Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 42. Dimanakah dirimu..


__ADS_3

Sepertinya sudah semalam aku disini. Batin Shakira sambil menengok kearah jendela yang masih terbuka tirai kelambunya. Saat ini sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. Matanya berusaha menyesuaikan sinar sang surya. Seluruh badannya terasa sakit. Tertidur dengan kedua tangan masih terikat pada kepala tempat tidur serta kaki yang juga masih terikat dengan kecang. Mencoba bersuara, bibirnya pun masih diisolasi.


Shakira berusaha melepaskan ikatan tali yang mengikat pergelangan tangannya. Usahanya terasa sia-sia. Bukannya melonggarkan tali, melainkan pergelangan tangannya malah terluka akibat gesekan.


Ia merasa putus asa. Bagaimana caranya melepaskan diri dari sini.


Kriuk...kriukk...perutnya berbunyi keras. Makanan yang dibawakan kedalam kamarpun tidak dapat disentuhnya sama sekali.


Pusing, perut kosong, haus dan letih semua dirasakan olehnya.


Terdengar bunyi kunci pintu berputar lalu masuklah seorang lelaki kedalam kamar dan mendekatinya. Shakira bergidik ketakutan, matanya membulat besar, penuh tanda tanya tersirat dari raut wajahnya.


Srekk..srekkk bunyi isolasi lakban yang menutupi bibir terbuka dengan kasar. "Ahhhhh sakittttt.....!!!!" Shakira menjerit kesakitan dan setengah menangis. Air mata meleleh dipipinya.


"Apa maumu breng*ek! Lepaskan aku!" Shakira menjerit kesetanan, meronta-ronta hingga kehabisan nafas dan tenaga.


Lelaki tersebut hanya memandanginya dari pinggir tempat tidur tempat Shakira diikat.


Melihat tawanannya diam tidak bergerak karena kehabisan tenaga, lelaki tersebut hanya tersenyum dingin.


"Apa kamu lapar dan haus, sayang?" ucapnya.


"Iya..aku lapar, haus, pusing, aku mau kekamar mandi," jawab Shakira dengan cepat agar bisa lekas terbebas dari ikatan-ikatan tali ini.


"Tolong Rey..lepaskan aku.." pinta Shakira dengan mengiba.


**hah ternyata lelaki itu adalah Reyhan toh..ckckc...author geleng-geleng kepala.


"Hmm..akan kuambilkan makanan dan minuman baru untukmu, sayangku. Tetapi kalau ingin kekamar mandi tunggulah sebentar, ada yang ingin bertemu dengan mu, Kira.." sahut Reyhan dengan santai.


"Siapa? Dan apa hubungannya denganmu? Jawab Rey...ini penculikan namanya! Apa maksudmu seperti ini? Apakah kamu sudah gila?" selidik Shakira setengah berteriak melihat Reyhan berjalan meninggalkannya sendiri lagi dengan pintu tertutup kembali.


"Sialannnn! Sialannnn! Dasar orang gila!! Lepaskan aku, lepaskan aku dari sini, Reyhannn!!!!" Jerit Shakira dengan lantang.


Tak seberapa lama, pintu kembali terbuka, wanita yang sama seperti kemarin, masuk membawa makanan dan minuman dan meletakkannya diatas nakas sembari mengangkat makanan yang kemarin tidak disentuh sama sekali.


"Apa lihat-lihat?! Kamu kira aku bisa menghabiskan makanan dan minuman itu sendiri tanpa menggunakan tanganku dan mulutku, hah??" bentak Shakira pada wanita setengah baya yang dari tadi hanya meliriknya tanpa berkata-kata.


"Ck...ck..ganas sekali wanita cantik satu ini..." ucap seorang pria berwajah tampan, tubuhnya kekar, tinggi dan tegap, hanya memakai hoodie hitam polos dan celana panjang jeans serta sepatu sneakers, berjalan mendekati tempat tidur. Sangat tampan bahkan..hanya saja dibagian sebelah kanan wajahnya ada bekas luka bakar. Shakira tersentak ketika pipinya di sentuh oleh pria setengah tampan tersebut.


