
Shakira mengambil IPod Touch yang disembunyikan didalam hoodienya. Mencoba melihat pukul berapa saat ini. Pukul 11.55 malam. hampir dua malam aku berada di tempat ini. Apa mau mereka? batin Shakira.
Mendengar seseorang membuka kunci pintu, dengan cepat Shakira menyimpan IPod Touch-nya tak lupa menekan tombol off.
"Nona, apakah Anda sudah tidur?" tanya Rosa yang ternyata masuk kedalam kamar tempat Shakira tersekap.
Shakira pura-pura memejamkan matanya, agar Rosa cepat keluar dari ruangan tersebut.
Terdengar langkah Rosa terus mendekati tempat tidur tempat Shakira berbaring meringkuk.
"Nona Shakira..." panggil Rosa kembali sembari menepuk pundak Shakira.
"Bangunlah Nona, aku tahu dirimu belum tertidur. Dengarkanlah aku baik-baik," ucap Rosa dengan berbisik namun gerak geriknya seakan menunjukkan memeriksa apakah Shakira telah tertidur atau belum.
Dirinya yang mendengar perkataan wanita setengah baya tersebut hanya diam membisu.
"Aku akan membantu keluar dari sini. Mungkin Nona tidak percaya denganku, namun aku berkata sesungguhnya. Besok siang rencananya Anda akan di rias secantik mungkin dan akan ikut live show bersama dengan para gadis yang telah disekap sebelum anda, kemudian akan di lelang pada pembeli tertinggi di luar negeri untuk dijadikan "budak" mereka. Dan sayangnya, Nona akan di lelang pada saat puncak acara yaitu pada the highest bet untuk kalangan yang sangat berpengaruh entah itu dari golongan dunia hitam maupun crazy rich bahkan pejabat sekalipun," bisik Rosa dengan terus merapikan selimut Shakira dengan setengah menunduk.
Shakira tersentak mendengar penuturan wanita tersebut. Ketika hendak menyanggah dan bergerak, Rosa menahannya.
"Diam Nona, disini ada CCTV, meski gelap tanpa penerangan, dapat terlihat jelas gerak gerik anda."
"Apakah Anda dapat kupercaya?!" bisik Shakira dengan suara menuntut.
"Demi nyawa anak saya yang sedang disekap juga oleh mereka, Nona. Aku akan membantumu."
"Apa yang Anda inginkan dengan membebaskan saya?" bisik Shakira lagi.
"Tolong laporkan pada pihak berwajib agar anakku dapat terbebas dari mereka, laporkan human trafficking. Dan satu lagi, mereka tidak tahu bahwa aku adalah ibu dari salah satu gadis yang akan mereka perdagangkan," sahut Rosa menjawab rasa penasarannya.
"Tunggu kode saya besok. Akan saya bantu anda melarikan diri dari sini," tambah Rosa, kemudian berdiri tegak dan membalikkan badan hendak keluar terdengar suara bisik Shakira memanggilnya.
"Rosa..aku memerlukan jaringan internet, agar bisa tersambung dengan GPS di ponselku yang tertinggal," pinta Shakira setengah berbisik.
Mendengar permintaannya, Rosa hanya menganggukkan kepala kemudian berlalu dari kamar tersebut dan menguncinya kembali.
__ADS_1
Shakira terpekur, dirinya setengah tidak percaya mengalami hal ini. Ia yang telah mendengar penuturan Rosa sebelumnya sangatlah kaget. Betapa tidak, Reyhan yang telah dikenalnya selama 5 tahun, tidak disangka akan menjualnya. Tubuhnya merinding, membayangkan akan di perjual belikan. Berapa gadis yang disekap juga disini? Mengapa aku tidak mendengar jeritan mereka satupun...Human Trafficking!! For God sake! teriak Shakira dalam hatinya.
Aku harus keluar bagaimanapun caranya! ucap Shakira pada dirinya sendiri. Shakira.
...********...
Beralih pada Benjamin dan Mama Seila.
Benjamin shock melihat dengan jelas Tuan Prajogo, ayah Shakira yang selama ini disangka telah meninggal akibat kecelakaan tengah terbaring diatas tempat tidur pasien lengkap dengan segala macam peralatan medis untuk menunjang kelangsungan hidupnya.
"Ada yang bisa jelaskan padaku, bagaimana bisa sampai seperti ini?!" dengan nada setengah mengancam semua orang yang ada didalam ruangan.
Dio pun ikut terkejut mengetahui perihal kebenaran ini. Sangat tidak diduga olehnya bahwa hal ini bisa terjadi.
"Ayo kita duduk terlebih dahulu, dan tolong kecilkan suaramu, Nak. Mama tidak ingin mengganggu istirahat Darius saat ini," ajak Mama Seila menarik lengan Benjamin menuju sofa terdekat yang ada didalam ruangan tersebut.
"Jelaskan padaku, Pak Yohan.." ucap Benjamin pada asisten Tuan Prajogo.
Yohan pun mendekati mereka berdua, dan berkata dengan merendahkan suaranya.
