Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 68. Utrecht, Belanda II


__ADS_3

Masih di kediaman Keluarga Abimanyu Negara.


...******...


Di kamar tamu, kediaman keluarga Negara.


"Bagaimana Dok? Apakah istri saya baik-baik saja?" tanya Tuan Abimanyu dengan cepat, setelah melihat dokter keluarga selesai memeriksa istrinya, yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Pa-papa ...," panggil Mama Seila yang mulai sadar dari pingsannya.


"Hi Darl ... apakah kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Abimanyu yang segera mendekat duduk di pinggir ranjang serta mengusap lengan istri tercinta.


"Istri anda baik-baik saja, Tuan. Saat ini nyonya lebih baik biarkan untuk beristirahat sejenak. Sepertinya nyonya sedang terserang rasa takut dan cemas berlebih akibat trauma yang dialaminya di masa lampau," terang dokter keluarga.


Terdengar helaan nafas Tuan Abimanyu.


"Aku baik-baik saja, jangan cemas. Kamu tahu kan siapa aku?" ujar Mama Seila menenangkan suaminya.


"Kalau begitu, mengapa kamu pingsan, Darl?" balas Tuan Abimanyu yang selalu memanggil Mama Seila dengan panggilan sayangnya.


"Entahlah ... kenangan itu terasa menyakitkan buatku."


Melihat kondisi pasiennya sudah membaik, dokter keluarga pun permisi dan meninggalkan resep obat untuk Mama Seila.


Setelah memastikan keadaan sang istri mejadi lebih baik, Tuan Abimanyu bergegas kembali menemui pasangan Billy Brown beserta istri, diruang kerjanya.


Melihat kedatangan sang pemilik rumah, Suami istri Brown bangkit dari duduknya dan bertanya mengenai keadaann Mama Seila.


"Tenang, istriku tidak apa-apa. Semua baik-baik saja. Kondisi ini pernah dialami oleh istriku sewaktu awal bayi kecil kami dinyatakan hilang dan diculik lalu tidak ada kabarnya sama sekali. Saat itu dia mengalami depresi berat," sahut Tuan Abimanyu seraya mengibaskan tangannya dan mempersilakan tamunya duduk kembali.


"Namun, semua depresi itu hilang semenjak istriku mulai menekuni suatu bidang yang bergerak di bidang non profit," tambah Tuan Abimanyu.


"Bidang apakah itu kalau boleh tahu, Tuan?" tanya Billy Brown penasaran.


"Belum saatnya kalian tahu, Tuan Brown ...." jawab Tuan Abimanyu enteng dengan senyum tipisnya.


Lalu, ruangan kerja Tuan Abimanyu hening sesaat.


"Maafkan kami, istri anda mengalami hal seperti itu," ucap Nana Brown dengan menyesal.

__ADS_1


Tuan Abimanyu hanya tersenyum simpul.


"Ah sudahlah, tidak perlu kalian pikirkan mengenai keadaan istriku sekarang maupun pada masa lampaunya. Karena jika kalian memikirkan tentang itu, semestinya hal ini tidak perlu terjadi, bukan?"


Pasangan Brown merasa tersindir oleh perkataan sang tuan rumah.


"Semua itu karena salah satu mafia tanah yang ingin memiliki lahan perkebunan milik ayah anda, telah berhutang banyak pada kami. Dan dia melunasi hutangnya dengan cara menyerahkan seorang bayi pada kami. Yah ... memang pada saat itu kami belum dikaruniai keturunan," ujar Billy Brown dengan ekpresi datar dan menatap lurus kearah Tuan Abimanyu.


Mendengar penjelasan tersebut, ayah Benjamin hanya terdiam membisu. Hatinya terasa sakit mendengar penjelasan mereka. Terbayang masa lalu bagaimana mereka berdua mengatasi rasa kehilangan seorang anak yang telah dinantikan dan sangat disayangi.


"Maaf, bukannya aku bermaksud tidak sopan kepada kalian berdua. Katakan padaku, apa yang telah kalian lakukan padanya dan bagaimana cara kalian mendidiknya sehingga dia bisa menjadi seperti yang sekarang?" tanya Tuan Abimanyu dengan dingin.


"Meskipun dia tidak memiliki darah seorang Brown, kami sangat menyayanginya layaknya anak kandung kami sendiri. Bahkan, dia kupercaya memegang salah satu organisasiku yang terbesar dan terkuat," ujar Billy Brown pelan namun pasti menanggapi pertanyaan Tuan Abimanyu.


"Lalu, bagaimana bisa dia menjadi sosok yang mengerikan seperti sekarang? Membunuh seluruh keluargamu dan ingin menuntut balas pada keluargaku ...."


Billy Brown menarik nafas dengan berat.


