
Teruntuk para readers yang selalu menemani perjalanan Shakira dan Benjamin, author mengucapkan terima kasih. Mohon maaf jika akhir² ini selalu bolong up nya. Terus terang author masih merasakan duka kehilangan seseorang yang sangat dekat. Kata pepatah "Waktu yang akan menyembuhkan ... damn is right!"
Author akan berjuang untuk up bagi kalian semua. Fighting ♥️♥️🙏🙏🙏
...********...
Disebuah kafe, di kawasan timur.
Shakira yang saat ini menemui Juliana sesuai dengan permintaan mantan sahabatnya, sedang berusaha mempertahankan hidupnya untuk yang kesekian kali. Entah bagaimana bisa, hidupnya berubah genre menjadi action seperti ini.
"Hahahaha ... kamu menantangku tapi bersembunyi dibalik sofa?!" tantang Juliana sambil tertawa terbahak-bahak.
Terdengar langkah Juliana mendekat. Shakira dengan cepat meraih ponselnya di dalam sling bag. Mendial angka 1 dan langsung terhubung.
"Jangan sembunyi, Kira. Ayo keluarlah dan bebaskan Reyhan. Kalau tidak, kamu harus mati malam ini!" teriak Juliana seperti orang kesetanan.
Tiba-tiba terdengar bunyi pintu didobrak dari luar.
Brakk ...!!!
"Berhenti! Angkat tangan?!" teriak seseorang.
Juliana tersentak, melihat seorang pria dengan sekali tendang mampu mendobrak pintu ruangan VIP.
Belum pulih dari kaget, seakan-akan ingin melindungi diri sendiri dari todongan senjata, Juliana langsung menembakkan pistolnya secara membabi buta kearah sofa dan juga kearah pria yang baru saja mendobrak pintu.
Shakira tidak sanggup berteriak. Hanya diam membisu dan membeku ditempat. Air mata mengalir lepas, jatuh dikedua pipi. Kedua tangannya menutupi kedua telinga. Berharap semua ini hanyalah mimpi belaka.
"Hiks hiks hiks ... tolonglah aku Tuhan, selamatkanlah aku ...." batin Shakira berdoa dalam tangis.
Terdengar dua tembakan balasan. Suara teriakan Juliana memenuhi ruangan VIP. Dan tiba-tiba Shakira mendengar suara tubuh terjatuh diatas meja kaca ruangan VIP.
Prang ... bunyi kaca pecah memekakkan telinga. Shakira bergegas menengok keadaan dari balik sofa dan melihat siapa dan apa yang sedang terjadi saat ini.
Kedua telapak tangan Shakira menutup bibirnya yang terbuka lebar, tak lupa kedua matanya pun ikut terbelalak.
"Kira! Keluarlah ... semua sudah aman," teriak Benjamin dengan wajah setengah tertutup oleh masker hitam dan topi berwarna biru gelap, ternyata sudah berada diruangan tersebut.
Shakira bergegas keluar dari persembunyiannya dan berlari kearah tubuh Juliana yang tergeletak tak berdaya serta bersimbah darah.
"Juli ... hiks hiks hiks ... Benji, apakah dia mati?" tanya Shakira yang terus meratapi temannya itu.
Benjamin beserta satu orang bawahannya mendekati Shakira dan mengecek keadaan Juliana. Masih dapat dirasakan oleh Benjamin, denyut nadinya.
"Panggilkan ambulan, cepat!" perintahnya kepada anak buahnya.
"Hiks hiks ... Juli, bertahanlah. Kita akan membawamu ke rumah sakit," ucap Shakira yang melihat Juliana mengerang kesakitan.
Juliana saat ini setengah sadar, menatap wajah sahabatnya.
__ADS_1
"Ki-Ki-Kira ... ak-aku ... benci ... ka-kamu ..." ucap Juliana terbata-bata lalu hilang kesadaran.
"Julii!!" teriakan Shakira menggema diruangan VIP itu.
Benjamin mendekatinya lalu memeluk tubuh ramping yang sedang menangisi sahabatnya.
"Tenanglah, dia masih hidup. Jika dia tidak kulumpuhkan, kemungkinan besar kamu yang akan terkena pelurunya," ucap Benjamin dengan tenang.
"Bagaimana kalau dia mati? Orang tuanya akan menyalahkan aku ...." jawab Shakira seraya menghapus air mata di kedua pipinya.
Dio tiba dengan peluh yang membasahi bajunya.
"Bos, ambulan sudah datang. Anak buah Kombes Pri juga sudah ditempat, mereka yang akan menangani lebih lanjut. Ayo kita segera pergi dari sini," ujar Dio dengan tidak sabar. "Jangan sampai Bos terkena sorotan pihak media," tambahnya.
Dio berjalan lebih dahulu untuk mengambil kendaraan mereka. Sedang Benjamin berjalan dengan cepat setengah menyeret Shakira yang langkahnya terseok-seok.
"Benji! Kakiku gemetaran. Biarkan aku sebentar disini, kalian duluan saja ke mobil," pinta Shakira hampir menangis.
Tanpa berpikir panjang, Benjamin menggendong tubuh Shakira ala bridal style. Shakira terkejut dengan tindakan lelaki tersebut.
"Benji, turunkan aku. Malu dilihat banyak orang," bisik Shakira sambil memukul manja lengan dan pundak Benjamin.
"Diamlah!" jawab Benjamin dengan dingin.
Terdengar bisik-bisik para pengunjung kafe yang sebagian besar adalah kaum muda dan malam itu adalah Jum'at malam. Dimana sebagian besar mereka menghabiskan waktunya dengan berkumpul bersama teman.
