Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 70. Indahnya kebersamaan


__ADS_3

Hai hai semuanya...


Kembali bersama Shakira, Benjamin dan BK Genks 🤗🤗


Selamat membaca ♥️


...********...


Seminggu setelah kunjungan pasangan Brown di kediamanan Tuan Abimanyu. Tampak pasangan setengah abad tersebut asyik menikmati pemandangan sore dari rooftop rumah apung mereka.


"Indahnya sore ini meskipun langit agak mulai mendung ya, Sayang ...."


Mendengar ocehan suaminya, Mama Seila hanya menanggapinya sambil lalu.


Karena tidak ada jawaban dari istri tercinta, Tuan Abimanyu yang saat ini sedang bersantai di long chair sambil membaca buku, melepaskan kacamata bacanya dan menoleh kearah Mama Seila.


"Sayang ... apa yang sedang kamu lakukan? Mengapa diam saja?"


"Aku sedang membayangkan bagaimana rasanya hidup berempat, bersama kedua anakku," jawab Mama Seila pelan namun penuh dengan kerinduan.


Tuan Abimanyu hanya menarik nafas mendengar ucapan istrinya. Dia tahu benar bagaimana selama hampir 34 tahun, setiap malam didalam doa istrinya terselip nama anak sulungnya, selain Benjamin. Berharap Samuel sehat dan aman serta jauh dari bahaya dan orang-orang yang jahat. Bagaimana berharap, anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dimanapun berada. Disayangi oleh orang-orang disekelilingnya, bahkan mengharapkan adanya suatu keajaiban, jika suatu saat Samuel bisa berkumpul kembali di tengah-tengah mereka.


"Apakah Papa tahu? Aku menyadari sesuatu, ketika dengan segala kekuasaan dan kecanggihan teknologi yang kita miliki tidak dapat menemukannya, memang Samuel lah yang tidak ingin kita temukan," ujar Mama Seila sedih.


Tuan Abimanyu hanya diam membisu. Karena, semakin di respon olehnya, sang istri akan semakin tenggelam dalam kesedihan lalu depresi kembali. Itu yang tidak diinginkan olehnya.


"Jika sudah saatnya tiba, ketika Samuel mendatangi kita, aku akan sampaikan semuanya agar dia tidak salah paham mengenai kejadian dimasa lampau," tambah Mama Seila, seraya bangkit dari duduknya lalu turun menuju kamar untuk berisitirahat.


Tuan Abimanyu pun tidak bisa memaksa untuk tetap menemaninya. Dibiarkannya sang istri beristirahat. Karena sudah seminggu ini pula, setelah bertemu dengan penculik anaknya dan menyaksikan sendiri bagaimana pasangan tersebut menghembuskan nafas terakhirnya ditangan Samuel, bayi yang telah diambil 34tahun lalu dari tangannya. Istrinya telah kehilangan nafsu makan dan semangat hidupnya. Tuan Abimanyu bingung bagaimana membuat sang istri kembali ceria seperti sebelumnya.


Ketika tengah asyik berpikir, nada panggil terdengar dari ponsel yang terletak didekatnya.


"Private Number's calling ...."


Dahinya berkerut. Siapa yang telah menghubunginya melalui nomor tak dikenal. Bahkan program yang dibuat oleh perusahaannya pun tak mampu mendeteksi nomor pemanggil.


Dengan penuh rasa ingin tahu tinggi alias kepo (kalau kata Shakira ...) digesernya tombol hijau.


"Hello ...." ~ Tuan Abimanyu.


Beberapa saat tidak terdengar suara sedikit pun diujung sana.


"Hello ... dengan siapa saya berbicara?" ~ Tuan Abimanyu dengan intonasi sedikit tinggi.


"Dengan aku ... anak yang kalian sia-siakan," ~ si penelpon.


Tuan Abimanyu tidak sanggup berbicara. Rasanya kata-kata tidak sanggup keluar dari bibirnya.


"Haha ... kaget bukan, Papa?" ~ Samuel.


"Ba-bagaimana kamu tahu, nomor ini?" ~ Tuan Abimanyu.


"Apa yang tidak aku ketahui? Berkat orang tua brengsek yang mengadopsiku ...." ~ Samuel.

__ADS_1


Tuan Abimanyu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Lalu, apa maumu Samuel?"~ Tuan Abimanyu.


"Aku mau hak-ku. Semua yang menjadi hak-ku ...." ~ Samuel.


"Datanglah baik-baik, Nak. Kita bicarakan dengan kepala dingin," ~ Tuan Abimanyu.


Terdengar tawa keras di ujung sana. Bulu kuduk Tuan Abimanyu meremang.


Sial! Mengapa semua anak-anakku modelnya seperti ini?! Ngidam apa istriku selama hamil ... ckckckck ....


"Samuel ... datanglah kerumah. Kami menantimu, Nak," ~ Tuan Abimanyu.


"Baiklah, akan aku pikirkan mengenai undanganmu, Tuan Abimanyu Negara yang terhormat," ~ Samuel.


Setelah itu, tanpa berlama-lama lagi sambungan telpon diputuskan secara sepihak oleh Samuel.


Tuan Abimanyu berpikir keras. Anak sulungnya masuk kedalam salah satu Red Notice interpol. Info ini dia dapatkan setelah mengusut pasangan Brown beserta keluarga dan kaki tangannya.


