Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 65. SAN Group


__ADS_3

Bab sebelumnya,


Three Siblings Corp. kedatangan SAN Group, calon relasi bisnis mereka yang ternyata adalah musuh mereka selama ini.


...********...


Tiba-tiba, Shakira terpekik seraya menutup kedua mulutnya.


Benjamin bingung melihat Shakira yang terkejut serta raut mukanya yang pucat pasi karena takut.


"Shakira, ada apa?!" bisik Benjamin yang duduk tidak jauh darinya.


Belum sempat Shakira menjawab, terdengar sapaan halus dari pria tersebut yang sedang membuka fedora-nya. Bagi Shakira, terlihat jelas siapa pria tersebut.


"Apa kabar, Benjamin dan Nona Shakira ....?"


Deg ... deg ....


"Samuel ...." ucap Shakira dan Benjamin secara bersamaan.


...********...



Ruang rapat Three Siblings Corp.


"Beliau adalah pemilik tunggal dari SAN Group. Seperti yang sudah kami serahkan proposal kerja samanya, SAN Group berkantor pusat di Amerika Serikat," ucap Zacky Liung, asisten Samuel dengan senyum liciknya.


"Setelah kalian tahu siapa pemilik SAN Group, kami berharap kalian tidak akan menolaknya, bukan?" tambah Zacky seakan memprovokasi keadaan.


Maria yang melihat situasi mulai tidak kondusif, segera menengahi jalannya rapat kali ini.


"Maafkan saya jika menyela intro anda Tuan Liung. Disini, kami belum akan membahas setuju atau tidaknya mengenai proposal tersebut. Tujuan kami mengundang representasi SAN Group adalah untuk saling mengenal. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai profil perusahaan kami dan juga profil perusahaan anda. Karena, untuk diketahui, ini kali pertama sebuah perusahaan yang belum kami ketahui track record-nya mengajukan proposal kerjasama dengan Three Siblings Corp."


Melihat raut wajah Samuel serta asistennya yang mulai tidak nyaman, Maria pun meminta ijin kepada tuan mudanya untuk menghentikan sementara jalannya rapat besar ini diganti dengan rapat khusus yang hanya berisikan Benjamin serta Maria, sang asisten dan Samuel serta Zacky Liung, sang asisten juga.


Benjamin pun memberikan persetujuannya, maka beberapa kepala departemen yang mengikuti jalannya rapat tersebut, satu persatu keluar dari ruangan dengan berbagai macam tanda tanya besar di benak mereka. Tidak satupun dari mereka berani berbisik-bisik. Aura Benjamin terasa horor bagi mereka.


Ditambah kedatangan tuan besar pemilik perusahaan baru, yang terlihat mirip dengan atasan mereka namun dengan sisi wajah menyeramkan. Bagi mereka, lebih baik secepatnya keluar dari ruangan rapat.


"Stop, Nona! Saya mau Nona Shakira Putri Prajogo, tetap berada diruangan ini. Jika tidak ...." ucap Samuel tiba-tiba bersuara ketika melihat wanita yang diincarnya akan keluar dari ruang rapat.


"Jika tidak ... apa yang akan Anda lakukan?!" tukas Benjamin dengan sengit. Dadanya terlihat naik turun, mencoba menahan emosi.


Maria bergegas mengirimkan pesan kepada Nola serta Dio mengenai keadaan di kantor. Bahwa mereka kedatangan orang nomor satu yang di tunggu selama ini.


Samuel memandang sinis adik semata wayangnya, dengan senyum yang menyeramkan.


"Seperti yang kamu tahu bukan, aku sanggup melakukan apapun dan dimanapun ...."


"Hah ... sialan!" maki Shakira pelan namun tetap saja terdengar oleh Benjamin dan Samuel tentunya. Lalu memutar balik langkahnya yang saat ini sudah berada didekat pintu keluar.


"Tenang saja Tuan Samuel, saya akan tetap berada disini dengan syarat yang harus kalian tepati," ucap Shakira dengan tegas namun penuh kehati-hatian, memandang tajam kearah Samuel.


"Hahaha ...." tawa Samuel menggema didalam ruangan, lalu tak lama diam seketika.


"Kira ...." Benjamin menggelengkan kepalanya agar Shakira tidak salah langkah.


Shakira tersenyum dan berjalan mendekati kursi yang diduduki oleh Benjamin.


"Tenanglah, aku tidak akan macam-macam," jawab Shakira menenangkan prianya seraya menepuk tangan Benjamin.

__ADS_1


"Apa syaratmu, katakanlah anak dari mendiang Tuan Prajogo ..." sahut Samuel dengan tersenyum licik.


Mendengar perkataan Samuel baru saja membuat hati Shakira merasa lega.


