Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 67. Utrecht, Belanda


__ADS_3

...Dalam kehidupan keluarga, cinta adalah minyak yang memudahkan gesekan, semen yang mengikat lebih dekat bersama, dan musik yang membawa harmoni....


...oleh : Friedrich Nietzsche...


...********...


Disaat Shakira dan Benjamin di Surabaya sedang bahagia akan hubungannya yang sudah nyata dan jelas, bukan sekedar teman tapi mesra lagi. Lain halnya dengan Mama Seila dan Tuan Abimanyu di Utrecht, Belanda.


Mereka berdua, memang tidak tinggal di mansion seperti kebanyakan orang-orang kalangan atas berduit lainnya. Walaupun kekayaan mereka tidak terbatas, tetap saja prinsip hidup sederhana mereka terapkan.



Seperti itulah rumah kediaman keluarga Abimanyu Negara di Utrecht, Belanda. Bagi Mama Seila, mantan pemimpin sebuah kelompok gengster, tinggal di sebuah mansion sangat membosankan. Apalagi, mereka hanya hidup berdua ditambah dengan seorang asisten rumah tangga beserta satu orang sopir. Jadi, tinggal dirumah apung sangatlah nyaman dan menyenangkan.


...********...


Pagi ini, Mama Seila sedang menyiapkan sarapan dibantu oleh Lyla, si ART.


"Lyla, tolong siapkan meja dan peralatan makannya ya," perintah Mama Seila yang masih sibuk didepan kompor.


"Baik Nyonya," jawab Lyla dengan gesit dan cekatan. Karena dirinya tahu betul karakter sang majikan. Dan perkatannya yang membekas di ingatan Lyla.


"*I**ngat Lyla, waktu itu sangat berharga. Jadi, apapun yang kamu lakukan jangan lelet!" (Dalam bahasa Belanda sih ... author enggak bisa menerjemahkannya, takut salah 🤭🤭)


Dari lantai dua terdengar langkah kaki menuruni tangga-tangga kayu.


"Sayang ... apakah sudah siap sarapannya? Aku harus cepat berangkat," panggil Tuan Abimanyu yang telah siap dengan pakaian memancingnya.


Mama Seila pun menjawab dengan keras pula. "Sudah Pa ... tunggu Mama, kita makan bersama!"


"Okay, Darl* ...." jawab Tuan Abimanyu seraya mendudukkan dirinya dikursi meja makan.


Seusia mereka yang telah paruh baya, semakin terlihat mesra satu dengan yang lainnya. Saling sayang menyayangi. Itulah mengapa, Benjamin menjadi sosok yang rendah hati dan berusaha tidak menunjukkan status kekayaan keluarganya dengan sengaja hanya untuk status sosial. Karena hidupnya sudah penuh dengan perhatian dan kasih sayang yang melimpah berkat kedua orang tuanya.


...********...


Dimeja makan, dengan pemandangan menghadap ke arah danau. Mereka berdua asyik menikmati sarapan sembari berbincang-bincang kecil. Topiknya tidak lain dan tidak bukan, mengenai kedua anak mereka, Samuel dan Benjamin.


Disaat Mama Seila sedang asyik menyeruput kopi hitamnya, terdengar suara bel pada pintu rumah mereka.


Tettt ... tett ...


"Lyla! Tolong lihat siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini," ucap Mama Seila memerintahkan Lyla.


"Siap Nyonya," jawab Lyla, yang juga fasih berbahasa Indonesia.


Terdengar suara orang berbicara agak keras sampai di ruang makan. Mereka menggunakan bahasa Inggris. Keduanya saling memandang, mencoba menerka siapa yang datang berkunjung di pagi hari.


Tiba-tiba, datanglah Lyla menghampiri majikannya yang sedang menanti.


"Maaf, Tuan dan Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu dengan kalian berdua. Lebih tepatnya, memaksa ingin bertemu dengan kalian," ucap Lyla dengan tidak enak karena tidak mampu menangani tamu yang tidak diundang tersebut.


