
"Benji, apakah kamu sedang sibuk didalam?" ketuk Shakira didepan ruang kerja Benjamin.
"Masuklah, Kira."
Shakira pun bergegas masuk kedalam ruang kerja Benjamin yang merupakan ruang kerja Tuan Abimanyu.
Terlihat berkas-berkas berserakan diatas meja. Laptop pun masih menyala dihadapan pria tersebut.
"Apakah kamu sangat sibuk saat ini? Jika iya aku akan kembali lagi nanti," ucap Shakira tidak enak hati. Dirinya sangat mengerti karakter atasan sekaligus kekasihnya tersebut jika sedang fokus kerja.
"Maafkan aku, Kira. CEO Ramli ingin membuat kerja sama lagi dengan kita. Kali ini di kota Batam. Aku sedang memeriksa dokumen-dokumen yang dikirimkan oleh tim kita di Indonesia," jelas Benjamin dengan tatapan memohon maaf.
Mendengar penjelasan pria didepannya membuat Shakira terkejut.
"Kenapa aku tidak dilibatkan? Bukankah itu juga merupakan tugas dan tanggung jawabku, Benji?" tanya Shakira setengah menyelidik.
"Aku tahu. Tetapi, jangan salah Kira, saat ini kamu dalam masa cuti," jawab Benjamin mengingatkan akan status pekerjaannya.
"Tapi aku bosan. Biarkan aku ikut andil dari sini. Biarkan aku membantumu, Benji," jawab Shakira setengah memaksa.
Benjamin melepas kacamata bacanya. Matanya memandang penuh kearah Shakira.
"Kemarilah, mendekatlah padaku," perintah Benjamin seraya menepuk pahanya agar Shakira duduk dipangkuannya.
Shakira pun seperti terhipnotis oleh panggilan Benjamin. Dengan patuhnya, Shakira berjalan mendekat lalu duduk dipangkuan pria tersebut.
Jantungnya berdetak kencang. Dag dig dug serr ....
__ADS_1
Kedua tangan Benjamin memeluknya dari belakang. Shakira hanya diam membisu.
"Katakan padaku, apakah kamu bosan menemaniku disini?" bisik Benjamin tepat di telinganya.
Sekujur tubuh Shakira meremang tidak karuan. Membuat debar jantungnya seakan ingin meloncat.
"Ee ... eee ... tidak begitu, Benji. Aku senang berada di sini bersamamu dan juga kedua orang tuamu sangat baik padaku," jawab Shakira tergagap.
"Lalu, apa yang membuatmu bosan?"
Shakira mencoba menenangkan deburan jantung yang tidak bisa diajak bekerja sama.
Terasa pelukan tangan Benjamin semakin erat diperutnya, membuat Shakira semakin tidak bisa bernafas.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu bosan bersamaku," tanya Benjamin sekali lagi sambil berbisik.
Shakira tidak bisa menjawab pertanyaan Benjamin. Meskipun mereka adalah sepasang kekasih, namun entah mengapa hingga saat ini Shakira masih merasa kikuk dan malu jika diperlakukan mesra oleh kekasihnya. Walaupun ini bukan kali pertama dirinya menjalin kasih dengan seorang pria.
"Apakah kamu rindu dengan kedua orang tuamu?" desak Benjamin.
Kali ini, kepala pria tersebut telah berada di pundak Shakira.
"Bukan begitu, Benji. Aku terbiasa bekerja dari pagi hingga malam. Aku dilanda kebosanan karena tidak ada kegiatan apapun disini selain menemanimu serta Mama Seila," jelas Shakira dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan kekasihnya.
"Ah ... aku mengerti. Jadi, apa yang ingin kamu lakukan? Katakanlah padaku, mungkin aku bisa membantu menghilangkan kebosananmu."
"Betulkah?! Kalau begitu, ijinkan aku bekerja dari sini. Seperti denganmu," pinta Shakira penuh harap.
__ADS_1
Dengan gerakan penuh kelembutan, diputarnya wajah cantik yang telah menghiasi kehidupannya saat ini, menghadap tepat didepannya.
"Dengarkan aku, Kira sayang. Bukannya aku tidak mengijinkanmu bekerja dari sini. Saat ini, statusmu adalah cuti selama satu bulan. Memang ini semua diluar perkiraanku, bahwa kita harus disini kurang lebih hampir 1 bulan," ucap Benjamin sambil menatap kedua bola mata Shakira.
"Lalu, siapakah yang menggantikanku saat ini? Apakah Wina?" tanya Shakira.
"Betul, saat ini Wina yang membantumu. Sudahlah Kira, nikmati waktumu disini. Ajaklah duo singa itu berjalan-jalan denganmu didekat rumah," ujar Benjamin seraya memberikan solusi.
"Asal tidak bertemu lagi dengan pria-pria lainnya, OK?!" tambah Benjamin seraya mencubit pipi Shakira yang bersemu merah.
"Apakah kamu cemburu?" goda Shakira dengan mengedipkan matanya kearah Benjamin.
"Ah ... aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu, Kira. Jangan berpikir terlalu jauh," sahut Benjamin dengan cuek.
"Kirain bakal cemburu," goda Shakira sambil menjulurkan lidahnya dan beranjak menjauh kearah pintu.
"Eh ... hendak kemana?!" teriak Benjamin yang ditinggal begitu saja oleh kekasihnya.
"Mau jalan-jalan dong. Kan tadi disuruh pergi sama si duo singa, bye ... happy working sayangku ...."
Lalu Shakira hilang dibalik pintu kerja yang tertutup kembali.
"Hmm ... aku pun ingin ini semua lekas berakhir dan membawamu secepatnya menemui ibumu sesuai janjiku," ucap Benjamin pada dirinya sendiri seraya memijit keningnya.
Kemudian bersandar pada punggung kursi kerjanya. Diraihnya ponsel berwarna hitam yang terletak di meja. Dibukanya aplikasi pesan singkat.
Maria, cari keberadaan Samuel. Secepatnya!
__ADS_1
Pesan terkirim.
...----------------...