
Seminggu telah berlalu. Shakira dan Benjamin, mereka masih berada di Utrecht, Belanda. Belum nampak adanya tanda-tanda kehadiran Samuel. Ya, tamu yang dinanti-nanti oleh mereka semua. Keluarga Abimanyu Negara beserta Shakira.
Di meja makan, Mama Seila dan Tuan Abimanyu sedang berbincang-bincang selagi menikmati sarapan.
"Bagaimana Pa? Apakah sudah memberi tahu Benji mengenai email yang dikirimkan oleh Samuel?"
Tuan Abimanyu menggelengkan kepalanya seraya menyuapkan roti panggang kemulut istrinya.
"Aku belum sempat memberitahukannya. Menurutmu, apa reaksinya?"
"Aku tidak berani memastikannya. Tapi, yang aku tahu betul mengenai Benji, dia tidak akan berebut dengan kakaknya," jawab Mama Seila dengan yakin.
"Aku harus berbicara dulu dengan para pengacaraku. Agar dapat mengambil tindakan yang akan kita perlukan nantinya," ujar Tuan Abimanyu dengan cepat menghabiskan jus jeruknya dan bangkit dari kursi, mengambil tas kerja serta kunci mobilnya lalu berjalan menuju pintu keluar
"Aku harus berangkat sekarang, ada rapat dengan dewan direksi cabang Utrecht, Belanda. Do'akan semuanya berjalan dengan lancar. OK?!"
Mama Seila pun mengganggukkan kepalanya, tanda mengerti.
"Semoga sukses rapatmu hari ini, Pa ... jika perlu bantuan, telponlah aku."
Dua buah kecu pan ringan mendarat di pipi kanan dan kiri Tuan Abimanyu.
"Semoga semua cepat berlalu. Aku sudah tidak sabar ingin mengakhiri drama-drama ini," sahut Mama Seila berbisik sendu ditelinga suaminya.
"I love you, Darl ...."
Tuan Abimanyu pun masuk kedalam mobil dan dalam sekejap berlalu dari pandangan.
Mama Seila termangu, sorot matanya memandang jauh ke arah langit. Saat ini, langit biru nan cerah diatas kota Utrecht, menjadi saksi bisu menetesnya air mata Mama Seila.
"Sampai kapan keadaan ini akan berlangsung? Sammy dan Benji, keduanya adalah darah daging kami," batin Mama Seila.
Tanpa disadari oleh ibu Benjamin, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Mama ... ada apa? Mengapa Mama menangis disini sendirian?" tanya Benjamin sambil menepuk pundak ibunya.
"Ah ... tidak apa, Benji. Mama baik-baik saja."
Sedikit terkejut dengan kehadiran Benjamin yang entah dari kapan berada didekatnya, Mama Seila dengan cepat menghapus air mata dipipinya.
"Kalau ada yang membuat Mama risau, ceritakanlah kepada kami atau papa."
Mendengar perkataan anak bungsunya tersebut, membuat hatinya tersentuh. Meskipun Benjamin terlahir tanpa kehadiran kakak laki-laki disampingnya, tidak membuat kepribadiannya menjadi pria yang manja dan hanya mementingkan diri sendiri. Sedari kecil hingga dewasa meski terlihat kaku dan pendiam, Benjamin sangat perhatian terhadap orang-orang disekitarnya.
"Kamu sungguh perhatian, Nak. Mama sangat bangga padamu, Benji."
Benjamin pun memeluk ibunya dengan sayang.
"I love you, Ma ... jangan khawatirkan apapun. Aku akan selalu ada untuk kalian," jawab Benjamin seraya menci um dahi ibunya.
Shakira yang sedari tadi telah berdiri tidak jauh dari ibu dan anak tersebut, mengabadikan momen langka itu.
"Ini harus aku abadikan. Pria tampanku memang tiada duanya," batin Shakira sambil tersenyum.
...****************...
Siang itu, Shakira sibuk beraktifitas didapur ditemani oleh Mama Seila. Mencoba resep kue kegemaran Tuan Abimanyu, disamping menghabiskan waktu senggangnya karena bosan tidak memiliki kegiatan berarti selama berada di Utrecht, Belanda.
