
Pagi ini, didalam kamar bernuansa merah muda alias pinky. Weekend time.
Diatas tempat tidur empuk, tergolek tubuh Shakira yang masih memeluk guling dan bersembunyi dibawah selimut. Meski sinar matahari telah memaksa menerobos masuk melalui celah jendela kamar.
Hatinya dilanda gundah gulana.
Semenjak kejadian berdarah di ruang rapat Three Siblings Corp. beberapa hari lalu, Membuat Shakira merasa dirinya sedang berada dalam situasi dan kondisi yang tidak baik sama sekali. Untuk tidur pun susah. Hingga akhirnya mencoba meminum obat tidur meski dengan dosis rendah.
Nola, sang pengawal yang setia, selalu menemaninya, bahkan ikut tidur bersamanya beberapa malam ini.
"Semua hal yang aku alami ini, semua karena papa dan mama tidak pernah mau berterus terang denganku mengenai latar belakang keluarga dan segala jenis usaha yang sedang dijalankan oleh mereka. Hanya karena mereka tidak ingin aku mengalami hal yang mengerikan," ucap Shakira sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Samuel sakit hati kepada kami sehingga mengakibatkan papa dan mama celaka dan aku pun ikut diculik. Bahkan, mereka akan menjualku kepada lelaki hidung belang diluar sana. Hih ... aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya diriku seandainya Benjamin dan Mama Seila serta kalian berdua tidak menyelamatkanku."
Nola duduk di sofa dekat jendela. Saat ini tugas utamanya adalah menemani Shakira, sambil membaca novel online, hanya diam mendengarkan curahan hati sang nona.
"Nola! Kamu tidak mendengarkan perkataanku, bukan?!" tuduh Shakira sambil melempar bantal kecil kearah Nola.
"Auu Nona, aku mendengarkan dirimu kok ...." sahut Nola sambil mengusap-usap kepalanya.
"Coba ulangi perkataanku tadi," tantang Shakira sambil menjulurkan lidahnya kearah Nola.
"Hahaha ... Nona ini sungguh lucu. Saya mendengarkan, meskipun saya juga sedang tegang membaca novel online," jawab Nola yang masih saja menertawakan tingkah Shakira yang dianggapnya seperti anak kecil.
"Satu lagi yang kurang dari pemikiran Nona," tambah Nola yang mengedipkan matanya.
Shakira memutar matanya. "Ishh ... apaan satu lagi. Coba kamu sebutkan!"
"Kalau bukan karena kedua orang tua Nona Shakira berbuat seperti itu, kalian tidak akan pernah saling bertemu, Nona. Yah ... mungkin akan bertemu, namun kemungkinannya akan kecil untuk bisa berhubungan dengan tuan muda, benarkan perkataan saya?" goda Nola yang membuat muka Shakira memerah menahan malu.
"Ah ... kamu bisa saja sih ..."
Terdengar lagi gelak tawa Nola diikuti oleh Shakira.
Benjamin yang saat ini sedang membaca buku diruang keluarga, hanya tersenyum mendengar celoteh keduanya.
Siapa yang menduga dirinya akan bertemu dengan wanita seperti Shakira. Tipe wanita yang hobinya makan dan tidur serta marathon drama korea. Berbeda dengan wanita diluaran sana yang mencoba menggoda dan mencari perhatiannya. Semenjak malam itu, Benjamin memang sudah terpikat oleh Shakira, putri tunggal dari keluarga Prajogo.
Teringat pesan singkat yang dikirimkan oleh Andre, sahabatnya.
"Jangan lupa Bro ... wanita butuh pernyataan. Bukan hanya tersirat, kalau dirimu tidak ingin kehilangannya!"
"Hmm ... betul kata Andre. Aku belum pernah menyinggung mengenai perasaanku. Meski aku sudah mencicipi manis bi birnya ...." pikir Benjamin dengan wajah merah merona mengingat ci u man mereka di parkiran kafe malam itu.
Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 7.30 pagi. Sedang Shakira masih asyik didalam kamar bersenda gurau dengan Nola.
...********...
Shakira dan Nola masih asyik didalam kamar membahas drama korea yang sedang booming akhir-akhir ini.