Benjamin hanya diam tanpa menjawabnya.
"Betul, Pak Yohan. Saya dan tim telah mencari tahu mengenai kejadian tersebut bahkan hingga ke kombes Pri sekalipun, hasilnya nihil karena disebutkan, keluarga tidak ingin diproses lebih lanjut. Lebih tepatnya, paman dan bibi dari nona Shakira yang tidak ingin memprosesnya," jawab Dio.
"Betul, itu semua atas kehendak Tuan Besar...," ucap Yohan sembari menunjuk seseorang yang sedang terbaring diatas ranjang.
"Lalu..apakah dengan menghilangnya Shakira berhubungan dengan ini semua?" tanya Benjamin dengan pandangan menuntut.
"Kalian tidak memikirkan keselamatan dan nyawa dari Shakira. Bahkan, satu pun pengawal tidak diberikan untuknya. Dan penjelasan apapun tidak diterimanya. Justru aku bertanya-tanya saat ini, apakah mereka menyayanginya?!" tukas Benjamin dengan sengit.
"Apakah kalian tahu bahwa putri semata wayangnya hendak melakukan bunuh diri karena merasa dunia ini sudah berlaku tidak adil untuknya?!" suara Benjamin bergetar menahan emosi yang hendak mencuat keluar.
"Dan sekarang dia sedang diculik! Apakah kalian tahu siapa pelakunya yang sebenarnya?!"
Mama Seila yang melihat tangan Benjamin mulai terkepal, menahan emosi, segera mengelus punggung kekar tersebut.
__ADS_1
"Benji sayang...Mama tahu hatimu tidak terima akan nasib Shakira. Redam emosimu. Kita perlu tahu segalanya dari Yohan bagaimana semua bisa menjadi seperti sekarang ini."
"Maafkan saya Tuan Muda, saya yang lalai dalam menunaikan tanggung jawab saya terhadap nona muda. Karena saat ini, prioritas saya adalah bagaimana memulihkan keadaan Tuan Prajogo terlebih dahulu. Dan ketika saya mendengar bahwa nona berada dalam perlindungan keluarga Negara, saya merasa bahwa nona aman saat ini. Tetapi, ternyata saya salah besar, tanpa bermaksud menyinggung perasaan Tuan Muda," sahut Yohan dengan merendahkan diri.
"Pada saat kecelakaan itu terjadi, Tuan besar dan nyonya hanya berdua didalam mobil tersebut. Entah mengapa saat itu, Tuan ingin membawa sendiri kendaraannya tanpa membawa saya seperti biasa."
Hening beberapa saat, hingga tiba-tiba Dio berkata..
"Bos..ada info terupdate, saat ini Reyhan terlihat ada di apartemennya. Ijinkan saya menuju TKP, Bos..."
"Good...ikuti terus dia. Jangan sampai terlihat. Sadap semua alat komunikasi serta akun-akun pribadinya. Bilang ke tim kerjakan semua perintahku!" ucap Benjamin dengan tegas.
"Siap, Bos..86," jawab Dio dan berlalu secepatnya dari kediaman tersebut menuju lokasi yang di berikan oleh Willy dan Nola sesuai GPS yang tertera.
Semoga kali ini benar-benar mendapatkan petunjuk. Dio.
Setelah Dio pergi, Benjamin melihat Tuan Prajogo yang saat ini tengah tertidur akibat obat tidur yang diberikan tim medis.
Lalu, saat ini, apa yang dikatakan oleh tim medis mengenai keadaan Tuan Prajogo? Dan apakah beliau bisa merespon semua pembicaraan kita?" tanya Benjamin setengan menyelidik namun tegas dengan sorot mata tajam membuat siapapun yang melihatnya akan takut.
Yohan pun menjawab pertanyaan Benjamin dengan lugas. "Saat ini keadaan Tuan Besar belum bisa lepas dari alat-alat yang menempel pada tubuhnya. Namun, Tuan bisa merespon pertanyaan dan perkataan meskipun terbatas. Satu lagi, kedua kaki dan lengan kanan Tuan Besar dinyatakan lumpuh sementara akibat mengalami cedera traumatis atau cedera pada tulang belakang."
"Hm...kita harus mencari keberadaan Reyhan ba jingan te ngik ini agar bisa mendapat si Mr. X tersebut," sahut Benjamin setengah berbicara pada dirinya sendiri.
"Mama dukung Benji, papamu pun akan turut serta membantu kita," Mama Seila pun menimpali perkataannya.
"Satu lagi Pak Yohan, dimana mama Shakira berada? Apakah beliau memang benar sudah tiada ataukah.....?" tanya Benjamin lagi pada Yohan.
"Ehm..begini, Tuan Muda...."
...********...
Bersambung ya :)
Terima kasih selalu kuucapkan untuk para kaka² pembaca yang selalu menemani Shakira dan Benji.
__ADS_1
hari ini akan up 2 bab ya..jadi stay tune teruss 🥰🥰🥰🥰