
Tampak sebuah rumah apung berwarna coklat dari jauh. Shakira sangat terkesan dengan keluarga Benjamin. Jauh dari kata hidup mewah. Rumah apung keluarga Abimanyu Negara, membuatnya teringat akan rumahnya dahulu. Hanya ada kedua orang tua dan dirinya. Serta pengasuh dan sopir. Juga jauh dari dari kesan mewah, hidup bergelimang harta.
"Aku ingin keluargaku kembali utuh seperti dulu, Benji. Hanya itu yang aku inginkan sekarang."
Benjamin mengusap lengan kekasihnya dengan sayang.
"Sabarlah, sebentar lagi semua akan kembali seperti dahulu kala."
Shakira hanya mengganggukkan kepalanya dan tersenyum simpul, menanggapi perkataan Benjamin.
Tak berapa lama, mobil yang ditumpangi oleh kelimanya, tiba didepan kediaman Abimanyu Negara.
Tampak para pengawal yang di perintahkan oleh Black Klan keluar dari rumah dan memberikan salam kepada tuannya.
"Apakah semua aman?" tanya Benjamin kepada salah satu pengawal.
"Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda yang mencurigakan, Bos," jawabnya.
"OK, berikan semua laporannya kepada Dio dan Maria. Kalian semua boleh kembali ketempat masing-masing."
"Baik, Bos!" jawab mereka berlima serempak.
Shakira pun telah menggendong sebuah tanaman mungil yang khusus akan diberikan untuk Mama Seila. Ibu kekasihnya.
"Apakah Mama Seila telah tidur?" tanya Shakira melihat kondisi rumah yang tampak sepi dan lampu-lampu yang setengah redup.
"Sepertinya. Ayo, kuantarkan masuk kedalam. Diluar udara mulai dingin, takutnya kamu akan sakit karenanya," sahut Benjamin seraya membuka pintu ruang tamu, mempersilahkan Shakira memasuki rumah kedua orang tuanya.
Maria, Nola serta Dio, telah berada di rumah sebelah tempat para pengawal berada selama ini.
Ketika Shakira serta Benjamin memasuki ruang keluarga, terdengar suara orang sedang berbincang dengan hangat.
Nampaknya, saat ini Mama Seila serta Tuan Abimanyu sedang berada di rooftop, menikmati suasana malam yang dingin menggigit.
"Selamat malam, Tuan Abimanyu serta Mama Seila ...." ucap Shakira mengejutkan kedua orang tua kekasihnya dari belakang kursi malas mereka.
Sontak keduanya pun terlonjak dari duduk manisnya.
"Ahhh ... Kira! Bagaimana bisa kalian ada disini?!" Mama Seila yang masih kaget dengan kedatangan Shakira bergegas berdiri dari duduknya dan menghampiri anak gadis teman mereka.
"Aku rindu, Mama Seila ...." sahut Shakira serta merta memeluk tubuh wanita cantik setengah baya tersebut.
"Mama juga rindu dengan kalian berdua," jawabnya sambil menepuk punggung Shakira dengan halus.
"Mama lupa sama anak sendiri?!" tegur Benjamin yang sedari tadi hanya diam di samping Shakira.
Tuan Abimanyu tertawa mendengar perkataan anaknya.
"Sini Benji, peluklah papamu ini."
Shakira dan Mama Seila tertawa melihat raut wajah Benjamin yang sedih akibat di lupakan oleh Mama Seila.
Benjamin pun bergegas memeluk papanya dengan erat, sedikit tepukan dipunggung untuk Benjamin.
"Mama sudah tidak sayang lagi padaku, Pa!"
Mama Seila dan Shakira pun saling melepas pelukan. Lalu Mama Seila berjalan menghampiri kedua lelaki yang sangat dicintainya.
"Sampai kapan pun, sayang seorang Mama Seila tidak akan berkurang sedikitpun, melainkan akan terus bertambah, Benji sayang ...." ucapnya sembari memeluk keduanya dengan sayang.
__ADS_1
Tanaman yang dibawa oleh Shakira membuat hati Mama Seila semakin berbunga-bunga.
"Terima kasih, Kira. Tidak Mama sangka kamu meniru mamamu yang juga menyenangi tumbuhan," ujar Mama Seila sembari mengingat temannya yang saat ini sedang masa pemulihan di negeri Ginseng, Korea Selatan.
"Ah Mama Seila bisa saja," jawab Shakira dengan rendah hati.
"Wah indah sekali pemandangannya dari sini," puji Shakira ketika melihat sekelilinginya.
Semuanya sungguh sempurna bagi seorang wanita yang selama masa hidupnya jarang diajak bertamasya oleh kedua orang tua yang memang sengaja berbuat demikian demi melindungi anak semata wayang.
Benjamin mendekati Shakira seraya memeluknya dari belakang.
Saat ini Shakira tengah memandang jauh melihat lampu-lampu yang menyala dikejauhan.
"Indah sekali Benji, romantis banget kedu orang tuamu."
Sudut bibir Benjamin membentuk sebuah senyuman. Semakin erat memeluk tubuh wanita kesayangannya.
"Ehm ... masih ada kami berdua loh disini."
Tuan Abimanyu beserta Mama Seila berjalan mendekati mereka berdua yang tengah asyik dalam dunianya sendiri.
"Kira, apakah kamu yakin dengan pria pilihanmu ini?"
Shakira mendengar pertanyaan Tuan Abimanyu yang dilemparkan kepadanya.
