
Bab sebelumnya menceritakan bahwa Dio dan Black Klan gank sedang memburu orang yang disinyalir menculik Shakira, yaitu Reyhan mantan kekasih Shakira sendiri, yang berkomplot dengan musuh dari klien PT. Prata Mulia milik Tuan Prajogo, ayah Shakira, yang hendak membalaskan dendamnya karena merasa sakit hati kerjasama mereka batal secara sepihak dan mengakibatkan kerugian besar dipihaknya.
Lalu secara tiba-tiba, ditengah perjalanan menuju lokasi yang mereka duga merupakan tempat Shakira disekap, ponsel Shakira yang dibawa oleh Nola saat ini terhubung dengan IPod Touch yang dibawa dan digunakan oleh Shakira pada saat dirinya diculik.
Mendapat kabar bahwa Shakira seperti memberikan kode kepada mereka, maka dengan cepat Benjamin memberikan perintah kepada Andi, asisten Mama Seila yang saat ini mengemudikan mobil AUDI RS5 Coupé untuk tancap gas secepat mungkin.
Syukur mobil yang selalu digunakan oleh Mama Seila setiap berada di Indonesia adalah salah satu mobil tercepat yang bisa gunakan dalam segala macam situasi dan keadaan. Dan bisa digunakan di segala medan.
Mobil yang mempunyai arti bersejarah menurut Mama Seila. Sebuah mobil yang menjadi saksi hubungan antara dirinya dan suami tercinta, Tuan Abimanyu Negara. Mobil dengan merek Audi RS5 adalah variant termahal dari jajaran Audi A5. Ini merupakan mobil sport berkemampuan tinggi dengan mesin 4.2 liter FSI bertenaga 450 PS, dan menggunakan penggerak 4wd quattro atau yang biasa kita sebut dengan 4 roda, tidak kaleng-kaleng, Tuan Abimanyu Negara justru melengkapinya dengan kaca tahan peluru mengingat sebelum Benjamin mengambil alih kerajaan Black Klan, Mama Seila, si Ratu Bengis selalu menggunakan mobil tersebut untuk melakukan kegiatan rahasianya.
Kembali kepada Benjamin...
"Andi, lekas dahului mobil cecu^nguk itu!" perintahnya pada Andi.
"Siap, Tuan Muda," sahut Andi lantas menggeber gas mobil mendahului mobil sedan yang sedang dikemudikan Reyhan.
Jarak lokasi yang disinyalir menunjukkan keberadaan Shakira hanya beberapa kilo dari posisi mobil Benjamin sekarang.
"Jangan sampai kita terlihat, Andi," ucap Mama Seila mengingatkan.
Benjamin menghubungi Dio.
"Ya Bos..." ~ Dio.
"Tahan si breng^sek itu setelah mendekati tempat Shakira di sembunyikan. Jangan sampai dia tahu keberadaan saya dan Mama Seila," ~ Benjamin.
"Dicopy, Bos...." ~ Dio.
Tunggulah aku sebentar lagi, Kira...Benjamin.
Dio dan kawan-kawan bergegas mengambil alih jalan menuruti perintah sang ketua. Anggota Kombes Pri pun telah bergabung dengannya.
...********...
Saat ini, Reyhan yang tidak pernah mengira bahwa dirinya tengah dibuntuti oleh Benjamin dan Black Klan serta anggota Kombes Pri yang menyamar memakai pakaian sipil tetap mengemudikan dengan santai. Hingga akhirnya ada sebuah panggilan telpon masuk ke ponselnya.
Mr. SAN's calling...terpampang nama tersebut dilayar ponselnya.
"Halo...." ~ Reyhan.
"Dasar bodoh! Apakah dirimu tidak sadar bahwa sedari tadi diikuti oleh sekelompok orang dibelakangmu?!" ~ Mr. SAN
"Hah...?! Aku t-ti-tidak ada yang mengikutiku, Tuan," ~ Reyhan.
Terbata-bata menjawab panggilan seluler.
"Jangan menuju kesini. Arahkan mereka ketempat lain!" ~ Mr. SAN.
"Baik Tuan...." ~ Reyhan.
Panggilan pun terputus secara sepihak. Reyhan berpikir keras bagaimana caranya melarikan diri dari kejaran mobil-mobil tersebut dan membelokkan kemudinya kearah lain.
...********...
Maria, yang memang telah membobol akun-akun Reyhan dan menyadap alat komunikasinya segera mengetahui bahwa Reyhan diperintahkan untuk mengalihkan Dio dan kawan-kawan. Maka Maria pun bertindak dengan cepat memberikan instruksi kepada Dio agar memecah tim menjadi dua kelompok.