"Mereka itu siapa, Lyla? Dan darimana?" tanya Tuan Abimanyu penasaran dan setengah berbisik takut tamu tak diundang ikut mendengarkan.


"Mereka memaksa ingin bertemu dengan kedua orang tua Samuel yang asli. Begitu kata-kata mereka, Tuan" tambah Lyla dengan takut-takut.

__ADS_1


Lagi-lagi, mereka saling berpandangan dengan raut wajah yang seakan-akan saling bertanya. "Siapa mereka hingga kenal Samuel dan tahu akan kita?"


"Pa ... sebaiknya kita bertemu dengan mereka," ucap Mama Seila kepada Tuan Abimanyu.


Suaminya pun hanya menggangguk pasrah, berpikir acara memancingnya dengan beberapa rekan bisnis yang sengaja datang dari Amsterdam akan batal begitu saja.


"Mama akan menyambut mereka dahulu, Papa silahkan menghubungi rekan-rekan kerja. Bilang saja, Papa akan bergabung dilain waktu," Mama Seila memberikan solusi.


"OK. Bawa saja mereka keruang kerja kita, Ma. Dan satu lagi, berhati-hatilah karena tidak ada yang mengetahui tentang Samuel kita," sahut Tuan Abimanyu mengingatkannya.


"Tenang saja. Kamera pengawas selalu hidup dimana pun, dirumah ini," bisik Mama Seila seraya merapikan rambut dan bajunya dengan cepat.


"Tunggu Papa diruang kerja ya, Ma ...." sahut Tuan Abimanyu.


Mama Seila pun memberikan tanda jempolnya dan bergegas menemui tamu tak diundang tersebut.


...********...


Setelah menghubungi para rekan kerjanya untuk membatalkan acara memancing mereka, dan sebelum dirinya bergabung dengan Mama Seila diruang kerja menyambut tamunya, Tuan Abimanyu menyempatkan diri ke ruang rahasia mereka untuk mengecek kamera pengawas yang terletak diruang kerja mereka.


Sent!


Tautan video kamera pengawas dikirimkan melalui surel, tertuju untuk Benjamin serta Maria, di Surabaya, Indonesia.


Untuk berjaga-jaga seandainya ada yang terjadi pada diriku serta istriku. Tuan Abimanyu.


Memang, dirumah tersebut kedua orang tua Benjamin tidak memiliki pengawal atau orang yang berjaga untuk keamanan mereka. Mereka hanya ingin hidup normal seperti kebanyakan keluarga lainnya.


Lalu, setelah itu Tuan Abimanyu bergegas menemui mereka di ruang kerjanya.


...********...


"Katakan siapa gerangan kalian? Dan apa tujuan kalian datang kerumah kami?" tanya Mama Seila dengan tajam, kearah pasangan suami istri tersebut yang tengah duduk dihadapannya.


Sebelum pasangan bule tersebut menjawab pertanyaan sang tuan rumah, Tuan Abimanyu memasuk ruang kerjanya.


Meskipun sudah berumur, tetap saja aura seorang Abimanyu Negara tidak dapat dipungkiri. Penuh wibawa dan tegas itulah yang terpancar dari ayah Benjamin.


"Ayo Pa, silahkan bergabung dengan kami," ucap Mama Seila menarik tangan suaminya untuk duduk disebelahnya.


Tuan Abimanyu menatap kedua tamunya dengan sorot mata tajam seperti hendak menguliti wajah lawannya.


Kegelisahan mewarnai ruangan tersebut.


Mama Seila mengulangi pertanyaannya. Kemudian, kedua tamunya menjawab dengan tenang.


"Kami berasal dari negara Amerika. Nama keluarga kami adalah Brown. Billy dan Nana Brown," jawab pria yang bernama Billy tersebut.


Suami istri Negara diam menanti jawaban atas pertanyaan mereka yaitu tujuan suami istri Brown datang menemui mereka.


