
Diruang kontrol Black Klan..
"Satu lagi, Nola, apakah Shakira sewaktu jogging memakai jam tangannya?"
"Nona muda memakainya, Tuan Muda. Saya dan Bik Ima kemarin mengecek apakah nona membawa ponselnya. Ternyata tidak, hanya menggunakan jam tangan dan ipod saja," jawab Nola.
"Good, cek GPS-nya sekarang. Karena aku sempat memasangkan chip GPS di ponsel dan jam tangannya. Semoga masih berfungsi...." Benjamin berharap dengan cemas.
"Baik Tuan Muda," Maria bergegas meminta salah satu hacker yang dimiliki BK untuk melacak keberadaan Shakira melalui jam tangannya sembari menyerahkan akun yang digunakan Benjamin pada saat memasangkan chip tersebut.
Benjamin dan yang lainnya serasa ikut acara H2C, harap-harap cemas.
"Tuan muda, apakah nona mengetahui perihal GPS Tracker yang diletakkan pada jam tangannya?" tanya Maria.
"Kurasa tidak, karena pada saat aku memasangkan chip GPS Tracker, dia sedang tertidur pulas. Alasanku memasang alat pelacak, bertujuan hanya untuk mencegahnya tidak melakukan keinginan bunuh diri lagi. Semoga alat yang terpasang pada jam tangannya masih bisa berfungsi dengan baik serta berguna dan aku sangat berharap penculiknya tidak mencurigai adanya alat itu," jawab Benjamin.
Tak butuh waktu berapa lama, alat pelacak tersebut masih berfungsi dengan baik. Dilayar monitor terpampang titik merah berkedut-kedut menunjukkan lokasi keberadaan alat pelacak tersebut.
"Perbesar titik pointnya!" Perintah Maria kepada anak buahnya.
Maria, meski seorang wanita, namun sosoknya sangat tegas. Tidak mudah mengajaknya bercanda, bersenda gurau. Semua yang dilakukannya harus sempurna. Berkat kegigihan dan kedisiplinan Maria, semua tugas dan tanggung jawab sebagai orang kepercayaan dari pewaris utama Three Siblings Corp. dapat diselesaikan dengan baik sebisa mungkin "tanpa cacat dan cela" prinsip Maria. Tak heran dengan umur yang masih terbilang muda, mampu menangani segala permasalahan yang cukup pelik dan rumit.
Kembali ke layar monitor raksasa, tampak titik point keberadaan alat pelacak. Semua mata memandang kelayar monitor dengan menahan nafas.
"Oh..s*it!!! Fu*king s*it!" umpat Benjamin dengan sangat keras. Tidak ada yang berani bersuara mendengar umpatannya.
"Nola! Kau dan Willy, pergi ke area taman tersebut. Cari jam tangan Shakira sesuai dengan titik pointnya semoga ada jejak yang ditinggalkan oleh pelakunya," perintah Benjamin.
"Baik Tuan Muda," sahut Nola dan Willy bergegas pergi menuju taman dekat apartemen, lokasi dimana Shakira terlihat oleh kamera pengawas terakhir kalinya.
"Maria, perintahkan tim untuk turun melacak keberadaan empat orang tersebut dan ikuti kemana saja mereka, siapa tahu ada salah satu yang akan mengantarkan kita pada lokasi keberadaan Shakira," perintah Benjamin kepada asistennya.
"Siap, Tuan Muda, akan kami laksanakan segera!"
Saat ini, kepala Benjamin seakan ingin meledak. Harapannya musnah seketika ketika mengetahui alat pelacak yang sengaja dipasangkan pada jam tangan Shakira tidak dapat menunjukkan lokasi keberadaannya. Apa yang terjadi padamu saat itu, Kira? Sehingga jam tangan pun terlepas dari pergelangan tanganmu..apakah kamu memberontak sedemikian kuatnya?Benjamin.
"Bos..ada berita yang harus saya sampaikan padamu," ucap Dio berhati-hati mendekati bosnya, takut terkena peluru nyasar. Karena saat ini, Bos besar sedang memegang pistol Desert Eagle kesayangannya.
