
POV Benjamin
Saat ini Benjamin sedang berada di Bandara International, menunggu jadwal keberangkatan menuju Belanda, Kota Utrecht yang berada di Provinsi Utrecht. Kota dimana Benjamin dilahirkan ketika Papa Abimanyu Negara dan Mama Seila, orang tua dari Benjamin sedang merintis salah satu cabang perusahaannya.
Kota Utrecht terletak sekitar 43 Km dari Kota Amsterdam. Jarak tempuhnya hanya 50 menit jika menggunakan mobil, dan 25 menit menggunakan Intercity Train. salah satu kota tertua, sekaligus paling bersejarah di Belanda.
Sekilas tentang Utrecht nih..
Utrecht adalah kota terbesar keempat di Belanda dan berfungsi sebagai ibu kota provinsi Utrecht di pusat negara, sekitar 25 menit di selatan Amsterdam..
Kota ini adalah pusat keagamaan penting di Belanda dan memiliki banyak gereja dan arsitektur bersejarah yang berasal dari abad pertengahan. Karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan Amsterdam, kota ini juga berfungsi sebagai pusat transportasi untuk seluruh negeri dengan stasiun kereta api yang berkembang dengan baik.
Jejak kota ini berasal dari abad 50 Masehi dengan pendudukan Romawi dan selama bertahun-tahun telah berkembang menjadi pusat ekonomi yang besar dan penting bagi Belanda. Segudang bangunan bersejarah, jaringan kanal yang indah, dan koleksi museum berkualitas tinggi menjadikan Utrecht tujuan wisata yang memukau. juga merupakan kota pelajar di Belanda.
Jadi sudah sewajarnya jika Three Siblings Corp mendirikan anak cabang perusahaannya yang bergerak dibidang teknologi di Utrecht.
Kembali kepada Benjamin yang sedang berada di Bandar Udara International, di VIP Room. Maria tergopoh-gopoh mendekati Tuan Mudanya.
"Tuan Muda, mohon maaf, untuk saat ini kita tidak dapat lepas landas dikarenakan ada kendala, landasan pacu terkena tumpahan bahan bakar minyak".
Benjamin terdiam sesaat, "Berapa kita harus menunggu?"
"Menurut pihak bandara, kurang lebih memerlukan waktu satu hingga dua jam, Tuan".
"Baiklah...Aku akan berjalan-jalan sebentar", jawab Benjamin padanya.
Lena yang sedang asyik berselancar didunia maya, dengan cepat memasukkan ponselnya kedalam tas dan mengikuti langkah kaki Benjamin.
Maria yang melihat kelakuan wanitu itu hanya menggelengkan kepala.
Benjamin yang merasa diikuti oleh Lena, tetap melangkah tanpa menghiraukannya. "Benjii, tunggu aku dong..", panggil Lena.
Benjamin hanya menoleh sedikit tanpa menjawab.
Saat ini, perasaan Benjamin entah bagaimana, merasa sangat gelisah. Dirinya terus memikirkan Shakira. Jam di tangannya menunjukkan pukul 7 malam. Ah pasti dia dalam perjalan pulang. Tapi anehnya, Nola tidak ada memberi kabar apapun, bagaimana ini. Benjamin
Segera Benjamin mendial nomor Dio, sang tangan kanan. Tidak menunggu lama terdengar suara Dio diseberang mengucapkan halo.
"Lacak keberadaan mereka berdua", perintah Benjamin dan langsung memutuskan sambungan secara sepihak.
Pandangannya menatap jauh kedepan.
"Aku harap kamu baik-baik saja, Kira", ucapnya pada diri sendiri.
"Apa??? Aku tidak salah dengarkan Benji sayang...?", tanya Lena yang ternyata sudah berdiri didekatnya dengan muka penuh pertanyaan.
"Ckk..bukan urusanmu", Benjamin membuang muka dan berjalan kembali menuju VIP Room.
Lena pun langsung mengejar langkah Benjamin dengan amarah membuncah.
"Benjiii tunggu aku!!!", Lena setengah berteriak.
"Seharusnya ini adalah waktu kita berdua, tapi kamu masih mikirin benalu itu?? Hargai aku sedikit dong, Benji please..", ucap Lena sambil menarik paksa tangan Benjamin.
__ADS_1
"Lepaskan aku, kalau kamu tidak ingin menyesalinya..", ucap Benjamin dengan penuh kebencian yang mendalam.
