Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 75. Ngambek nih ...


__ADS_3

..."Aku mencintaimu, itu sebabnya aku akan selalu mendoakan keselamatan serta kebahagiaanmu seorang"~ unknown...


Didalam ruangan kecil yang menjadi markas pengawal keluarga Abimanyu Negara.


Terlihat semua wajah tampak begitu tegang. Bagaimana tidak, dengan susah payah Shakira meminta ijin kepada kekasihnya, yaitu Benjamin sang ketua Black Klan, agar diijinkan untuk berjalan-jalan kebeberapa tempat wisata yang lagi ramai diperbincangkan. Namun, ketika dalam perjalanan kembali menuju rumah apung, mobil yang dikendarai oleh Dio diikuti oleh orang dari belakang.


"Sungguh sial nasibku," batin Shakira setengah menjerit.


"Maria, bagaimana? Apakah kalian mengetahui siapa pria bule itu?" tanya Shakira setengah kepo.


Benjamin menarik tangan Shakira untuk duduk disofa bersamanya.


"Sepertinya pria bule yang dimaksud oleh nona muda, bukanlah merupakan suatu ancaman bagi kita semua, Tuan Muda," jelas Maria sambil tersenyum simpul.


Dahi Benjamin berkerut. Karena adanya kabar mengenai keberadaan kakaknya di kota ini membuat dirinya lebih awas mengenai keselamatan orang-orang terdekatnya.


"Jelaskan maksudmu, Maria ...."


Maria mendekat kearah Benjamin yang sedang duduk.


Tanpa basa basi, dirinya menjelaskan bahwa pria bule yang mengikuti Shakira dan kedua pengawalnya tidak perlu dicurigai.


"Alasannya apa?!" tanya Benjamin dengan raut wajah keheranan.


Maria sedikit bingung musti bagaimana menyampaikan kepada tuan mudanya.


"Katakan Maria, kenapa ragu?" tambah Shakira semakin kepo dengan pria bule itu.


"Karena maksud dari pria tersebut adalah dirinya tertarik dan ingin mengenal lebih dekat dengan nona, Tuan Muda," jelas Maria sedikit berbisik ke Benjamin dan melirik dengan ujung matanya kearah Shakira.


Apalagi yang dilakukan oleh nona muda di luar sana seharian bersama duo singa itu, sehingga menyebabkan gangguan tidak terduga seperti ini, menambah pekerjaanku saja, huft. Maria.


Raut wajah Benjamin seketika beku. Aura ingin membunuh terasa diruangan tersebut. Maria beserta Dio dan Nola langsung berjaga-jaga akan tindakan yang akan dilakukan oleh tuannya. Lain halnya dengan Shakira.


"Apa?! Karena tertarik dengan ku? Hahahaha bisa saja pria bule itu," sahut Shakira sembari memukul pundak Benjamin dengan santainya.


Nola berusaha memberi kode kepadanya agar tidak berbuat hal yang akan menyebabkan mereka terkena masalah.


"Ehm ... ehm ... senang ya mendapat stalker?!" sindir Benjamin dengan nada menakutkan.


"Eh ... eh ... bukan, bukan itu maksud aku Benji," jawab Shakira terbata-bata.


"Dimana pria bule itu? Bawa dia kemari, Maria," perintah Benjamin dengan tegas.

__ADS_1


"Aduh ... mati aku sekarang," bisik Shakira sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku mendengarmu, Kira ... kalau memang tidak melakukan apapun aku rasa kamu tidak perlu takut, bukan?!"


"Benji, kamu terkadang sangat menakutkan bagiku," jawab Shakira setengah bergidik memandang wajah pria tampan yang sanggup membunuh lawannya.


"Apakah sekarang kamu menyesalinya? Menyesal berhubungan denganku?!" sindir Benjamin dengan nada dinginnya.


Shakira berdiri dari duduknya dan berjalan menuju arah pintu hendak keluar dari ruangan tersebut.


"Mau kemana, Kira?!" teriak Benjamin setengah jengkel melihat kelakuan kekasihnya.


"Aku mau menjauh dari kamu sesaat! Bukan salahku kalau si bule itu tertarik padaku, bukan?!" jawab Shakira tanpa menoleh kebelakang.


Dan ... blam! Pintu tertutup dengan kasar.


"Sialan!" sahut Benjamin sembari memukul lengan sofa dengan keras.


"Maafkan kami jika kurang baik menjaga nona selama diluar sana, Tuan Muda," ucap Nola dengan penuh penyesalan.


"Ck ... bukan salah kalian berdua. Shakira memang merupakan magnet bagi pria mana saja yang melihatnya," jawab Benjamin dengan kesal.


"Sesungguhnya, nona tidak melakukan kesalahan apapun, Tuan Muda. Saat itu, nona sedang berlari dengan cepat sehingga tidak sengaja menabrak pria tersebut," jelas Nola dengan dengan tegas tidak bertele-tele.