Senjata api Desert Eagle adalah hadiah dari Tuan Abimanyu Negara untuk putra tunggalnya, ketika memenangkan juara menembak ketika berumur 14 tahun dan menjadi salah satu anggota dari klub resmi yang terdaftar oleh PERBAKIN diusianya tersebut. Senjata api ini merupakan senjata buatan Israel yang sudah mendunia efek mematikannya. Jika lazimnya pistol lain hanya seperti menusuk saja, Desert Eagle mampu membuat obyeknya tertusuk dan meledak. Daya hancurnya memang gila dengan sematan peluru 325 gram-nya.
Jadi jangan salahkan jika Dio yang berjiwa psikopat saja bisa merinding melihat Benjamin bermain-main dengan senpinya. Karena tidak sekali dua kali Dio menyaksikan kebrutalan tuannya meledakkan isi kepala manusia hingga terburai kemana-mana.
__ADS_1
"Hmmm...tentang apa? Jangan membuang waktuku." dengus Benjamin.
"Ini tentang kedua orang tua nona muda," Dio menjawab dengan halus. Menghadapi singa jantan yang sedang mengamuk memang harus tetap tenang, agar tidak memancing emosinya yang kapan saja bisa meledak.
Dahi Benjamin mengerut. "Jelaskan maksudmu, jangan bertele-tele, apa kau ingin tercecer isi otakmu, Dio?" Ancam Benjamin dengan kejamnya.
"Tidak Bos!"
"Lalu, apakah kalian telah menemukan pelaku dan dalang yang menyabotase mobil mereka?"
"Mari ikut saya, Bos..Nyonya besar saat ini sedang menuju ke tempat kita menangkap asisten mendiang Tn. Prajogo. Akan saya jelaskan semuanya di perjalanan." ajak Dio seraya mengarahkan Benjamin keluar dari ruang kontrol pada Jeep Wrangle Rubicon berwarna hitam yang siap menghantarkan mereka ke tempat tujuan.
Tetapi Benjamin menolaknya. "Tidak Dio, lebih baik kau antarkan aku pada titik lokasi alat pelacak yang terdapat pada jam tangan Shakira."
"Bos, percayalah padaku, aku menjamin Bos tidak akan menyesal ikut denganku. Ini adalah perintah Nyonya besar, Bos. Jika aku melanggar perintahnya sama saja aku masuk kekolam santai si Bobo." ucap Dio dengan ekspresi memelas.
"Bagaimana dengan Shakira, kita harus menemukannya. Apa dirimu lupa, 2 x 24 jam korban penculikan menghilang jejaknya akan semakin susah ditemukan." Benjamin mengingatkan Dio perihal standard prosedur operasi Black Klan mengenai penculikan.
"Aku sangat mengerti, ada Maria dan juga Nola serta Willy. Mereka orang-orang pilihan, jika menemukan sesuatu pasti akan lansung memberikan informasi pada kita, Bos."
"Saat ini, nyonya besar juga sedang membantu kita untuk menemukan nona muda. Percayalah Bos," sambung Dio dengan sangat meyakinkan.
"Ok, aku ikut denganmu, setelah itu antar aku ke Kombes Pri. Aku ingin tahu sudah sampai dimana pencarian mereka."
...********...
Di suatu tempat, dikamar tempatnya disekap, Shakira menangis pilu, memanggil kedua orang tuanya yang telah tiada. Berharap keajaiban datang untuk mengeluarkannya dari tempat terkutuk ini.
"Reyhannnn...tolong lepaskan aku!" teriak Shakira entah sudah berapa kali memohon untuk dilepaskan, namun tidak ada satupun yang datang.
Lelah menangisi nasibnya, dirinya mencoba mengumpulkan tenaga yang tersisa.
Saat ini, Shakira merasa putus asa. Mencari jalan bagaimana agar bisa bebas dari sini. Teringat dirinya tidak membawa ponsel. "Ah pasti Benjamin dan Nola sangat bingung," batin Shakira. Ingin melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya, namun lenyap.
Aduh, jam kenang-kenangan dari papa juga lenyap. Pasti jatuh di taman waktu aku tersandung. Lalu Ipod touchku. Aku kemarin memakainya. Shakira.
