Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 74. Gangguan


__ADS_3

Setelah menikmati suasana di Dom Tower, mobil yang dikendarai oleh Dio berlanjut ke Castellum Hoge Woerd.



Sesampainya di tempat tujuan, Shakira, Nola dan Dio bergegas turun dari mobil yang dikendarai dan telah terpakir dengan rapi.


Mereka bertiga berjalan dengan cepat, mengejar waktu agar tidak tidak terlewat jam buka untuk pengunjung.


"Nona, jangan berlari-lari!" Nola dan Dio mengejar Shakira yang tidak ingin melewatkan waktu mengunjungi salah satu museum paling hits di kota tersebut.


Tampak dari luar tempat yang mereka tuju bukanlah benteng biasa, Castellum Hoge Woerd merupakan sebuah benteng modern dengan banyak aktivitas seru yang dapat dilakukan di dalamnya. Dibangun pada tahun 2007, tempat ini merupakan kombinasi dari kafe, teater, taman, peternakan, dan museum.


Museum yang ada dalam Castellum Hoge Woerd memamerkan koleksi dari sejarah Romawi di Utrecht.


"Ayo! Masa kalah sih sama aku?!" teriak Shakira sambil menoleh kebelakang kearah para pengawalnya.


"Nona, hati-hati!"


Tiba-tiba, brukk! Tanpa sengaja Shakira menabrak tubuh seseorang pria yang sedang berjalan didepannya.


"Ouch ... sorry. I'm so sorry ...." ucap Shakira sambil mengelus dahinya yang terasa nyeri akibat terkena benturan secara tidak sengaja.


"It's OK, cantik," jawab pria yang ditabrak oleh Shakira.


Shakira gelagapan melihat seorang pria keturunan Belanda berbicara bahasa Indonesia dengan fasih.


"Nona Muda, anda tidak apa-apa?!" tanya Dio dan Nola setelah mendekat, dengan penuh kekhawatiran.


Nola nampak memandang penuh curiga terhadap pria bule tersebut.


"Iya, aku baik-baik saja, Dio. Nih, dahiku masih ada bukan?!" kerling Shakira setengah meringis.


"Maafkan saya Mister, apakah anda tidak apa-apa?"


Pria bule tersebut tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya.


"Saya baik-baik saja, Cantik. Sampai bertemu kembali," jawab pria bule itu dengan penuh sopan dimata seorang Shakira, sedang dimata kedua pengawalnya adalah pria yang harus mereka curigai.


"I-iya ... sampai bertemu lagi, Mister, bye ...."


"Ayo Nona Muda! Kita harus cepat sebelum kafe yang ingin kita tuju tutup," geret Dio melihat gelagat nonanya tidak bisa berpaling melihat lelaki tampan.


"Ishh ... dasar kamu tidak suka ya lihat orang bahagia?!" sahut Shakira setengah merajuk namun tetap mengikuti langkah Dio.


"Nona, sepertinya Dio tahu tujuan kita kemari selain melihat-lihat, kita juga ingin menikmati kafenya, hihihi ...," bisik Nola terkikik ditelinga Shakira.


Mereka pun berdua saling tertawa.


"Hahahaha ... Dio! Kamu tahu saja kalau aku sebenarnya ingin ke kafenya," sahut Shakira tertawa puas dengan setengah berlari mengikuti langkah pengawalnya.


Siapapun yang melihat sosok seorang Shakira saat ini pasti akan terpesona. Dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai sebahu, hitam bergelombang, berkibar-kibar ditiup angin. Riasan wajah yang minim dengan polesan make up, semakin menambah keistimewaannya.


Tidak salah bos kita jatuh hati kepadanya. Nona Shakira memang sangat menawan hati para lelaki. Dio.


Setibanya didalam museum, Shakira merasa sedih, akibat dimana ponsel tidak diperkenankan untuk mengambil gambar didalam ruangan.


"Aku tidak bisa mengabadikan momenku disini. Ayolah, kita sekarang menuju kafe. Singa didalam perutku sudah mengaum."

__ADS_1


Dio dan Nola hanya bisa saling memandang satu dengan yang lainnya.


"Apa kubilang, bos kamu itu memang tidak bisa tidak melewatkan kesempatan untuk menikmati makanan," bisik Dio tepat ditelinga Nola sebelum melangkah mengikuti nona mudanya.


Nola hanya menjulurkan lidahnya kearah Dio dengan setengah melotot.


...****************...


Sore hari itu, mereka nikmati hanya bertiga saja. Shakira, Nola serta Dio.


Ketika tengah menikmati sajian makanan dihadapan mereka, terdengar suara panggilan ponsel milik Shakira.


Benji's Calling ...


Dengan sekali geser tombol hijau,


"Hi Benji ...," ~ Shakira.


"Hi Kira ... apakah kamu menikmati waktumu sore ini?" ~ Benjamin.


"Iya, aku sangat menikmatinya. Terima kasih ya Benji," ~ Shakira.


"No problem. Aku hanya mengecekmu saja. Apakah kalian akan cepat kembali pulang?" ~ Benjamin.


"Apakah aku sudah dirindukan?!" ~ Shakira.


"Uhuukk uhukk ... Nola aku tersedak!" sahut Dio membuat Nola terkejut dan memukul punggung lelaki itu dengan keras.