"Hm...halus sekali pipimu, cantik. Tapi sayang, saat ini, aku tidak berminat padamu." kata Pria itu dengan senyum yang menakutkan.


Dengan jentikan jari, wanita yang membawa nampan makanan pun keluar dari kamar tersebut dan menutup rapat pintu yang tadinya terbuka lebar.


Shakira berusaha menjauhi pria itu. Dirinya merasakan aura mematikan yang terpancar dari raut wajah pria yang sedang memandanginya dari dekat.


"Siapa kamu? Dan apa maksudnya semua ini?" Shakira bertanya dengan pelan, takut memancing emosi lawan bicaranya.


"Hah..apa mauku denganmu, yah...coba kupikirkan baik-baik." jawab pria itu tanpa memalingkan pandangan matanya dari sepasang mata Shakira.

__ADS_1


Semakin dipandang, dia sekilas mirip dengan Benji, ah enggak mungkin. Benji anak tunggal mama seila. Shakira.


"Apa yang kau pikirkan, wanita? Apakah aku terlalu tampan bagimu?" sahut pria tersebut kembali dengan senyum sinis.


Shakira yang tidak menduga mendapat pertanyaan tersebut hanya menggelengkan kepala.


"Tolong lepaskan aku, bilang Reyhan, aku ingin pulang. Tolong katakan padanya, Shakira ingin pulang. Please..." kembali Shakira mengiba minta dibebaskan.


Pria tersebut tertawa terbahak-bahak, bahkan ranjang pun bergetar karenanya.


Orang gila...Ya Tuhan, tolong bebaskan aku dari sini. Shakira.


Masih sambil tertawa pria tersebut berdiri dan hendak berjalan keluar, pria tersebut berkata. "Saat ini aku belum ingin berurusan denganmu, jika waktu telah tiba, Kau dan aku akan bermain bersama-sama, cantik.." dengan mengerlingkan mata, lalu keluar tanpa berkata-kata lagi.


Shakira kembali berteriak kencang memanggil siapapun agar dilepaskan. Reyhan datang kembali namun tidak sendiri, melainkan beserta wanita yang membawa makanan tadi.


"Tenagamu tidak ada habisnya ya..dari tadi berteriak kencang. Ini Rosa akan menyuapimu lalu akan membantu dirimu membersihkan diri. Dan satu lagi, jangan pernah berharap siapapun akan menolongmu membebaskan diri. Percuma berteriak minta tolong," ucap Reyhan sembari memandang wajah Shakira yang bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Kompres matanya, agar cantik ketika acara tiba," perintah Reyhan kepada Rosa, wanita setengah baya yang sibuk menyiapkan makanan.


"Baik, Tuan..akan saya lakukan," jawab Rosa dengan setengah menunduk.


"Mari saya suapi, Nona," Tawar Rosa pada Shakira.


"Tidak! Lepaskan taliku, aku bisa makan sendiri," tolak Shakira dengan keras.


"Aku bilang TIDAK!" bentak Shakira.


PLAK..sebuah tamparan mendarat di pipi Shakira. Sakitnya bukan main, darah mengalir dari sudut bibirnya. Air mata kembali meleleh deras.


"Kamu kira masih bisa bertingkah seenakmu sendiri, Kira? Jangan menolak Rosa, atau kutampar pipimu sekali lagi?!" ancam Reyhan dengan emosi.


Dengan merintih kesakitan dan air mata terus berjatuhan, Shakira bertanya. "Apa salahku terhadap kamu, Rey? Beri tahu aku, kenapa Reyhan? Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi...huhuhu...." Shakira menangis tersedu-sedu.


"Tinggalkan kami berdua dan tutup pintu," perintah Reyhan kepada Rosa, pelayannya.


Rosa pun bergegas keluar dari kamar itu dan menutup pintu sesuai perintah Reyhan.


"Stop menangis, dasar cengeng!" bentak Reyhan kembali.


"Kamu jahat, Reyhan. Mengapa kamu setega ini denganku? Apakah tidak cukup telah menyakitiku dengan Juliana? Dan sekarang kamu menculikku?! Lepaskan aku please...", Shakira memohon.


Reyhan tertawa mendengar semua perkataannya. "Kamu pikir aku tidak tahu saat ini kamu sedang dekat dengan siapa?"