Syukurlah. Berarti sampai saat ini kalian belum mengetahui keberadaan kedua orang tuaku. Shakira.


"Syaratnya adalah, jangan memancing kami dengan berbuat anarkis di tempat ini. Selesaikan yang harus kalian lakukan semestinya. Bukankah kalian sedang mengajukan proposal kerja sama?" ujar Shakira dengan tenang. Tidak ada raut ketakutan melihat orang yang telah menculiknya. Dirinya memang bermaksud untuk mencegah Samuel dan Benjamin saling menyerang satu sama lain, mengingat ini adalah tempat kerja dan perusahaan terkemuka. Dan, supaya tuan muda mereka tidak menjadi bahan gunjingan karyawan serta awak media jika terdengar oleh mereka.


Benjamin yang saat ini sedang melirik Shakira dari sudut ekor matanya, merasa bangga dan salut melihat keberanian wanita yang sedang berdiri disampingnya sedang bernegosiasi dengan musuh.


Tampak Samuel berpikir sejenak. Lalu berkata dengan tenang. "Apakah kamu pikir aku akan berbuat tidak sopan ditempat ini, anak kecil?!"


Tiba-tiba Benjamin berdiri dari duduknya. Terprovokasi oleh kata-kata Samuel yang sepertinya memang sengaja memancing di air keruh.


Saat ini Shakira merasakan aura Benjamin semakin gelap. Tubuh tinggi menjulang itu seakan-akan hendak membalikkan meja.


"Apa yang kamu inginkan sesungguhnya?! Katakanlah apa maumu," tukas Benjamin dengan dingin.


Shakira dan Maria melihat situasi semakin memanas. Keduanya saling berpandang-pandangan.


"Hah! Apa yang kuinginkan? Hmm ... apa yang kuinginkan dari mu, adik kecilku?!" jawab Samuel pelan namun dingin dan penuh dendam.


Nola dan Dio telah berada dibalik pintu ruang rapat. Mereka juga sudah siap siaga. Saling menatap tajam dan mencoba menilai lawan mereka yaitu para pengawal Samuel.


"Jika Anda, sudah tidak memiliki kepentingan lagi disini, mohon silahkan meningglkan tempat ini, Tuan Samuel," timpal Maria mencoba mendinginkan suasana dengan mengusir secara halus.


Samuel yang masih saja duduk dengan tenang dikursinya, tertawa terbahak-bahak.


"Oh ... sungguh sopan sekali semua karyawan di tempat ini."


Zacky, sang asisten Samuel ikut menengahi. "Tenang saja Maria, kami masih berminat untuk mengajukan proposal kerja sama dengan perusahaan kalian."


"Kalau memang begitu, mohon kerja samanya, jangan memprovokasi kami dengan keadaan yang sudah ada. Tolong bersikap profesional, karena jika tidak, tim keamanan kami akan segera mengeluarkan kalian dari gedung ini!" tegur Maria dengan sangat tegas dan tak terbantahkan.


"Baiklah, Nona Maria ... mari kita lanjutkan tujuan awal kedatangan kami siang ini," sahut Zacky dengan tenang.


Rapat yang semestinya dapat berjalan dengan lancar penuh dengan ketegangan. Entah apa yang direncanakan oleh Samuel saat ini. Hanya dirinyalah yang mengetahui.


Proposal yang diajukan oleh SAN Group, saat ini sedang dipelajari oleh Benjamin dan Maria.


Samuel seakan memaksakan kehendaknya, agar Three Siblings Corp. ikut menanamkan sahamnya pada proyek pembangunan hotel berbintang lima dikawasan eksklusif di pulau Dewata.


"Hmm ... apakah seorang gembong Nark^oba kehabisan dana dan modal sehingga memaksa kami, yang notabene adalah perusahaan dibidang teknologi ikut menanamkan saham pada proyek kalian?!" sindir Benjamin tanpa tedeng aling-aling.


Brakk!! Terdengar suara meja dipukul dengan keras, membuat Shakira terlonjak dari tempat duduknya.


Samuel yang merasa diserang oleh adiknya, terpancing.


Sambil menunjukkan jarinya kearah Benjamin yang duduk diseberangnya. "Apa yang kamu tahu tentang aku?! Gembong Nark^oba hah, katamu?!"


Seketika, Samuel mengeluarkan pistolnya dari dalam saku jasnya lalu menodongkannya tepat ke arah Benjamin. Terdengar pelatuk senjata di tekan.


Klik ...


"Ti-tidak ...ja-jangan, Tuan Samuel!" teriak Shakira bergegas lari dari duduknya dan berdiri tegak didepan Benjamin serta merentangkan kedua tangannya. Seakan-akan ingin melindungi pria yang dicintainya tersebut. Keringat dingin mengucur disekujur tubuhnya. Mencoba bersikap tenang, walau sesungguhnya takut.


