Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 60. Kakakku yang hilang


__ADS_3

Setelah puas tidur, Shakira dan Benjamin sedang menikmati makan siangnya di sebuah rumah makan terdekat dengan markas Black Klan. Yaitu warteg (warung tegal) yang menjual berbagai macam makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Dan ini adalah kali pertama seorang tuan muda pemilik sebuah perusahaan raksasa menikmati makanan tersebut.


"Enak bukan?" lirik Shakira sambil terus mengunyah makanannya.


Benjamin hanya menganggukkan kepala dan memberikan tanda jempol sebagai jawaban.


"Buset dah, baru kali ini aku menemani bos makan ditempat seperti ini. Meski aku sering membungkuskannya makanan dari warteg semisal dia bermalam dimarkas," bisik Dio pada Nola dengan mimik wajah keheranan.


Namun, orang yang dibicarakan tengah asyik menikmati sepiring nasi pecel dan ayam goreng serta es teh manisnya.


"Sepertinya nona mampu memberikan pengaruh kuat bagi tuan muda, setahuku memang nona muda doyan jajanan kaki lima. Tumben kali ini aku tidak diperintahkan membeli siomay dan ice lemon tea," jawab Nola sambil terkikik di telinga Dio.


"Hei kalian berdua! Dari tadi bisik-bisik tetangga saja, sudah seperti ibu-ibu kampung sebelah hobinya ngeghibahin majikan?!" semprot Shakira dengan melemparkan satu bungkus krupuk ikan yang dengan cepat di tangkap langsung oleh Dio.


Nola dan Dio langsung memerah seketika ketika di sindir oleh Shakira.


"Kena telak lah kita ...." bisik Dio kembali kepada Nola.


Plak! Teriak Dio yang terkena pukulan kecil pada lengannya.


"Sstt ... diamlah. Nanti kena semprot lagi, bahaya?!" tegur Nola dengan melotot.


Lima belas menit kemudian, setelah semua mengisi perut hingga kenyang, Benjamin mengajak mereka bertiga menuju kesuatu tempat.


Kali ini, Dio yang mengemudikan mobil, ditemani oleh Nola dibangku sebelah. Sedang Benjamin dan Shakira duduk dikursi penumpang.


"Kita mau kemana sekarang, Benji?" tanya Shakira yang mulai lagi rasa kepo-nya.


"Aku mau menemui seseorang. Kalau hanya ingin menemukan Samuel, tak perlu kita cari. Dia akan datang dengan sendirinya," jawab Benjamin yang terlihat sedang mengirimkan pesan singkat entah kepada siapa.


"Apakah orang ini masih berhubungan dengannya?" tanya Shakira kembali.


Terlihat Benjamin menimbang pertanyaan tersebut lalu kemudian memutuskan untuk menjawab.


"Iya, Kira. Orang yang akan kita temui adalah orang yang berhubungan dengan penculik yang menjual bayi Samuel kala itu."


Benjamin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Pandangannya menatap kearah luar jendela.


"Aku ingin tahu alasan mereka menculiknya. Apakah karena dendam kepada keluargaku atau uang. Yang aku pikirkan adalah, mengapa kedua orang tuaku tidak pernah sedikitpun bercerita bahwa aku memiliki seorang kakak."


Shakira mendengar kalimat per kalimat yang diucapkan oleh Benjamin, merasa tersentuh.


"Apakah kamu merasa kecewa, Benji? Kecewa merasa dibohongi oleh mereka atau kecewa karena harta warisan harus terbagi karenanya?" tanya Shakira penasaran.


Benjamin melotot mendengar pertanyaan tersebut.


"Dasar bodoh! Mana ada aku berpikir hanya karena harta warisan?! Kecewa oleh papa dan mamaku mungkin sedikitnya iya, Kira. Justru dititik ini, aku merasa kasihan kepada Samuel. Dia hanyalah korbannya," tukas Benjamin sedikit menggerutu.


"Ups, sorry aku sudah salah bertanya," ucap Shakira dengan lembut seraya mengelus lengan berotot tersebut dan tersenyum simpul.


Tangan kanan Benjamin bergegas meraih jemari yang sedang mengelus lengannya.


"Kira ... please stop it! Kamu akan membangun sesuatu dibawah sana," bisik Benjamin sambil menunjuk kebagian tengah celananya.


Shakira yang langsung bereaksi dengan kode Benjamin tanpa sadar berteriak dan memukulnya.


"Dasar laki-laki omes! Ckckck ... memangnya aku ini apamu, hah?!


Benjamin hanya tertawa kecil melihat wanita yang sedang digoda, mengeluarkan taringnya.


"Ish ... memang menyebalkan tuan muda satu ini," gerutu Shakira sambil membuang pandangannya keluar jendela. Dan tak lupa menarik kasar tangan kanannya yang masih dalam genggaman Benjamin.


Tawa Benjamin semakin terdengar keras didalam mobil.


