Si Tampan Penyelamat Hidupku

Si Tampan Penyelamat Hidupku
Bab 50. Aku dan Kamu


__ADS_3

Mendengar suara ribut-ribut diluar sana membuat seorang Shakira yang berjiwa kepo alias penasaran tingkat dewa atau ingin tahu segalanya tentang sesuatu langsung berlari menuju ke jendela.


"Oh my God...siapa yang berbuat sadis seperti itu?!" dengan mata yang membola, Shakira berkata-kata pada dirinya sendiri.


Terlihat tubuh-tubuh manusia berbadan kekar memakai pakaian kaos ketat dan celana berwarna hitam bergelimpangan dibawah sana. Bahkan, terlihat beberapa pria yang isi tubuh dan isi kepalanya keluar serta tercecer atau terburai kemana-mana. Bau anyir dari darah kental tercium hingga terhirup oleh hidung mancung Shakira akibat hembusan angin dingin.


"Huek...huek..." perutnya terasa mual mencium bau anyir tersebut.


Kepala Shakira seketika pusing akibat rasa mual yang melandanya.


Siapa yang telah melakukan hal tersebut. Sungguh sangat sadis dan kejam sekali.


Aku harus bersembunyi kalau begitu. Tapi dimana? Aku takut akan menjadi salah satu dari orang-orang dibawah sana. Shakira.


Dirinya mencoba bersembunyi di balik tempat tidur kayu yang ada diruangan tersebut dan tak lupa menutup telinganya.


Kemudian terdengar suara yang sangat keras dibawah sana yang nampaknya sedang berkelahi.


"Shakira! Dimana kamu, Kira?!" teriak suara berat dan mematikan dengan lantangnya.


Suara itu....aku mengenalinya...apa aku bermimpi. Shakira.


Shakira semakin menajamkan telinganya. Suara orang berkelahi diluar sana. Suara teriakan-teriakan kesakitan entah akibat apa. Dirinya tidak ingin membayangkannya. Keringat dingin dan gemetar seluruh tubuhnya.


Tak lama kemudian, terdengar kembali suara tersebut memanggilnya. "Ah...aku hanya berhalu saja. Tidak mungkin Benjamin mencariku" ucapnya pada diri sendiri.


"Kira?! Dimana kamu?!" teriak suara tersebut kembali.


Deg...


Itu adalah suara Benjamin. Aku tidak salah dengar. Telinga dan otakku masih normal. Shakira.


Bergegas Shakira berlari menuju ke jendela, mencari sumber suara tersebut yang menurutnya berada tepat dibawah kamar tempatnya tersekap.


Shakira yang tidak dapat menjulurkan kepala karena jendela tersebut terbuat dari jeruji besi, hanya bisa berteriak kencang memanggil nama Benjamin. Berharap bahwa itu memang benar Benjamin, orang yang selalu dipikirkannya selama diculik di tempat ini.



"Benjiii?! Benjiiii?! Aku ada diatas sini! Benjiiiiii!" teriak Shakira dengan sekuat tenaga.


Shakira berharap Benjamin dapat mendengarkan teriakannya.


Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Masuklah Rosa kedalam beserta dengan pria setengah tampan tersebut. Yang diketahuinya bernama Samuel Abimanyu Negara.


Shakira yang terkejut dengan kehadiran mereka berdua langsung berteriak kembali memanggil nama Benjamin, kali ini lebih keras.


"Benjamin! Aku ada diatas! Tolong aku!" teriak Shakira.


"Ikat kedua tangannya dan lakban kembali mulut lebarnya itu!" perintah Samuel dengan dingin kepada Rosa.


Tanpa bersuara, Rosa mengerjakan yang diperintahkan.


"Jangan ikat aku lagi, Rosa?!" Shakira memberontak.


Samuel hanya tertawa sinis melihat wanita didepannya ini memohon-mohon.


"Hmm...sungguh menggemaskan melihatmu seperti ini. Namun, sayang sekali kamu berada ditengah-tengah ini semua. Andai tidak....." ucap Samuel dengan tatapan mata tajam serta menakutkan, tatapan yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Shakira.


