Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 37. Apa maumu?!


__ADS_3

...Selamat membaca ya......


...Terima kasih atas dukungan, kritik dan saran yang membangun kaka² semua. ...


...lope lope lope untuk kalian...


...********* *********...


Sebuah mobil melaju dijalanan dengan lalu lintas yang cukup padat. Sopir Tuan Muda Benjamin, dengan lihainya berusaha mencari celah diantara kemacetan. Berusaha mencari jalur tercepat.


Terlihat raut wajah Tuan Mudanya yang saat ini seperti hendak memakan orang, Maria yang berada di kursi depan sebelah sopir memberikan kode kepada sang sopir agar lebih cepat membawa mereka tiba ditujuan dikarenakan mereka sudah sangat terlambat dari waktu yang telah dijanjikan.


Shakira yang merasakan aura dingin didalam mobil, tidak berani bersuara. Karena menyadari dirinyalah yang menyebabkan keterlambatan serta aura dingin yang menguar dari atasan tercintanya si Tuan Muda Benjamin yang menyebalkan.


"Huh..sial, maunya apa sih? Pake main cium segala. Pacar bukan, suami bukan sekarang orang didiemin," bisik Shakira pada dirinya sendiri sambil meraba pipi sebelah kanannya.


Meskipun saat ini posisi mereka bersebelahan, tetap saja mereka saling membuang muka. Tidak ada yang berani menatap satu dengan yang lainnya.


"Kalau tahu bakal seperti ini, aku lebih baik jalan dengan Nola," gumam Shakira dengan pandangan terus menatap keluar jendela.


Benjamin mendengar ocehan dari bibir wanita yang duduk disampingnya tetapi hanya tersenyum tipis, tidak ada niat ingin merespon seperti biasa. Sengaja menghukum Shakira dengan mendiamkannya.


Hingga akhirnya sampailah mereka di tempat tujuan, yaitu gedung besar yang didominasi dengan warna merah dan abu-abu. Tempat yang pernah mengukir kisah pedih untuk seorang Shakira Putri Prajogo.


"Apa benar kita harus datang kemari, Benji?," terlihat Shakira gelisah seperti tidak ingin turun dari mobil.


Maria yang telah menunggu Tuan Mudanya dan Shakira di lobby PT. Telmonde, berusaha memberikan alasan mengapa mereka terlambat datang dari jadwal yang dijanjikan.


"Apa alasanmu sehingga kita harus berpindah tempat untuk rapat hari ini?," dengus Benjamin dengan dingin, masih didalam mobil.


Shakira hanya diam tidak mampu menjawab. Sekelebat kenangan buruk teringat olehnya. Bagaimana menahan rasa malu, diusir pada hari pertama saat seharusnya dia mulai bekerja ditempat itu..


Melihat Shakira hanya diam membisu dengan raut wajah takut, Benjamin pun berkata. "Apa yang kamu takutkan Kira, seharusnya kamu bangga bisa mewakili TSC. Tegakkan kepalamu, kamu kira aku tidak tahu apa yang telah terjadi padamu saat itu?"


Seketika raut wajah Shakira pun tampak terkejut.

__ADS_1


"Ya aku mengetahui kejadian itu. Ya aku cukup tahu hampir semua hal," Benjamin menjawab pertanyaan yang tersirat dari wajah wanita yang saat ini sedang gelisah menatapnya.


"Termasuk warna dalamanku pun kamu tahu?"


Muka Benjamin pun merah merona. Membayangkan kejadian tadi pagi, bukit sintal yang menantang, leher jenjang yang memanggilnya....


"Benji...kamu dengar pertanyaanku, kan?" tanya Shakira sembari mengibaskan tangannya kemuka pria yang sedang melamun.


Mendengar suara memanggil namanya, Benjamin kembali ke alam sadar. Sambil menggelengkan kepala seakan-akan ingin mengusir bayangan yang sedang membangunkan gairah yang datang tanpa diundang.


"Ayolah, kita turun. Malu dengan CEO Ramli, Kira. Bukankah kamu seharusnya bersikap agak sombong didepan temanmu si pengkhianat?" sarkas Benjamin lalu membuka pintu dan turun diikuti oleh Shakira, akhirnya...


Hmm..benar kata Benji, buat apa aku takut, seharusnya aku melibas Juliana. Shakira.


****


Pertemuan rapat kali ini membahas kemajuan proyek yang sedang dikerjakan oleh TSC tim.


Tampak CEO Ramli beserta tim lengkap ikut hadir mengikutinya. Benjamin memberikan semangat kepada Shakira selaku pemimpin proyek besar kali ini. Jonathan selaku perwakilan dari PT. Telmonde, membuka rapat dan mempersilahkan Shakira untuk mempresentasikan kemajuan proyek yang sedang dijalankan, dibantu oleh Wina yang telah lebih dahulu datang membawa semua berkas dan data-data.