"Benji, sepertinya ada yang sedang tersedak mangkuk sup," ~Shakira.


"Hahahaha ... aku mendengar Dio disebelahmu, Kira. Baiklah, aku tutup sekarang. Sampaikan pada Dio, kalau dia masih tersedak, samuraiku bisa membantunya." Benjamin menutup komunikasi mereka.


"Nah, nah ... kena batunya kan sekarang," bisik Nola dengan nada mengejek.


"Diam, Singa!" balas Dio dengan tatapan mengancam.


"Kenapa kalau aku tidak bisa diam, hah?!" balas Nola lebih sengit.


"Hei, kalian berdua! Kok jadi saling bertengkar sendiri sih ...."


Shakira kesal bukan main melihat kedua pengawalnya saling bersitegang.


Meskipun Dio dan Nola duduk saling berhadapan, tidak menghalangi keduanya saling ancam-mengancam.


"Ckck ... aku pergi kalau begitu. Menyebalkan melihat kalian berdua seperti Tom and Jerry, tokoh kartun kesayanganku!" desis Shakira bangkit dan hendak pergi meninggalkan Dio dan Nola di kafe itu.


"Jangan, Nona!" tahan mereka berdua serempak.


"Halah ... giliran gini, kalian kompak!"


"Maafkan kami, Nona ...." ucap mereka berdua dengan serempak.


"Beruntunglah kalian berdua. Karena aku sayang dengan kalian, maka aku tidak akan pergi sendiri," ujar Shakira dengan berkacak pinggang.


"Ayo, kita pulang sekarang. Benji telah menantikan kita dirumah."


...****************...

__ADS_1


Sepanjang perjalanan kembali menuju rumah apung keluarga Negara, Nola merasa gelisah. Beberapa kali, Shakira mendapatinya melihat kearah belakang dan kaca spion.


"Nola, ada apa?" tanya Shakira yang duduk dibelakangnya.


"Nona, sepertinya dari museum ada yang mengikuti kita. Kami ingin Nona tetap menghadap kearah depan dan jangan terlihat bahwa kita mengetahui keberadaan mereka," jelas Nola dengan wajah seriusnya.


Shakira melotot. Seakan-akan tidak percaya dengan pendengarannya.


"Aku akan hubungi Benjamin, Nola."


"Nona, tidak perlu menghubunginya. Bos sudah mengetahui perihal ini," sahut Dio yang memegang kemudi.


"Ah ... OK, kalian kan BK ganks, aku mempercayai kalian. Lagipula, aku tidak takut kok, kan ada kalian bersamaku saat ini," cengir Shakira seraya mengencangkan sabuk pengamannya.


Dio dan Nola kembali fokus dengan jalan dan keadaan sekelilingnya.


Jarak yang ditempuh oleh mobil mereka membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit hingga tiba di rumah apung.


Dio setiap saat menambah sedikit kecepatan agar tidak dicurigai oleh mobil yang mengikuti mereka.


"Apakah plat nomor mobilnya dapat kamu lihat, Nola?" tanya Dio.


"Sudah aku kirimkan kepada Maria."


Shakira mengamati mobil yang mengikuti mereka melalui kamera ponselnya.


"Hei, bukannya itu pria yang sempat kutabrak tanpa sengaja bukan sih?!"


"Bagaimana Nona mengetahuinya?" tanya Dio mengawasinya melalui kaca spion.


"Melalui ponsel pintarku, Dio. Aku mengaktifkan kamera tampak depan, hehehe ...."


Nola dan Dio hanya menggelengkan kepalanya.


"Pokoknya, Nona jangan menarik perhatiannya. Kita sudah berusaha agar orang tersebut tidak mengetahui bahwa dia telah ketahuan mengikuti," ujar Nola mengingatkan Shakira.


"Di copy, Nola."


Beberapa menit lagi mereka akan tiba di kediaman Negara. Dimana para pengawal telah berjaga-jaga untuk menangkap mobil yang telah mengikuti Shakira.


Tepat ketika mereka berbelok memasuki kawasan rumah apung, mobil yang mengikuti dibelakang mereka ternyata masih ada dibelakang. Hingga Dio berhasil memarkirkan mobil agak jauh dari kediaman rumah orang tua Benjamin, pria tersebut justru ikut memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mereka.


Dengan cepat, para pengawal yang telah bersiap bergegas mengepung mobil pria tersebut. Sedang Dio dan Nola membawa Shakira menghilang dengan cepat dari lokasi itu.


Benjamin dan Maria, yang telah menanti kedatangan Shakira beserta pengawalnya bergegas membawanya masuk kedalam markas.


Melihat Benjamin berdiri tidak jauh darinya, Shakira dengan cepat setengah berlari melompat memeluknya.


"Aduh, Kira ... apakah sebesar itu rindumu padaku?" ucap Benjamin seraya membalas pelukan kekasihnya.


"Hahahaha ... kamu melewatkan kesenangan hari ini, Benji."


"Akan aku ganti lain hari, Kira ... tenang saja," jawab Benjamin penuh kasih.


"Oh iya, bagaimana pria bule itu? Apakah kalian berhasil menangkapnya?"


...----------------...

__ADS_1


bersambung ♥️


__ADS_2