Dio pun ikut menganggukkan kepalanya, tanda membenarkan omongan Nola.


Mendengar perkataan Benjamin, membuat kedua para pengawal tersebut saling memandang satu sama lainnya.


"Bos sedang cemburu?" bisik Dio bertanya kepada Nola yang sedang berdiri disampingnya dengan tegang.


"Diam!" bisik Nola membalas pertanyaan Dio, membuat pria itu hanya melotot tanpa berani menjawab.


Sembari menanti Maria datang bersama pria bule tersebut, Benjamin bangkit dari sofa dan berjalan menuju lemari pendingin berukuran mini yang terletak disudut ruangan. Lemari pendingin yang biasa terdapat di kamar-kamar hotel disebut dengan minibar. Berisi berbagai macam minuman dan makanan ringan.


Diambilnya beberapa minuman bersoda dan sebungkus kripik kentang.


Dua kaleng minuman diserahkannya kepada Nola dan Dio.


"Ayo kita minum dahulu sebelum kepalaku mau pecah," ajak Benjamin seraya duduk kembali di sofa sebelumnya.


"Terima kasih, Tuan Muda."


"Terima kasih, Bos."

__ADS_1


Jawaban mereka sangat kompak, membuat Benjamin tertawa terbahak-bahak, mengingat perkataan Shakira yang ingin menjodohkan mereka berdua.


"Apa kataku, orang jatuh cinta memang menyeramkan," ucap Dio di telinga Nola.


Benjamin tidak sengaja mendengarnya.


"Kamu tahu Dio, jatuh cinta itu sangat sederhana namun mengerikan. Sangat mengerikan ...."


"Ehm ... maaf Bos, bukan bermaksud kurang ajar," jawab Dio dengan tidak enak.


Nola hanya memutar kedua bola matanya lalu menjulurkan lidahnya kearah Dio.


"Awas kau!" balas Dio tanpa bersuara.


Benjamin menenggak minuman bersodanya lalu merespon perkataan Dio.


"Tidak apa, Dio. Suatu saat kamu akan merasakannya."


"Tapi kalau boleh, jangan bagian mengerikannya, Bos. Sepertinya saya tidak akan sanggup, hehehe ...."


Benjamin hanya tertawa kecil melihat reaksi Dio yang ketakutan. Karena, selama mengenal Dio, Benjamin tahu benar tangan kanannya yang terkenal gila dan sadis tersebut belum pernah terlihat berhubungan dengan perempuan. Kecuali Maria, Nola dan ibu kandungnya.


Lima menit kemudian, terdengar kenop pintu diputar dari luar.


Masuklah Maria dengan seorang pria yang berkebangsaan Belanda.


"Maaf Tuan Muda, telah membuat anda menunggu agak lama. Pria ini memaksa untuk bertemu dengan nona muda," ucap Maria.


Benjamin tidak menjawab perkataan asistennya. Sorot mata Benjamin menatap dingin wajah pria bule tersebut. Begitupun sebaliknya. Membuat ruangan yang telah dingin akibat cuaca diluar sana semakin dingin karena merinding.


Dan tiba-tiba tanpa diduga, Benjamin bangkit dari duduknya kemudian berjalan pelan kearah Maria, tidak ketinggalan pria bule tersebut juga berjalan mendekati Benjamin. Membuat ketiga orang lainnya yang berada didalam ruangan tersebut berjaga-jaga mengantisipasi keadaan.


Dan tanpa diduga, Benjamin serta pria bule tersebut saling memeluk dengan eratnya.


Seakan-akan mereka sepasang sahabat karib yang telah lama tidak berjumpa, terpisahkan oleh waktu serta keadaan.


"Oh ... jadi kalian kenal nih ternyata ...." tanpa disadari, Shakira telah berdiri berkacak pinggang, tidak jauh dari mereka dengan tatapan mata hendak membunuh kekasihnya.


"Dasar laki-laki posesif! Hobinya membuat orang takut, seakan-akan aku yang berbuat salah. Eh ternyata, tidak disangka kalian saling kenal satu sama lainnya. Berpelukan, pula. Dasar, menyebalkan!" omel Shakira tidak ada putusnya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan menghentakkan kakinya dengan keras.


...----------------...


Bersambung♥️

__ADS_1


Terima kasih kuucapkan untuk readers yang telah membaca karya ini. Setelah hampir seminggu hiat karena RL yang tidak dapat diduakan, akhirnya bisa up lagi, meski harus mendalami lagi tokoh-tokoh didalam novel ini.


Sekali lagi kuucapkan terima kasih yang banyak bangettt. mohon maaf kalau masih banyak kekurangan disana sini 🙏🙏


__ADS_2