Satu kelompok mengikuti Reyhan lalu Dio, Willy dan Nola terus melanjutkan perjalanan mereka yang kurang dari beberapa kilometer saja dari tempat titik point IPod Touch Shakira mengirimkan sinyalnya.
"Sial! Mereka mengetahui kedatangan kita, Ma," ucap Benjamin pada Mama Seila setelah mendapatkan informasi terbaru yang disampaikan oleh Maria melalui pesan yang terenskripsi. Ini adalah salah satu keunggulan Black Klan, saking canggihnya teknologi yang mereka miliki, dalam hal berkomunikasi pun mereka mempunyai sebuah wadah aplikasi yang hanya dimiliki oleh mereka sendiri. Tidak ada satupun orang ataupun hacker yang mampu membobol sistem tersebut.
"What did you just say, Benji?!" Mama Seila tersentak mendengar perkataan anaknya.
__ADS_1
"Tahu darimana mereka akan kedatangan kita?" ucap Mama Seila seperti berkata pada dirinya sendiri.
"Benji, Nak. Sepertinya si Mr. X ini bukan sembarang orang. Buktinya, dia bisa mengetahui kedatangan kita," sahut Mama Seila lagi.
Benjamin pun hanya manggut-manggut. Benar perkataan Mama. Siapa Mr. X ini sesungguhnya....Benjamin.
"Tuan, satu kilometer lagi, lokasi yang merupakan titik point dari GPS nona muda tampak didepan," ucap Andi seraya menunjukkan sebuah bangunan yang agak jauh.
Maria pun tak kalah lihainya, dirinya mengirimkan drones yang dibawa oleh helikopter Black Klan dan diterbangkan mendekati area tersebut untuk mengawasi sekeliling area yang dituju oleh Benjamin, untuk mengetahui keadaan disekitarnya sebelum Benjamin dan rombongan tiba ditempat.
"Tuan, ditiap-tiap titik ada dua orang berjaga-jaga membawa senjata laras panjang. Di depan kawasan villa pun ada dua mobil berwarna abu-abu berisikan enam orang sedang berjaga-jaga. Sepertinya mereka memang telah mengetahui kedatangan kita," ~ Maria.
Sebuah pesan terenskripsi lainnya masuk ke ponsel Benjamin dan juga Dio serta Nola pastinya.
"OK, saatnya kita beraksi," Benjamin berkata kepada Mama Seila dan Andi.
"Apakah kau siap, Andi?" tanya Mama Seila.
"Saya selalu ada, kapapun dibutuhkan, Nyonya," jawab Andi dengan tegas.
Dio beserta Nola dan Willy juga menyiapkan andalan senjata mereka masing-masing.
"Bersiap-siaplah guys....aku sudah lama tidak bermain-main dengan musuh," ucap Dio pada mereka berdua.
"Bermain-main dengan tubuh orang maksudmu? Dengan samuraimu?" dengus Nola disambut tertawa kecil oleh Willy.
"Eits...jangan salah, kemampuanku ini masih mumpuni meski beberapa bulan ini semenjak kedatangan nona muda, bos memberikan perintah untuk libur menggelitiki musuh...hahahahaha," tawa Dio membahana.
"Dasar maniak?!" bentak Nola tepat ditelinga Dio.
"Awas kalian nanti bucin beneran baru tahu rasa hahahaha...." kali ini tawa Willy yang menggema membahana membuat Dio dan Nola saling memalingkan muka.
Mendekati teritori musuh.
Willy mensejajarkan mobilnya dengan mobil yang dikendarai oleh Andi, memberi kode agar diberikan jalan dan menyuruhnya agar berhenti dahulu, hingga jalan terbuka.
Setelah mendapatkan konfirmasi, Willy pun bergegas menginjak gas dan membuka jalan bagi bos mereka agar dapat memasuki wilayah musuh.
Nola dan Dio sudah bersiap-siap dengan gas air mata, grenade atau bom tangan, plus senjata laras panjang mereka. Ketika mendekati dua mobil musuh yang sedang berjaga-jaga, Nola langsung melemparkan bom tangan disertai dengan tembakan beruntun yang yang tidak terjeda oleh Dio.
Musuh mereka pun segera melawan balik dengan sengit. Saling balas tembak menembak pun terjadi. Willy bergegas memutar kemudi membelakangi musuh dan mencari tempat berlindung agar musuh pun mengikuti mereka, sehingga Andi dengan leluasa dapat memasuki area villa tersebut.
Drone yang di remote oleh Maria dari ruang kontrol Black Klan memandu jalannya Benjamin, Mama Seila dan Andi.
"Tuan Muda lebih baik berjalan kaki setelah memasuki gerbang mereka. Karena para penjaga sepertinya telah diperintahkan untuk mengambil posisi mereka masing-masing,"~ Maria melalui pesan terenskripsi.