"Sudah gila kurasa ...." batin Shakira sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


Seperti biasa Dio dan Nola bagaikan sepasang obat nyamuk diantara mereka, menebalkan telinga.


...********...


Tak membutuhkan waktu lama, tibalah mereka ditujuan.


Mobil yang kemudikan oleh Dio memasuki kawasan perumahan. Mobil berhenti tepat didepan sebuah rumah minimalis modern berwarna coklat, sesuai dengan lokasi yang di kirimkan oleh Maria.


Dari dalam rumah, tampak seorang pria setengah baya kira-kira berusia 70an menggunakan tongkat, keluar menyambut kedatangan mereka ditemani oleh seorang perempuan yang sedang menggendong anak bayi di tangannya.


Benjamin bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Shakira.


"Ayo Kira, bergegaslah. Aku ingin semuanya cepat berakhir," ucap Benjamin seraya menggandeng tangan Shakira.


"Ok, Benji ...." jawab Shakira dengan malu karena mendapatkan perlakuan istimewa.


Bagaimana tidak, setiap kali dirinya bersentuhan dengan Benjamin, hatinya pasti akan selalu morat marit dibuatnya. Belum lagi, cara Benjamin memperlakukannya seakan-akan dirinya adalah perempuan yang istimewa bagi tuan muda tersebut.


Apakah aku harus menanti ungkapan isi hatinya? Atau aku yang harus menanyakannya terlebih dahulu? Shakira.


Pria setengah baya tersebut bernama Mamal. Beliau adalah ayah dari pengasuh yang menjual bayi Samuel dan kemudian terbunuh agar tidak membocorkan para mafia tanah tersebut.


Pak Mamal menceritakan semua kisahnya dari awal hingga bagaimana anaknya, yang menjadi pengasuh bayi Samuel tersebut mampu melakukan hal hina itu.


"Dia melakukan semua itu agar dapat membiayai pengobatan almarhumah ibunya, Tuan Muda ...." ucap Pak Mamal dengan pandangannya yang jauh menatap kearah langit.


"Dan para mafia tanah itu menjualnya kepada gembong narkoba yang berasal dari luar negeri, kalau tidak salah. Mereka telah menikah lama namun tidak kunjung dikaruniai momongan. Kemudian, dari salah satu mafia tanah yang membakar lahan perkebunan kakek Anda, berhutang dalam jumlah besar dan berjanji akan memberikan seorang bayi bagi mereka sebagai alat pembayaran hutangnya, dikala itu."


Lanjut Pak Mamal. "Mengenai surat-surat adopsi, mereka membayar seseorang, agar dapat membawa pulang bayi tersebut. Kalau tidak salah, mereka tidak mengganti nama bayinya."


Suasana hening mencekam. Raut wajah Benjamin sudah tidak dapat diartikan lagi oleh siapapun. Hanya Dio dan Nola yang sangat mengerti akan tuannya.


"Maafkan kami, Tuan Muda. Maafkan almarhumah ibu saya, yang telah membuat keluarga kalian harus mengalami hal ini," ucap wanita yang sedang menggendong bayi.


Benjamin hanya terpaku diam. Tidak sanggup berkata-kata. Saat ini dirinya menahan gejolak emosi. Kedua tangannya mengepal hingga buku-buku jari memutih. Tatapannya menjadi dingin. Semua yang ada disitu tidak berani bersuara bahkan menatapnya. Namun, semua sudah tidak berarti lagi. Pelakunya pun sudah tidak ada. Bahkan, maut telah menjemputnya terlebih dahulu.


"Apakah kalian sudah merekamnya?" tanya Benjamin kepada dua bawahannya.


"Sudah, Tuan Muda ...."


"Sudah, Bos ...." jawab mereka serempak.


Benjamin bergegas berdiri dan mengajak yang lainnya untuk undur diri dari tempat itu.


"Kalau begitu, kami akan pergi. Terima kasih atas waktu dan informasinya. Pesan saya, jika ada yang bertanya mengenai kedatangan saya kemari, katakan saja bahwa Benjamin Negara sedang mencari kakaknya yang hilang," perintah Benjamin tanpa bisa di sanggah.


"Baik Tuan Muda, akan kami laksanakan. Terima kasih atas kunjungannya kemari," jawab Pak Mamal seraya memberi hormat dengan cara membungkukkan setengah badannya yang sudah renta.


Siapa yang tidak tahu akan keluarga besar Negara. Kakek Benjamin adalah orang yang disegani dikala hidupnya.


Selepas pergi dari kediaman pak Mamal, mobil yang mereka kendarai kembali membelah jalan raya yang dipadati oleh kendaraan berlalu lalang.


"Benji, kemana kita mencarinya?" tanya Shakira memandang wajah tampan yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Hening sesaat. Tampak Benjamin tengah berat berpikir.


"Benji ...." panggil Shakira dengan pelan sambil menepuk paha pria tersebut.


Yang dipanggilpun dengan cepat menoleh, namun dengan raut wajah sedih.