"Sesungguhnya kami kemari untuk berbicara mengenai Samuel, anak kami. Maksudnya adalah anak yang kami adopsi beberapa puluh tahun lalu," jelas Billy dengan gamblang dan jelas.


Mama Seila menegang. Kedua telapak tangannya saling bertaut satu dengan yang lainnya.


"Jelaskan intinya pada kami, agar tidak terbuang waktu kami dengan percuma!" tegas Tuan Abimanyu dengan tatap mata membunuh.

__ADS_1


Nana Brown menggenggam tangan suaminya seakan memberikan kekuatan.


"Samuel telah menghabisi seluruh keluarga kami ..." ucap Billy Brown dengan muka sendu.


Tuan Abimanyu sedikit tercengang, namun mampu menyembunyikannya.


"Atas alasan apa yang mendorongnya untuk menghabisi nyawa keluarga kalian?" tanya Mama Seila bertanya pelan.


Billy Brown tidak mampu menjawabnya. Nana sang istri membantunya.


"Karena kami telah mengadopsinya serta memisahkan dirinya dengan kedua orang tua dan adik semata wayangnya."


Mama Seila terkesiap mendengar penuturan Nana Brown.


"Ekhm ... apakah kalian punya bukti bahwa Samuel tersebut adalah Samuel yang kita bicarakan saat ini?" tanya Tuan Abimanyu yang masih dihinggapi rasa tidak percaya.


Nalurinya sebagai seorang pebisnis handal bermain. Tidak semudah itu mempercayai seseorang ataupun calon relasi bisnis hanya dengan kata-kata.


"Betul, kami curiga kalian hanya ingin mempermainkan keluarga kami!" tambah Mama Seila dengan sengit.


Meski didalam hatinya sungguh penasaran dengan cerita kedua bule tersebut.


Apakah itu benar Sammy-ku? Bayiku yang hilang ditangan mereka ini?! Mama Seila.


"Tenang, Sir. Kami tidak bermain-main disini," sahut Billy Brown seraya mengeluarkan sebuah foto usang dan satu set baju bayi yang masih nampak bersih meski telah pudar warnanya.


Semuanya diserahkan kepada suami istri Abimanyu Negara.


Mama Seila menerima sebuah album foto dan satu set baju bayi usang tersebut.


Kedua mata Mama Seila pun mulai berkaca-kaca. Diperhatikannya semua lembaran album foto itu dengan menggenggam baju bayi ditangannya.


Sedih serta rasa kehilangan yang dirasakannya pada waktu itu kembali menyeruak.


"Anakku Sammy ...." tiba-tiba Mama Seila jatuh tidak sadarkan diri.


Ketiga orang yang berada diruangan tersebut panik, melihat istri Tuan Abimanyu mendadak pingsan.


"Tuan dan Nyonya Brown, tolong jangan pergi dulu dari rumah kami. Tetaplah disini, masih banyak yang harus kalian jelaskan kepada kami!" perintah Tuan Abimanyu dengan sangat tegas dan dingin.


Lyla pun dipanggil lalu membantu tuannya membawa Mama Seila ke kamar tamu yang terletak dekat dengan ruang kerja.


Dokter keluargap pun dipanggil untuk memeriksa istri tercintanya.


Semenjak kehilangan bayi Samuel, Mama Seila memang dirundung trauma dan depresi, namun seiring berjalannya waktu, semuanya perlahan kembali pulih berkat dukungan moril suami tercinta lalu hamil Benjamin. Membuat hidupnya berwarna hitam putih menjadi pelangi lagi.


...********...


Author : Seorang ibu mana yang tidak akan depresi dan bersedih akibat kehilangan buah hatinya? Semangat Mama Seila ... ♥️♥️


Bersambung ya kaka² pembaca setia.


Author lagi full energy setelah liburan selama dua hari 🤗 Pantengin ya next chapternya 🤭🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏


Terima kasih semuanya 😉♥️

__ADS_1


__ADS_2