"Kau sungguh kejam!" bentak Shakira dengan muka merah padam.


"Seorang Abimanyu Negara yang kukenal tidak akan berbuat seperti ini, menjual perempuan-perempuan demi uang sepertimu!" teriak Shakira kembali memuntahkan kemarahannya.


Terlihat kilatan amarah terpancar dari kedua mata pria tersebut ketika mendengar ucapan Shakira.

__ADS_1


Rosa pun melakban mulut Shakira dengan memberikan tatapan mata seakan berkata "Diamlah Nona, jangan mengganggunya..."


Shakira semakin memberontak.


"Bawa dia ke rooftop, jemputanku sebentar lagi datang," perintah Samuel tanpa meladeni ucapan Shakira.


"Baik Sir..." Jawab Rosa.


Shakira semakin memberontak ketika dirinya ditarik paksa oleh Rosa untuk melangkah keluar menuju rooftop.


Shakira menatap nyalang ketika melihat dengan jelas wajah Benjamin dan Mama Seila tengah berjibaku dibawah sana melawan orang-orang suruhan Samuel.


Dia datang untuk menyelamatkanku...Benji!!! Shakira.


Tak terasa air mata Shakira menetes, sedih tak terkira dirasakannya. Ingin berlari menuju pria yang bernama Benjamin tersebut.


Entah mendapat kekuatan dari mana, tenaga Shakira sangat kuat, mampu melepaskan diri dari cengkraman tangan Rosa, beruntung kakinya tidak diikat, memudahkannya untuk berlari dengan cepat.


Terdengar suara menggelegar memenuhi ruangan.


"STOP! Atau kau tidak akan melihat matahari lag!" bentak Samuel dengan lantang.


Shakira membeku seketika ketika dirasa olehnya sebuat senjata api sedang mengarah kepadanya.


"Balik badanmu dan berjalanlah kemari!" perintah Samuel lagi masih dengan mengacungkan senapan laras panjangnya.


Shakira yang tidak dapat berbicara hanya mengganggukkan kepala dan berjalan mendekat dengan tubuh gemetar.


...********...


Diluar sana, Benjamin sedang melawan para penjaga. Dengan keahliannya memainkan pistol serta samurai berada ditangan kirinya, musuh-musuh pun luluh lantak akibat peluru yang bersarang ditubuh mereka atau terkena sabetan samurainya.


"Gila! Habis anak buah kita kalau seperti ini lawannya!" teriak salah satu orang yang berada didalam villa mengamati keadaan diluar sana.


"Bagaimana dengan perempuan-perempuan yang berada di bawah gudang? Apakah sudah kau bereskan?" tanya salah satu pria berambut gondrong.


"Sudah. Sesuai dengan perintah Mr. Bule, panggilan Samuel yang didapatkan dari anak buahnya disini.


Terdengar langkah kaki berderap dengan cepat menuju arah mereka.


"Apakah jemputanku sudah siap?" tanya Samuel kepada anak buahnya.


"Sudah Sir. beberapa menit lagi tiba," ucap si gondrong yang bertanggung jawab untuk pelarian Samuel.


Lalu, Samuel bersama Rosa dan Shakira yang terpaksa harus mengikuti mereka, menaiki tangga yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


...********...


"Benji! Kita harus segera masuk kedalam!" teriak Mama Seila ditengah-tengah rentetan tembakan musuh mereka.


"Iya! Mama bantu Benji mengalihkan perhatian mereka. Diarah pergola kiri ada 3 orang dan satu orang diatas penembak jitu. berhati-hatilah," sahut Benjamin.


Mama Seila bergegas mengambil alih arena lapangan tembak.


Dengan cekatan, Mama Seila berhasil melumpuhkan lawannya dengan sekali tembakan ditiap kepala.


"Cckckckc....si Ratu Bengis memang tiada lawan," ucap Benjamin dengan entengnya.


"Ayo buruan, kita masuk kedalam," Benjamin menarik tangan ibunya.


Sesampainya di pintu depan, hanya dengan sekali tendangan maut, pintu tersebut terbuka.