Banyak hal yang telah dilakukan oleh Samuel. Selain menjadi bandar obat-ob**an terlarang, penjualan ma nu sia, kasus pembunuhan, dan masih banyak hal-hal kecil jahat lainnya.


Berbeda dengan adiknya, Benjamin. Meski memiliki sebuah komunitas gengster, yang dilakukannya justru menghakimi orang-orang yang menyakiti kaum minoritas dan masyarakat kalangan bawah.


Kepalanya serasa mau pecah.


"Pa ... apa yang sedang kamu pikirkan? Siapa yang menghubungimu, baru saja?" tanya Mama Seila yang tiba-tiba telah berada disampingnya.


Kedua alisnya berkerut, curiga dengan suaminya.


"Aduh Sayangku ... jangan pernah berpikir jelek tentangku. Percayalah, hanya kamu satu-satunya wanita dihatiku," rayu Tuan Abimanyu dengan tersenyum manis.


Ditariknya tangan sang istri, didudukannya di pangkuan.


"Hmm ... kalau begini kan romantis sekali ya?!" godanya lagi.


"Dasar! Sudah tua masih saja hobinya ngegombal ya?!" tukas Mama Seila seraya menjewer kedua telinga suaminya.


Tuan Abimanyu meringis pura-pura kesakitan demi kebahagian sang belahan jiwa.


"Sayang, lepaskan tanganmu, nanti aku ceritakan siapa yang menghubungiku baru saja ...." pinta Tuan Abimanyu.


"OK. Sekarang ceritakan padaku!"


...********...


"Benjiii ....!"


Suara panggilan merdu memenuhi VIP Room bandara Juanda.


Lambaian tangan Benjamin pun naik keatas. Membalas panggilan si pemilik suara merdu tersebut.


Ketika pemilik suara tersebut telah mendekat dan mendudukkan dirinya disamping pria tampan tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih, Benjamin Abimanyu Negara!" sambil memeluk lengan kekar tersebut.


Raut wajah Benjamin mendadak merah merona.


"Kira ... semua orang memandang kearah kita," bisik Benjamin tepat ditelinga Shakira.


Seketika pelukan tersebut lepas lalu ciuman singkat pun mendarat di pipi kiri lelaki tampan tersebut.


"Astaga Shakira ... bukannya malu malah semakin menjadi," gumam Benjamin yang gemas melihat tingkah kekasihnya ini.


Shakira pun tertawa lebar menyaksikan raut wajah Benjamin yang berubah-ubah.


"Biar saja, biar semua orang khususnya para wanita yang tidak bisa memalingkan mukanya dari kekasihku tahu, bahwa pria tampan ini adalah milikku seorang," ucapnya dengan tatapan maut.


Benjamin pun tersenyum. Rupa-rupanya, kekasihnya ini sedang cemburu melihat wanita-wanita yang sedang duduk didepannya mencoba memberikan kode untuk digoda.


"Kemarilah Kira, peluk kembali lenganku," perintah Benjamin mesra namun tegas.


Shakira pun kembali melingkarkan tangannya sesuai perintah.


"Bagaimana, apakah dirimu senang saat ini?" tanya Benjamin sembari merapikan anak rambut yang jatuh di dahi Shakira.


"Ho oh, aku bahagia sekali. Sangat bahagia, Benji," jawabnya dengan girang.


Selagi mereka asyik tertawa berdua, tiba-tiba Maria dan Nola datang bersamaan dengan Dio.


"Loh, kalian juga akan ikut bersama kami?!" tunjuk Shakira kepada tiga sekawan itu.


"Iya, Nona Muda ..." jawab mereka serempak.


Waduh, kayak anak pramuka saja nih. Shakira.


"Wah ... tidak kusangka! Aku semakin bahagia kalau begitu, Benji. Kita berlima, seperti sedang berpetualangan ke negeri orang!" cengir Shakira dengan rona bahagianya.


Benjamin dan yang lainnya hanya tersenyum simpul dan malu. Melihat tingkah norak bin ajaib Shakira.


"Baiklah, Tuan Muda serta Nona, pesawat kita akan segera berangkat," info Maria seraya mengarahkan semuanya menuju terminal keberangkatan.


Mereka pun berlima berjalan menuju pesawat.


Pesawat yang akan membawa mereka menuju Belanda. Untuk bertemu dengan Tuan Abimanyu serta Mama Seila.


Entah bagaimana bisa, pagi ini ketika tiba di ruang kerjanya bersama Nola, Shakira mendapat kejutan dari Benjamin. Tiket menuju Belanda lalu ke Korea Selatan telah tersedia di meja kerjanya berikut lengkap dengan paspor dan surat cuti yang telah ditanda tangani langsung oleh Pres. Direktur, yaitu Benjamin.


"Terima kasih kejutannya, Benji. Aku bahagia bisa bertemu mereka kembali dengan keadaan selamat," bisik Shakira di telinga kekasihnya ketika pesawat telah mengudara.


"Dan jangan lupa, setelah dari Belanda, kita akan menengok ibumu, Kira ...."


...********...


Bersambung ya manteman sayang😍


Author jadi ngiri huhuhu😅

__ADS_1


terima kasih juga atas kebersamaan kita hingga dibab ini yah. Mohon dukungannya selalu. Terima kasihh semua ♥️♥️♥️♥️


__ADS_2