"Semua karena berawal dari permasalahan dengan adiknya, yaitu anak sulung kami. Mereka saling merebutkan daerah kekuasaan dan akhirnya menyebabkan batalnya perjanjian kerja sama yang telah dinantikan oleh Samuel," jelas Billy Brown dengan panjang lebar.


Kedua mata Tuan Abimanyu menyipit, dengan dahi berkerut.


"Benar. Tebakan anda benar. Ketika diselidiki oleh salah satu agen tersebut, anak sulungkulah yang memberikan informasi palsu sehingga menyebabkan perjanjian bernilai besar itu batal."


"Lalu, apa yang dilakukan oleh Samuel pada anakmu ketika itu?" tanya Tuan Abimanyu penasaran. Duduknya pun mulai tegak. Mencoba mencerna semua yang diceritakan oleh lawan bicaranya.


"Mereka mencoba saling membunuh satu dengan yang lainnya, menyebabkan kebakaran besar pada gudang tempat penyimpanan barang berharga kami yang mencapai jutaan dollar," jawab Billy Brown dengan lesu.


Dari situlah Samuel mendapatkan luka bakarnya. Karena, masih tampak baru luka tersebut. Tuan Abimanyu.


"Kemudian, Samuel mengamuk membabi buta, mengakibatkan dirinya ikut terbakar dan anak sulungku tewas di tempat," tambah Nana Brown sendu dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Darah kami memang mengalir deras di nadinya. Keras dan tidak bisa di permainkan," batin Tuan Abimanyu sekilas mengingat kemiripan antara keduanya kedua anaknya.


"Akhirnya anak bungsu kami pun ikut merasakan akibat kemarahannya. Beserta kedua orang tua kami, tewas dalam kebakaran di mansion utama pada saat malam perayaan ulang tahunnya," tutur Nana Brown pelan, mencoba menahan sedih.


Tuan Abimanyu memejamkan mata. Satu persatu ditelaah olehnya. Jika sesuai dengan yang dikatakan oleh pasangan Brown tersebut, sudah bisa dipastikan Samuel adalah darah dagingnya. Sifat serta karakternya sangat mirip dengan Benjamin, meski akhirnya salah jalan akibat menerima pendidikan yang tidak semestinya. Rasa iba dan kasihan justru dirasakannya untuk Samuel, bukan kepada pasangan suami istri tersebut.


Terdengar pintu ruang kerja terbuka dengan lebar.

__ADS_1


"Itulah karma yang kalian dapatkan dari menculik bayi kecilku!" bentak Mama Seila dengan keras serta mengacungkan senjata laras panjang yang telah terkunci kearah pasangan Brown.


Yang ditodong pun dengan cepat mengeluarkan pistol mereka masing-masing. Menodongkan pistol kearah kedua orang tua Benjamin.


...********...


Di Surabaya, Apartemen Benjamin.


Saat ini jam menunjukkan pukul 2 siang. Jarak perbedaan zona waktu Indonesia dengan Belanda adalah 6 jam.


Shakira dan Benjamin sedang asyik menonton film di ruang keluarga. Ditemani oleh camilan disiang hari.


Sedangkan Bik Ima sedang berbelanja barang kebutuhan dapur ditemani oleh Nola.


Apartemen pun serasa milik berdua. Semenjak sah menjadi sepasang kekasih, Shakira dan Benjamin bak amplop dan perangko, tidak terpisahkan. Kecuali tidur dan mandi yah ... uhukk uhukk


Author : rasa-rasanya mereka perlu dipisahkan nih apartemennya. Bahaya ....


Saat ini Shakira berada di posisi bersandar di lengan kekar Benjamin. "Bermanja-manjaan dengan pacar tampanku," batin Shakira.


Benjamin pun merasa senang dan bahagia. Dirinya memeluk Shakira dengan erat.


Entah mereka menonton film atau film yang menonton mereka. Lagi asyik-asyik menikmati suasana mesra dan hangat, tiba -tiba masuklah sebuah email yang berasal dari ayahnya.


Benjamin pun dengan cepat membuka tautan yang terkirim. Seketika tubuhnya menegang Duduknya pun langsung tegak. Shakira dibuat bingung karena tiba-tiba Benjamin bersikap danger mode.


"Benji ... ada apakah?"


Yang ditanya tidak menyahutinya. Lantas, Shakira ikut menatap ponsel kekasihnya.


"Astaga, Benji! Bagaimana ini?!" tanya Shakira dengan cemas.


"Aku akan menghubungi pengawal papa dan mama yang telah berjaga-jaga di dekat rumah apung mereka," jawabnya dengan lugas.


"Cepatlah Benjamin, selamatkan mereka ...."


...********...


Bersambung manteman 😍

__ADS_1


Terima kasih ya kaka² tersayang yang selalu mendukung Kira dan Benji. Love you pol😍 Jangan lupa pantengin terus ya next bab kalau NT tidak galau pending reviewnya 😂


__ADS_2