Terdengar ketukan pintu dari luar. Nola bergegas membukanya.
"Silahkan masuk, Tuan Muda." Nola bergegas keluar dari kamar. Memberikan waktu kepada tuannya.
Shakira yang sedang tiduran diatas tempat tidur bergegas bangun serta merapikan rambut dan bajunya yang kusut.
"Pagi Benji ... maafkan aku, belum sempat mandi dan keluar kamar," sapa Shakira malu-malu, ketahuan belum mandi.
"Tak apa Kira, kamu tetap terlihat cantik dan sexy, menurutku ...."
Uhuk uhuk ... Shakira terbatuk-batuk mendengarnya. Mukanya merona merah lagi akibat perkataan pria yang sedang berdiri didepannya.
Keduanya terdiam. Tidak ada satupun yang berkata-kata. Benjamin pria yang penuh percaya diri kala menghadapi musuh dan rekan bisnis, tiba-tiba tidak sanggup bersuara didepan wanita bermuka bantal, dengan rambut ikalnya yang kusut.
Shakira yang tersadar dengan keadaannya, melihat kearah cermin dan terbelalak kaget melihat penampilan dirinya.
"Aaaa ada wewe gombel!" teriaknya dan berlari secepat kilat menuju kamar mandi.
Benjamin yang ikut tersadar seketika tertawa keras melihatnya.
"Astaga Kira! Kukira ada apa ... hahahaha."
Dari dalam kamar mandi, dapat terdengar kucuran air dari shower. Benjamin dengan sabar dan setia menantinya sambil mendudukan dirinya di sofa dekat jendela.
Tidak sampai 15 menit menikmati mandinya, Shakira keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe.
Benjamin terkesima melihatnya. Tetesan air yang terjatuh begitu saja dari rambut ikal tersebut menggugah naluri kelakiannya. Ditambah dengan memikirkan apa yang tersembunyi dibalik bathrope tersebut. Membuat pikirannya semakin melanglang buana.
"Benji ... Benji ... bumi memanggil Benjamin ... halooo?!" panggil Shakira melihat Benjamin yang sedang menatapnya.
Grepp ....
__ADS_1
Benjamin memeluk tubuh Shakira dengan erat. Menghirup aroma memabukkan yang menguar dari tubuh perempuan tersebut.
Shakira yang tidak menyangka mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam dan menikmatinya tentu saja ...
Kemudian teringat jika dirinya belum menggunakan apapun dibalik bathrope, mencoba mendorong tubuh kekar itu untuk melepaskan pelukannya.
Namun apa daya, dengan dorongan keraspun, tubuh Benjamin tidak beranjak menjauh sedikitpun.
"Diamlah Kira, biarkan sebentar saja kita seperti ini," ucap Benjamin berbisik ditelinganya.
"Tapi ... aku belum memakai bajuku?!" Shakira mengalami panik seketika ketika merasakan tangan Benjamin mulai mengusap punggungnya.
Huft syukurlah, bathropku ini tebal. Duh Gusti, semoga imanku kuat. Shakira.
Beberapa saat kemudian, Benjamin pun berbisik lagi, tepat di telinganya. Membuat bulu kuduk Shakira meremang.
"Malam mingguan yuk ..."
Seketika tawa Shakira pun meledak. "Astaga Benji! Kamu ini benar-benar merusak momenku!"
Benjamin mengusap puncak kepala Shakira.
"Momennya dilanjut nanti. Ayo, bersiaplah kita akan berangkat setelah ini," ujar Benjamin sambil menoel pipi Shakira.
...********...
Mereka berdua sudah berada didalam perjalanan. Mobil yang dikendarai oleh Benjamin saat ini tetap Jeep yang biasa digunakan Black Klan beraksi. Bukan tanpa alasan mereka menggunakannya. Karena Samuel masih diluar sana, tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukannya terhadap mereka.
"Hari ini, untuk kegiatan diluar silahkan memilih ingin melakukan apa dan dimana," ucap Benjamin dengan santai.
"Serius? Aku boleh memilihnya?" tanya Shakira dengan mata berbinar.
Benjamin hanya mengganggukkan kepala selagi fokus mengemudikan kendaraan di jalanan yang lumayan lengang karena ini adalah hari Sabtu.
