamu takutkan?"
"Beliau adalah orang tuamu. Orang terpandang. Sedangkan aku, bukan siapa-siapa. Hanya menyusahkan kalian..." jawabnya lagi dengan sedih.
"Karena aku, kalian menghabiskan waktu hanya untuk mencariku. Bahkan, terluka demi aku. Siapa aku ini? Aku hanya anak sebatang kara."
"Seorang putri berdarah Prajogo, seharusnya bermental baja!" tukas seorang lelaki dengan suara berat tepat dibelakang punggungnya.
Shakira dibuatnya terkejut lalu dengan cepat memutar tubuhnya mencari sumber suara tersebut.
__ADS_1
Tampak seorang pria paruh baya tengah menatapnya dengan kening berkerut. Ketampanannya masih terpancar diusianya yang tidak muda lagi. Shakira mengenali pria setengah baya tersebut. Ya...siapa yang tidak mengenal seorang Abimanyu Negara, ayah dari Benjamin Abimanyu Negara. Semua orang awam pun pasti mengenal beliau melalui acara-acara di televisi maupun di dunia maya.
"Ma-ma-maafkan saya, Tuan," ucap Shakira menahan malu.
"Pantas saja, dari tadi papa menunggu kalian berdua sampai habis dua cangkir kopi dan roti lapis, eh yang ditunggu asyik berduaan disini!" sindir Papa Abimanyu seraya beranjak dari situ dan berjalan menuju ruang kerja anaknya.
" Tuh kan apa aku bilang, belum apa-apa beliau sudah marah padaku, Benji...." bisik Shakira menggamit lengan Benjamin dengan takut.
"Sudahlah, buang rasa takutmu. Papaku tidak seperti yang kamu pikirkan. Ayolah, lebih cepat lebih baik," ajak Benjamin berjalan mendahului Shakira menuju ruangannya.
Ah sudahlah...apa kata nanti. Toh, selama ini aku sudah terbiasa mengalami penolakan. Shakira.
Setibanya di ruang kerja minimalis tempat yang pernah dikunjungi oleh Shakira sebelumnya, tampak kedua orang tua Benjamin sedang duduk santai di sofa sembari mendengarkan informasi melalui Maria.
Aku gugup. Shakira.
Melihat kedatangan Tuan Muda dan Shakira, Maria bergegas memberikan salam kepada mereka berdua.
"Hai hai....Shakira...bagaimana kabarmu, Nak? Apakah kamu bisa beristirahat seharian ini?" Mama Seila bergegas menyambutnya, memeluk dengan ramah dan hangat.
"Bisa, Mama Seila...sekarang sudah merasa segar..." jawab Shakira membalas pelukan ibu Benjamin.
"Syukurlah....senang mendengarnya. Ayo, duduk sini dekat kami," tarik Mama Seila sehingga mau tidak mau Shakira menurutinya.
"Tuan Muda, akan saya ulangi lagi informasi yang baru saja saya sampaikan kepada Tuan Besar dan Nyonya," ucap Maria.
"Baiklah, lanjutkan Maria," perintah Benjamin kepada asistennya.
Shakira terkejut mendengarnya. Tidak pernah disangka bagi siapapun yang mengenal seorang Reyhan.
"Reyhan....apa salahku padamu?" bisik Shakira terpekur mendengar penjelasan Maria. Sekilas teringat kejadian malam tersebut, ketika Reyhan mencoba meruda paksa dirinya, bejat sekali kelakuan mantan kekasihnya itu. Syukurlah ada pria tersebut.
Deg....iya pria tersebut, aku harus bertanya pada mereka semua. Shakira.
"Kamu tidak bersalah, Kira. Yang bersalah itu adalah Reyhan," sahut Mama Seila yang mendengar perkataannya.
"Mama mendengarku?" tanya Shakira dengan polosnya.
"Pfft...bagaimana tidak mendengar perkataanmu, kalau Mama duduk persis disebelah dirimu, Nak?!"
Wajah Shakira seketika merah merona, menahan malu.
"Lanjutkan, Maria. Maafkan aku telah menginterupsi dirimu," perintah Shakira kepada Maria yang hanya merespon dengan anggukan kecil.
"Baiklah, saya lanjutkan. Mengenai Reyhan, Kombes Pri telah menugaskan anak buahnya untuk menyelidiki kasus yang telah melibatkan pria tersebut. Komber Pri berjanji secepatnya, beliau akan memberikan informasi terbaru."
"Maria, apakah kamu mendengar berita tentang sekelompok perempuan yang ikut tersekap bersama ku?" Shakira mengingat pesan Rosa, pada waktu dirinya diculik.
"Ah iya...betul, apa ada kabarnya tentang mereka?" Mama Seila menimpali pertanyaan Shakira.
__ADS_1
"Tentang hal tersebut, kami sudah menyisir semua tempat tersembunyi yang ada di area villa tersebut, namun sayangnya tidak dapat menemukan jejak mereka. Diyakini, setelah mengecek kamera pengawas di villa tersebut, mereka telah dipindahkan ketempat lain, Nona," jawab Maria.
