Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 30. Abu-abu


__ADS_3

Markas BK.


Jam yang tergantung di tembok menunjukkan pukul 11 malam. Tidak diduga, Shakira akan melewatkan malam panjang seperti kisah-kisah di film action yang ditontonnya.


Matanya sekilas melirik, tangan Benjamin tidak sekalipun melepaskannya. Genggaman tangan yang erat, bahkan sangat terasa nyaman di telapak tangannya, hangat dan membuat dirinya terasa aman.


Matanya memandang berkeliling, bangunan kosong dan kumuh yang terlihat dari luar ternyata didalamnya sangat diluar dugaan. Terbelalak melihat apa yang ada didalam gudang tak terpakai.



Banyaknya ruangan tersekat-sekat dengan berbagai macam fungsi. Ada MoGe berbaris rapi terhitung ada 50 MoGe dengan berbagai CC dan jenis. Beberapa mobil sport yang hanya bisa didapatkan dengan cara import, mendatangkan dari luar. Beberapa mobil jeep berwarna gelap. Bahkan, dirinya melihat satu ruangan berisi berbagai macam alat elektronik. Perangkat komputer dengan teknologi canggih, dan layar kamera pengintai atau biasa disebut CCTV


Wow...tempat apa ini sesungguhnya. Shakira.


Benjamin menarik tangan Shakira menuju suatu ruangan yang terletak dibagian paling dalam dan tersembunyi.


"Masuklah", perintah Benjamin padanya.


Shakira pun menurutinya. Matanya membelalak melihat isi ruangan tersebut. Benar-benar diluar dugaan. Seperti ruangan santai pada umumnya meski ditambah beberapa peralatan elektronik canggih. Benar-benar canggih semua yang ada didalam gedung ini. Shakira


"Bagaimana, apakah kamu sudah selesai ber wow ria?", tanya Benjamin mengagetkan.


"Ini semua tentang apa Benjamin?" Shakira berbalik bertanya, sembari menatap tajam kearah Benjamin.


Hening sejenak.


"Ayo duduklah..mau minum apa?"


"Saat ini, kurasa hanya penjelasan saja yang aku inginkan darimu", jawab Shakira pendek, duduk di sofa dengan tangan terlipat didada.


Benjamin menyerahkan sebotol air mineral kepada Shakira, lalu ikut duduk disampingnya.


"Banyak yang ingin kujelaskan padamu, tapi tolong jangan potong perkataanku".


Shakira hanya mengganggukkan kepala tanda setuju.


"Aku akan memulai penjelasan mengenai dirimu terlebih dahulu".


Hening kembali diantara mereka berdua.


Benjamin akhirnya bersuara, "Pernahkah kamu berpikir tentang kematian kedua orangtua mu itu? Bagaimana kronologisnya sehingga hal tersebut terjadi?"


Shakira mengerutkan kedua alis matanya hingga menyatu, mencoba mencerna perkataan lelaki disampingnya ini.


"Apa maksud dari perkataanmu baru saja?"


"Sudah kubilang jangan bertanya balik sebelum aku selesai menjelaskan. Jawab saja ya atau tidak", sahut Benjamin menatap tajam pada Shakira.

__ADS_1


"Tidak. Tetapi bukankah..".


Benjamin memotong perkataan Shakira. sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada yang sedang berusaha menyakitimu. Dan bukan hanya 1 orang melainkan ada beberapa".


Pernyataan Benjamin membuat Shakira mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apakah semua itu benar? Kamu tidak berbohong padaku??"


Benjamin menggelengkan kepalanya.


"Ya Tuhan..lalu kecelakaan yang membuat papa dan mama..", seketika airmatanya menetes mengingat cara kepergian mereka yang tragis.


"Siapa mereka, Benji? Kenapa mereka menginginkan keduanya meninggal?", Dengan suara tercekat tidak mampu berkata lebih banyak lagi, Shakira menutupi wajah dengan kedua tangan lalu menangis pilu.


Siapa pun yang mendengar tangisannya akan ikut merasakan kepedihan yang mendalam.


"Menangislah sepuasmu. Aku yakin kamu membutuhkannya", ucap Benjamin dengan penuh kelembutan. Tangan kirinya menepuk lalu membelai punggung wanita yang sedang berusaha mengeluarkan segala beban dihatinya.


Dirinya tahu,menurut informasi yang didapatkan melalui Maria, pada saat pemakaman Tuan Prajogo beserta istri, tidak ada yang mendampingi Shakira, hanya ada paman dan bibi serta asisten Tuan Prajogo. Bahkan, Shakira, anak semata wayangnya saja tidak dapat melihat jenasah kedua orang tuanya.


Saat itu, pemakaman dilaksanakan secara tertutup. Kakek dan nenek dari Prajogo pun sudah wafat. Keturunan mereka hanyalah ayah Shakira dan adik lelakinya, paman dari Shakira sendiri. Dan yang mengurus semuanya adalah adik dari Tuan Prajogo sendiri.


"Kemana paman dan bibimu?" tanya Benjamin setelah tangisan Shakira mereda.


Shakira yang merasa bingung dengan semua yang dikatakan lelaki disampingnya hanya sanggup menggelengkan kepala dan berkata, "Tidakkk aku tidak tahu kemana mereka semua pergi, bahkan orang yang menemaniku dari kecil pun pergi meninggalkanku semua setelah pihak bank datang menyatakan bahwa orang tua ku dalam keadaan pailit, jadi semua harta benda termasuk perusahaan, rumah dan simpanan uang di rekening mereka pun disita oleh pihak bank, dan aku enggak bisa berbuat apa karena ada surat yang menyatakan semua diambil alih oleh pihak kurator bank", jelas Shakira sambil mengacak rambutnya dengan gusar.