Aku harus menjawabnya dengan hati-hati. Karena kalau tidak bisa marah pria tampanku. Shakira.
"Rupanya Tuan dan Mama Seila telah mengetahui hubungan kami?"
Mama Seila tertawa geli.
"Bagaimana tidak, kalau kalian selalu seperti amplop dan perangkonya? Bahkan, didepan kami pun kalian tidak malu memamerkan kemesraan kalian."
"Mamaku, apakah saat ini Mama sedang cemburu dengan Kira?" goda Benjamin seraya mengerlingkan matanya.
Lalu memeluk ibunya dengan erat serta mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanannya.
Tuan Abimanyu tersenyum melihat sosok anak lelakinya yang sedikit tidaknya telah berubah.
"Kamu tahu tidak, Kira? Anak kami ini, sebelum bertemu denganmu sifatnya sangat jauh berbeda dari sekarang."
Shakira pun menanggapinya dengan senyuman manis.
"Iya aku tahu Tuan Abimanyu. Dia adalah sosok atasan yang sangat dingin dan ekspresi wajahnya sungguh datar. Dulu sempat kukira dia adalah orang yang tidak bisa tertawa ...."
"Tapi, kamu menyukainya bukan?" sahut Benjamin dengan tergelak.
Shakira dibuatnya malu oleh perkataannya sendiri.
"Ah ... senangnya melihat kita bisa berkumpul seperti ini," timpal Mama Seila yang sangat jelas terlihat bahagia.
"Ayolah, kita turun kebawah. Malam semakin dingin. Papa takut Kira akan terkena sakit," ajak Tuan Abimanyu seraya menggandeng istrinya menuruni tangga menuju ruang keluarga diikuti oleh Shakira dan Benjamin.
...****************...
Pagi hari di rumah apung, kediaman Abimanyu Negara.
Shakira telah terbangun dari tidur nyenyaknya sedari tadi. Sayup-sayup, telinganya mendengar kicauan burung diluar sana, lalu bergegas bangun dan membersihkan diri.
__ADS_1
Hoodie serta celana kain digunakannya, karena cuaca yang tidak mendukung saat ini.
"Serasa mimpi bisa berada disini," ucap Shakira kepada dirinya sendiri, sembari mematut penampilannya didepan kaca.
...****************...
"Selamat pagi semua ...."
Sapaan pagi harinya Shakira membuat semua orang yang telah mengelilingi meja makan menjadi sumringah.
"Wah, begini yah rasanya punya anak perempuan," sahut Mama Seila dengan senyuman hangatnya.
"Sini Kira sayang, duduklah disebelah Benjamin," perintah Mama Seila.
Shakira pun bergegas mendekat dan mendudukkan dirinya tepat disebelah Benjamin.
Mereka berempat asyik berbincang-bincang. Bertukar cerita mengenai perusahaan di Indonesia dan apa yang akan dilakukan oleh Benjamin dan Shakira selama di Belanda.
"Sesungguhnya aku belum mengerti tujuan kita kesini, Benji."
Mereka saat ini hanya berdua saja, menikmati pemandangan danau.
"Lebih tepatnya, tujuan kita kesini sebenarnya untuk apa?"
Benjamin yang memang sengaja merahasiakan tujuan mereka, akhirnya mencoba menjelaskan keadaan Mama Seila yang saat ini butuh dukungan dari keluarga dan orang-orang yang disayanginya.
"Astaga, kasihan sekali Mama Seila," sahut Shakira setelah mendengar penjelasan dari Benjamin.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya Benji? Apakah kita akan lama diam disini menanti datangnya Samuel?"
"Sepertinya begitu. Karena aku tidak ingin meninggalkan kedua orang tuaku disaat Samuel datang untuk menyakiti mereka," jawab Benjamin dengan tegas.
Kedua mata Shakira membulat mendengar penuturan Benjamin yang saat ini tengah merenung.
Shakira berjalan mendekati kekasihnya yang saat ini sedang berdiri di pinggir deck.
"Apapun rencanamu, ikutkan aku kedalamnya. Aku pastikan, akan selalu membantu serta mendukung apapun keputusanmu. Karena, ini semua memang tidak mudah, Benji."
Benjamin memalingkan mukanya, berharap Shakira tidak melihat matanya yang sedang berkaca-kaca.
"Dia adalah kakakku, Kira. Aku sangat berharap tidak akan melukainya. Namun, ini semua bertentangan dengan prinsipku."
Shakira menepuk pundak Benjamin pelan.
"Aku mungkin tidak akan bisa mengerti perasaanmu karena aku anak tunggal. Tapi, aku bisa ikut merasakan betapa gundahnya dirimu, menghadapi kakak sendiri yang telah berbuat banyak kejahatan."
Benjamin menarik nafas panjang.
"Aku harus menyerahkannya kepada kepolisian. Saat ini, Samuel adalah buronan internasional."
Semakin terkejut Shakira dibuatnya.
Hening sesaat, Shakira maupun Benjamin tidak ada yang bersuara satupun.
Mereka asyik dengan pemikiran masing-masing.
Kemudian rasa ingin tahu Shakira pun muncul.
"Benji sayang, lalu apa yang akan kamu lakukan kepadanya jika bertemu?"
__ADS_1
"Entahlah, Kira. Tapi, satu yang pasti, sampai kapan pun dia adalah bagian dari keluargaku."
...----------------...