Teringat olehnya, Ipod touch yang dipakai saat itu ada didalam saku hoodie bagian dalam. Shakira mencoba menggoyangkan tubuhnya berharap dapat merasakan benda tersebut.
"Ahh..syukurlah ipod ku masih tersimpan didalam saku hoodie," batin Shakira berteriak dengan lega.
Memikirkan cara untuk melepaskan diri, Shakira memutar otak mencari ide.
Kemudian teriaklah Shakira dengan kencang. "Reyhan...Rosaaa... tolong lepaskan aku! Aku mau buang air kecil!"
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, masuklah Rosa, wanita setengah baya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Akan saya bantu, Nona. Tapi dengan satu syarat, jika anda bermaksud melarikan diri dari sini, akan saya habisi nyawa anda..." ancam Rosa dengan seringai tajam.
"Astaga, Anda wanita berumur ternyata sadis juga. Ok, aku menurutimu," jawab Shakira setengah bergidik.
Lalu dengan todongan pisau di leher jenjangnya, Rosa melepas satu persatu ikatan di tangan dan kakinya. Shakira tidak berani bergerak takut ipod yang tersembunyi terjatuh atau Rosa akan menemukannya.
Kamar kecil yang digunakan Shakira berada diluar tempat ia disekap selama kurang lebih hampir dua hari. Ketika sudah didalam kamar kecil, Shakira meminta Rosa untuk menunggunya di luar. Mau lari juga tidak bisa, tidak ada jendela yang terlihat dari manapun.
Shakira menghidupkan air keran untuk menyamarkan kegiatannya didalam. Dikeluarkannya Ipod touchnya. Kapasitas baterai hanya tinggal 3 strip. Terlihat waktu menunjukkan pukul 12.05 siang. Berarti aku sudah satu setengah hari disini. Shakira.
Tokkk tokk tokkkk..."Buka pintunya!!" teriak Rosa menggedor pintu kamar kecil.
Duh sialan wanita jahanam! Aku lupa dasar bod** ,bagaimana ini?? IPod touchku tidak berfungsi jika tidak terkoneksi oleh jaringan internet...batin Shakira menangis.
"Iya sebentar, Rosa!" teriak Shakira sembari menyimpan IPod touchnya kembali agar aman.
Setelah membersihkan diri dengan cepat, Shakira membuka pintu dan Rosa langsung menariknya menuju kamar tempat ia disekap.
Melihat makanan dan minuman yang disediakan Reyhan tadi pagi belum sempat tersentuh, perut Shakira mengaum. "Apakah aku boleh memakannya, Rosa?"
"Ya...makanlah itu dipersiapkan untukmu. Kamu harus mengisi ulang tenagamu, agar lebih segar menghadapi acara mu sendiri, esok lusa...," sahut Rosa dengan tertawa sinis.
"Aku tidak akan mengikatmu kembali. Tetapi ingat, jika kamu nakal, pisau ini akan siap membelah tenggorokanmu..!" ancam Rosa kembali. Lalu pergi meninggalkan Shakira yang masih terkejut mendengar penuturan Rosa.
Wait...Acara? Acaraku?? Acara apa? Aku harus memikirkan cara untuk lepas. Shakira.
Demi mendapat tenaga agar bisa pulih dan lari dari sini, Shakira menghabiskan makanannya hingga bersih.
Setelah itu, Shakira berjalan menuju arah jendela. Mencoba mencari tahu dimana dirinya berada saat ini.
Saat matanya memandang kearah luar jendela, Shakira tersentak kaget. Tempatnya terlihat jauh dari mana-mana. Dia berada di daerah perbukitan saat ini. Entah bukit apa dan dimana tepatnya. Jari-jarinya mencoba menggoyangkan terali besi pada jendela, namun tidak bisa. Jendela tersebut sangat kokoh.
Apa yang harus aku lakukan....Apakah aku akan selamat dari sini? Air mata pun menetes kembali.
Benjamin, Benji..carilah aku. Shakira
...********...
Bersambung 🥰
jangan lupa dukungannya yah kaka² semua. Like, favorit..komennya juga 😍
__ADS_1
Terima kasih all...