"Kami sudah melacak mobil yang mengangkut mereka. Dan sekarang, anak buah Kombes Pri sedang mengarah ke lokasi baru, tempat mereka disekap saat ini, semoga mereka cepat ditemukan," imbuh Maria melengkapi penjelasannya.
"Semoga mereka cepat ditemukan. Kasian Rosa, dia sengaja menyamar menjadi anak buah Reyhan dan pria tersebut demi mencari anaknya yang hilang, supaya tidak sia-sia pengorbanannya," sahut Shakira dengan penuh harap.
"Pria? Ada pria lain selain Reyhan, Kira?" tanya Benjamin menyelidik.
"Ah...iya...betul ada pria lain selain Reyhan, Benji. Ayo Maria, silahkan lanjutkan," Shakira mencoba mengalihkan pembicaraan.
Aku bingung harus mulai darimana mempertanyakan siapa Samuel Abimanyu Negara. Shakira.
"Lalu mengenai Mr. X yang kita cari profilnya, mohon maaf Tuan Muda, semua akses telah kita coba, bahkan bank data Interpol pun tidak dapat memberikan informasi apapun mengenainya. Seperti ada seseorang yang mencoba menutup akses tentang orang ini," lanjut Maria.
"Shakira, coba kamu gambarkan bagaimana rupa dan perawakan pria tersebut kepada Maria dan orang ahli yang bisa membuat sketsa wajah setelah ini," Papa Abimanyu memberikan perintahnya dengan nada tidak dapat terbantahkan.
"Baik Tuan," jawab Shakira dengan tegang jika mendengar suara tersebut.
Ternyata, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, memang benar adanya. Bapak anak sama-sama menyeramkan. Shakira.
"Er...boleh saya bertanya, siapa Mr. X yang kalian sebutkan baru saja? Dan apakah Mr. X yang kalian barusan bicarakan adalah orang yang sama dengan pria yang kumaksud tadi? Pria yang bersama dengan Reyhan?" tanya Shakira dengan rasa penasaran.
"Sepertinya begitu, Kira. Kami namakan Mr. X, karena kita tidak tahu latar belakangnya. Bahkan namanya pun, tidak jelas.
Aku harus memberi tahu mereka tentang Mr. X tersebut, pasti orang yang sama dengan yang mereka cari semoga tidak salah langkah. Shakira.
"Memangnya kenapa dengan Mr. X ini, Benji? Kenapa dia penting sekali bagi kalian?" tanya Shakira berusaha mencari tahu terlebih dahulu sebelum mengucapkan sebuah nama untuk mereka yang berada didalam ruangan tersebut.
"Begini Kira, kami menduga Mr. X yang menculikmu adalah orang yang sama dengan dalang kecelakaan kedua orang tuamu bersama kaki tangannya, Reyhan...." Benjamin menjelaskannya dengan hati-hati.
"Apa?! Tidak mungkin, Benji! A-aku..aku sulit mempercayainya!" Shakira menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
Terbayang olehnya, raut wajah Samuel yang setengah cacat akibat luka bakar, bagaimana tatapan wajahnya yang sangat menyeramkan namun berkat dia pula Shakira terbebas dari tindakan asusila Reyhan, jika tidak ada pria tersebut, entah bagaimana nasibnya saat ini. Namun, teringat kedua orang tuanya yang telah tiada baginya, emosinya pun kembali tersulut.
"Aku dekat sekali, aku berada satu tempat dengannya. Seharusnya aku bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri. Karena dialah aku kehilangan kedua orang tuaku!!" emosi Shakira meledak mendengar penuturan Benjamin.
"Kalian harus menjelaskan padaku, bagaimana bisa kalian menemukan hal ini?!" tuntut Shakira kepada mereka semua.
"Sabar sayang...kamu akan mendapatkan penjelasan dari kami, dan tidak akan ada yang kami tutupi lagi. Kamu berhak mengetahui semuanya," timpal Mama Seila dengan penuh kasih.
"Baik Ma, aku pegang kata-kata kalian. Kalau begitu, tentang Mr. X ini, apakah kalian pernah mendengar sebuah nama yang hampir sama seperti kalian?"
"Nama seperti kami? Maksudnya bagaimana, Kira?" tanya Tuan Abimanyu mencoba mengerti.
"Maafkan aku sebelumnya Tuan, namun apakah kalian pernah mendengar sebuah nama Samuel Abimanyu Negara?" tanya Shakira pelan menanti reaksi mereka.
Seketika raut wajah kedua orang tua Benjamin mendadak pucat. Mereka tidak bisa berkata apa-apa.
"Kira...bagaimana kamu mengetahui nama tersebut...?!" tanya Tuan Abimanyu dengan suara tercekat.
__ADS_1
...********...
Bersambung ♥️ mohon dukungannya ya semua. Terima kasih yang terus mendukung karya ini and Happy Sunday all