Jonathan yang mendengar ejekan Juliana berusaha memberi kode untuk diam.


"Ah kamu, sok banget. Mentang-mentang dapat bonus gede," Juliana semakin gusar melihat teman kerjanya menegur dirinya.


Shakira bersikap tidak peduli. Dia terus menerangkan rangkuman pekerjaan dan angka-angka tanpa sedikitpun terganggu oleh ucapan Juliana.


Hingga pada saat break time, Benjamin sedang berdiskusi dengan CEO Ramli ditempat yang agak jauh dari ruang rapat. Shakira dan Wina beserta Jonathan hendak mengambil jajanan dan kopi hitam.


Sambil berbincang-bincang dengan santai, dirinya tidak melihat seseorang sedang berjalan kearahnya dan tiba-tiba.."Byurrrr....uppsss sorry..aku enggak bermaksud," ucap Juliana memasang tampang sok tidak berdosa.


"Jullll..kamu sengaja yah?!" tuduh Shakira merasa panas tubuh bagian depan, lebih tepatnya di bagian dada terkena tumpahan kopi panas.


"Ishh...pasti sengaja Mbak Kira, kan jalannya lebar dan luas kok bisa-bisanya numpahin kopi ke baju orang," Wina pun ikut merasakan emosi.


Jonathan yang berada di situ merasa tidak enak melihat kelakuan teman satu kantornya. "Ikut aku, sekarang juga!"

__ADS_1


"Heh apa urusanmu?! Terserah aku dong mau ada dimana aja," tukas Juliana sewot sambil memandang Shakira dengan puas.


"Dasar manusia serakah..enggak level kalau aku harus membalas perbuatanmu padaku. Aku enggak mau tanganku kotor hanya karena kamu. Tapi inget ya Juliana mantan sahabatku tersayang, karma sedang berjalan menghampirimu..!" umpat Shakira kemudian berlalu menuju toilet mencoba menyelamatkan bajunya yang terkena tumpahan kopi panas.


Di toilet wanita, Shakira sibuk membersihkan noda bekas tumpahan kopi. Huh sial, padahal ini baju kesayanganku, Win..".


"Sabar ya Mbak Kira..orang jahat punya porsinya tersendiri..meski Wina enggak tahu ada masalah apa antara Mbak Kira dan orang Telmonde itu, feeling Wina, Mbak Kira pasti korbannya mengingat sifat Mbak sebagai atasan baik banget," Wina menyahuti perkataannya.


"Thank you, Win..you are the best," sahut Shakira menepuk bahu Wina.


Terdengar pintu toilet terbuka, Maria masuk membawa totebag dan menyerahkan pada Shakira. "Nona Shakira, gantilah pakaian anda, ini dari Tuan Muda."


"Terima kasih, Maria. Sayang sekali blouse ku sepertinya harus pensiun kali ini," dengan cepat Shakira mengganti pakaian dan menyimpan blousenya yang lama di totebag.


Jika telah selesai, Anda telah dinanti oleh semua peserta rapat, Nona," info Maria kepada Shakira lalu kembali ke ruangan rapat.


"Ayolah kita kembali, sepertinya sudah mulai tanpa kita," ucap Shakira pada Wina.


Ketika mereka hampir mencapai pintu ruang rapat, tiba-tiba dihentikan oleh Juliana.


"Berhenti!" perintah Juliana.


"Haisss apalah masalah mu? Aku dan Wina sudah ditunggu oleh banyak orang," sahut Shakira dengan ketus.


Juliana mencekal tangan Shakira lalu berbisik, "Aku dengar kamu menjual keperawananmu kepada Tuan Muda Benjamin. Makanya kamu bisa tinggal diapartemen mewah, punya mobil dan pengawal. Dasar munafik, sok polos. Ternyata wanita ja*ang..."


Wajah Shakira memucat seketika dan plakkk!!!! "Satu tamparan untuk mulut kotormu. Jangan pernah berani berkata seperti itu lagi kepadaku, karena bukan hanya tamparan yang akan melayang tetapi kamu akan menyesal telah mengenalku!" desis Shakira mendorong mundur Juliana hingga menabrak dinding pembatas ruangan rapat.


Wina hanya bisa menahan nafas melihat keganasan atasannya.


"Wina!! Tunggu apa lagi? Ayo cepat!!" Shakira setengah berteriak memanggil bawahannya. Wina pun bergegas mengikutinya.


Juliana tidak menyangka Shakira akan menamparnya. Seperti bukan sosok yang dikenalnya dulu. Dasar munafik, sok suci, lihat pembalasanku, beraninya menamparku. Juliana.


Bersambung.....❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2