"Hei...tenanglah", dengan lembut Benjamin menggenggam tangan Shakira.


Genggaman tangan itu, membuat Shakira harus ekstra berusaha menetralkan perasaan dag dig dug. Detak jantung pun seakan tak berirama ketika Benjamin berada didekatnya. Pikiran Shakira menjadi tidak fokus. Aroma aftershave maskulin menggedor dan membangkitkan sesuatu didalam dirinya. Sambil membayangkan yang tidak-tidak..


"Haisss malah ngehalu diajak bicara...", sahut Benjamin seraya menarik ujung rambut hitam berombak yang selalu ingin di belainya.


"Ahhhh sakit tahuu Benji..", teriak Shakira sambil memukul pelan lengan pria tersebut.


"Fokus, fokuss...!!! Kamu mau kita semalaman ada disini??" tanya Benjamin dengan mata melotot.


"Duhh galak banget sih, boss," goda Shakira.


"Ok, kita kembali ke topik pembahasan", ucap Benjamin sambil berganti posisi, kini duduk dimeja menghadap Shakira, membuat wanita itu merah merona. Benjamin yang melihat perubahan raut wajah Shakira mencoba untuk tidak pura-pura tahu, padahal dalam hatinya ingin mencium pipi yang merah bak cherry tomato.


"Ehm...ehmm..", Benjamin kembali mengalihkan topik pembicaraan, "Kira, asal kamu tahu, ada beberapa kejanggalan yang aku dan tim temukan mengenai latar belakang kematian kedua orang tuamu".


"Apa saja yang kamu ketahui tentang mereka, Benji? Selama ini, kedua orang tuaku tidak pernah bercerita apapun padaku. Semua terlihat baik-baik saja", jawab Shakira sambil memijat pangkal hidungnya.


"Kurasa, ada yang menginginkan semua milik orang tuamu. Mereka melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkannya", ucap Benjamin dengan kening berkerut, tanda dia sedang memikirkan segala kemungkinan.

__ADS_1


"Termasuk menghilangkan kedua orang tuaku?? Begitu maksudmu, Benji?!".


"Iya..aku ingin kamu membantuku, mengingat semua hal yang terjadi sebelum tragedi itu menimpa keluargamu. Peristiwa, ucapan bahkan orang-orangnya sekalipun", Benjamin menegaskan pada Shakira.


"Bahkan, malam ini pun mereka bermaksud untuk membunuhmu, karena sepertinya ada yang membocorkan informasi keberadaanku yang akan terbang ke Belanda malam ini seharusnya", Benjamin menyisir rambutnya kebelakang.


"Siapa preman-preman bermobil dan bersenjata itu, Benji? Apakah kamu tahu tentang mereka?" selidik Shakira.


"Hmm...mereka adalah orang-orang dari group sebelah yang disewa oleh sekelompok orang yang menginginkan kematianmu".


"Apaaaa??? Oh Tuhan..lalu aku harus bagaimana sekarang? Mereka pasti akan terus mengejarku, Benji", ucap Shakira dengan cemas.


"Akan kita pikirkan cara. Saat ini, kamu aman, tidak ada yang berani datang ke wilayah ku, bahkan dari radius 10km pun tidak akan ada yang berani...".


"Memangnya ini tempat apa? Kenapa juga banyak pria-pria yang menyeramkan wajahnya. Bahkan, tadi pun mereka membawa senjata laras panjang, pistol, bahkan samurai dan busur panah", Shakira dengan menggebu-gebu menggambarkan kejadian yang dialaminya.


Benjamin langsung terdiam mendengar rentetan pertanyaan dari bibir Shakira tiada hentinya.


Dan tiba-tiba...Cup...Benjamin mengecup bibir merah yang seakan-akan terus menggodanya.


Seketika tubuh Shakira membeku...pikirannya hilang entah kemana. Lalu Benjamin berdiri dari hadapan Shakira dan berkata, "Hari sudah melewati tengah malam, sebaiknya kamu beristirahat dahulu, akan kusiapkan segala sesuatunya untukmu", kemudian berlalu begitu saja.


Ohhh nooo...hatiku..hatiku, jantungku mau lompat. Oh tidakkk!!!!!! Shakira mencoba menepuk pipinya berulang kali menghilangkan rasa nano-nano tersebut..


Benjamin kembali keruangan tersebut membawa selimut dan bantal untuk mereka berdua.


"Aku harus tidur dimana?" tanya Shakira saat Benjamin menyerahkan bantal dan selimut.


"Disitu...", jawab Benjamin sambil mememcet tombol dibalik meja kerjanya.


Terbukalah satu ruangan dibalik lemari besi, sebuah ruangan yang telah di desain menjadi tempat istirahat lengkap dengan bathroom dan walk-in closetnya.


"Lalu kamu tidur dimana?", tanya Shakira sambil menunjuk Benjamin.


Benjamin hanya tersenyum simpul lalu berkata, "ditempat tidur lah..dimana lagi?"


"Apaaaaa???!!!!!" Shakira pun berteriak kencang..


**catatan kecil author: Kurator bank adalah otoritas yang selanjutnya akan melakukan pengelolaan terhadap harta kekayaan debitur setelah dengan putusan pailit debitur tidak memiliki kewenangan lagi untuk mengelola kekayaan dan untuk harta kekayaan debitur telah berada dalam sita umum


****************


Bersambung yah..


Terima kasih untuk kaka² yang sudah nyempetin waktu ngebaca karya recehku ini🙏🙏🙏 terharu akunya.


mohon terus dukung Benji and Shakira yah biar mereka semangat untuk menemani kaka² semua. Baca, lalu komen, laik, favoritkan yah. maaciii🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2