"Kau pikir aku tidak tahu dengan kebusukanmu selama ini, hah?!"
"Maksudmu, apa Benji?" cicit Lena, gemetar melihat aura membunuh dari tatapan mata lelaki didepannya.
"Jika sesuatu terjadi dengannya karena ulahmu, aku tidak akan segan membuangmu kepada Bobo...." ancam Benjamin dan berlalu begitu saja.
"Ah sial...apa dia tahu apa yang telah kami rencanakan? Tidak mungkin, Benji hanya pria dengan label rumahan, tidak mungkin dia tahu segalanya..", gumam Lena.
Dan Bobo...siapa itu Bobo? Lena.
Maria yang berdiri tidak jauh dari mereka, mendengar semua gumaman Lena.
"Maria..apakah ada kabar dari Nola?" tanya Benjamin pada asistennya dan mengambil tempat duduk paling dekat dengan jendela.
"Belum, Tuan. Saya sudah mencoba menghubunginya, tetapi tidak bisa", jawab Maria
"Hmmm....perasaan saya sungguh tidak enak, Maria".
"Saya hubungi sekali lagi, Tuan. Permisi".
Selang beberapa menit masuk notif pesan dari Dio yang mengatakan bahwa GPS mobil yang membawa Shakira mengarah ke apartemen mereka.
Lega hati pria tersebut.
Namun, rasa lega itu tidak berlangsung lama.
Kembali ponsel Benjamin bergetar tanda masuk panggilan.
"Halo Kira..", Benjamin menjawab panggilan tersebut. Lena berusaha mendengarkan secara sembunyi-sembunyi.
"Benjiiiii tolong, aku dan Nola dikejar orang lagi. Kami didalam mobil sekarang!!!" teriak Shakira diseberang.
Seketika Benjamin tegang dan langsung waspada, "Stay sama Nola, jangan melakukan hal-hal bodoh, tetaplah diam didalam mobil, apapun yang terjadi dan hidupkan terus telepon genggammu!" perintah Benjamin dengan tegas.
"Ok Benji..." jawab Shakira pasrah.
Benjamin memukul pahanya sendiri, "Sial!! Maria, hubungi Dio sekarang juga. Termasuk kepolisian, infokan kepada mereka untuk mengecek CCTV lalu lintas yang dilalui Shakira dan Nola. Sekarang juga!!!!!"
Maria pun bergegas menjalankan perintah Tuannya. Terlihat olehnya bahwa Tuan Mudanya ini berusaha meredam emosi yang sewaktu-waktu akan meledak.
"Dan kau....wanita tidak tahu diri!!! Jangan harap kali ini bisa lepas dari genggamanku!" tatapan mata Benjamin seakan-akan ingin menguliti Lena saat itu juga.
"Maria, bawa wanita ini ke Markas BK".
"Baik Tuan Muda, mobil sudah menunggu anda", jawab Maria saat itu juga membatalkan penerbangan mereka dan kembali menuju Markas BK.
Lena yang ketakutan memberontak tidak mau mengikuti Benjamin.
Hanya dengan menjentikkan jari, munculah dua orang lelaki dengan tubuh kekar memakai pakaian hitam, memaksa Lena pergi dan mengikuti mereka.
Ponsel Benjamin terhubung dengan Dio, "Kerahkan semuanya. Jika terjadi sesuatu dengannya, kalian tidak akan selamat dariku", ucap Benjamin dingin.
Saat ini, Benjamin dalam perjalanan menuju markas mereka. Jarak yang mereka tempuh tidak begitu jauh. Sopir yang membawa mereka mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Tidak perlu lama, Benjamin telah sampai di markas. Lena yang ikut dengan mobil pengawal Benjamin pun telah diamankan diruang tahanan yang mereka miliki.
__ADS_1
Benjamin terus memantau keadaan diluar sana. Dio terus memberikan kabar terbaru, bahwa saat ini ada dua mobil masing-masing berisi 4 orang preman bersenjata lengkap sedang mengejar mobil yang dikendarai Nola.
"Apakah aku harus turun tangan sendiri?" tanya Benjamin pada Maria.
"Jangan Tuan Muda, kita belum tahu siapa dalang dibalik ini semua. Percayalah, serahkan pada Dio dan Nola, mereka adalah orang terbaik yang kita punya", jawab Maria dengan raut wajah yang cukup meyakinkan bagi Tuan Mudanya.