"Aish...mungkin memang tidak terkunci, Benji. Jadi jangan gembira dulu," sahut Mama Seila menepuk pundak anaknya dan bergegas masuk mengecek situasi.

__ADS_1


"Sialan, emak satu ini. Sama anak sendiri tidak pernah mau kalah!" dengus Benjamin.


Mama Seila hanya tertawa dalam hati.


"Ssttt...ada suara teriakan dari atas," kode Mama Seila.


Benjamin pun mendengarnya. Setelah mengecek situasi tidak ada satupun musuh dilantai bawah, Benjamin dan Mama Seila dengan keahlian mereka mengendap-endap, sampailah mereka dilantai atas tempat Shakira disekap sebelumnya.


Mereka melewati sebuah ruangan yang terbuka pintunya.


Benjamin memasukinya. Terlihat olehnya beberapa tali tambang tergelatak dibawah tempat tidur. Benjamin pun mencoba menghirup aroma kopi dari parfum yang Shakira gunakan menempel di tempat tidur.


"Kira....disinilah kamu berada selama ini." ucap Benjamin.


Setelah melihat sekeliling ruangan tidak ada satupun barang milik Shakira, otaknya pun langsung memerintahkan Maria untuk mengecek apakah target mereka telah meloloskan diri.


"Maria, cek apakah ada kendaraan apapun itu yang sedang disiapkan oleh mereka untuk pergi dari sini,"~ Benjamin, melalui komunikasi mereka.


"Tuan....ada sebuah helikopter mendekat kearah sana. Sebaiknya kalian semua cepat mencari Shakira sebelum terlambat," info Maria tanpa bertele -tele.


Benar seperti yang dikatakan Maria. Saat ini terdengar suara berisik baling-baling helikopter mendekati bangunan tersebut.


"Ayo Ma, kita harus cepat naik keatas!" tarik Benjamin pada Mamanya yang menuruti perkataan anaknya.


Meskipun bangunan ini berbentuk villa, tetap saja pemiliknya menyediakan lahan untuk helikopter mendarat dengan mulus.


Beberapa penjaga yang melihat Benjamin dan Mama Seila berusaha mengejar tuan mereka, dengan susah payah mencoba melawan meski akhirnya tetap menemui ajal hanya dengan sekali sabetan samurai Benjamin, didada mereka.


Bunyi helikopter tepat berhenti diatas kepala mereka.


Benjamin terus menaiki tangga hingga rooftop.


Setibanya di rootop, dari kejauhan terlihat, seorang lelaki mencengkeram erat wanitanya. Dan seorang wanita setengah baya membawa senjata api.


"Shakira!!" teriak Benjamin lalu bersembunyi dengan cepat sebelum peluru mereka mengenainya.


Mama Seila yang ikut bersembunyi memberi kode bahwa Benjamin harus cepat agar Shakira tidak dibawa pergi.


Lalu, Benjamin keluar dari persembunyiannya.


"Berhenti! Stop!" teriak Benjamin dengan mengacungkan pistol Desert Eagle-nya kearah mereka bertiga.


"Lepaskan dia!" teriaknya lagi berusaha mendekati musuh, karena tidak dapat dilihatnya dengan jelas wajah pria yang saat ini sedang memegang Shakira.


Mama Seila bersembunyi didekat tumpukan kayu-kayu panjang yang sepertinya sengaja diletakkan disitu untuk ber bbq an.


Samuel yang tidak gentar melihat todongan Benjamin tetap melangkah menyeret Shakira yang setengah berteriak memanggil Benjamin.


Nging....nging...bunyi peluru dilepaskan Benjamin. Dengan mudahnya, Samuel mengeles.


Ketika Samuel telah berada di kaki helikopternya, Shakira mencoba berontak lagi namun kali ini gagal.


"Kira! Jangan takut!" teriak Benjamin pada Shakira.


"Ah syukurlah Memang dia!" batin Shakira senang.


"Aku akan menjemputmu!" teriak Benjamin lagi.


...********...


bersambung 😀😀


terima kasih para readers 🥰🥰🥰

__ADS_1


sampai besok yah. Like yah. Komen yah. kalo bisa hadiah yah...❤


__ADS_2