"Dio dan tim akan bergegas menyusul Anda jika sudah selesai dengan para pion," ~ Maria melalui pesan terenskripsi lagi.
"OK....," ~ Benjamin menjawab.
"Andi, turunkan saya didepan gerbang," perintahnya.
"Mama ikut dengan mu!" Mama Seila berkata dengan tegas tidak ingin ada penolakan dari Benjamin.
"Hah...terserah Mama saja," dengus Benjamin.
"Shakira anak Kirana dan Darius. Aku harus membawanya pulang, Benji...." pinta ibunya dengan memohon.
Dengan berat hati, Benjamin pun akhirnya mengiyakan.
__ADS_1
Sesampainya didepan gerbang, tidak terlihat satupun penjaga. Sungguh, sangat mencurigakan. Benjamin.
Andi memarkirkan mobil kesayangan Mama Seila dibalik pepohonan yang dekat dari area tersebut.
Benjamin dan Mama Seila berjalan dengan pelan dan mengendap-endap. Dibantu oleh drone milik Maria, mereka mampu mengetahui keberadaan lawan mereka yang sedang mengintai.
Doorr doorrrr doorrr... beberapa peluru berdesingan disekitar mereka berdua. Benjamin dan ibunya segera mencari tempat perlindungan.
"Ben...mereka tidak main-main dengan penjagaannya. Ini bukan lagi para preman atau gangster yang kita hadapi...." bisik Mama Seila.
Benjamin pun hanya mengganggukkan kepala. Benjamin menggunakan earphone ditelinganya, menyambungkan miliknya dengan pusat dan Dio serta tim.
"Kasih aku mata, Maria," perintah Benjamin.
"Arah jam 1 ada dua orang, Tuan. Satu diatas dan 1 tepat di depan Anda," sahut Maria.
Lantas Benjamin mencoba mendekatkan jarak mereka, terlihat kedua lawan yang diinfokan Maria. Desert Eagle pun beraksi.
Nging....dor satu orang diatas kena dengan kepala terburai. Lalu, nging...dor satu orang didepannya terjungkal dengan perut terburai isinya.
"Maju Tuan, arah jam 11, satu orang di bawah dan arah jam dua, satu orang di atas," info Maria.
Kedua musuh terjungkal akibat senjata api Benjamin dan Mama Seila.
"Ayo Benji, kita harus bergegas masuk," ucap Mama Seila setengah berbisik.
"Aman?" tanya Benjamin pada Maria.
"Aman, terus maju Tuan," info Maria lagi.
Benjamin serta Mama Seila bergerak lebih jauh lagi kedepan. Terlihat beberapa orang sedang berjaga membawa senjata laras panjangnya, sedang berdiri di sekitar pergola arah pintu masuk villa.
Benjamin mengendap-endap mendekati lima orang penjaga. Mama Seila berjaga dibelakangnya sambil mengawasi keadaan. "Clear, Benji..." kode Mama Seila.
Dengan cepat Benjamin melemparkan gas air mata kepada sekelompok penjaga tersebut, lalu dengan cekatan menembakinya satu persatu dibantu oleh Mama Seila.
...********...
Shakira yang saat ini sedang mencoba menelan roti dan air putih yang diberikan oleh Rosa sebelumnya, mendengar suara ribut-ribut diluar sana.
Terdengar suara orang saling berteriak untuk berjaga-jaga ada penyusup memasuki tempat tersebut.
Dalam benaknya, sangat mengharapkan bahwa penyusup tersebut adalah orang-orang Benjamin yang mencarinya. Dengan tergesa-gesa dirinya berlari menuju jendela yang ada disitu. Sejauh mata memandang, terlihat tubuh-tubuh bergelimpangan penuh darah serta beberapa organ tubuh yang terburai dibawah sana. Shakira bergidik melihat pemandangan tersebut. Perutnya mual. Siapa yang telah melakukan hal tersebut. Sungguh sadis sekali.
Aku harus bersembunyi kalau begitu. Tapi dimana? Aku takut akan menjadi salah satu dari orang-orang dibawah sana. Shakira.
Kemudian terdengar suara yang sangat keras dibawah sana yang nampaknya sedang berkelahi.
"Shakira! Dimana kamu, Kira?!" teriak suara berat dengan lantangnya.
Suara itu...aku mengenalinya...apa aku bermimpi? Shakira.
Terdengar kembali teriakan memanggil namanya..Kira?! Dimana kamu?!" teriak suara tersebut kembali.
Deg.....
Itu adalah suara Benjamin. Aku tidak salah dengar. Shakira.
...********...
Bersambung :)
__ADS_1
jangan lupa dukungannya selalu yah. Komentar, like, kalau bisa dikasih bunga mawar sangat berterima kasih ❤