"Kalau begitu, aku mau menengok papa sebentar, apakah bisa?" tanya Shakira dengan mengerjapkan matanya.
"Haishh ... merayu terus," sindir Benjamin.
"Hahahaha ... apakah kamu bisa melihat kedipan mata tanpa menatapku?!" tanya Shakira sambil mencubit pinggang Benjamin.
"Aduh Kira, hentikan. Kalau tidak, aku akan membalasmu," ucap Benjamin terkikik geli.
Tidak pernah terlintas dalam benakku bisa tertawa dan bersenda gurau dengan Benjamin Abimanyu Negara. HARUS KU ABADIKAN. Shakira.
Hingga tiba dirumah kediaman Prajogo. Shakira bergegas menemui papanya. Dilihatnya, saat ini papa tercinta sudah mulai membaik keadaannya. Semua selang dan alat-alat bantu pernafasan sudah tidak ada. Shakira mensyukurinya dengan memeluk erat Tuan Prajogo yang saat ini sedang duduk dikursi roda menghadap kearah taman.
"Halo papaku sayang ..." kejut Shakira.
Tuan Prajogo yang kaget akan kedatangan anak satu-satunya, merasa sangat senang mendapat kejutan dipagi hari.
"Astaga Shakira sayang ... kejutan yang menyenangkan," sambut Tuan Prajogo membalas pelukan anaknya.
Benjamin pun memberi salam kepada lelaki setengah baya yang duduk dikursi roda itu. Pagi itu dilewatkan oleh Mereka untuk saling bertukar kabar, melepas rindu dan bercerita mengenai keadaan yang sedang mereka hadapi saat ini.
"Maafkan Papa, Kira. Tidak pernah menyangka apa yang kami lakukan akan berakibat fatal seperti ini," ucap Tuan Prajogo penuh sesal sembari memeluk Shakira.
"Sudahlah Pa, yang penting saat ini Kira bisa melihat kalian lagi. Dan kalau bisa, apa boleh Kira mengunjungi mama disana?"
Tuan Prajogo dan Benjamin saling memandang satu dengan lainnya.
"Kira, nanti kita bicarakan lebih lanjut ya. Sekarang nikmati kebersamaan kita dengan Papa," Benjamin menengahi pembicaraan kedua ayah anak tersebut.
"Hmm ... baiklah. Tolong pikirkan yah Pa, Benji ... aku kangen mama," jawab Shakira sendu.
"Baiklah ...." ucap para pria serempak.
Hingga jam menunjukkan pukul tiga sore, Shakira dan Benjamin berpamitan hendak melanjutkan perjalanan.
"Akan kemana lagi tujuan kita kali ini?" tanya Benjamin yang fokus menyetir.
Shakira sedang sibuk memikirkan destinasi selanjutnya.
"Antarkan aku melihat Juliana, apakah boleh?" tanyanya sedikit berharap.
"Apakah dengan melihatnya hubungan kalian akan kembali baik seperti semula?" Benjamin balik bertanya dengan nada setengah menyindir.
Shakira pun melepaskan pukulan kecil di pundak pria yang sedang menyetir.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke danau yang waktu itu. Sepertinya asyik kalau menghabiskan sore hari sambil bersantai dan menikmati cemilan ..." ajak Shakira dengan penuh semangat.
"Hmm ... ayoklah. Asalkan jangan terlalu banyak membawa makanan ringan, karena aku ingin mengajakmu makan malam juga," sahut Benjamin mengiyakan ajakannya.
__ADS_1
"Deal ...sudah lama aku tidak merasakan senang, Benji. Bahagia banget rasanya hari ini ...."
Aku juga bahagia bisa melihatmu tertawa bebas seperti sekarang ini. Benjamin.
Setibanya di danau, mereka menikmati waktu demi waktu. Saling bercanda, menggoda bahkan terkadang saling mengejek satu dengan yang lainnya.
Tidak jauh dari mereka, nampak sepasang pria dan wanita sedang mengamati gerak gerik pasangan tersebut.
"Singa ... apakah semua aman terkendali?" tanya si hello kitty.