"Kira, Benji bercerita pada mama mengenai keahlianmu dalam membuat kue. Apakah kamu tidak berminta menekuninya?" tanya Mama Seila saat mereka berdua sedang membuat kue bolu pisang.
__ADS_1
"Ah, Mama Seila bisa aja ...," jawab Shakira merendah, fokus kepada cetakan didepannya.
Mama Seila tersenyum mendengar jawabannya.
"Apakah kamu senang bekerja sebagai bawahan Benji, dikantor?" tanya Mama Seila lagi.
Shakira segera meletakkan cetakan bolunya dan memandang kearah ibu dari pacarnya dengan dahi berkerut.
"Memang ada apa, tumben Mama menanyakan hal tersebut?"
Mama Seila pun ikut meletakkan adonan kuenya.
"Jangan berprasangka buruk dulu, Kira. Mama tau bahwa pekerjaanmu yang sekarang adalah impianmu selama ini."
"Betul, Ma. Saya menyukai pekerjaan yang sedang saya tekuni saat ini. Yah, meskipun harus berhadapan dengan atasan yang super dingin dan tidak pernah tersenyum hahaha ...," jawab Shakira tertawa sambil membayangkan raut wajah Benjamin yang datar tanpa ekspresi jika sedang di kantor.
Mama Seila ikut tertawa mendengar penuturuan wanita muda yang ada dihadapannya ini.
"Apakah kamu tidak ingin meneruskan perusahaan kedua orang tuamu?" pancing Mama Seila seraya menuangkan adonan kue kedalam cetakan yang telah disiapkan oleh Shakira.
"Awalnya, itu adalah tujuan utama setelah saya lulus kuliah. Namun, sepertinya itu sudah bukan tujuan utama lagi. Karena, perusahaan papa dan mama telah di akuisisi oleh bank, bukan?"
Mama Seila diam sesaat, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pesan yang dititipkan oleh Tuan Prajogo melalui Yohan, asistennya.
"Bagaimana jika seandainya perusahaan tersebut masih ada? Apakah kamu mau mengelolanya?"
Sambil memdengarkan pertanyaan ibu Benjamin, Shakira dengan cepat membereskan sisa-sisa bahan adonan kue serta mencuci perabotan masak. Dirinya mencoba mengingat hari-hari dimana pihak bank datang dan memberikan informasi bahwa perusahaan orang tuanya telah bangkrut dan sedang dalam penanganan pihak kurator.
"Tidak mungkin, Ma. Karena perusahaan tersebut sudah tidak ada, dan menurut orang Bank, kurator yang sedang menangani hingga ada yang membelinya," jawab Shakira panjang lebar.
Mengingat kejadian tersebut membuat bulu kuduknya merinding. Sungguh sangat tidak menyenangkan, kehilangan semuanya dalam sekejap.
"Sesungguhnya perusahaan tersebut masih ada, Kira," ucap Mama Seila dengan pelan namun pasti.
Mama Seila menarik tangan Shakira dan mendudukkannya dikursi yang ada di dapur tersebut.
"Dengarkan Mama sebentar ...," perintah Mama Seila ikut duduk diseberangnya.
"Ini adalah pesan dari papamu. Beliau menitipkan pesan agar diteruskan padamu, Kira."
"Pesan apa, Ma?" tanya Shakira penasaran.
"Beliau ingin kamu meneruskan usahanya. Semua usaha yang saat ini sedang dibekukan atas perintahnya," jawab Mama Seila dengan tersenyum.
Dahi Shakira berkerut tanda berusaha memahami pesan papanya.
"Bagaimana mungkin? Bukannya kami bangkrut ya? Bahkan, sampai rumah pun kami tidak punya."
"Tenang saja, Kira. Kamu memiliki Yohan, dia yang akan mengurus segalanya untukmu. Jadi, pikirkanlah dengan baik. Papamu menanti jawabanmu, jawaban terbaikmu," sahut Mama Seila seraya mengedipkan sebelah matanya lalu beranjak bangkit berdiri mengecek adonan kue yang sedang dipanggang.
"Kapan saya harus memberikan jawaban?" tanya Shakira kepada nyonya rumah.
"Secepatnya, agar Yohan bisa cepat bergerak. Bahkan jika kamu sanggup, sepulang dari negeri Ginseng, kamu sudah bisa mulai bekerja disana," jawab Mama Seila dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, akan saya pikirkan dahulu. Benjamin pun juga harus tahu mengenai hal ini, saya akan berdiskusi dengannya, Ma."
