
Mobil yang dikemudikan oleh Andi, telah tiba di parkiran basement, apartemen Shakira dan Benjamin. Mama Seila tidak tega membangunkan Shakira yang tengah tertidur lalu meninggalkannya berdua hanya dengan Benjamin.
"Benji, Mama dan Andi akan duluan naik. Temanilah Shakira disini, Mama yakin tidak akan lama lagi dia akan terbangun dari tidurnya," ucap Mama Seila seraya keluar dari mobil dan berlalu bersama Andi menuju apartemen Benjamin.
Benjamin yang menuruti perintah ibunya berpindah duduk dibangku belakang, menemani wanitanya yang tengah tertidur pulas. Eh...wanitanya? Hmm...uda ngaku-ngaku aja, Ben...
Tak terasa 15 menit berlalu, Benjamin yang sibuk dengan ponsel dan segala pekerjaan yang telah tertunda selama beberapa hari, merasakan gerakan disamping tubuhnya.
"Huaemmm...enak sekali tidurku," sahut Shakira meregangkan tubuhnya dengan suara serak ciri khas orang bangun tidur.
"Ehm....sudah tidurnya?" ucap Benjamin dengan suara beratnya namun cukup membuat Shakira terkejut.
"Astaga....aku kira siapa," teriak Shakira sambil mengelus dadanya.
"Tuh, air liurmu berbekas. Bersihkan dulu," dengus Benjamin seraya menyerah sapu tangan kepada Shakira.
"Aishh...maafkan aku Benji, seharusnya aku tidak ketiduran di mobil," jawab Shakira seraya membersihkan mukanya namun tidak ada sedikitpun air liur di bibirnya.
"Pfftt...kena tipu....pfftttt...." Benjamin menahan tawanya melihat wanita disebelahnya berubah menjadi merah merona menahan kesal akibat kena tipu dirinya.
"Dasar Benji! Kamu mau nipu aku hah?!" teriak Shakira memukul manja pria yang sedang menahan tawa. Semakin keras tertawa Benjamin, semakin keras pula pukulan-pukulan manjanya.
Dan tiba-tiba....grepp...
Benjamin menahan kedua tangan Shakira dan membuatnya sedikit terhuyung jatuh kepangkuannya.
Dua pasang mata yang berlainan jenis, yang sepasang berwarna coklat dan yang sepasangnya berwarna hitam saling menatap dalam hening.
Shakira terpukau oleh tatapan mata yang membiusnya, seakan-akan menyiratkan kerinduan yang sangat dalam. Tatapan mata yang akhir-akhir ini menghiasi pikiran dan dirindukannya. Debar jantung terasa berdetak tidak seirama. Seakan ingin melompat keluar. Desiran halus merayap naik hingga ke pipi mulusnya. Ya tidak salah lagi...aku jatuh hati padanya, pria dingin yang susah diajak bercanda, pria yang berkali-kali telah menyelamatkan hidupku. Shakira.
Tok...tok...tokk...terdengar ketukan pada kaca mobil bagian depan.
Benjamin segera melepaskan tangan Shakira dan mendorongnya agar duduk seperti sedia kala.
Dalam hitungan detik, raut wajah pria tersebut kembali datar. Terlihat Andi sedang menanti mereka.
"Ayo kita turun, mereka menanti kita sepertinya," sahut Shakira dengan cepat membuka pintu mobil saking berdebar detak jantungnya.
Huft syukurlah mobil ini gelap dari luar, sehingga aku tidak perlu melihat adegan syur. Andi.
Benjamin pun turut serta mengikuti Shakira untuk turun dari mobil.
"Tuan Muda, saya hendak menyampaikan pesan bahwa saat ini Tuan Besar sedang dalam perjalanan menuju sini," info Andi.
"Ah...baiklah, berarti papa telah mendapatkan pesan dari Maria. Terima kasih Andi," jawab Benjamin menepuk pundak asisten Mama Seila dan berjalan menuju apartemen bersama Shakira dan Andi.
__ADS_1
Sesampainya di atas, ketika Shakira hendak menekan kode sandi, Benjamin meraih pundaknya serta memeluk dirinya seerat mungkin.
"Benji...nanti ada yang melihat kita..." bisiknya dengan bingung namun bahagia.
Benjamin hanya diam membisu, meletakkan wajahnya di pundak Shakira.
"Aku hanya ingin memelukmu sebentar," berbisik dengan suaranya yang berat.
"Iya aku tahu, tapi.... aku bau Benji, aku belum mandi beberapa hari ini...." jawab Shakira tersipu malu.
"Sst...diamlah, biarkan aku menikmati momen ini sebentar saja," pinta Benjamin masih dengan posisi memeluk Shakira.
Terdengar helaan nafas berat dari Benjamin. "Terima kasih Kira, kamu telah berjuang disana sendirian. Aku mengira akan kehilanganmu beberapa waktu lalu."
Shakira pun ikut memeluk Benjamin. Lalu berkata. "Benji, entah bagaimana, pada waktu itu aku sangat berharap dirimu dan Nola akan mencariku dan menyelamatkan aku, sekali lagi," jawab Shakira dengan sendu.
Hening kembali. Kemudian Benjamin melepaskan pelukannya. "Masuklah, beristirahatlah sejenak, karena masih banyak hal yang harus kita bicarakan dan kau perlu ketahui, Kira."