Shakira diam seketika. Berusaha tidak terpancing.


"Kamu pikir aku tidak tahu, hah?!" bentak Reyhan kembali.


"Maksudmu apa? Dekat dengan siapa?" tanya Shakira balik.

__ADS_1


Selama ini, Shakira memang tidak pernah menunjukkan pada siapapun kedekatannya dengan pewaris tunggal Three Siblings Corp. Terlalu riskan baginya, melihat relasi bisnis Benjamin dan orang-orang yang belum diketahui yang ingin mencelakainya. Selama ini, semenjak dirinya mengenal Benjamin, tidak pernah berteman dekat dengan siapapun mengingat pernah mengalami pengkhianatan. Membuatnya berpikir dua kali untuk dekat dan berteman dengan siapapun juga.


"Kamu mau berbohong padaku? Kamu menjual keperawananmu pada Tuan Muda Benjamin, pewaris Three Siblings Corp. bukan?" desis Reyhan tepat di telinga Shakira.


"Apaaa kamu bilang?" teriak Shakira.


"Kamu dan Juliana sama-sama gilanya! Kamu kira aku murahan hah?! Kalian kira aku seperti Juliana yang menyerahkan tubuhnya hanya demi kepuasan semata??"


Reyhan kembali tertawa keras, membuat Shakira semakin menjauh darinya.


Benji...kamu dimana? Tolong aku Benji...Papa..mama..tolong, Kira....Shakira.


...********...


Semalaman Benjamin tidak dapat memejamkan matanya. Meskipun berusaha beristirahat sejenak tetap saja, mata tidak mau diajak kompromi olehnya. Maka dari itu, saat ini dia berada di lapangan tembak. Melepaskan segala beban dan amarah yang ada didalam hatinya.


"Mengapa dia hilang tanpa jejak..CCTV pun tidak bisa menangkap sosok pria tersebut. Mengapa susah sekali mencarimu, Kira?" ucap Benjamin pada dirinya sendiri.


Kemudian tak lama Nola dan Dio datang menghampirinya.


"Tuan, kami perlu berbicara dengan anda, penting mengenai nona muda," ucap Nola.


Mendengar nama Shakira, Benjamin langsung mengehentikan kegiatannya.


"Ayo kita ke ruang kontrol," ajaknya pada mereka berdua.


Sesampainya di ruang kontrol. Maria yang telah menanti mereka segera menghidupkan layar monitor berukuran raksasa, menampilkan keempat wajah yang disinyalir berhubungan dengan menghilangnya Shakira, berkat informasi dari Lena dan tak lupa asisten mendiang Tn. Prajogo.


"Kami mencurigai mereka berempat Tuan Muda," ucap Maria pada intinya.


"Paman dan bibinya lalu.." ucap Benjamin


"Mantan kekasih nona muda dan sahabatnya, Bos.." Dio menimpali.


Kedua alis Benjamin bertaut, jarinya mengetuk-ngetuk meja kaca yang sudah berganti menjadi baru akibat di hancurkan oleh Benjamin pada waktu kalap.


"Cari tahu keberadaan mereka terakhir kali, semuanya tidak terkecuali, dan berikan laporan kepadaku paling lambat 30menit dari sekarang. Semakin lama Shakira menghilang, akan semakin susah kita temukan!" perintah Benjamin kepada bawahannya.


"Satu lagi, Nola, apakah Shakira sewaktu jogging memakai jam tangannya?"


"Memakai, Tuan Muda. Saya dan Bik Ima kemarin mengecek apakah nona membawa ponselnya. Ternyata tidak, hanya menggunakan jam tangan dan ipod saja," jawab Nola.


"Good, cek GPS-nya sekarang. Karena aku sempat memasangkan chip GPS di ponsel dan jam tangannya. Semoga masih berfungsi...." Benjamin berharap dengan cemas.


"Baik Tuan Muda," Maria bergegas meminta salah satu hacker yang dimiliki BK untuk melacak keberadaan Shakira melalui jam tangannya.


Well..apakah GPS-nya masih berfungsi guys? stay tune next bab yah..😉😉


jangan lupa dukung selalu Benjamin and the gank 😍💗 terima kasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2