"Sialan. Aku mempunyai nama, dasar preman cengeng!" sahut Singa seraya memukul punggung si Hello Kitty sekeras mungkin.
"Aduhh ... sakit sekali pukulanmu, Singa!" teriak si Hello Kitty.
Sedangkan Singa tertawa senang, bahagia.
Ya mereka adalah Dio dan Nola yang memang ditugaskan untuk mengawal Benjamin dan Shakira dari jauh.
"Ayolah kita bergegas ke mobil sekarang. Sepertinya mereka akan segera jalan," ucap Nola seraya menarik Dio berdiri menuju kendaraan mereka.
...********...
Didalam mobil, kantuk mendera Shakira.
"Hoamm ... aku mengantuk Benji. Kemana lagi kita sekarang?" tanya Shakira yang melihat jam menunjukkan pukul 6 sore.
"Ayolah, jangan tidur dulu. Bukannya kita mau menikmati malam minggu ini ...." rayu Benjamin karena dilihatnya, Shakira mulai memposisikan diri untuk sekedar bersandar.
"Baiklah ... tapi aku tidak janji ya ...."
Tidak sampai satu jam dari danau, mereka telah tiba di suatu resto yang terletak di daerah barat kota tersebut.
Melihat penampakan restoran itu, Shakira senang sekali.
"Wah ... ini resto yang papa mama anjurkan untuk merayakan pesta ulang tahunku. Tapi aku tidak menyetujuinya," ujar Shakira dengan mata berbinar.
"Kalau begitu, ini saatnya kamu menikmati BBQ andalan mereka," sahut Benjamin seraya menggandeng tangan Shakira.
Setelah selesai memesan makanan masing-masing, Shakira mengajak Benjamin untuk ber-wefie ria. Untuk dokumentasi katanya.
Menit berlalu hingga berganti jam. Makanan pun telah habis disantap. Benjamin pun mulai mengambil sikap serius setelah seharian ini asyik bersikap santai pada Shakira.
"Ada apa Benji? Jangan tegang dong, aku ikut tegang nih," ujar Shakira.
Benjamin mengambil nafas. Lalu menghembuskannya dengan pelan, menatap wajah cantik didepannya yang disinari oleh cahaya lilin. Dan berkata dengan gugup. "Jadilah kekasih serta teman terbaikku, Kira ...."
Shakira diam membisu. Tenggorokannya serasa tercekat, tidak mampu berkata apapun.
Benjamin meraih kedua tangannya.
"Aku serius Kira. Jadilah kekasihku, selama ini aku mencoba untuk mengungkapkannya namun tidak pernah bisa," ungkap Benjamin apa adanya.
"Benji ...." sahut Shakira pelan.
"Kenapa, apa kamu tidak menyukaiku?" sela Benjamin dengan tegang.
"Bukan ... bukan itu maksudku,"
"Lalu apa, maksudmu apa?" Benjamin tidak sabar menanti jawaban Shakira.
Shakira tertawa kecil. "Akhirnya, yang aku tunggu-tunggu keluar juga dari bibirmu ...."
Benjamin tercengang mendengar ucapan dari wanita didepannya itu.
"Maksudmu, selama ini kamu menantikan aku menyatakan perasaanku?"
"Hahahaha iya ... dan bodohnya aku, kukira semua hanya angan belaka."
"Jadi, bagaimana?" tanya Benjamin kembali.
Shakira pun menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Aku mau, Benji ... terima kasih telah memilihku dari sekian banyak wanita cantik diluar sana."
Lantas tanpa menunggu lebih lama lagi, Benjamin bergegas berdiri dan menghampiri Shakira, lalu memeluknya erat.
"I love you, Shakira Putri Prajogo ..."
...*********...
Yeyyy ... akhirnya author lega banget, Benji sanggup menyatakan perasaannya🥰🥰 Bab ini memang author khususkan untuk momen Shakira dan Benjamin saja tanpa emosi, tembak menembak, kaka² ... supaya Kira tidak di PHP in terus oleh Benji. kan wanita juga perlu pernyataan bukan? Biar gak salah paham aja sih 😁
__ADS_1
Dukung selalu ya mereka berdua. Like and Komennya ditunggu ✌❤