"Hei, bukankah itu pemilik tower tertinggi di kota ini?! Apakah dia berhubungan dengan tembak menembak di ruang VIP?!"
"Wow ... keren sekali gaya tuan muda itu. Siapa perempuan yang digendongnya? Beruntungnya ...."
Dan masih banyak lagi bisik-bisik dibelakang yang menyertai perjalanan mereka menuju pintu keluar.
Shakira semakin membenamkan mukanya didada bidang Benjamin. Berharap tidak ada satupun orang yang akan mengenalinya.
"Tenanglah Kira. Tidak akan ada yang bisa mengenalimu," ucap Benjamin menenangkannya.
Garis kuning kepolisian telah terbentang di kafe tersebut. Semua pengunjung diminta segera pergi dari tempat kejadian.
Lalu Benjamin masuk kedalam mobil dan menjauh dari kerumunan, dengan posisi Shakira masih dalam gendongannya.
"Ehm ... Benji, apa boleh aku duduk sendiri?" tanya Shakira malu-malu.
Benjamin yang baru saja tersadar langsung melepaskan tangannya begitu saja membuat Shakira hampir jatuh.
"Ckck ... kalau tahu begini lebih baik tadi aku jalan sendiri!" gerutu Shakira seraya membetulkan posisi duduknya pindah kesamping Benjamin.
Terlihat Dio diluar sana masih bercakap-cakap dengan salah satu anak buah Kombes Pri.
Shakira mengernyitkan dahi. "Bagaimana Dio bisa ada di sini juga? Jangan bilang mereka selama ini mengikuti kita dari belakang?!"
__ADS_1
"Betul. Mereka telah tiba disini lebih awal sebelum kita berangkat," jawab Benjamin dengan tenang, sibuk dengan ponselnya.
Shakira langsung menatap tajam Benjamin. Sebelum sempat mengeluarkan omelannya, lelaki tersebut langsung menjawab. "Alasannya adalah semua demi keamananmu! Ponselmu memang telah kami sadap, Kira. Dan jangan mengeluh, jika ini sudah selesai kamu bebas membeli ponsel dan nomor baru," tukas Benjamin dengan datar meski tegas tak terbantahkan.
"Baiklah, aku tidak akan mengeluh. Namun, aku juga perlu privasi. Apakah kamu tahu arti kata privasi, Tuan Muda?!"
"Hah ... apa kamu ingin mengajariku saat ini?" jawab Benjamin dengan tertawa sinis.
Darah Shakira mulai mendidih. Ingin rasanya mencakar wajah tampan nan datar tanpa dosa disampingnya.
"Aku perlu privasi, Benjamin!!" teriak Shakira didalam mobil.
Benjamin tetap tidak merespon perkataannya. Terlihat sibuk sekali dengan ponsel yang dipegangnya.
"Huft ... sudahlah, percuma aku berteriak pada tembok!" omel Shakira sambil melipat kedua tangan di dadanya.
Bagi seorang Benjamin, reaksi dan rajukan Shakira sangat menawan baginya.
Entah setan darimana merasuki otak pria tampan itu. Tiba-tiba ... Cup! Tanpa sadar Benjamin menge cup bi bir tipis yang sedang cemberut tersebut.
Shakira diam mematung. Matanya terbuka lebar. Hembusan nafas Benjamin terasa hangat menerpa pipinya. Melihat Shakira hanya diam tidak keberatan, Benjamin pun kembali mendaratkan sebuah kecu pan hangat.
Debar jantung Shakira berdetak kencang. Seakan-akan hanya mimpi. Inilah yang diinginkan olehnya. Hah! Aku memang menginginkannya. Aku menginginkan laki-laki tampan ini menjadi milikku!. Dasar, aku sudah gila! Shakira.
Lalu, sebuah bisikan pelan dari bibir Benjamin terdengar ditelinganya. "Mulai saat ini, privasimu adalah privasiku juga. Dimanapun aku berada, disitulah kamu berada. Camkan itu baik-baik ...."
Kemudian, Benjamin kembali pada posisi duduknya semula, yaitu fokus kepada ponsel seperti tidak terjadi apapun.
Shakira masih sibuk dengan dag dig dug jantungnya.
Dasar, laki-laki mau menang sendiri! Shakira.
Beberapa menit kemudian Dio masuk kedalam mobil. Memberikan informasi terbaru mengenai keadaan diluar sana.
"Juliana mendapatkan pistol tersebut dari apartemen Reyhan. Dan seperti yang Bos pikirkan, Juliana mengunjungi Reyhan sebelumnya dan bermaksud membalas sakit hatinya pada nona."
"Hmm ... apakah dia berhasil menghubungi Samuel?" tanya Benjamin.
"Tidak Bos. Tidak satupun panggilan dan pesannya dibalas oleh kakak Anda," jawab Dio sembari menyalakan mesin mobil dan membawa mereka keluar dari areal kafe tersebut.
"Dio, bagaimana dengan Juliana?!" tanya Shakira yang ingin mengetahui keadaannya.
"Tenang, Nona. Teman Anda masih beruntung bisa diselamatkan. Mereka membawanya ke rumah sakit terdekat. Dan saat ini dalam penjagaan kepolisian," jawab Dio dengan jelas.
"Syukurlah ... paling tidak hari ini tidak ada yang tewas mengenaskan," ucap Shakira dengan lega.
...********...
Author be like : Lalu, bagaimana dengan besok? Apakah juga akan berjalan seperti hari ini? Belum tentu, Kira ....
__ADS_1
Bersambung yakkk
Jangan lupa like dan komen ya kaka² tersayang. lope you pullll♥️🙏