"Baiklah, aku masuk ya, nanti carilah aku," pamit Shakira seakan enggan berpisah.
"Oh ya, satu lagi, mulai malam ini, kita akan kembali tinggal bersama, demi keamananmu," Benjamin menambahkan sebelum Shakira menutup pintu.
Shakira hanya memberikan tanda OK dengan kedua ibu jarinya, lalu menutup pintu apartemen dengan cepat.
"Haduh....jantungku mau copot!" teriaknya dengan rona bahagia.
Bik Ima memeluknya disertai tetesan air mata bahagia.
Shakira merasa terharu dengan perlakuan keluarga Benjamin. Dirinya merasa beruntung mengenal mereka.
"Aku baik-baik saja, Bik...jangan menangis," pinta Shakira dengan lembut.
Bik Ima mengucap syukur kepada yang diatas bahwa Shakira telah kembali dengan selamat.
"Iya, Nona...Bik Ima tahu, pasti Tuan Muda tidak akan tinggal diam. Sekarang, Nona silahkan membersihkan diri, lalu makanan kesukaan Nona telah Bik Ima siapkan di meja makan," ucapnya seraya mengelap airmatanya menggunakan celemek dapurnya.
"Ish Bik Ima, jorok ah...tuh kan kotor semua bekas bumbu masakan," tunjuk Shakira pada pipi wanita setengah baya tersebut. Lalu keduanya pun tertawa dengan bahagia.
Pagi pun berlalu dengan cepat. Hari telah berganti malam.
Shakira yang menggunakan waktunya untuk benar-benar beristirahat sebelum bertemu dengan Benjamin, sedang berendam di bath up diiringi dengan alunan musik dan lilin aromaterapi yang menenangkan. Bersyukur bahwasanya hingga saat ini, dirinya masih bisa menikmati semua hal, berkat Captain America, penyelamat hidup yang entah sudah berapa kali menyelamatkannya dari huru hara.
Kemudian terdengar notif pesan masuk di ponsel berwarna merahnya.
"Bersiaplah, aku akan menjemputmu. Kita akan ke markas BK malam ini." ~ Benjamin.
__ADS_1
"Baiklah....," ~ Shakira.
Lalu, Shakira menyelesaikan berendamnya dan bersiap-siap, agar Benjamin tidak menunggunya terlalu lama.
Tepat setelah Shakira selesai berdandan terdengar ketukan pintu oleh Bik Ima yang memberi tahukan bahwa Tuan Muda telah menanti dirinya.
Hanya menggunakan kaos polo shirt berwarna putih dan celana pendek khaki berwarna cokelat, serta sepatu karet senada dengan celananya, tidak mengurangi ketampanan seorang Benjamin.
"Hei! Sudah belum bengongnya?" goda Benjamin menoel pipi mulus Shakira yang sedari tadi terus menatapnya.
"Ya ampun...kamu selalu buat aku kaget!" sahut Shakira sambil mencubit lengan kekar tersebut.
"Hahahaha aku tahu bahwa aku ini tampan...TAMPAN!" goda Benjamin seraya mengedipkan matanya.
"Ya ampun, selain narsis juga bisa genit tuan muda satu ini," sindir Shakira.
Bik Ima yang melihat kelakuan keduanya hanya tersenyum dari jauh.
"Ayolah kita jalan sekarang. Andi sudah menanti kita di lobby," ajak Benjamin seraya menggamit lengan Shakira.
"Bye Bik Ima, sampai ketemu nanti yah," pamit Shakira melemparkan ciuman jauh.
Bik Ima hanya menggelengkan kepala dan tersenyum menanggapinya.
...********...
Di markas Black Klan.
"Aku tidak sabar ingin bertemu dan berkenalan dengan putri Darius, sayang...." sahut Papa Abimanyu kepada Mama Seila.
"Papa pasti akan menyukainya. Dia gadis yang baik, tidak banyak tingkah seperti si Lena yang kau jodohkan dengan anak kita," sindir Mama Seila yang selalu emosi jika mengingat Lena yang sudah membuat masalah dengan mereka.
"Iya, Papa memang salah...jangan diingat terus dong, nanti cantiknya hilang loh," rayu Papa Abimanyu sambil mengelus pundak istri tercintanya.
"Huss...banyak mata disini! Dasar Papa ini selalu buat malu saja!" tegur Mama Seila sambil menjewer telinga suaminya dan bergegas meninggalkan ruangan kerja anaknya.
"Salah lagi, tidak di rayu salah, di rayu salah. Nasib oh nasib...." ucap Papa Abimanyu pada dirinya sendiri.
"Ah sudahlah, aku beristirahat saja didalam sambil menunggu kedatangan anakku. Tolong sampaikan kepada Nyonya bahwa saya istirahat sebentar," perintah Papa Abimanyu kepada Maria yang sedari tadi menjadi obat nyamuk melihat kemesraan kedua bos besarnya.
"Baik Tuan Besar, akan saya sampaikan," jawab Maria seraya menundukkan kepala memberi hormat ketika Papa Abimanyu melewatinya.
Huh...nasib jadi jomblowati. Jones jones...author kasih pasangan dong akunya...! Maria.
...********...
__ADS_1
Bersambung...
sekian dan terima kasih. see you soon all. ❤❤❤