"Tunggulah Nona Muda disini", ucap Maria sekali lagi menahan Benjamin agar tidak bertindak gegabah.
Hingga terdengar ledakan beruntun diluar sana.
"Kedua mobil yang mengikuti telah dihambat oleh tim kita, Bos", info Dio melalui saluran walkie talkie.
"Bawa mereka semua tanpa terkecuali. Jika melawan habisi mereka ditempat", perintah Benjamin.
"Dicopy, Bos", sahut Dio.
10menit berlalu..Benjamin terus merasa gelisah menanti kedatangan wanita yang selalu membuat hatinya gelisah tak menentu.
Terdengar raungan MoGe dan mobil-mobil mendekat.
Benjamin dan Maria bergegas menuju sumber suara itu. Semua anggota BK berjalan melewati Benjamin dengan memberi hormat dengan cara mengganggukkan kepala. Tuan Muda Benjamin yang mereka hormati dan segani.
Diluar gudang, terlihat oleh Benjamin bahwa Nola sedang memarkirkan mobil sedannya.
Ingin rasanya berlari menuju mobil itu. Disadari olehnya, Nola terlihat membujuk Shakira untuk turun dari mobil. Teriakan yang menolak untuk turun dari mobil dan suara ketakutannya yang sangat jelas dapat dirasakan oleh siapapun yang mendengarnya. Hati Benjamin terasa sakit. Tangannya terkepal ingin membunuh orang yang berusaha menyakiti orang terkasihnya.
Dengan langkah panjang, Benjamin bergegas menuju ke mobil sedan Alpina itu.
Nola masih berusaha meyakinkan Shakira agar percaya padanya dan mau turun dari mobil. Tetap saja, Shakira mempertanyakan dan meragukan pengawalnya itu.
"Keluarlah, Kira. Jangan takut, ada aku disini..." sahut Benjamin tiba-tiba dalam kegelapan malam. Dirinya tahu, bahwa Shakira tidak akan menyadari keberadaannya.
Tak diduga oleh Benjamin setelah hening sekejap, Shakira berhamburan keluar dari dalam mobil dan berlari menuju dirinya berada, dan langsung memeluk tubuh kekarnya. Degup.jantung Benjamin berdetak kencang, mendapat perlakuan ini.
"Hikkss..hikss. Benjjiii!!! Kamu kemana aja selama ini??" tangis Shakira pecah seketika.
Benjamin yang tidak menduga akan mendapat pelukan erat, mendadak panas dingin. Tangan kanannya tergerak untuk membelai rambut wanita yang sedang memeluknya erat, sedang tangan kirinya terkepal, mencoba meredam emosi yang bercampur aduk. Ingin rasanya memerintahkan Dio dan seluruh klan untuk menghabisi orang-orang yang telah berusaha menyakiti orang terkasihnya.
Benjamin sibuk menenangkan Shakira dan membujuknya untuk masuk kedalam. Sedang Nola, masih berada disitu berjaga-jaga dengan posisi membalikkan badan.
"Aku takut sekali, Benji. Aku punya salah apa dengan orang-orang itu? Dan siapa mereka? Apakah kamu tahu siapa mereka sebenarnya?? Lalu satu lagi pertanyaanku, kenapa Nola bisa membawa pistol dan siapa orang-orang yang menyeramkan memakai baju hitam????? Jawab aku, Benji!!!" Masih dengan airmata yang membanjiri pipi, Shakira menuntut jawaban dari dirinya saat ini.
Benjamin menatap kedua manik berwarna hitam kecoklatan. Seakan-akan ingin menegaskan untuk mempercayai dirirnya.
"Ayo ikut aku masuk kedalam. Akan kujelaskan semuanya padamu, Kira", Jawab Benjamin seraya mengusap airmata Shakira dan menggandeng tangannya masuk kedalam. Hanya dengan sekali bujukan dan rayuan Benjamin, Shakira akhirnya menurut dan mengikutinya masuk kedalam Markas BK
*******************
bersambung dulu ya.🥰🥰
mohon dukungannya selalu teman² semua. like, favorit dan komen spy semakin semangat uppp.
oiya teman² yang baik hati..aku ada rekomendasi CS yang relate banget dengan kehidupan sehari-hari. Bagus banget...sayang sih kalo dilewatkan.
Cus langsung tengok karya Kak Nurul yah. Terima kasihhh sekebonnn🥰🥰🥰🥰
__ADS_1