"Aku yakin. Aku sangat meyakini bahwa Samuel bermaksud balas dendam selain kepada keluargamu, juga kepada kedua orang tuaku," sahut Benjamin dengan lugas.


"Mengapa balas dendam kepada keluargamu?" Shakira bertanya pada Benjamin kembali.


"Entahlah, mungkin karena dia merasa dibuang? Merasa tidak diinginkan oleh orang tua kami?"

__ADS_1


Shakira hanya manggut-manggut saja, seakan membenarkan kata-kata Benjamin. Lalu teringat, percakapan Samuel dengan anak buahnya di Villa sewaktu dia disekap.


Flashback on


Shakira yang sudah terlepas dari ikatan tali, mencoba mencuri dengar percakapan orang-orang diluar pintu kamar. Ingin tahu siapa orang-orang tersebut dan alasan mereka melakukannya.


Telinga kirinya ditempelkan pada daun pintu.


Terdengar suara Reyhan dan dua orang laki lainnya. Salah satunya bisa dikenali oleh Shakira.


Hmm ... Reyhan sedang berbincang dengan pria setengah tampan. Shakira.


"Bagaimana Rey, can you break their system, yet?" ( apakah kamu sudah bisa merusak sistem mereka?) tanya Samuel.


" Three Siblings Corp sangat kuat, firewallnya. Apalagi, mereka adalah raksasa dibidang teknologi canggih. Aku akan berusaha semampuku, Sir ...." jawab Reyhan setengah takut.


"Stu^pid! Do it as I say! (lakukan seperti yang kuperintahkan). Rusak sistem mereka. Kirimkan berbagai macam virus yang tidak terdeteksi. Saya mau mereka mengalami kehancuran seperti calon mertuamu, hahahaha ...." ucap Samuel terbahak-bahak.


"Baik, Sir. Akan aku lakukan sesuai perintahmu," jawab Reyhan kembali.


"Bukankah, seharusnya gampang kamu merusak sistem mereka, Rey? Karena saat ini, si tuan muda sedang fokus mencari wanita itu," timpal pria lainnya.


"Akan kucoba lagi malam ini," jawab Reyhan setengah menggerutu.


Flashback off


"Hmm ... Benji, apakah sewaktu aku diculik, ada kejadian aneh yang terjadi pada sistem jaringan kita di kantor? Peretasan maksud aku," tanya Shakira tiba-tiba.


"Ada Nona, IT kita melaporkan ada kejanggalan pada sistem. Ada seseorang yang hendak meretas dan merusak sistem kita dengan mengirimkan berbagai macam virus," jawab Nola.


Berarti benar. Samuel mengetahui asal usul keluarganya dan bermaksud menghancurkannya. Bodohnya aku, mengapa hal ini terlewatkan. Shakira.


"Kalau begitu memang benar, Samuel dendam kepada kalian juga," ucap Shakira dengan tegas.


"Darimana kamu mengetahui hal tersebut?" tiba-tiba Benjamin bersuara.


Lantas, Shakira menceritakan semua yang diketahui olehnya.


"Maafkan aku, karena terlewatkan olehku. Kamu pasti akan marah padaku, bukan?" tanya Shakira dengan pandangan takut.


"Apakah itu harus kujawab?" dengus Benjamin.


"Lalu, kita harus bagaimana? Aku takut akan terjadi hal-hal yang menakutkan lagi, ditambah jika mereka tahu bahwa kedua orang tuaku masih hidup," sahut Shakira dengan kebingungan.


"Kita harus menemukannya terlebih dahulu," Pinta Shakira dengan wajah memelas.


Benjamin membuang nafasnya dengan kasar. "Tak perlu susah payah mencarinya. Aku sudah tahu dimana dia berada sekarang. Dia dekat dengan kita. Bahkan gerak gerik kita dipantau olehnya."


Shakira berdecak kagum. "Memang hebat Black Klan, tidak kaleng-kaleng!"


"Tidak perlu memuji, Kira. Seandainya dari awal kamu ceritakan semuanya, aku tidak perlu susah payah mencari motifnya," tukas Benjamin masih dengan cemberut.


"Iya, aku minta maaf," rayu Shakira seraya mengerlingkan matanya.


Benjamin hanya diam menatapnya.


Menyebalkan, aku tidak bisa marah kepadanya. Lihat caranya memainkan kerlingan mata, duh imut sekali. Ingin ku ke^cup .... Benjamin.


"Siapkan diri kalian dan tim, Dio. Kurasa tidak lama lagi kita akan berhadapan dengan kakakku yang hilang," perintah Benjamin kepada bawahannya.


"Baik Bos, aku kusiapkan tim untuk berjaga-jaga," jawab Dio dengan mantab.


"Kenapa? Apakah Samuel akan menyerang kita, Benji? tanya Shakira ketakutan.


"Menurutmu?!" tanya Benjamin balik kepadanya.

__ADS_1


...********...


fiuhh 1700 kata. Bersambung ya semua. Terima kasih atas dukungannya selalu terhadap karya recehku ini huhuhu...♥️


__ADS_2