"Good, Kira. Mama tunggu kabar baiknya, OK?!"
Dua puluh menit pun berlalu. Ting ... bunyi oven menandakan kue bolu yang sedang dipanggang telah matang.
__ADS_1
"Wahh Kira ... tidak disangka hasil kue buatan tanganmu terlihat cantik," ucap Mama Seila memuji kue buatannya.
Shakira pun tertawa senang melihat kreasinya tidak mengecewakan.
"Semoga Tuan Abimanyu dan Benji menyukainya ya, Ma ...."
"Hmm ... bau sedap apa ini?!" terdengar suara bariton yang berasal dari ruang makan.
"Benji! Kemarilah, Nak. Cobalah bolu ini," panggil Mama Seila dengan riang.
Terdengar langkah kaki Benjamin mendekat.
"Ternyata, selain cantik dan ramah, pacar kamu ini juga ahli membuat kue!" puji Mama Seila didepan Benjamin, membuat hidung Shakira kembang kempis dibuatnya.
Benjamin mengambil sepotong kue dan memakannya sekali lahap. Shakira menanti reaksinya dengan nafas tertahan.
"Hmm ... sudah kuduga, tangan ini memang terampil," ujar Benjamin mengacungkan kedua jempolnya. Lalu mengusap rambut Shakira dan menggenggam tangan kekasihnya dengan lembut.
"Ah syukurlah kalau kamu meyukainya, Benji," jawab Shakira bahagia tidak sanggup menutupi kegembiraannya.
Mama Seila yang melihat kemesraan dua sejoli tidak tahu tempat tersebut pun gatal ingin berkata-kata.
"Cie ... kalian berdua bikin mama jadi kangen sama papa kamu, nih ... hahahaha," goda Mama Seila sambil mencubit pipi anaknya dengan gemas.
"Haduh, ibu satu ini memang tidak bisa melihat anaknya bahagia sedikitpun," rajuk Benjamin pura-pura marah.
"Hahaha ... sudahlah Benji, Mama Seila hanya ingin menggodamu," ujar Shakira menengahi ibu dan anak tersebut.
"Ayo, kita bawa kue sederhana ini keruang makan. Jangan lupa, simpan setengahnya untuk papamu, Benji!" ujar Shakira mengingatkan karena terlihat oleh ekor matanya, pria tampan itu tengah memotong kue itu kembali.
"Baiklah, Nona Muda Shakira," kerling Benjamin menggodanya.
Hanya tatapan mata setajam silet dilemparkan oleh Shakira.
...****************...
Siang pun berlalu dengan cepat. Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul delapan malam waktu setempat.
Saat ini, cuaca diluar cukup dingin. Tidak ada satupun keluar Abimanyu Negara bersantai diluar.
Terlihat oleh Dio dan Nola, mereka bertiga dan Shakira tengah bercengkerama di ruang keluarga.
"Aku harap mereka akan selalu seperti ini. Tidak ada lagi drama penguntitan, penculikan, percobaan pembunuhan," ujar Dio pelan takut terdengar salah satu keluarga tuannya.
"Sama. Aku pun demikian, Dio. Tapi, suasana yang tenang seperti ini membuatku tidak nyaman. Sepertinya dibuat sengaja. Anak sulung tuan dan nyonya sedang merencanakan sesuatu diluar sana," jawab Nola menyampaikan pemikirannya.
Dio yang sedang duduk santai di kursi luar tertarik mendengar penuturan Nola.
"Benar juga katamu. Wah, ternyata kamu pintar menganalisis juga ya?!"
Plak! Pukulan ringan mendarat di pundak Dio.
"Haish, hobi sekali mukul nih cewek cantik satu ini," goda Dio disertai cengiran lebarnya.
"Mari kita berharap semoga besok tidak terjadi apa-apa," ucap Nola dengan harap-harap cemas.
Lalu, Nola pun ikut menyandarkan punggungnya di kursi sebelah Dio, berharap kedamaian ini akan berlangsung selamanya.
...----------------...
__ADS_1
bersambung ♥️
Huft, akhirnya bisa up lagi.