Benjamin menarik tubuh Shakira kebelakang punggungnya dengan cepat.


"Akulah yang kamu inginkan. Cepat katakan, apa alasanmu sesungguhnya dibalik kerja sama ini?!" kata Benjamin dengan tegas.


Samuel masih menodongkan pistolnya dengan posisi terkokang. Maria merasa was was.

__ADS_1


Terdengar suara ribut-ribut diluar ruang rapat, orang sedang baku hantam diluar sana.


Ya siapa lagi yang baku hantam jika bukan Dio, Nola dan dua pengawal berseragam hitam milik Samuel.


"Mari kita lihat, siapa pemenang duel diluar itu ..." ujar Samuel dengan tenang.


"Tolong turunkan senjata anda, Tuan Samuel," ucap Maria yang tiba-tiba juga menodongkan senjatanya kearah Zacky Liung.


Suasana semakin mencekam. Shakira memegang jas Benjamin dengan eratnya.


Duh ... kenapa harus terus bertemu dengan pistol-pistolan sih! Maria ternyata selalu bawa pistol kemana-mana. Shakira.


Sedangkan di sisi Benjamin, tidak ada raut ketakutan terpancar dari wajahnya sedikitpun. Walaupun saat ini merasakan kebimbangan dan ragu, karena musuh yang dilawannya kali ini adalah kakaknya yang hilang semasa kecil. Dan kini hendak membalaskan sakit hatinya.


Bingung, bimbang dan ragu ... inilah yang dirasakan seorang Benjamin Negara.


...********...


Saling todong menodong pun masih berlanjut. Hingga suara ribut diluar sudah tidak terdengar lagi. Pintu ruang rapat terbuka dari luar. Nampak Dio dan Nola yang penuh lebam, menggeret dua orang pengawal Samuel yang juga penuh luka lebam dikeduanya.


Shakira yang melihat hal itu serasa ingin berteriak bahagia dan bertepuk tangan. Namun, menahannya mengingat keadaan masih belum aman.


"Bos ... berikan perintah," ucap Dio yang sedang memegang samurai ditangan kanannya, dan ekspresi wajah yang terlihat lain saat ini. Seakan-akan hendak memakan orang.


Benjamin masih diam tidak merespon. Lain halnya dengan Samuel.


Melihat keadaan tidak menguntungkan baginya, Samuel pun berkata.


"Ckck ... memang benar apa yang dikata orang. Adikku memiliki pasukan gangster yang menakutkan dan tidak terkalahkan, kata orang ..."


Masih dengan menodongkan senjata, Samuel berjalan pelan seraya berkata.


"Huft ... tidak kusangka, aku harus mengalah sementara saat ini," dengus Samuel penuh amarah.


Dor ... dor ... kedua pengawal yang telah dikalahkan oleh Dio dan Nola seketika tersungkur penuh darah yang mengucur dari kepalanya. Kedua pengawal tersebut menjadi pelampiasan amarah Samuel.


"Aaaahhhh ...." Shakira berteriak kencang penuh ketakutakan.


Benjamin membalikkan tubuhnya dan memeluk erat Shakira serta berkata. " Jangan dilihat. Jangan dilihat, Kira. Tutup matamu."


Samuel bergegas berjalan menuju pintu hendak keluar ruangan. Diikuti oleh Zacky Liung, asistennya.


Dio, Nola dan Maria bergegas melindungi Benjamin dan Shakira.


"Dengar adikku, bisnis kita belum selesai. Aku akan mengunjungimu lagi, dalam waktu dekat ini," ucap Samuel lalu berjalan pergi tanpa menoleh kembali.


"Bos ... berikan kami perintah untuk menghabisi mereka," pinta Dio dengan penuh emosi.


"Jangan Benji ... aku mohon. Dia adalah kakakmu, saudaramu satu-satunya. Aku mohon ...." ucap Shakira dengan memohon.


Terdengar hembusan nafas panjang dan kasar dari bibir Benjamin.


Benjamin memandang kearah Shakira dengan penuh kebimbangan.


"Apa yang harus aku lakukan, menurutmu? Membiarkannya begitu saja menghancurkan kita semua atau justru membunuhnya atas semua hal yang telah dia lakukan?!"


Shakira terdiam tidak sanggup menjawab ...


...********...


bersambung, next chapter yah

__ADS_1


makasih banyak atas dukungannya selalu kaka² reader tersayang 🥰🥰 dukung selalu Shakira and Benjamin yah dengan like and komen yang membangun 😊😊😊😋


__ADS_2